
Jhico merasa senang saat mobilnya telah tiba di rumah. Akhirnya Ia sampai dan tentu tanpa menunggu waktu lama, Jhico masuk ke dalam rumah.
"Vanilla jarang keluar dari kamar hari ini,"
"Oh iya, Bi. Memang tadi pagi dia mengeluh sakit kepala. Aku melihat keadaannya dulu ya, Bi,"
Jhico segera melangkah ke kamarmya setelah mendapat laporan dari Bibi mengenai istrinya.
Ia membuka pintu dengan pelan. Ia kira Vanilla sudah tidur. Ternyata tidak.
"Hampir jam sembilan," kata Vanilla setelah melihat suaminya mebuka pintu kamar.
"Iya, maaf aku pulang lumayan malam,"
"Tidak apa. Sudah makan, Jhi?"
"Sudah, Nilla. Aku bersih-bersih sebentar ya,"
Vanilla mengangguk sementara Jhico masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritualnya seperti biasa sebelum bergabung bersama istri dan anaknya tapi malam ini anaknya tudak menyambutnya sebab Ia di kediaman kakek dan neneknya.
*****
"Kamu kenapa belum tidur?"
"Belum mengantuk,"
"Besok sekolah,"
"Iya, aku tahu, Kakek. Tapi aku belum ingin tidurrl (tidur),"
Thanatan menunjuk Karina dengan dagunya seraya berucap, "Nay-Nay sudah tidur,"
Karina dan Grizelle masih tidur di ranjang yang berbeda dengan Thanatan sebab Karina tidak tahu apakah suaminya sudah sembuh sepnuhnya atau belum. Ia khawatir Grizelle ikut sakit ketika tidur di tengah antara dirinya dan Thanatan di tempat tidur yang sama.
Karina sudah terlelap sejak sepuluh menit yang lalu sementara Grizelle masih nyaman duduk di ranjang menatap kakeknya.
"Lebih baik tidur, Grizelle. Daripada kamu diam aja begitu,"
Grizelle menggeleng, matanya belum bisa diajak terpejam. Ia masih ingin melihat Kakeknya yang masih bekerja padahal sudah pukul sembilan malam lebih.
"Kakek, ucapan Kakek tadi pada Uncle Devan. Itu benarrl (benar)?"
Thanatan yang sedang menggerakkan jarinya di ataa keyboard laptop menoleh dan mengerinyitkan keningnya.
"Ucapan yang mana?"
"Yang tentang---berrliburl (berlibur) itu,"
__ADS_1
Thanatan kembali fokus dengan pekerjaannya dan belum juga menjawab dengan jelas pertanyaan Grizelle.
"Kakek," Grizelle memamggil Thanatan sebab Ia belum mendapat jawaban dari mulut sang kakek.
"Ya, benar,"
"Kakek mau berliburrl berrlsama (berlibur bersama) kami?"
"Ya, kenapa tidak?"
"Yeaayyy aku semakin tidak sabarrl (sabar) adikku lahirrl (lahir) lalu kita liburrlan berlsama (liburan bersama),"
Grizelle mengangkat tangannya yang mengepal ke atas kemudian Ia berseru dan baru sadar beberapa detik kemudian kareja ditatap datar oleh kakeknya.
"Ini sudah malam,"
Ia lupa kalau Ia terlalu berisik disaat waktu sudah malam dan Karina sudah beristirahat.
Thanatan mengangjat sudut bibirnya ikut merasa senang melihat bahagia yang kini meliputi hati cucunya hanya karena Ia menjawab bahwa akan ikut liburan bersama dengannya dan triple A.
Semoga Ia bisa terus membuat anak itu senang yang sebanrnya hanya dengan cara sederhana saja sudah bisa. Tapi selama ini Ia rasa tidak pernah sama sekali melakukannya. Yang ada, selalu membuat Grizelle murung dengan sikapnya yang dingin tidak tersentuh sebab Ia belum bisa menerima kehadiran Grizelle dari awal Ia lahir ke dunia.
"Masalahnya itu masih lama,"
"Tidak apa, Kakek. Waktu tidak terrlasa berrljalan (terasa berjalan),"
"Berdoa saja supaya Kakek tidak berubah pikiran,"
Melihat ekspresi Grizelle yang sudah merengut, Thanatan tertawa. Ia hanya ingin tahu reaksi Grizelle ketika Ia berkata seperti itu.
"Kakek jangan berrlubah pikirrlan (berubah pikiran) nanti aku sedih. Dan bisa jadi aku tidak jadi liburrlan (liburan),"
"Jangan, ini merupakan rencana kamu dan Auristella 'kan?"
"Iya, tapi kalau ada Kakek lebih menyenangkan. Aku akan mengajak Grlandpa dan Grlandma juga,"
"Sudah ada Grandpa dan Grandma kenapa masih mengajak Kakek?"
"Karena Kakek juga merrlupakan (merupakan) Kakek ku, bukan hanya Grrlandpa," Secepat kilat Grizelle menjawab dan secepat itu juga hati Thanatan menghangat. Ia begitu dihargai kehadirannya oleh Grizelle. Bagaimana hatinya tidak menghangat. Anak sesusianya sudah tahu cara bagaimana memperlakukan orang terdekatnya. Bisa saja Grizelle bahagia bersama Raihan dan Rena. Tapi Ia tidak mau melupakan kakeknya yang satu lagi. Thanatan juga harus ikut bersamanya dan Ia juga berhak bahagia bersama Thanatan. Intinya mereka akan bahagia bersama-sama.
"Hanya Kakek saja yang diajak? Nay-Nay tidak 'kan?"
Thanatan tahu betul jawaban Cucunya. Tidak mungkin Karina tidak diajak oleh Grizelle. Tadi saat masih ada keluarga Devan saja Grizelle beruang kali mengatakan bahwa Nay-Nay dan Kakeknya hrus ikut begitupun dengan Grandpa dan Grandma nya.
Tapi saat ini Grizele seperti mencecarnya sekali untuk ikut dan tak berubah pikiran tidak menyebut-nyebut Karina. Maka Ia ingin tahu apa Grizelle maaih ingin mengajak neneknya yang satu lagi.
"Diajak juga,"
__ADS_1
"Oh Kakek kira hanya Kakek saja,"
"Tidak, Nay-Nay 'kan juga nenek ku. Sama seperrlti (seperti) Grrlandma," lugas anak itu yang tak ingin kalah menegaskan bahwa Karina juga harus ikut karena Karina juga bagian dari dirinya.
"Ya sudah, pembahasan tentang liburan selesai. Waktunya kamu tidur,"
Grizelle mengerucutkan bibirnya. Padahal Ia masih ingin terlibat obrolan panjang dengan Kakeknya. Jarang sekali itu terjadi.
"Padahal besok belum tentu kita mengobrrlol (mengobrol) lagi, Kakek,"
"Kenapa?"
"Besok aku sudah pulang. Dan jarrlang (jarang) sekali ke sini?"
"Ya maka jangan jarang-jarang,"
Grizelle tersenyum. Itu seperti sebuah undangan dari Thanatan kalau Ia boleh sering datang ke sini.
"Memang boleh?"
"Boleh apa?"
"Boleh aku serrling (sering) datang ke sini?"
"Hmm, boleh?" lugas Thanatan masih dengan kegiatannya.
"Kakek," Grizelle memanggil kakeknya yang membuat Thanatan menoleh.
"Apalagi, Grizelle? Kakek sedang bekerja. Jangan mengganggu,"
"Hmm baiklah,"
Grizelle tidak berani lagi bersuara. Ia tahu betul kalau Kakeknya paling tidak suka diganggu ketika sedang fokus dan sibujk. Terbukti dari seringnya Ia yang disuruh pergi oleh kakeknya kalau Ia mendatangi kakeknya di ruang kerja.
"Kakek,"
Terdengar decakan pelan dari Thanatan. Sungguh, Ia tidak dianugrahi kesabaran yang luas. klau saja tidak ingat bahwa yang kini memanggilnya untuk kedua kali adalah cucunya yang selama ini telah ia buat kecewa, maka sudah pasti amarahnya akan keluar karena Ia benar-benar merasa terganggu. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk lebih baik lagi terhadap Grizelle. Tapi kalau Grizelle sudah keterlaluan membuat amaramya mencuat, Ia yang merupakan manusia biasa bisa saja hilang kendali membentaknya.
"Aku hanya ingin mengatakan selamat malam, Kakek," kata Grizekke seraya tertawa melihat raut tak bersahabat dari Kakeknya. Ia tahu Kakeknya itu kesal karena Ia tak kunjung berhenti bersuara yang membuat Kakeknya tidak fokus.
"Hmm,"
"Hmm apa, Kakek? kenapa tidak mengucapkan selamat malam juga padaku?"
Grizelle tanpa sadar sudah tidak canggung lagi berinteraksi dengan Thanatan bahkan kini berani menggodanya hingga membuat kesal. Biasanya, melihat tatapan datar Thanatan saja Ia sudah takut dan tersenyum meringis.
"Selamat malam," ujar Thanatan akhirnya.
__ADS_1
"Hah, kalau begitu, aku bisa tidurrl (tidur) lelap malam ini,"
Grizelle meletakkan kedua tangannya di pipi dan Ia berbaring mirng. Matanya memejam dan perlahan alam bawah sadar menjemputnya.