Nillaku

Nillaku
Nillaku 198


__ADS_3

Vanilla melakukan rutinitasnya selagi tidak pergi pada pagi hari, yaitu mengantar anak dan suaminya sampai memasuki mobil.


"Mu, yakin tidak mau mengantal aku?"


"Bukan tidak mau, Sayang. Mumu 'kan harus mempersiapkan diri sebelum ke sekolah kamu nanti,"


"Hmm baiklah. Aku pelgi (pergi) sekolah dulu. Bye, Mu. Hati-hati ya. Aku sayang Mumu,"


Vanilla mengangguk dan tersenyum. Ia mencium hidung Grizelle dengan gemas. Lalu menutup pintu mobil di samping kemudi.


Sebelum itu, Ia sudah berpesan pada suaminya, "Hati-Hati mengendarai mobil nya, Jhi." Jhico mengangguk.


"Kamu juga hati-hati. Hari ini tidak kemanapun selain sekolah Grizelle 'kan?"


"Iya,"


"Diantar Mr Joe," pesan Jhico yang langsung diangguki patuh oleh sang istri. Tadinya Ia akan menyetir mobil sendiri tapi Jhico sudah berpesan seperti itu maka Ia tidak akan membantah. Permasalahan yang semalam saja masih dianggap belum tuntas oleh Jhico terbukti dari diamnya Jhico sedari tadi padanya, hanya bicara sesekali saja.


Setelah melepas kepergian Jhico dan Grizelle ke tempat mereka beraktifitas masing-masing yaitu klinik dan sekolah, Vanilla beranjak ke kembali ke dalam rumah.


"Bi, Nada, Ayo kita sarapan,"


"Iya, kamu saja dulu yang sarapan,"


"Ayolah, kita sarapan bersama. Biar nikmatnya lebih terasa," Vanilla tetap memaksa secara halus agar Bibi dan Nada mau sarapan bersamanya.


"Ayo, duduk di sini,"


Ia meminta Bibi dan Nada duduk di ruang makan. Vanilla bahkan menyiapkan piring untuk mereka berdua.


Ketiga perempuan itu sarapan bersama setelah Jhico dan Grizelle berangkat. Sarapan dengan suaminya yang masih terlihat pendiam pagi ini membuat Ia kurang nyaman. Lebih baik Ia sarapan dengan Bibi dan Nada karena bisa sembari berbincang dengan mereka juga. Jhico kalau sedang marah memang sering memilih diam. Lelaki itu butuh waktu untuk berdamai dengan kesalahan yang dilakukan oleh istrinya. Ia akui rasa cemburu memang ada di hatinya ketika melihat Vanilla berdansa dengan laki-laki lain. Tapi hal yang membuat Ia semakin marah adalah Vanilla yang kembali mengonsumsi minuman memabukkan sekalipun Vanilla mengaku hanya sedikit jumlahnya.


*****


"Grizelle, selamat pagi."


"Selamat pagi,"


Grizelle hampir tersentak ke belakang karena tiba-tiba temannya memeluk erat ketika Ia memasuki kelas.


"Kamu sepelti altis (seperti artis) saja, Gliz,"


"Memang kenapa?"


"Dipeluk tiba-tiba. Kita sepelti fans nya kamu. Hehehe,"


"Ada-ada saja kamu,"


Grizelle meletakkan ransel di kursinya, lalu Ia duduk dengan tenang. Sementara kedua temannya berdiri di dekatnya.

__ADS_1


"Silahkan duduk, kenapa kalian beldili (berdiri)?"


"Oh iya, Astaga. Kita sepelti body guald (body guard) kamu ya,"


Grizelle tak bisa menahan tawanya ketika salah satu dari mereka berdua menyahutinya seperti itu. "Jadi kalian itu fans aku atau body guald (body guard) aku?"


"Dua-duanya saja lah, Griz."


*******


"Rena, coba beritahu anakmu baik-baik. Jangan lagi dia bersenang-senang sampai lupa dengan anak,"


"Maksudmu apa?"


Raihan melempar ponselnya ke atas ranjang. Lalu menatap istrinya dengan tajam. "Kamu tidak dengar apa kata orang tadi?"


"Bagaimana aku mau dengar? tadi kalian bicara di rooftop kamar,"


Raihan berdecak dan menggertakan giginya. Ia masih merasa marah ketika orang suruhannya yang mengawasi Vanilla mengatakan bahwa Vanilla sempat menghadiri party lalu bersikap seolah dia adalah perempuan yang belum memiliki kewajiban sebagai Istri serta Ibu yang seharusnya tidak perlu berlama-lama di sebuah party, tidak perlu mengikuti dansa dengan orang lain, dan tidak mengonsumsi minuman memabukkan.


"Apa dia tidak malu dengan anaknya? jangan sampai Griz mengikuti jejaknya, Ya Tuhan,"


"Malu bagaimana sih? aku belum mengerti dengan ucapanmu," Rena kebingungan melihat suaminya marah-marah sendiri.


"Dia menghadiri sebuah acara lalu kamu pasti tahu lah apa yang dia lakukan bersama teman-temannya,"


"Lagipula tidak mungkin Jhico membiarkan dia mabuk," imbuh Rena.


"Jhico mengizinkan dia pergi sendiri ke acara itu karena Jhico masih sibuk bekerja. Ketika disusul oleh Jhico dan Grizelle, ternyata dia sedang bersenang-senang. Dansa dan minum,"


"Tapi dia tidak sampai mabuk 'kan?"


"Katamu beberapa hari lalu, sepertinya Vanilla hamil. Bagaimana kalau dia benar hamil lalu dia mengonsumsi alkohol?"


Rena diam sejenak. Ingatannya terlempar pada pembicaraannya dengan Vanilla hampir dua minggu yang lalu. Vanilla bercerita padanya kalau nafsu makannya menurun dan beberapa kali sempat mual. Rena memintanya untuk periksa karena tidak menutup kemungkinan Vanilla hamil. Tapi sepertinya Vanilla menghiraukan sarannya itu.


"Dia tidak hamil. Buktinya dia tidak cerita lagi padaku kalau dia mengalami hal-hal yang biasanya terjadi pada perempuan hamil,"


*******


Jhico mencari-cari ponselnya di saku, tidak ada. Di mejanya pun tidak ada. Kemudian Ia mencari di mobil, hasilnya pun sama.


Ia berdecak, kemudian kembali ke dalam klinik. Ia menelpon Vanilla menggunakan telepon klinik. Ia menelpon satu kali belum mendapat jawaban. Yang ke dua kali, barulah Vanilla menjawab teleponnya.


"Hallo, Jhi. Ada apa?"


"Ponselku sepertinya tertinggal di rumah. Bisa tolong carikan, Nilla?"


"Aduh aku sudah tidak di rumah,"

__ADS_1


"Kamu sudah berangkat ke sekolah Griz?"


"Aku ada pekerjaan sebentar,"


"Jadi tidak bisa ke sekolah Griz?"


"Bisa, tapi mungkin akan sedikit terlambat,"


Jhico menghembuskan napas pelan. Ia menggeleng pelan seraya memijat pangkal hidungnya.


"Daripada datang terlambat, lebih baik tidak usah datang sekalian, Nilla. Biar aku yang datang,"


Vanilla terdiam mendengar suaminya berbicara dengan nada datar. Pasti Jhico kecewa lagi padanya yang tidak bisa meluangkan waktu untuk urusan Grizelle.


"Aku bisa datang, Jhi."


"Iya, bisa. Tapi kalau terlambat untuk apa?"


"Ya sudah, aku ke sana secepatnya. Tidak perlu kamu yang ke sekolah, Griz,"


"Tidak usah kalau harus mengorbankan pekerjaanmu yang sangat penting itu,"


tut


tut


tut


Vanilla menatap layar ponselnya dalam diam setelah Jhico menyelesaikan panggilan secara sepihak.


Ia segera menghampiri managernya, Nein, untuk meminta keringanan waktu. Ia bisa melakukan pemotretan nanti setelah pulang dari sekolah Grizelle.


"Nein, aku harus ke sekolah Griz sekarang. Aku akan datang lagi nanti,"


"Tapi model laki-laki nya sebentar lagi datang, Vanilla. Kalian akan pemotretan berdua,"


"Aku mohon beri aku keringanan. Aku harus ke sekolah Griz sekarang karena ada pertemuan dengan para pengajarnya. Kamu memberi tahukan tentang pemotretan hari ini sangat mendadak. Semalam aku sudah berjanji untuk datang ke sekolah Griz sekaligus menjemputnya. Aku tidak ingin membuatnya kecewa. Dan aku tidak ingin Jhico yang datang ke sana karena dia sudah cukup sibuk dengan pekerjaan nya,"


"Jadi kamu menyalahkan aku yang baru memberi tahumu mengenai jadwal pemotretan hari ini? aku juga baru tahu beberapa saat sebelum memberi tahukan kamu, Vanilla." Nein tidak terima ketika Vanilla bicara seolah menyalahkan dirinya yang Vanilla anggap mendadak memberitahukan jadwal pemotretan.


"Bukan begitu maksudku,"


"Ya sudah, silahkan kamu pergi. Tapi setelah urusan mu selesai, segera kembali ke sini,"


"Iya, pasti. Terimakasih, Nein."


 -------


Kemarin aku gk up mon maap yaa :( aku mageran bgt aseli. Makasih yg msh setia menunggu

__ADS_1


__ADS_2