
"Hei, Aunty Vanilla,"
Vanilla tiba di rumah langsung mendapat sambutan dari anak dan dua keponakannya yang sangat riuh, sementara satunya lagi hanya tersenyum, pertanda ikut senang Aunty nya sudah pulang ke rumah walaupun sambutannya tak seriuh kedua adiknya.
"Hai, triple A kesayangan Aunty,"
"Hai, Grizelle anak kesayangan Mumu,"
Ia menyapa keempatnya dengan hangat. Sambutan mereka membuatnya lupa dengan rasa lesu yang masih menderanya sedikit.
"Mumu, kenapa aku disebut terakhirrl (terakhir). Seharrlusnya (seharusnya) aku dulu,"
Vanilla tersenyum menyadari anaknya yang cemburu, karena disebut terakhir daripada tiga sepupunya padahal Ia tak kalah semangat menyambut Mumunya.
"Okay, Mumu ulangi ya,"
"Hai Grizelle anak kesayangan Mumu,"
"Hai Triple A kesayangan Aunty,"
Grizelle tersenyum puas. Itu yang Ia inginkan. Mulut Vanilla harus menyebut namanya di urutan pertama.
"Sudah?" tanya Vanilla pada anaknya yang langsung mengangguk.
"Itu barrlu benarrl ( baru benar), Mu,"
"Kalian menginap di sini 'kan? temani Icelle," tanya Jhico pada Kakak beradik anak dari kakak istrinya itu. Mereka kompak mengangguk dan itu menghadirkan senyumnya.
"Boleh 'kan, Uncle?"
"Boleh, Sayang. Justru itu yang Uncle inginkan. Griz sudah sangat merindukan kalian. Jadi kalian harus menginap di sini, melepas rindu dengan Griz,"
Karina dan Rena tersenyum menyambut kedatangan putra putri mereka. Mereka langsung menyuruh Vanilla untuk ke kamar agar beristirahat.
"Mama langsung pulang ya," pamit Rena pada anak dan menantunya.
"Iya, Ma. Hati-hati, terimakasih sudah menemani Griz semalam,"
Rena mengangguk dan mengecup sekilas kening putrinya. "Iya, sama-sama. Kamu harus lebih baik lagi dalam menjaga kondisi tubuhmu dan janinmu, Van,"
"Iya, Ma. Pasti,"
"Mama pulang ya, Co,"
Jhico mengangguk seraya tersenyum. "Terimakasih, Ma. Hati-hati di jalan,"
"Ya, tolong jaga dengan baik anak Mama itu. Marahi saja kalau sulit diatur ya," pesannya seraya terkekeh kecil.
"Tentu, Ma," sahut Jhico dengan tawanya juga.
Rena mengecup satu persatu kening cucunya seraya berpamitan pada mereka juga. Kemudian Ia bergegas meninggalkan kediaman Vanilla dan Jhico.
__ADS_1
Vanilla diantar ke kamar oleh Jhico, Karina, dan keempat anak kecil yang dengan setia mengikuti juga.
"Berhubung Vanilla sudah sampai di sini dan kondisinya juga sudah membaik. Mama pulang ya," kini giliran Karina yang berpamitan. Ia sudah lega setelah mengetahui kondisi Vanilla yang sudah diperbolehkan pulang dan memang benar-benar hanya semalam di rumah sakit.
"Nay-Nay kenapa ikut pulang? aku merrlasa (merasa) sepi nanti," Grizelle terlihat sekali sulit melepas kepulangan neneknya. Tadi saat Rena pulang, Ia sudah merasa kehilangan, sekarang Karina ingin pulang juga, Ia merasa semakin kehilangan.
"Tidak mungkin kesepian. Banyak teman di sini. Ada--"
Karina menunjuk satu persatu sepupu dari cucunya itu.
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga,"
"Ada tiga teman Griz di sini. Jadi Nay-Nay izin pulang ya?"
Karina merendahkan tubuhnya untuk merangkum pipi Grizelle dan menciumnya di kening. Ia juga melakukan hal yang sama pada Andrean, Adrian, dan adik bungsu mereka.
"Nay-Nay pulang ya. Terimakasih sudah mau menginap di sini menjadi teman Griz,"
"Iya, Nay-Nay. Hati-hati di jalan," pesan Adrian dengan senyum hangatnya. Karina ini sudah seperti nenek kandung mereka juga. Sama seperti Rena. Karina baik sekali, tak hanya pada Grizelle tapi terhadap mereka bertiga juga.
"Mumu sudah makan?" tanya Grizelle yang begitu perhatian.
"Sudah, tadi sebelum pulang. Kalian berempat sudah?"
"Makan dengan Pupu," suruh Vanilla pada keempat anak itu agar makan dengan suaminya yang juga belum makan.
"Kamu belum makan siang. Sekarang sudah sore. Makanlah dengan mereka,"
Jhico mengangguk, Ia menyimpan kursi roda di sudut kamar dekat dengan kaca jendela setelah itu mengajak anak dan keponakannya bergegas ke ruang makan.
"Kita sudah kenyang sebenarnya,"
"Iya, di sini kita disuruh Griz makan terus,"
"Iya, kita sudah banyak makanan ringan,"
"Tapi itu bukan makanan pokok. tapi makanan ringan," bantah Grizelle pada Auristella.
"Tetap saja, itu namanya makan, Icelle,"
"Iya, judulnya makan," tegas Adrian mendukung adiknya. Memang benar, di rumah ini Grizelle selalu mengajak mereka menikmati makanan. Apapun yang ada, Grizelle tawarkan pada mereka tidak hanya yang ringan saja. Pastilah kenyang sekalipun bukan makan berat atau pokok seperti yang dikatakan Grizelle barusan.
"Jadi mau makan atau tidak?" tanya Jhico pada mereka.
Kompak triple A menggeleng dan Grizelle mengangguk sendiri. Ia yang menyadari itu medengus kesal kemudian merengek.
"Harrlus (harus) makan. Nanti sakit,"
__ADS_1
"Tapi kami masih kenyang," kali ini Andrean yang bersuara.
"Ya sudah, Griz saja yang makan dengan Pupu,"
"Aku ikut kakak-kakakku saja. Aku makannya nanti, Pu,"
Jhico meggeleng pelan. Benar-benar saling terikat mereka ini. Perkara makan saja harus kompak.
"Ya sudah, kalau begitu Pupu saja yang makan,"
"Ya, makanlah, Uncle. Uncle itu harus banyak makan supaya kuat menjaga Aunty,"
Jhico tersenyum mendengar kalimat Adrian yang kini menjadi pengamat saja di meja makan, sama dengan Grizelle, Andrean,dan Auristella.
"Hanya melihat saja? yakin tidak mau makan?"
"Yakin,"secara bersamaan mereka menjawab seraya mengangguk. Keempatnya saling melirik kemudian tertawa setelahnya tentu dengan Andrean yang hanya tersenyum saja, entah hanya senyum atau tertawa tipis. Sulit membedakannya, yang jelas berbeda sekali dengan Grizelle, Adrian, dan Auristella yang tertawa lebar.
"Kita seperrlti (seperti) anak kembarrl (kembar) ya,"
"Kita memang kembar, Icelle. Tapi berbeda rahim,"
Jhico menahan tawanya saat mendengar penuturan Auristella sebab Ia sedang makan.
"Uncle baru tahu ada kembar beda rahim. Itu bagaimana ceritanya?"
"Ada, Uncle. Itu kami, kembar beda rahim,"
"Kalau kembarrl (kembar) itu lahirrl (lahir) di waktu yang berrldekatan (berdekatan),"
"Iya, seperti aku dan Ean. Auris memang aneh. jangan dengarkan dia, Icelle,"
"Memang ada. Itu aku yang buat ceritanya. Mengarang sendiri,"
"Ya, suka-suka Auris saja. Yang penting Auris bahagia ya,"
Grizelle terkikik melihat ayahnya yang sepertinya pasrah saja mendengarkan celotehan Auristella.
"Uncle, kami benar boleh menginap di sini?"
Jhico menelan makanannya kemudian menjawab, "Iya boleh, Ian. Justru Uncle senang sekali kalian ada di sini. Griz sudah menantikan kepulangan kalian dengan rasa tidak sabarnya. Uncle juga begitu. Uncle senang sekali kalau kalian mau menginap di sini. Tapi Daddy dan Mommy kalian sudah memberi izin 'kan?"
"Sudah, Uncle. Tidak mungkin dilarang karena mereka juga tahu Griz rindu dengan kami bertiga,"
"Hih kalian memang tidak rrlindu (rindu) denganku? kenapa hanya aku?"
Melihat obrolan anak-anak di depannya ini, tak terasa Jhico sudah hampir menghabiskan makan siangnya yang lebih tepat disebut makan sore.
"Tapi kamu lebih rindu 'kan?"
Grizelle menggeleng dengan raut meyakinkan. "Tidak, lebih rrlindu (rindu) kalian pasti. Ayo mengaku saja,"
__ADS_1
"Sama-sama saling merindukan. Itu yang benar," lugas Jhico tak ingin mereka berdebat kecil hanya karena perkara rindu. Sudah jelas mereka sama-sama merindukan satu sama lain karena biasanya sering bertemu. Belakangan ini tidak sama sekali, hanya mengandalkan panggilan telepon atau video.