Nillaku

Nillaku
Nillaku 417 Pesan Raihan terhadap Jane


__ADS_3

"Jadi kita hanya bermain, ke cafe, lalu pulang, Dad?"


"Iya, tadi Daddy sudah bicara begitu dan kamu setuju, Sayang. Daddy tidak ingin singgah dimanapun lagi,"


Devan menggeleng tegas. Setelah Ia membayar gelato dan juga cupcake yang dibeli anak perempuannya, Auristella mengajukam pertanyaan sepeti itu. Ia tau kalau saat ini di otaknya Auristella tengah menginginkan tempat lain lagi untuk singgah sebelum kembali ke rumah.


"Langsung pulang. Mommy dan Ean kasihan di rumah hanya berdua,"


"Tidak, banyak orang,"


Adrian berdecak pelan. Ia meminta pada Devan agar segera mempercepat langkah memuju mobil dan meninggalkan Auristella yang entah mau kemana lagi seolah belum puas di playground dan makam gelato.


"Memamg Auris mau kemana lagi?"


"Tida bisa tidur," Adrian berseru kesal pada ayahnya yang menyahuti adikmya dengan kalimat seperti itu. Ia bukan melangkahbn segera pulang! tidak ingin lagi pergi kemanapun.


"Tidak jadi, Dad. Sudah malam," kata Auristella seraya tersenyum. Devan pun akhirnya tersenyum. Ia mengacak pelan rambut Auristella.


"Lain kali kita jalan-jalan lagi. Okay?"


"Okay, Dad,"


*******


Raihan memeluk hangat Jane yamg menyambut kedatangannya dari membeli mainan untuk She, kucingnya. Tadinya Ia ingin minta tolong pada orang lain, tapi Ia memutuskan untuk membelimya sendiri supaya bisa pilih sendiri juga.


Begitu kembali ke rumah, rupanya Jane sudah tiba. "Sudah lama?"


"Belum lama sampai sini. Itu apa?" tanya Jane pada pamannya yang menjinjing paper bag.


"Mainan untuk She,"


"Ya ampun, kucing dibelikan mainan juga,"


"Tentu saja. Dia juga ingin bermain,"


"Aku akan membawanya ke dalam,"


Penuturannya itu membuat sang istri menggertak kesal. "Tidak boleh, Pa. Biarkan saja dia di tempat tinggalnya,"


"Aku ingin melepasnya sebentar,"

__ADS_1


Raihan ke area belakang istananya dimana lahan untuk merawat hewan berada. Ia mengeluarkan She dari dalam tempat tinggalnya kemudian Ia membawa masuk ke dalam kamar.


Seperti biasa She akan sennag sekali kalau diajak bermain ke rumah sementara Rena kurang suka.


"Aunt kenapa tidak menyukainya sih?"


"Aunty tidak suka dia berlari kemana-mana padahal lantai lagi bersihkan,"


"Ya namanya juga kucing, Aunt. Kalau dia berenang namanya bukan kucing tapi ikan,"


"Aku tinggal sebentar,"


Raihan bergegas ke kamarnya untuk melepas jacket yang membalut tubuhnya dan kacamata untuk menyempurnakan penglihatannya.


Ia terkejut mendapati kehadiran cucunya yang tertidur sangat lelap. Ia jadi ingin melakukam hal serupa dengan cucunya yaitu istirahat setelah melihat Grizelle tidur dengan nyaman serta menguasai ranjang kakek dan neneknya.


"Ternyata dia ikut. Cucuku nomor empat menginap di sini,"


Raihan menghampiri ranjang. Ia mencium kepala Grizelle yang berbaring miring.


Ia ingin tidur tapi belum mengantuk. Maka Ia putuskan untuk keluar lagi dari kamar menemui Rena dan Raihan yang tengah memasang pewarna kuku di sofa berhadapan dengan televisi.


"Jane,"


Lelaki itu duduk di seberangnya, tepatnya di sofa single. Raihan menatapnya dengan sorot hangat dan senyum tipisnya.


"Apa yang belum kamu ceritakan?"


"Tentang apa, Uncle?"


"Semuanya, mungkin?"


Jane tersenyum sesaat. Ia tahu belum menceritakan dengan jelas pada Raihan yang saat Ia datang bersama Grizelle kemarin Raihan belum pulang.


"Richard tidak pernah membela aku. Ketika semua keluarganya menghakimi aku yang belum bisa memberikan mereka keturunan, Richard hanya bisa menghiburku, menenangkan aku. Sementara aku tidak hanya perlu itu saja. Aku ingin dia bicara pada keluarganya. Aku ingin dilindungi dengan utuh, tidak hanya dari oramg luar saja tapi juga dari keluarganya sendiri,"


Raihan menghela napas pelan, Ia menatap Jane yang kelihatan sekali emosionalnya masih tinggi.


"Lalu apa yang Richard lakukan selama kamu pergi?"


"Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu,"

__ADS_1


"Tapi dia masih peduli pada kamu, Jane?"


"Ya, masih. Tapi lagi-lagi aku katakan. Au tidak hanya butuh itu. Aku perlu juga pembelaan dari Richard. Sudah terbilang lama aku seperti ini terus, Uncle. Dan sekarang aku lelah. Lelah sekali, sampai terkadang terbesit alam pikiranku apa jalan terbaik kami berdua memang berpisah menueuti keinginan keluargamya yang ingin sekali Richard segera memiliki anak bahkan sampai memyiruh Richard untuk mencari perempuan lain yang mampu menjadi perempuan seutuhnya yaitu menjadi seorang ibu,"


"Sudah, jangan menangi,"


"Aku tidak menangis,"


"Matamu berkaca," kata Rena yang juga membenarka ucapan suaminya. Jelas Jane kelihatan ingin menumpahkan kesedihanmya.


"Aku sudah menemukan rumah yang tepat untuk aku tinggali. Tapi berhubung Richard suamiku sampai sekarang ini, aku ingin meminta pendapatnya juga sebelum melakukan transaksi,"


Raihan membulatkan matanya. Jujur ia terkejut dengan keputusan Jane yang terkesan tiba-tiba. Secepat itu mendapatkan tempat tinggal baru dan tinggal keputusan Richard baru setelahnya Jane membelinya.


"Kenapa cepat sekali, Jane? sebaiknya kamu tunggu Richard sampai di sini lalu kalian bicarakan baik-baik. Kalau memang dia mengizinkan kamu untuk tinggal di sini, maka kamu bisa membelinya. Tapi kalau tidak, kamu harus mendengarkan apa yang Ia ucapjan, Jane,"


"Ya ampun, aku saja tidak tahu kalan dia mau datang. Mungkin hanya omong ksongnya saja yang mengatakan bahwa akan datang menemui aku di sini. Mungkin dia sudah mulai nyaman dengam Kehidupannya yang sendirian lagi seperti saat belum menikah," tukas Jane sinis sekali seolah di hadapannya sedang berdiri soslk suaminya.


"Jangan bicara seperti itu. Dia masih mencintai kamu seegitu besatnya sampai akhirnya kalian berdua sudah berjalan sejauh ini. Kalian hebat!"


"Dia hanya mencari jawaban aman ketika ditanyakan Icelle kapan menyusulku. Jawaannya sedang mencari wakti yang tepat," ujar Jane kembali megingat obrolan singkat Grizelle dan Richard.


"Dia masih menghubungi kamu?"


Jane mengangguk jujur. Suaminya sampai saat ini masih menanyakan tentang dirinya tapi mekang jarang sekali mendapat jawaban darinya.


"Kamu tiak boleh terlalu lama kesal pada Richard yang masih berbaik hati pada kamu,"


"Iya, Uncle," Mesipun sulit melakuknnya tapi Jane akan berusaha untuk melakukan itu.


"Kapan kalian berbagi kabar untuk tetakhir kalinya?"


"Hmm sepertinya kemarin malam kalau aku tidak salah ingat. Sempat bicara juga dengan Grizelle,"


"Bicara dengan Grizelle?"


"Iya, Grizelle ingin berbicara dengan Richard maka aku biarkan mereka mengobrol,"


"Kalau dia sudah datang ke sini, terima dengan baik kedatangannya sebab tidak mudah menyusul kamu ke sini, Jane. Dia harus berkorban waktu, tenaga, dan pikirannya juga,"


"Belum tentu juga dia benar datang ke sini. Barangkali hanya asal bicara pada Grizelle karena Grizelle ingin dia datang ke sini,"

__ADS_1


"Dan kamu pun menginginkannya. Richard sudah mengatakan padamu bahwa dia ingin datang, pasti dia datang," Rena berujar dengan yakin. Tidak mungkin Richard membuarkan Jane lebih lama di sini tanpa dirinya.


"Tolong bicarakan baik-baik jangan dengan emosi di kepala kalian. Ini cobaan pernikahan kalian dan harus dilalui bersama,"


__ADS_2