Nillaku

Nillaku
Nillaku 399 Setelah mengantar Grizelle, Vanilla dan Jane pergi berdua


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan Jane tadi, usai sarapan langsung bergegas ke sekolah Grizelle, mengantar anak itu untuk menuntut ilmu.


Yang mengendarai mobil adalah Jane. Ia mengatakan sudah lama tidak menyetiri Vanilla.


"Lagipula kamu sedang hamil. Memang diizinkan Jhico mengendarai mobil?"


Vnilla mengangguk memberi tahu bahwa Ia dibolejkan mengendarai mobil sampai sekarang oleh suaminya. Entah kalau nanti, setelah kandungannya semakin dekat dengan persalinan.


"Aunty jangan bawa mobil yng kencang ya," Grizelle sempat meminta itu pada Autynya sebelum Jane benar-benar melajukan mobil.


"Iya, Sayangku. Tidak akan kencang,"


"Kamu 'kan biasanya begitu ya, Jane. Dulu, tidak tahu kalau sekarang. Masih suka gila membawa mobil?"


Ia tertawa memukul stirnya, rupanya Vanilla masih ingat kalau dia sudah kalap mengendarai mobil. Suka tidak tahu keselamatan diri sendiri dan penumpang bila memang kebetulan ada.


"Tidak lagi. Lebih sering disetiri Richard. Sekalipun mengendarai mobil sendiri, dia selalu mengingatkan aku untuk tidak mengendarai dengan kecepatan yang tinggi. Ah, aku jadi ingat dia lagi. Kamu sih!" sentaknya pada Vanilla yang menautkan alis. Ia hanya bertanya dan tidak membaas Richard sama sekai. Tapi sepupunya saja yang membawa-bawa nama suaminya itu.


"Itu Aunty galak,"


Vanilla terbahak ketik Grizelle mengeluarkan celetukannya. Grizelle menganggap Auntynya tengah memarahi sang ibu, maka ia bicara seperti itu.


"Tidak galak,"


"Tapi tadi marralh (marah) pada Mumu,"


"Astaga, anakmu ini benar-benar tidak bisa mendapati orang lain bicara sedikit kencang padamu ya, Van?"


Jane melirik singkat pada sepupunya yang duduk tepat di sebelahnya.


"Ya namanya juga anak, Jane,"


"Dia takut aku menyakiti Ibunya," ujar Jane seraya terkekeh menyadari kalau Grizelle memang tidak mau siapapun menyakiti ibunya. Bicara sedikit kencang saa mungkin Ia anggap berpotensi menyakiti sang ibu.


"Griz sekolahnya lama?"


"Sampai siang,"


"Tidak ada kegiatan tambahan memangnya?" Vanilla menoleh pada putrinya dan bertanya.


"Tidak, Mu,"


"Sekitar pukul dua belas sudah pulang," ujar Vanill memberi tahu jadwal anaknya yang bila tidak memiliki kegiatan tambahan di sekolah.


"Okay, nanti Aunty jemput ya,"


"Iya, dengan Mumu juga?"

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawab mumunya seraya tersenyum. "Mumu akan ke rumah Grandpa juga nanti,"


"Okay, Mumu,"


*****


Setelah melepas keberangkatan suaminya yang bekerja, Rena masih berada di meja makan menyudahi sarapannya.


"Kalau menghubungi Lovi pagi-pagi seperti ini mengganggu tidak ya?"


"Apa Lovi dan Devan sudah tahu kalau Jane datang?" gumamnya.


Ia mencoba keberuntungan menghubungi nomor Lovi. Namun tak mendapat jawaban.


"Sibuk mengurusi anak dan suaminya pasti,"


Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya. Rena yakin Lovi sibuk menjalanintugasnya sebaga seorang istri an ibu dari tiga na yang masih sekolah. Pasti sibuk di waktu seperti ini. Maka Rena tidak berharap lebih ketika mencoba untuk menghubungi perempuan itu.


"Mungkin Devan dan anak-anaknya belum berangkat," Pikir Rena seperti itu. Lovi belum uang kalau suami dan ketiga anaknya belum berangkat ke tempat mereka masing-masng memiliki kesibukan.


Akhirnya Ia beranjak dari kursi. Membantu maid nya menata kembali meja makan.


Ia sudah biasa melakukannya. Barulah setelah itu melakukan kegiatan lain seperti menyaksikan siaran yang menampilkan orang-orangĀ  menginspirasi. Atau mungkin Ia akan membaca-baca buku apapun. Ia akan melakukan itu semua kalau sedang tidak perlu keluar mengecek bisnisnya.


*****


Lovi bersiap menuju butik usai melepas kepergian Devan ke kantlr dan ketiga anaknya ke sekolah. Tadi pagi-pagi sekali Ia dibuat cemas dengan Andrean yang demam. Tapi anak itu tetap ingin sekolah.


Ia segera menyuruh anak tertuanya itu untuk istirahat dan tidak perlu bersekolah, sebab Lovi cemas melihat Andrean yang juga kelihatan lemah sekali. Bibirnya pucat tapi matanya memerah, wajahnya pun demikian.


Namun Andrean bersikeras ingin sekolah. Sekalipun Devan sudah turun tangan juga membujuk agar Andrean izin tidak sekolah.


"Aku pergi dulu ya," Lovi mengatakannya pada maid yang melepas kepergiannya.


"Iya, Nona. Hati-hati,"


Lovi mengangguk tersenyum. Ia diantar oleh drivernya ke butik. Baru sempat melihat ponsel ketika sudah di dalam mobil.


"Mama kenapa menelponku ya?"


Lovi menghubungi Rena taoi tidak dijawab. "Nanti aku telepon lagi sampai di butik,"


Saat akan memasukkan ponselnya ke dalam shoulder bag nya, pesan dari sang suami masuk.


-Lov, aku sudah sampai-


Lovi mengerjapkan matanya. Devan terbilang sangat cepat sampai di kantornya. Pagi ini Ia tidak diantar oleh driver.

__ADS_1


"Pasti kecepatannya sangat tinggi," duga Lovi. Ia menghubungi nomor suaminya yang langsung dijawab oleh lelaki itu.


"Cepat sekali sampainya? berapa kecepatanmu?"


Devan tertawa mendengar cercaan sang istri. Yang jelas tahu kalau suaminya paati mengendarai dengan kecepatan diatas normal. Karena Ia memenuhi permintaan Adrian untuk diantar ke sekolah sekaligus Devan juga ingin memastikan anak tertuanya benar-benar aman sampai di sekolah dengan kondisi kurang sehat.


"Tapi yang penting aku baik-baik saja, Lov. Ya sudah, aku ingin mulai bekerja. Kamu sudah berangkat?"


"Sudah, ini dalam perjalanan,"


"Hati-hati ya,"


"Iya, kamu juga. Mengendarai mobil jangan seenak hati! ingat, ada tiga anak. Kalau terjadi sesuatu bukan aku saja yang hancur,"


Hati Devan merasa menghangat dan Ia terkekeh. tapi ucapan Istrinya itu manis sekali. Terdengar sederhana tapi cukup membuatnya sadar kalau Ia memang tak bisa lagi bersikap semaunya seperti dulu. Yang hobi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi bahkn disaat dalam keadaan mabuk sekalipun.


*****


Vanilla dan Jane tiba di klinik perawatan wajah. Keduanya keuar dari mobil. Mereka memutuskan untuk datang ke sini. Barulah nanti singgah dulu di make up store karena ada yang ingin Jane beli. Setelah itu rencananya menjemput Grizelle.


"Rindu perawatan denganku tidak, Van?"


"Iya, lumayan,"


"Lumayan? bertahun-tahun tidak perawatan dengan aku!"


Jane saja sudah rindu sekali pergi perawatan dengan Vanilla. Kenapa Vanilla tidak merasakan itu juga?!


Vanilla terkekeh menjawil dagu sepupunya. "Iya! aku juga rindu pergi denganmu. Perawatan, belanja, dan segala macamnya,"


Jane merangkul bahu Vanilla dengan gemas, gemas karena Ia melihat Vanilla sekarang seperti anak kecil padahal perutnya mulai terlihat membesar.


"Rindu juga ke bar denganku?"


Vanilla berdecak dan menjawabnya lugas, "Tidak!"


Jane terbahak mendengarnya. Ia menepuk bahu sepupunya yang sepertinya benar-benar tidak mau lagi Ia ajak bersenang-senang di sana.


"Padahal aku ingin sekali mengajakmu. Nanti malam ya? Jhico pulang malam 'kan?"


"Ergh sembarangan! aku membawa perut besarku ke sana? yang benar saja kamu!"


Jane semakin terbahak dan Ia langgsung mengusap bahu sepupunya yang kelihatan ksal sekali padanya.


"Tenang, Mumunya Grizelle. Aku hanya bercanda,"


"Tapi kalau sudah melahirkan mau aku ajak ke sana 'kan?"

__ADS_1


Vanilla menatapnya tajam dan Jane langsung menjauh saat Vanilla akan mencubit pinggang rampingnya.


Mereka tiba di depan pintu klinik dan lagsung dibukakann oleh petugasnya, mereka juga mendapat sambutan sopan dari klinik yang buka sangat cepat dan tepat waktu ini.


__ADS_2