
"Pupu, kita naik golf cart lagi ya, setelah Pupu berlarrli (berlari),"
"Pupu tidak mau,"
"Haaa Pupu kenapa begitu? pokonya aku tunggu di sini. Setelah Pupu olahrlga (olahraga) kita naik golf cart lagi,"
Grizelle sudah berpesan begitu pada ayahnya yang akan lari pagi ini. Kebetulan sekarang akhir pekan. Digunakan Jhico untuk berolahraga.
"Atau Pupu olahrlga (olahraga) di dalam saja. Kan ada alatnya. Kenapa harlus (harus) berlarli (berlari) sih?"
Grizelle memperhatikan ayahnya yang tengah mengenakan sepatu. Jhico berdiri kemudian menjawab pertanyaan anaknya, "Pupu inginnya berlari, Sayang. Jangan protes ya,"
Grizelle tersenyum lebar kemudian mengangguk. Jhico mengacak lembut rambut putrinya sebelum meninggalkan halaman rumah.
"Pupu, nanti kita jalan-jalan ya" Sekali lagi Grizelle meminta itu pada ayahnya.
"Iya, Sayang. Nanti setelah Pupu berlari. Sekarang kamu masuk saja ke dalam. Jangan menunggu Pupu di sini,"
"Aku mau menunggu di sini saja," katanya bersikeras tak ingin meninggalkan halaman kemudian masuk ke dalam rumah.
"Pupu hati-hati ya,"
"Okay,"
Tak bisa melihat punggung ayahnya lagi, Grizelle berjalan taman. Ia menyamakan tingginya dengan tanaman yang ada. Kemudian dia di sana memandang tanaman. Sampai ia bosan, beralih ke tanaman yang lain. Sesekali Ia akan menyenuh penasaran tanaman tersebut. Apalagi kalau yang menarik di matanya. Grizelle bingung harus apa, makanya Ia memilih untuk melihat-lihat tanaman di rumahnya saja.
Saat akan berdiri tegap, Grizelle meringis karena kakinya masih sedikit nyeri akibat luka yang ia terima beberapa hari lalu. Ia duduk di kursi taman mengayunkan kakinya yang bergelantungan. Ia tidak tahu kalau Mumunya tengah mencari keberadaannya.
"Tadi mengantar Tuan ke depan,"
"Coba aku lihat. Jangan-jangan dia ikut Jhico lari pagi,"
Vanilla melangkah cepat setelah mendapat jawaban dari Nada. Ia harus hati-hati juga sebab kandungannya semakin terasa melelahkan ketika Ia bawa berjalan sedikit cepat saja.
"Icelle,"
"Kakak Icelle,"
Vanilla sudah mulai membiasakan diri memanggil putrinya dengan panggilan seperti itu. Terasa lumayan sulit karena Ia biasa memanggil anaknya dengan Grizelle saja tanpa ada kata-kata kakak di depannya. Karena Grizelle memang baru satu-satunya.
"Icelle,"
"Iya, Mumu,"
Grizelle mendengar sayup-sayup suara Mumunya yang memanggil. Ia turun dari kursi dengan cepat sampai kemudian merasa sakit lagi.
"Iya, Mumu. Aku di sini,"
Vanilla mendengar sahutan, kemudian Ia menghampiri dimana sumber suara itu berasal. Vanilla menghenbuskan napas lega.
"Kamu kenapa di sini?"
Grizelle melipir sedikit dari halaman, ke taman rumahnya. Bila tidak mencari benar-benar, bisa tidak ditemukan anak itu.
"Aku menunggu Pupu datang,"
"Pulu sudah pergi 'kan?"
"Iya, tapi nanti setelah Pulu olahrrlaga (olahraga), aku mau jalan-jalan lagi dengan Pupu,"
__ADS_1
"Oh begitu. Ya sudah, tunggu di dalam saja. Mumu bingung kenapa tiba-tiba kamu tidak ada lagi di dalam kamar saat Mumu masih menata pakaianmu di almari. Ternyata mengantar Pupu dan diam di sini,"
"Aku akan tunggu di sini. Mumu mau jalan-jalan juga?"
"Tidak, Sayang,"
"Mumu mulai cepat lelah ya?"
"Iya, tadi saja mencari kamu, Mumu sudah kelelahan,"
"Ya ampun, maaf ya, Mu,"
Vanilla tersenyum mewajari. Anaknya ingin di taman maka Ia tak bisa melarang.
"Pupu katanya lama?"
"Aku tidak tahu. Lagipula kenapa ya Pupu tidak olahrlaga (olahraga) di dalam saja. Ada alatnya juga. Malah keluarrl (keluar),"
Ia tidak sabaran dan entah kapan ayahnya akan pulang dari kegiatannya membakar kalori.
"Tunggu saja,"
"Ya sudah, Mumu masuk,jangan di sini,"
"Memang kenapa kalau Mumu mau di sini?"
"Tidak boleh, nanti Mumu lelah,"
Vanilla terkekeh geli. Kenapa anaknya berpikiran seperti itu. Padahal Ia hanya duduk saja sekarang.
"Mumu tidak melakukan apapun, jadi tidak lelah. Hanya menemani kamu,"
"Mumu mau ganti tanaman-tanamannya ini. Tapi bingung akan diganti dengan apa,"
"Kenapa diganti, Mu? itu masih bagus dan cantik,"
"Biar beda saja. Bosan 'kan melihatnya?"
"Aku tidak. Karena tidak tiap hari ke sini"
Vanilla terkekeh memebnarkan. Ia juga tidak setiap hari mendatangi taman. Tapi setiap kali datang ke taman, selalu itu-itu saja yang ia dapati dengan matanya.
"Nanti cari yang lebih cantik. Berhubung anak Mumu dua-dianya perempuan, seharusnya Numu ini rajin merawat taman ya,"
"Mumu tidak terrllalu (terlalu) suka taman. Kalau Aunty Lovi 'kan suka sekali,"
"Ya, karena tidak begitu suka jadi kurang duperhatikan beruntungnya ada Bibi dan Ela ya,"
"Kemarrlin (kemarin) saat Ella memotong tanaman yang sudah memanjang, aku temani, Mu. Aku asisteni juga,"
Grizelle yang memberi tahu Ariella bahwa potongannya belum saa rata atau sebagainya. Maka Ia sebut mengasisteni.
"Oh ya?"
"Iya, kalau tidak salah, waktu Mumu cek kandungan. Seingatku,"
"Oh, Icelle bantu apa?"
"Bantu berrli (beri) tahu kalau ada yang belum sesuai potongannya," katanya yang membuat sang ibu terkekeh.
__ADS_1
"Itu namanya asisten,"
"Iya 'kan, Mu?"
"Sepertinya Asriella yang menjadi asisten kamu. Karena kamu hanya bicara, tidak membantu,"
"Kaki aku sakit, Mu. Makanya aku tidak membantu,"
"Oh iya, ada luka di kakimu ya. Nanti gawat kalau ada serangga yang hinggap saat kamu membantu Ella,"
"Hii Mumu jangan bicarlla (bicara) begitu," rengeknya seraya melipat kaki dan memeluknya seolah tidak mau kalau apa yang dikatakan mumunya itu benar terjadi.
"Mumu bercanda. Lagipula tidak ada serangga di sini,"
"Darrlimana (darimana) Mumu tahu?"
"Rajin dibersihkan, lalu tidak ada tanaman-tanaman yang lebat. Makanya Mumu pikir, tidak ada serangga,"
"Mumu mau apa itu?" Grizele penasaran ketika tagan Vanila terulur ingin menyentuh salah satu tanaman.
"Ini, ada yang sudah layu,"
Vanilla membuangnya kemudian melihat-lihat lagi. "Yah waktunya dia berlpulang (berpulang) ya, Mu,"
"Hmm? maksdunya?"
"Iya, sama seperrlti (seperti) manusia. Dia juga bisa berrlpulang (berpulang) waktunya sudah habis,"
Vanilla menoleh pada anaknya yang kali ini topik pembicaraannya melipir ke arah yang tak biasanya dibicarakan oleh seorang anak kecil.
"Iya, kalau waktu untuk tinggal di dunia sudah habis, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidak bisa memperindah lagi seperti bunga tadi. Tidak bisa mekalukan apapun. Manusia juga begitu kalau sudah waktunya untuk berpulang,"
Grizelle mengangguk sembari menggaruk pipinya yang terasa gatal. "Aduh gatal pipiku, Mu,"
"Kenapa, Sayang?"
"Ada nyamuk mungkin di sini,"
"Mungkin ya?"
Vanilla mencari-cari alat berisi cairan pembasmi serangga yang biasanya digunakan Bibi. Ia akan mencoba untuk mengusir kalau memang ada.
"Mumu carrli (cari) apa?"
Vanilla berhasil menemukan yang ia cari kemudian mulai mengoprasikan alatnya. Grizelle yang melihat itu jadi senang sendiri.
"Woahh Mumu seperrlti (seperti) pemadam kebakarrlan (kebakaran),"
Vanilla terkekeh mendengar itu. Padahal alatnya tidak sebesar alat yang digunakan pemadam kebakaran. Ini hanya berisi cairan pembasmi saja. Tapi Grizelle sudah senang sekali melihatnya.
Vanilla sengaja mengincar sela-sela tanaman yang barangkali menjadi tempat bersembunyinya serangga apapun itu jenisnya.
"Sudah aman, Anak Mumu tidak akan digigit serangga lagi,"
"Yeayyy, Mumu hebat,"
Grizelle bertepuk tangan senang. Sementara Mumunya mencuci tangan di wastafel dekat taman.
"Dimana Pupu ya?"
__ADS_1
"Pupu lama, Mu. Kalau dalam waktu lima menit Pupu belum datang juga, aku kesal pada Pupu,"