
Grizelle terkejut sekaligus senang ketika diberikan sebuah kembang api. Ia langsung menerimanya dengan senyum. Lalu menatap kedua orangtuanya.
"Hati-hati, Sayang,"
"Aku sudah perrlnah (pernah) berrlmain (bermain) ini, Mu,"
"Tapi harus tetap hati-hati, Griz," pesan Jhico pada anaknya. Grizelle mengayunkan kembang api di tangannya dan membuat orang di sekitar menatapnya.
Setelah kembang api padam, mereka bertepuk tangan. Grizelle dibuat tersenyum malu. Ia merasa tak melakukan atraksi apapun. Tapi kenapa mereka memberinya tepuk tangan.
"Mereka kagum pada Griz yang berani," ucap Vanilla pelan di telinga anaknya.
Mereka menyaksikan atraksi kembang api itu sampai selesai. Kemudian setelah itu memutuskan untuk singgah sebentar di food street.
"Griz mau makan apa?"
"Aku mau lihat-lihat dulu," jawabnya seraya membuka pintu. Tanpa melihat terlebih dahulu kedaan sekitar, Ia keluar dari mobil.
Hampir saja disentuh oleh sebuah kendaraan roda dua. Anak itu terdentak kaget ketika mendengar klakson yang mengarah padanya.
Seorang laki-laki yang mengendarai motor tersebut berdecak kesal. Ia menegur Grizelle dengan nada yang cukup tinggi.
"Hati-hati!"
Jhico kalah cepat dengan mulut jahat lelaki itu. Sudah terlanjur anaknya disakiti dengan teguran keras itu lalu setelahnya dia pergi. Sementara Grizelle masih terdiam di tempatnya karena ketakutan. Jhico segera meraih anaknya dalam rengkuhan.
"Griz, tidak apa 'kan? lain kali hati-hati, Sayang"
"Iya, maaf, Pu,"
"Pupu yang meminta maaf karena tidak sempat membelamu dari orang tadi,"
"Memang aku yang salah," ucapnya dengan dewasa tak ingin orang lain disalahkan atas kesalahan yang memang Ia perbuat. Ia yang tidak hati-hati sehingga menyebabkan pengendara itu hampir menabraknya.
Vanilla menutup pintu mobil usai dirinya keluar. Ia mengusap perutnya sekilas. Saat Ia akan langsung keluar menemui Grizelle, perutnya sedikit terasa nyeri. Mungkin karena terkejut melihat anaknya yang hampir celaka tadi.
"Griz, kamu baik-baik saja?"
Grizelle mengangguk tanpa menjawab apa-apa tapi tetap memberi tahu bahwa Ia baik-baik saja.
"Ya sudah, kita cari makanan yang Griz inginkan ya,"
Grizelle mengangguk dan Ia merentangkan tangannya pada sang ayah, minta dibawa dalam gendongan.
"Griz itu sudah berat, Sayang. Berjalan sendiri saja, kasihan Pupu,"
Jhico menggeleng menatp istrinya. "Tidak apa, aku bisa," ucapnya.
Dengan tangan lain menggenggam tangan istrinya, Jhico menggendong putrinya seraya berjalan menyusuri food street yang dipenuhi makanan.
__ADS_1
"Aku mau hamburrlgerrl (hamburger),"
Jhico mengangguk, membawa tempat yang ditunjuk anaknya. Grizelle segera menyampaikan apa yang Ia inginkan.
"Pakai saus keju sedikit saja tapi saus pedas banyak," pesannya pada sang penjual.
"Aku mau smoke beef nya dua," ujarnya pada Jhico. "Katakan pada penjualnya, Sayang. Bukan Pupu yang jual,"
"Oh iya, aku lupa," katanya seraya terkekeh kecil. Kemudian Ia mengatakan apa yang Ia katakan pada ayahnya tadi.
"Sekarang Griz mau apa lagi?" tanya Mumunya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Jhico pada Vanilla. Vanilla belum mengatakan apapun mengenai keinginannya menyantap sesuatu. Sedari tadi fokus pada putri mereka saja.
"Aku tidak mau apa-apa,"
"Memang kenapa, Mu? Di sini banyak makanan. Nanti mumu menyesal kalau tidak membeli apapun,"
"Ya sudah, nanti Mumu cari setelah punya Griz matang,"
"Mumu harus beli makanan yang banyak, supaya adik kenyang," ucap anak itu seraya menepuk tangan menyemangati Ibunya agar jangan pulang tanpa membawa makanan.
Tak lama hamburger milik Grizelle selesai dibuat. Mereka bertiga kembali menyusuri.
"Aku mau yang warrlna-warrlni itu,"
"Tapi aku mau, Mu. Satuuu saja," mohonnya dengan raut sendu. Andalan Grizelle ketika meminta sesuatu.
"Ya sudah, beli satu saja, Jhi,"
Setelah di tangannya terdapat satu gumpalan kapas yang terbuat dari gula dan susu, Grizelle bersorak senang. Gumpalan itu diberi dua telinga dan hidung yang juga dibuat dari gula berbentuk kapas.
"Woah ada ice cream itu,"
Jhico ingin tahu reaksi anaknya yang kini menikmati gula kapas itu. Sesuai dugaannya Grizelle langsung menoleh mencari ice cream yang disebut ayahnya.
"Dimana ice cream?"
"Itu, ada di sana,"
Jhico menunjuk dengan dagunya. Langsung sorot mata Grizelle makin berbinar. Melupakan bahwa yang tengah ia makan itu berasa manis, Ia langsung meminta ice cream itu yang rasanya juga manis.
"Tidak, sudah malam," tegas Jhico yang membuat Grizelle langsung tak semangat lagi menunjuk stand ice cream. Ia merengut tapi tetap menurut. Tak meminta lagi dan kembali fokus menikmati gula kapasnya.
"Itu hamburger tidak dimakan?"
"Nanti di rrlumah (rumah),"
"Kamu mau apa, Nilla?"
__ADS_1
"Itu ada cheese cake, mac and cheese. Mumu 'kan suka itu biasanya, sama dengan aku,"
"Ya, Mumu mau itu saja. Kamu mau itu juga, Jhi?"
"Iya, samakan saja,"
"Ya sudah, aku beli dulu. Kalian mau menunggu di mobil saja?"
Jhico menatap anaknya agar menjawab apa yang ditanyakan Vanilla. Ia hanya mengikuti Grizelle saja.
"Aku mau tunggu di mobil,"
Vanilla mengangguk kemudian beranjak pergi. Sementara Jhico segera membawa Grizelle ke dalam mobil.
"Nanti kalau sudah selesai, telepon aku. Aku akan datang membantumu,"
Vanilla terkekeh geli. "Membantu apa? membantu aku jalan? tidak usah, My Jhi. Aku belum tua, masih sehat, hanya sedang mengandung, jadi masih bisa berjalan sendiri,"
****
"Ya ampun, itu saus tomat atau pedas? kenapa banyak sekali?"
"Tadi aku minta saus pedas yang banyak. Aku 'kan suka pedas, sama seperrlti (seperti) Mumu,"
Vanilla menjulurkan tangannya pada saus yang menyelimuti smoke beef hambruger milik putrinya. Rasanya sangat pedas, dan grizelle tidak kira-kira meminta itu.
"Buang sausnya, Griz,"
"Haaa Mumu, jangan. Tadi aku minta pada penjualnya, tidak Mumu larrlang (larang),"
"Itu karena Mumu tidak menyadari kalau kamu ternyata meminta suas pedas yang banyak. Nanti perutmu sakit. Jadi harus dibuang biar tidak terlalu banyak,"
Grizelle merajuk. Ia turun dari kursi tempatnya makan, meninggalkan meja makan dan berbaring di sofa ruang keluarga.
Vanilla dan Jhico saling tatap. Vanilla menghela napas pelan. "Anakmu merajuk, Jhi,"
"Iya, anakmu juga itu. Suka merajuk, sama lah dengan kamu,"
"Hih? kapan aku merajuk? tidak pernah,"
"Oh lupa? saat mengandung Griz, kamu pernah merajuk padaku karena aku melarangmu makan terlalu pedas,"
Vanilla terdiam sebentar berusaha mengingat-ingat. Ia memicing menatap suaminya.
"Tidak pernah," bantahnya yakin.
Jhico berdecak pelan. Entah benar lupa atau hanya pura-pura. Yang jelas apa yang Ia katakan tadi benar terjadi waktu itu. Ia ingat betul sampai sekarang.
"Jadi tidak heran kalau Griz bisa seperti itu. Karena Mumunya juga bisa merajuk hanya karena tidak diizinkan makan pedas," ucap Jhico yang membuat Vanilla menahan tawanya. Ia ingat sekarang. Ia memang pernah sampai seperti itu pada Jhico. Dan sekarang kejadian itu terulang lagi tapi bedanya berbeda generasi. Kini, anaknya yang merajuk hanya karena tak diperbolehkan menikmati makanan yang terlalu pedas.
__ADS_1