Nillaku

Nillaku
Nillaku 167


__ADS_3

"Simpan lukisan nya, Co."


"Iya, Ma."


Jhico mengangguk setelah Rena berucap seperti itu. Ia memasukkan lukisan itu ke dalam boks nya lagi.


"Biar Vanilla lihat. Dia juga pasti senang,"


Jhico menyimpan lukisan itu di kamar dan saat Vanilla pulang nanti, Ia akan memberi tahu Vanilla kalau ada orang kreatif yang baru saja menjadikan anak mereka sebagai objek lukisan nya.


******


Setelah mata kuliahnya berakhir, Vanilla langsung pulang. Ia keluar dari kelas bersama dengan Joana.


Ternyata Joana sudah dijemput oleh seseorang yang tak lain adalah Ganadian, rekan Vanilla sesama model.


Melihat keberadaan Ganadian, Vanilla langsung menatap Joana dan tersenyum. Joana terlihat tersipu malu.


"Sepertinya aku tidak diberi tahu kalau kamu dan Ganadian----"


"Tidak, dia saja yang terlalu mendekati aku, Vanilla. Kita hanya teman,"


"Lebih dari teman juga tidak apa. Ganadian orang baik. Dia melindungi kamu saat di kelab dan bertengkar dengan calon suamimu. Oh ya, bagaimana kabar calon suamimu?"


"Tidak tahu, dia semakin jauh saja. Entah jadi atau tidak kami menikah setelah ayahku selesai menjalani hukuman di dalam penjara,"


Mereka tiba di dekat mobil Ganadian. Lelaki itu membuka jendela mobilnya lalu menyapa Vanilla.


"Jadi bagaimana kelanjutan rencana mu yang akan membantu aku untuk mencari kekasih? sampai saat ini belum ada pemberitahuan darimu aku harus mendekati siapa,"


Vanilla terkekeh mengingat niatnya waktu itu yang ingin membantu Ganadian mencari pujaan hati.


"Kamu sudah mendekati Joana,"


"Tapi dia terlalu jual mahal. Nanti lama-lama aku menjauh kalau dia tidak ada reaksinya begitu aku dekati,"


"Ya sudah, pergi sana! untuk apa di sini? sudah tahu 'kan kalau aku jual mahal?" sahut Joana dengan kesal. Diusir seperti itu Ganadian terkekeh. Salah satu mata nya mengerling.


"Yang benar kalau mau mendekati sahabatku, Ganadian. Jangan macam-macam!"


"Iya, Vanilla. Aku tahu, cantik."


"Ck! dasar buaya!" Vanilla berdecak seraya menggerutu.


"HAHAHAHA," tawa Ganadian menggema di dalam mobilnya.


Lelaki itu meminta Joana untuk masuk ke dalam mobilnya. "Ayo masuk, Tuan putri. Atau aku harus membuka pintu mobilku untukmu?"


"Aku rasa itu perlu, Ganadian." ujar Vanilla yang ingin sekali menggoda mereka berdua.


Ganadian akan keluar dari mobilnya namun Joana melarangnya. "Tidak usah, aku bisa buka pintu sendiri,"


"Joana mandiri, Van. Tidak seperti kamu yang manja,"


"Biar saja aku manja. Aku manja dengan suamiku sendiri, bukan orang lain termasuk kamu,"

__ADS_1


Vanilla memasang raut tak peduli. Ia tak menampik kalau Ia memang manja namun hanya pada Jhico saja dan itupun hanya di waktu-waktu tertentu. Setelah punya anak, Ia sering merasa malu dengan anaknya karena seharusnya Grizelle yang manja pada Jhico bukan dirinya.


"Aku pulang dulu ya, Vanilla."


"Iya, Joana. Hati-hati ya,"


Setelah mobil Ganadian tak terlihat lagi, Vanilla beranjak masuk ke dalam mobilnya dan akan bergegas pulang.


Ia menstarter mobilnya dan ketika akan berangkat, ponsel nya di saku celana boyfriend jeans yang Ia pakai, bergetar.


Lovi yang menelpon nya. Ia segera menjawab panggilan dari Lovi yang tidak biasanya telepon di jam-jam sibuk seperti ini.


"Ada apa, Lovi? kamu tidak sibuk di butik?"


"Hallo, Aunty Vanilla. Ini Adrian. Lukisanku sudah sampai di apartemen belum?"


"Huh? lukisan? lukisan untuk siapa?"


"Grizelle, aku membuat khusus untuknya,"


"Oh nanti Aunty tanya Uncle dulu ya. Aunty baru selesai kuliah jadi tidak tahu kalau kamu mengirimkan lukisan,"


"Okay, nanti malam aku telepon lagi ya,"


"Kamu---"


"Vanilla, maaf menggangu waktu mu. Kamu sudah mulai kembali kuliah ya?"


"Iya, tapi sekarang sudah mau pulang. Kamu tidak ke butik?"


"Pasti suka, Lovi. Terimakasih, katakan pada Adrian."


Telepon dimatikan dan Lovi berseru memanggil Adrian yang sudah bersepeda lagi di halaman rumah mereka.


"Adrian, terimakasih kata Aunty Vanilla. Grizelle pasti suka dengan lukisanmu. Mommy pergi dulu ya,"


"Okay, Mom. Hati-hati, jangan terlalu lama di butik,"


Lovi mengangguk dan mengusap rambut anak laki-lakinya. "Mommy tidak pernah lama di butik karena selalu ingat dengan anak-anak Mommy," ujarnya.


******


Grizelle tidak henti menatap Vanilla yang baru sampai di apartemen. Vanilla meletakkan sepatu di tempatnya lalu menyapa Grizelle yang digendong oleh Jhico.


"Jhi, ada barang yang datang?"


"Barang apa?"


"Lukisan,"


"Oh ada, sudah aku simpan di kamar. Kamu tahu siapa pengirim nya?"


"Itu lukisan yang dibuat Adrian untuk Grizelle,"


"Hah? itu buatan Adrian?"

__ADS_1


"Iya, sweet sekali dia dengan Griz ya,"


Jhico membiarkan Istrinya ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tubuh nya sebelum menggendong anak mereka. Setelah itu, Vanilla ke ruang makan diikuti Jhico dan Grizelle.


"Hai, Ma." sapa Vanilla pada Rena yabg sedang makan seraya berbincang di meja makan dengan Bibi. Mereka baru selesai membuat pizza. Hasilnya lumayan meskipun tidak senikmat buatan restoran.


"Hai, tadi ada yang mengirim lukisan. Mama pikir kiriman dari orang jahat berupa barang-barang aneh. Ternyata isinya lukisan,"


"Iya, itu lukisan yang dibuat Adrian untuk Griz,"


"Oh ya? Mama dan Papa juga dapat lukisan tapi dari Andrean. Dia menang kompetisi melukis dan objek nya, semua Grandma dan Grandpa nya,"


"Dalam rangka apa Adrian melukis Griz? Apa dia ikut kompetisi juga?"


"Sepertinya tidak. Mungkin dia hanya ingin mencoba,"


Vanilla melirik pizza yang sedang disantap Mama nya. "Sepertinya lezat sekali pizza nya,"


"Coba dulu. Menurut Mama rasanya lumayan,"


"Ini buatan Mama?"


"Mama dan Bibi," jawab Rena. Ia mendekatkan piring datar berisi pizza ke arah Vanilla agar anaknya itu mencoba.


Vanilla mencobanya sedikit. "Woaah lezat,"


Baru juga Ia mencicipi pizza, Grizelle sudah menangis. Vanilla lupa niatnya tadi. Setelah bersih-bersih seharusnya Ia langsung menggendong Grizelle dan menghabiskan waktu bersamanya karena sudah ditinggal tadi.


Tapi karena melihat pizza, Ia jadi lupa niatnya itu. "Tunggu sebentar, Griz. Mumu lagi makan," ujar Jhico menenangkan anaknya.


Jhico menimang Grizelle yang sepertinya mengantuk dan ingin bermanja-manja dengan Mumu nya.


Belum habis satu slice pizza, Vanilla memilih untuk menggendong anaknya yang sudah ditenangkan oleh sang ayah namun tidak berhasil.


"Pizza mu belum habis,"


"Nanti aku habiskan. Griz rindu dengan aku,"


Vanilla mencium anaknya dan membawanya ke kamar untuk dibuat tidur. Tangan kecil Grizelle mengusap-usap matanya, sesekali Ia juga membuka mulutnya karena kantuk.


"Kamu mau coba, Jhico?"


"Nanti saja, Ma. Aku masih kenyang,"


"Apa kamu ragu dengan rasanya? tenang saja, walaupun rasanya tidak selezat pizza di restoran, tapi tetap lezat. Iya 'kan, Bi?"


"Iya, tapi Jhico tidak pernah ragu dengan masakan orang lain, Nyonya. Dia selalu memuji masakan siapapun,"


Bibi sudah kenal dengan Jhico sejak kecil. Setiap hari mereka hidup bersama di rumah keluarga Jhico sampai akhirnya Jhico memilih untuk tinggal sendiri.


"Laki-laki yang bisa menghargai kerja keras orang lain, itu adalah Jhico. Bukan hanya Vanilla yang bahagia memilikimu sebagai suaminya. Mama juga bahagia bisa punya anak laki-laki seperti kamu,"


 -------


Yg tebakan nya bener siapaaa? itu lukisan si Iyan nya Auris wkwk.

__ADS_1


__ADS_2