
"Aku akan merasa khawatir juga. Kalian sama-sama sahabat ku,"
Dion hanya tersenyum tipis mendengar itu. Entah jawaban yang benar adanya dari hati atau sekedar menenangkannya saja.
******
Vanilla panik di tengah jalan karena bahan bakar mobilnya sudah tinggal sedikit lagi. Ia memaki dirinya sendiri.
"Kenapa aku baru sadar kalau bahan bakar sisa sedikit? arghh bodoh!"
Vanilla harap-harap cemas. Ia berdoa semoga saja bahan bakar itu cukup sampai Ia tiba di rumah sakit.
Ia tidak ingin ada drama kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya. Ada saja rintangan yang menghalanginya.
*******
Auristella dan kedua kakaknya tengah menikmati cake buatan Vanilla. Sementara Grizelle sedang meminum susu yang sudah disiap?kan Vanilla sebelum Ia pergi.
"Sepertinya Grizelle sedikit lebih kurus daripada saat lahir ya, Ma?"
Rena yang sedang memberikan susu untuk cucunya, mengangguk membenarkan ucapan Lovi.
"Mungkin karena sakit jadi berat badannya menurun,"
"Iya, jahat sekali penyakit itu sampai membuat Griz sedikit lebih kurus,"
"Nanti juga kembali lagi,"
"Semoga saja,"
"Mom, punyaku sudah habis. Aku mau lagi,"
"Iya, Mommy ambilkan dulu,"
Lovi beranjak dari ranjang dan Ia terkejut saat melihat tepi ranjang kotor oleh cake. Ia berdecak dan menatap anak keduaya dengan tajam.
"Tadi Mommy sudah bilang, jangan makan di sini. Kalau makan harus di meja makan, bukan tempat tidur!"
"Hehehe," Adrian terkekeh memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. Hanya Ia yang makan di ranjang. Sementara kakak dan adiknya di meja makan. Andrean benar-benar menjaga adik bungsunya di ruang makan, ditemani dengan Bibi juga yang sesekali mengajak Auristella berbicara.
Lovi membersihkan ranjang yang telah di kotori oleh sang buah hati dan Adrian sudah tidak sabaran cake nya belum juga diambil oleh Lovi.
"Ayo, Mom cepat. Aku mau cake nya lagi. Cake buatan Aunty ternyata lezat sekali,"
"Sabar, Adrian. Mommy sedang membersihkan ini. Makanya jangan berulah,"
__ADS_1
"Minta dengan Bibi saja, Adrian." Neneknya memberi saran agar Adrian tidak merengek pada Mommy nya lagi.
"Tidak mau, Grandma. Mau diambilkan oleh Mommy,"
Lovi mempercepat kegiatannya membuang sisa-sisa cake milik Adirian yang berantakan di atas ranjang Vanilla.
"Aku mau ganti sprei nya saja nanti," ujar Lovi yang tidak ingin Vanilla serta Grizelle merasa kurang nyaman tidur di ranjang yang sempat dikotori Adrian.
"Mommy, ambilkan cake ku dulu."
"Iya, Adrian. Sekarang Mommy ambilkan,"
"Yeaayyy,"
Adrian mengikuti Mommy nya ke ruang makan. Di sana Ia melihat Andrean yang sedang memangku adiknya yang menikmati cake sampai seluruh sudut bibirnya dipenuhi cake.
"Andrean, kenapa Auris tidak dibiarkan duduk di kursinya sendiri? Mommy takut kamu tidak kuat memangkunya," ujar Lovi seraya meraih Auristella dari pangkuan kakak sulungnya. Namun Auristella merengek dan menunjuk Andrean. Ia tidak mau pergi dari pangkuan kakaknya.
"Itulah sebabnya aku tidak membiarkan dia duduk di kursinya sendiri. Dia marah padaku kalau tidak dipangku,"
"Mommy, cepat ambilkan cake ku. Astaga, lama sekali,"
"Oh iya, Mommy lupa."
"Kenapa tidak minta pada Bibi untuk diambilkan?" ujar Bibi pada putra kedua Lovi itu.
"Tidak mau, aku mau diambilkan oleh Mommy saja,"
"Lagi manja, Bi." ujar Lovi yang membuat Bibi terkekeh. Sementara Adrian langsung mengajukan protes nya.
"Tidak manja. Memang kalau---"
"Ya sudah, kita tidak usah berdebat karena masalah itu,"
Kalau sudah berdebat dengan Adrian, pasti tidak berujung. Anak itu selalu saja pandai mengeluarkan argumen yang akan membuat lawannya berpikir keras untuk membalas ucapannya.
******
Vanilla mengerang kesal saat mobilnya benar-benar kehabisan bahan bakar sebelum Ia sampai di rumah sakit.
"Ya Tuhan, seberat ini cobaan sebelum bertemu suamiku,"
"Oh tidak-tidak! aku tidak boleh mengeluh. Jhico saja tidak pernah mengeluh menghadapi aku yang menyebalkan ini,"
Vanilla berbicara sendiri di dalam mobilnya. Ia menghembuskan napas pelan lalu keluar dari mobil yang sudah tak berguna lagi menurut Vanilla.
__ADS_1
"Aku harus naik angkutan umum. Stasiun kereta tidak jauh dari tempatku saat ini dan juga rumah sakit. Aku menggunakan kereta saja lah," gumamnya dalam hati.
Beruntungnya Ia sudah sempat memposisikan mobilnya di tempat yang aman sebelum bahan bakar benar-benar habis. Ia akan meminta bantuan pada seseorang untuk mengisi bahan bakar lalu membawa mobilnya ke apartemen.
Stasiun di tempat Vanilla berada saat ini tidak begitu jauh sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
"Sepertinya aku belum pernah berjalan kaki hanya demi menemui seseorang. Hanya Jhico yang bisa membuatku seperti ini. Hahh aku benar-benar mencintaimu, Jhi." sembari berjalan, Vanilla bergumam dalam hatinya.
Sepanjang hidupnya, Vanilla memang belum pernah seperti ini. Dan kalau Jhico tahu, mungkin lelaki itu akan khawatir.
******
Sejak kedatangan Fionna dan Dion, Jhico ada teman mengobrol selain Karina. Karina setia menemani Jhico. Ini momen yang tepat untuk membuktikan bahwa Karina benar-benar menyayangi putranya meskipun Ia sering tidak mengacuhkan Jhico.
Dan sepertinya baru kali ini Karina benar-benar setia menemani Jhico hingga setiap saat berada di sisi Jhico. Biasanya kalau Jhico sakit, hanya ada Hawra, neneknya yang tak pernah lelah untuk peduli terhadap Jhico sementara Karina dan Thanatan sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Jhico tidak perlu menanyakan alasan apa yang membuat Mamanya berubah. Yang jelas, Ia bahagia karena diperlakukan layaknya anak di luaran sana. Hanya Papanya saja yang masih bersikap ketus pada Jhico. Hanya datang ke rumah sakit sesekali saja. Itupun ada kalimat-kalimat pedas yang Ia ucapkan.
Jhico menenggak air minum dibantu oleh Karina. Namun Ia tersedak hingga akhirnya terbatuk. Tulang rusuknya yang sedang bermasalah terasa sangat nyeri ketika batuk. Jhico meringis kesakitan.
Karina segera memanggil dokter dengan tombol yang berada di atas kepala Jhico. Karena Ia tidak sabaran menunggu dokter, akhirnya Ia memutuskan untuk keluar memanggil dokter. Karina khawatir terjadi sesuatu pada anaknya.
"Padahal aku tidak apa-apa,"
"Tidak apa-apa bagaimana sih, Co? kamu kesakitan tadi," ujar Fionna seraya mendesah kesal. Wajah Jhico terlihat masih menahan sakit tapi Ia bersikap seperti tidak terjadi apapun.
"Ya, karena tersedak."
Fionna meletakkan tangannya di bahu Jhico dan memberi usapan pelan. Ia menatap Jhico penuh kecemasan.
Pintu ruangan Jhico terbuka Ternyata Vanilla yang datang bersamaan dengan dokter di belakangnya.
"Tolong diperiksa, dokter." pinta Karina.
Vanilla segera meminta penjelasan pada Karina mengenai apa yang terjadi pada suaminya.
"Tadi Jhico minum terus tersedak. Dan tiba-tiba saja meringis. Mama tidak tahu apa yang sakit,"
Setelah dokter memeriksa, dokter menggeleng seraya tersenyum. "Tidak terjadi apa-apa. Lain kali minumnya hati-hati, Dokter." ujar Dokter itu pada Jhico. Jhico membalas senyumnya dan menjawab, "Ya, terimakasih, Dokter."
Dokter pergi meninggalkan hela napas lega dari Karina dan Fionna. Jhico mengulurkan tangannya ke arah Vanilla, meminta istrinya mendekat. Sejak Vanilla datang, Vanilla malah memilih untuk berdiri di samping Karina karena sedang ada Fionna di sisi Jhico.
--------
Hellawwww akyu dtg zheyeng. Ada yg udh nungguin?
__ADS_1