Nillaku

Nillaku
Nillaku 217 (Grizelle "Aku senang kalau punya kakek dua")


__ADS_3

"Vanilla bukan istri dan Ibu yang bodoh. Dia adalah sosok luar biasa. Aku dan dan dia sama-sama masih terus belajar menjadi orangtua yang baik. Dan kejadian waktu itu, bukan kesalahannya. Semua terjadi karena takdir,"


Grizelle menatap ayah dan kakeknya bergantian. Posisi Jhico membelakangi putrinya sehingga Ia tak sadar betapa tidak menyangkanya Grizelle menyakaikan pertengkaran antara dirinya dan sang ayah.


Thanatan menatap Grizelle dalam diam. Ia yang tadinya akan memaki Jhico seketika terdiam karena kehadiran Grizelle di sana. Ia tidak ingin cucunya itu melihat secara langsung bagaimana perangainya selama ini terhadap Jhico.


Entah mengapa, kali ini Thanatan peduli terhadap penilaian Grizelle pada dirinya. Ia tidak ingin dibenci oleh cucunya itu. Tapi apa mungkin Grizell tidak membencinya mengingat bagaimana sikapnya selama ini terhadap Grizelle? tak acuh, terkadang baik terkadang sebaliknya. Hingga mungkin Grizelle bertanya-tanya, apa salahnya?


Kalaupun Grizelle sudah membenci dirinya, Thanatan tidak ingin kebenciannya bertambah karena menyaksikan secara langsung Ia yang kasar terhadap Jhico.


"Sudah cukup Papa menyakiti aku sejak kecil,"


Jhico perlu memilah kata dari sekian banyak rangkaian kata yang ingin Ia luapkan pada sosok ayah di depannya ini.


"Lakukan apa yang biasa Papa lakukan, yaitu tidak peduli dengan apapun tentang aku. Dan perlu Papa ingat, Grizelle tidak pernah berharap lebih terhadap Papa. Ia sudah cukup senang dengan memiliki kakek yang lain, Papa Raihan. Ayah dari perempuan yang Papa katakan bodoh, tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Nyatanya, Papa Raihan berhasil mendidik Vanilla hingga menjadi perempuan yang luar biasa, tidak bodoh sebagai pendampingku dan juga Ibu yang melahirkan Grizelle,"


Telak, ada rasa semacam tidak terima mengetahui bahwa Grizelle sudah cukup senang hanya dengan memiliki Raihan?


Kenapa Thanatan merasa tidak terima? padahal wajar saja jika memang itu kenyataannya.


"Pupu..."


Jhico menelan ludahnya pahit mendengar suara pelan yang begitu Ia kenali.


Ia menoleh dan benar, anaknya ada di sana. Seolah memberinya ketenangan untuk menyirami semua perasaan emosi yang sempat berkobar.


"Aku senang kalau punya kakek dua. Kalau satu saja, tidak cukup,"


Hangat menjalar di dada Thanatan mendengar ucapan polos Grizelle. Entah disadarinya atau tidak, anak itu seperti membantah bahwa apa yang dikatakan Jhico tidaklah benar. Kebahagiaannya akan sempurna kalau bukan hanya Raihan yang menjadi kakeknya.

__ADS_1


Jhico tersenyum miris. Selama ini Grizelle diperlakukan baik terkadang sebaliknya, tapi kini anaknya itu tetap tidak ingin menyakiti hati siapapun, termasuk orang yang mungkin sudah membuatnya sedih atau bahkan merasa tidak diterima kehadirannya.


Hawra dan Karina hanya bisa terdiam menyaksikan semuanya. Mereka tidak mengerti awal mula perdebatan tadi bisa terjadi. Tapi yang bisa mereka tangkap saat ini adalah, Thanatan lagi-lagi menyakiti anak lelakinya, anak tunggalnya. Selalu, selalu saja Thanatan menganggap Jhico seperti musuh. Tidak pernah berdamai semenjak Jhico memilih untuk berbelok, menghindar dari jalan yang sudah Ia tentukan, yaitu menjadi pemegang seluruh kekuasaannya. Dari kecil mereka yang memang kurang dekat layaknya ayah dan anak pada umumnya, semakin beranjak menjauh dikala Jhico tumbuh besar dan mulai bisa menentukan apa yang baik untuk dirinya sendiri.


"Kita pulang ya. Mumu sudah menunggu di luar," ajak Jhico dengan lembut, bahkan suaranya terdengar bergetar. Dirinya yang tadi lebur dalam amarah, perlahan melunak, menjadi Jhico yang biasanya. Itu semua karena Grizelle. Anaknya yang datang tepat waktu. Menyelesaikan semua sebelum Jhico semakin hilang kendali.


Keinginannya untuk mengobrak-abrik rumah itu demi melampiaskan panas yang memenuhi rongga dada, langsung habis tak bersisa. Jhico lupa kalau ada malaikat kecilnya di rumah itu, yang bisa saja merasa hancur ketika melihat dirinya benar-benar melakukan itu. Ia tidak ingin Grizelle yang selama ini menganggapnya sebagai pelindung, justru malah ketakutan saat Ia berbuat kekacauan di rumah orangtuanya itu.


"Kakek, Nay-Nay, Oma, aku pulang dulu ya. Telimakasih sudah mengajakku ke sini," pamitnya pada ketiga orang yang kini terpaku menatapnya.


Grizelle melepas genggaman tangannya dari sang ayah untuk memeluk satu persatu dari mereka.


Thanatan merasa terkejut mendapati dirinya lah orang pertama yang direngkuh Grizelle.


Ia tak mampu membalas pelukan itu atau bahkan sekedar mengusap punggung kecil dalam dekapannya karena Ia merasa sangat terkejut. Ketika grizelle melepas pelukannya, Ia merasa kosong, hampa, dan tidak biasanya.


Karina tak hanya membalas pelukan cucunya. Ia bahkan menggendong anak itu sebentar untuk memberikannya kecupan bertubi-tubi seraya meracaukan kata 'terimakasih' dalam hatinya atas ketulusan hati anak itu yang tetap menyayangi kakeknya.


Grizelle mengangguk dalam pelukannya. Karina melepaskan Grizelle, membiarkan anak itu memeluk Hawra.


"Aku pulang dulu, Oma. Oma halus (harus) sehat telus (terus). Oh iya, sekali-sekali oma yang datang ke lumah (rumah) ku ya,"


Hawra mengangguk kemudin mengusap lembut kepala anak Jhico yang cantik paras dan hatinya itu. Jhico menurunkan sikap baik hati dan tulusnya pada Grizelle.


Disaat cucunya yang lain jarang sekali ingin bertemu dengannya, Jhico justru menjadikan dirinya sebagai orangtua kedua, sangat disayang dan cintai, karena Hawra yang ada disaat Karina dan Thanatan bergelut dengan kesibukan masing-masing.


"Ayo, Pu,"


Jhico mengangguk, Grizelle menoleh ke belakang untuk melambai dengan riang pada Karina dan Hawra. Thanatan sudah undur diri untuk menenangkan dirinya yang lebih cenderung merasa tidak karuan atas perlakuan Grizelle terhadapnya tadi daripada marah karena ucapan putranya yang seharusnya menyebabkan Ia sakit hati berat karena Jhico menyinggung tentang bagaimana dirinya selama menjadi orangtua.

__ADS_1


Jhico menggendong putrinya dan tak henti bergumam sangat lirih ditelinga Grizelle, "Maafkan Pupu dan Terimakasih ya, Sayang."


******


Tiba di carport rumah orangtuanya yang luas, Jhico panik tidak menemukan Vanilla.


Tadi, Ia meninggalkan perempuan itu di dalam mobil yang masih berada di carport. Sekarang, entah dimana keberadaan istrinya itu.


"Dimana Mumu, Pu? Tadi kata Pupu, Mumu sudah menunggu. Apa Mumu di dalam mobil Pupu?"


Tidak mungkin, kunci mobil miliknya ada di saku celananya. Darimana Vanilla bisa masuk?


Jhico membuka pintu mobil. Memang sudah pasti kosong. Ia menghembuskan napas berat, mendapati kenyataan bahwa istrinya sudah pergi lebih dulu, tidak menunggu dirinya dan Grizelle.


Jhico memposisikan anaknya di carseat kemudian Ia duduk di balik kemudi.


"Mumu ditinggal, Pu?"


"Mumu sudah pulang lebih dulu, Sayang,"


Grizelle membulatkan mulutnya seraya mengangguk. Jhico mulai melajukan mobilnya. Otaknya berkelana memikirkan pujaan hatinya itu. Vanilla mengendarai mobil dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Jhico merasa khawatir. Ia berharap mereka bisa bertemu di rumah dalam kondisi yang sama-sama jauh lebih baik.


Jhico tadinya ingin mengajak anak dan istrinya menjelajahi jalanan dulu sambil menunggu malam tiba baru kemudian mereka makan malam bersama. Tapi sepertinya semua rencana Jhico itu urung terlaksana.


 -------


Selamat siang semuanyaaa. Udh makan siang blm? komen di bawah kalian dpt notif Nillaku pas kalian lg ngapain?

__ADS_1


 


__ADS_2