
"Kenapa sudah pulang? sudah selesai menciptakan perdebatan dengan anakmu?"
Hawra yang tahu betul kebiasaan menantunya langsung menebak demikian. Biasanya setelah puas bicara yang tidak-tidak pada anaknya, Thanatan langsung undur diri. Ada saja yang Ia ucapkan untuk membuat anaknya sakit hati.
Saat Jhico baru sadar setelah mengalami kecelakaan saja, Thanatan langsung mengatakan pada Jhico bahwa kecelakaan yang dialami Jhico karena Jhico durhaka terhadapnya. Ia juga sering sekali mengingatkan Jhico akan karma apalagi Jhico sudah punya anak, bukan tidak mungkin anaknya akan berperilaku sama seperti Jhico pada orangtuanya. Tapi seperti biasa, Jhico hanya menjadi pendengar yang baik. Ia tak membalas kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Papa nya.
"Dimana soup itu? Karina meminta aku untuk mengambilnya,"
Hawra sedikit terperangah mendengar itu. Ia tidak menyangka kepulangan Thanatan ke rumah untuk mengambil soup salmon yang sengaja ditinggalnya tadi.
Thanatan berjalan ke ruang makan karena Hawra tak kunjung menjawab. Ibu mertuanya itu malah menatap tidak percaya ke arahnya.
Thanatan mendapatkan sebuah wadah bersusun di atas meja makan. Ia membukanya sebentar. Setelah melihat isinya, Ia kembali menutup wadah tersebut.
"Aku kembali ke rumah sakit dulu, Bu."
"Ya, hati-hati. Tapi apa benar Karina yang memintamu untuk--"
"Tentu saja. Kalau tidak, untuk apa aku pulang lagi?"
"Karina seperti wanita hamil saja,"
"Maksud Ibu?"
"Keinginannya harus terpenuhi. Ibu pikir dia mau makanan lain tidak harus soup itu. ternyata dia malah menyuruhmu untuk mengambilnya,"
Thanatan menggeleng, merasa ucapan Hawra merupakan sebuah hal yang tidak mungkin. Hanya Jhico anaknya. Sepertinya Tuhan memang menakdirkan Ia dan Karina untuk memiliki satu anak.
*****
"Aku tahu kamu terkejut dengan sikap Keyfa tadi. Aku harap kamu mengerti. Dia anak kecil yang usianya hampir sama dengan Adrian,"
Jhico tidak bermaksud untuk membuat istrinya kembali mengingat masalah tadi. Namun Ia merasa itu semua perlu diluruskan.
"Iya, aku tidak mau memikirkan itu. Aku hanya ingin fokus dengan kesembuhan mu,"
Memikirkan Keyfa malah membuat Vanilla sakit kepala dan sibuk dengan ego nya sendiri. Ia tidak mau hal itu terjadi. Ia sudah cukup dewasa untuk menyikapi semua hal.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang. Mungkin Grizelle sudah bangun,"
"Astaga, Aku hampir melupakan Griz," ucap Jhico seraya menepuk pelan keningnya.
__ADS_1
Vanilla meraih tasnya dan bersiap untuk kembali ke apartemen. "Kamu terlihat lemas lagi. Tapi maaf aku tidak bisa menemani mu lebih lama,"
"Aku baik-baik saja,"
Vanilla mengusap kening suaminya singkat lalu Ia juga meninggalkan kecupan di pipi Jhico. Jhico menahan tengkuk Istrinya agar jangan tegap dulu. Ia ingin memberikan ciuman di bibir Vanilla sebagai tanda perpisahan.
"Kenapa kamu lemas lagi, Co? apa karena mau ditinggal Vanilla? secepat itu reaksi tubuhmu?" Karina menggoda anaknya yang tak bisa menyembunyikan tawa pelan nya.
"Aku pulang dulu ya,"
"Okay, kalau sudah sampai tolong segera kabari aku," pesan lelaki itu sebelum istrinya benar-benar meninggalkan ruang perawatannya.
******
Adrian tentu saja senang ketika Vanilla lama sampai di apartemen. Karena itu artinya Ia lama juga di apartemen menemani Grizelle. Meskipun Ia bosan karena Grizelle belum bisa diajak bermain banyak seperti Auristella dan Andrean, namun Ia tetap senang bisa berada di dekat Grizelle.
Berbagai cara Ia lakukan untuk mengusir kebosanannya. Salah satunya dengan menyibukkan diri bersama mainan-mainan yang Ia bawa dan juga Auristella yang selalu setia mengikuti kakak keduaya karena Ia juga merasa bosan. Mereka berdua memang berbeda dengan Andrean yang kalau bosan pasti memilih untuk menonton televisi, bermain game di ponsel Lovi, membaca buku apapun yang ada didekatnya, atau mengajak Grizelle mengobrol.
"Icell, liyat ini!"
Auristella membawa angsa kecil yang telah diisi air oleh Adrian. Kakak keduanya itu memberikan angsa tersebut pada adiknya.
Lovi menggeram marah pada anak perempuannya yang membuat lantai basah.
"Siapa yang mengizinkan kamu ke kamar mandi sendiri? Mommy sibuk dengan Griz di sini, rupanya kamu ke kamar mandi sendirian?"
"Ndak,"
"Lalu siapa yang mengisi angsa itu dengan air?"
"Yan,"
"Erghhh Adrian ini benar-benar ya,"
"Kamu urus dulu anakmu, Lovi. Biar Mama yang menggantikan baju Grizelle,"
Lovi mengangguk setelah Rena bicara seperti itu. Ia segera ke kamar mandi guna mencari si penyebab masalah.
Sampai di kamar mandi, rupanya Adrian tengah sibuk bermain kapal-kapalan di bathup yang Ia isi dengan sedikit air.
"Adrian, keluar sekarang! pantas saja suaramu tidak terdengar rupanya kamu sibuk di sini,"
__ADS_1
Adrian langsung menoleh terkejut saat Lovi menegurnya dan kini berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Belajar tanggung jawab. Bersihkan lantai yang sudah dibuat basah oleh adikmu. Angsa itu kamu isi dengan air dan ketika Auris membawanya, air itu tentu saja tumpah ruah,"
"Bukan aku yang membuat lantai basah dengan air,"
"Tapi kamu yang mengisi angsa mainan Auris dengan air. Jadi kamu harus tanggung jawab sekarang. Keringkan lantainya!" titah Lovi dengan tegas. Kalau sudah seperti itu, tidak ada lagi keberanian untuk membantah Lovi. Mommy nya itu kalau sudah marah bisa lebih menyeramkan daripada Daddy nya.
Lovi membawa Adrian keluar dari kamar mandi lalu menemui Bibi di kamarnya untuk bertanya pada Bibi.
"Bi, alat pengering lantai dimana? tolong berikan pada Adrian,"
"Untuk apa?"
"Dia membuat lantai basah, Bi."
"Bibi saja yang keringkan. Adrian 'kan masih kecil,"
"Tidak apa, Bi. Adrian memang sudah biasa melakukannya,"
"Iya, Bi. Aku anak hebat. Jadi mengeringkan lantai bukan hal yang sulit," dengan wajah yang meremehkan, Adrian menyahuti.
Akhirnya Bibi memberikan alat pengering lantai yang penggunannya tentu saja sangat mudah. Tinggal digerakkan secara otomatis namun memang perlu diarahkan ke lantai yang ingin dikeringkan.
Rena yang melihat cucunya itu hanya bisa menggeleng pelan. "Kamu sudah sering mendapat hukuman tapi tidak jera juga,"
"Ini bukan hukuman, Grandma. Ini sebuah tanggung jawab. Iya 'kan, Mom?"
Lovi segera mengangguk, membenarkan kalimat anaknya. Karena Ia sudah berbuat kesalahan jadi harus bertanggung jawab untuk mengembalikan ke kondisi seperti semula. Di rumah sendiri saja Lovi sering menegaskan pada anaknya betapa penting untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat. Apalagi saat ini mereka berada di tempat yang bukan milik mereka. Rasanya tidak etis bila Vanilla sampai di apartemen, lantai dipenuhi dengan genangan air.
"Kamu tidak pernah jera. Malah dilakukan lagi. Grandma kira setelah kita jarang bertemu karena kalian tidak lagi tinggal di mansion, ada perubahan dari kamu, Sayang."
"Tidak, Grandma. Aku tetap Adrian yang sama seperti saat tinggal di mansion,"
"Setelah pindah ke rumah, pasti kamu semakin sering melakukan kesalahan,"
Adrian menghentikan kegiatannya sesaat untuk berpikir. Lalu Ia menggeleng seraya menjawab dengan sedikit ragu, "Hmm... tidak juga."
-------
Gayss kayanya aku dah pernah bilang kan ya kalo si Keyfa itu msh bocil. Yaa hampir-hampir kea Adrian & Andrean lah. Aku liat komenan kalian kemaren, kocag bgt😂😂 pd kzl sama Keyfa wkwk.
__ADS_1