
Devan selesai sarapan langaung beranjak dari kursi untuk ke kamar putrinya.
"Nanti Ian dan Ean pergi ke sekolah dengan Daddy ya. Tapi Daddy ingin lihat kondisi Auris dulu,"
Keduanya mengangguk patuh. Senang, hari ini mereka pergi ke sekolah dengan ayah mereka. Tapi sedih juga karena tanpa adiknya. Hari ini pasti tidak akan ada celotehan Auristella dan Adrian tidak ada lawan adu mulut.
Devan melihat istrinya yang kini membantu Auristella meneguk air minumnya. Tadi, Auristella sudah saapan.
"Lov, bagaimana?"
Devan mendekat pada ranjang putrinya. Ia menyentuh dahi Auristella. Panas,"
"Iya, naik lagi suhunya. Tadi hangat saja,"
Lovi bergegas mencari thermometer di kamar anaknya. Ia penasaran apa benar dugaannya itu kalau suhu Auristella malah bertambah. Karena Ia juga merasakannya dari dahi Auristella Sebelumnya tidak sepanas sekarang.
"Tadi 'kan belum minum obat. Mungkin setelah minum kbat akan lebih baik" ujar dDevan menenangkan Lovi yang Ia tahu tengah cemas.
"Nanti kalau belum turun juga demamnya sampai sore, ke rumah sakit ya," Devan menyentuh dagu Aurstella dan mengarahkan agar menatapnya.
Auristella kini merebahkan tubuhnya. Ia memejamkanĀ mata ingin tidur lagi seperti apa yang Ia inginkan sejak tadi.
"Padahal nanti sore rencana Daddy, mau ajak Auris ke rumah Grandpa. Tapi Auris sakit,"
"Ke rumah Grandpa?"
"Iya, Grandpa juga meminta Daddy agar mengajak kalin bertiga terutama kamu"
Aueistela yang sebelumnya ingin terlelap nampak tertarik dengan topik pembicaraan ayahnya.
"Playground punya Auris sudah jadi,"
"Oh ya? woahh aku tidak sabar bermain di sana. Tpi aku bum datang ke playground Icelle,"
"Iya, nanti bersamaan saja ke sananya,"
"Kalau nanti sore aku sembuh, Daddy jadi mengajak aku ke rumah Grandpa?"
"Ya, lihat kondisi kamu dulu," sela Lovi sebab Devan menatapnya seolah meminta bantuanya untuk menjawab anak mereka.
"Daddy mau antar Ian dan Ean sekolah setelah itu Daddy bekerja. Tidak apa, ya?"
Auristella mengangguk tapi saat Devan akan melangkah, Ia menahan tangan ayahnya. ia memggeleng pelan dengan sorot sendu menatap Devan.
"Daddy tidak usah kerja. Temani aku,"
Devan tersenyum lembut. Ia mengacak pelan rambut putrinya. Kemudian menjawil ujung hidung kecil Auristella.
"Oh Auris minta ditemani Daddy?"
Auristella segera mengangguk. Ia bahkan mengulurkan yangannya untuk memeluk sang ayah.
__ADS_1
Devan segera memeluknya. Lovi tersenyum memperhatikan keduanya. Manis sekali dan Ia bahagia menyaksikannya.
"Ya sudah, Daddy tidak bekerja. Hari ini Daddy meliburkan diri dari kantor. Demi menemani Auris,"
Auristella tersenyum senang walaupun wajahnya kelihatan lemah sekali.
"Terimaksih ya, Dad,"
"Iya, Sayang. Tapi Daddy boleh mengantar kedua kakakmu dulu tidak? pasti mereka sudah menunggu,"
Benar saja,baru kalimat itu keluar, pintu kamar Auristella tedbuka. Adrian dan Andrean langsung masuk.
"Ayo, Dad berangkat. Nanti terlambat,"
"Diantar dengan driver saja. Hari ini Daddy cuma punyaku! Daddy tidak bekerja, akan menemani aku yang sedang sakit,"
"Hih manja," Adrian menckbir adiknya itu uang hanya ditanggapi dengan putaran bola mata malas dari Auristella.
"Daddy antar mereka dulu sebentar ya,"
"Sebentar saja, Auris" Lovi juga meminta pengertian pada anak perempuannya yang sayang menggeleng tegas.
"Tidak boleh, Daddy di sini saja," lugasnya tak ingin dibantah.
Devan menatap kedua orangtuanya yang nampak kesal dengan keputusan Auristella yang sepihak.
"Sayang, diantar driver dulu ya?" Devan meminta pengertian dari kedua anaknya yang lebih dewasa dari Auristella berharap mereka memahami bagaimana kondisi Auristella saat ini yang memang pasti akan manja kalau sudah sakit.
Berbeda dengan Andrean yang langsung menerima, Adrian justru terlihat kesal sekali. Ia berdecak pelan dan menatap Auristella dengan tajam.
"Padahal hanya mengantat sebentar,"
Auristella menggeleng angkuh, "Tetap tidak boleh."katanya tegas. Hal itu membuat Adrian kian marah.
"Ya sudah, Mommy yang antar kalian berdua ya,"
"Mommy, tidak boleh juga. Biar saja Ian dan Ean diantar driver,"
"Auris, tidak boleh begitu. Mereka 'kan juga anak Mommy dan Daddy,"
"Iya, aku tahu. Siapa bilang mereka bukan anak Mommy dan Daddy,"
"Ya sudah, Daddy di sini temani Auris. Mommy mengantar Ean dan Ian,"
"Tidak, Mom," Auristella merengek keras kepala. Lovi menghela napas pelan begitupun Devan yang menap kedua anaknya jengah. Tak ada yang mau mengalah.
"Sudahlah, kamu harus mengalah. Auris sedang sakit, maklumi saja," Andrean menepuk bahu adik laki-lakinya.
"Ayo, kita pergi," ajaknya pada Adrian seraya merangkul bahu Adrian agar keluar dari kamar.
Beruntungnya Adrian tak menolak. Andrean menoleh ke belakang sebelum benar-benar meninggalkan kamar Auristella. Ia melambai singkat pada ayah, ibu, dan adiknya.
__ADS_1
Lovi segera mengikuti. Ia yang akan mengantar mereka beedua meskipun Auristella merengek tidak mengizinkan. Tapi ia harus bersikap adil. Auristella sudah bersama Ayahnya. Dan kedua putranya tampan berharap sekali dengan Devan, sayangnya Devan disandera oleh anak perempuannya. Maka Lovi yang akan menggantikan.
"Mommy kenapa mengikuti kami?" tanya Adrian pada Mommynya.
"Mommy yang temani ke sekolah,"
"Tidak usah, temani saja Auris,"
Lovi tersenyum menyadari raut cemberut Adrian. Ia menggeleng pelan. "Mommy, antar ya,"
"Tidak usah, Mom. Auris lebih perlu mommy sekarang.Kami dengan driver," Kali ini Andrean yang angkat bicara, menolak Lovi yang ingin mengantar mereka.
"Ya, Mommy masuk saja ke dalam. Temani Auris," kali ini adrian sudah tampak meneeima. Ia bahkan meminta Mommynya untuk kembali ke kamar Auristella.
"Yang benar?"
"Iya, kami berangkat duku ya, Mom,"
Lovi mencium pipi kedua anaknya dan mengantar mereka sampai masuk ke dalam.
"Hati-hati ya. Semangat belajar!"
"Iya, Mom. Bye,"
Lovi kembali ke kamar Auristella dan Devan bingung kenapa Lovi tidak jadi mengantar kedua putra mereka.
Sementara Auristella berseru senang mendapati Mommynya masuk ke dalam kamarnya lagi yang artinya kedua kakaknya pergi ke sekolah tidak bersama Lovi.
"Tidak jadi, Lov?"
"Tidak, mereka lebih mementingkan Auris. Mereka tahu kalau adiknya akan lebih memerlukan aku,"
"Hah dengar kebaikan kedua kakakmu itu, Auris. Maka jangan marah-marah dulu. Nyatanya, Ian mengalah," Devan menasihati Auristella dengan mencubit pipinya pelan.
"Yeayy Mommy tidak jadi pergi," dengan suara seraknya Auristella berseru kemudian Ia terbatuk.
"Sudah, jangan banyak bicara. Istirahat lagi," titah ayahnya dengan tegas yang membuat Auristella langsung memejamkan mata cepat-cepat.
"Lov, kamu sarapan saja dulu. Biar aku yang di sini dengan Auris,"
Devan tidak ingin sampai kedua wanita berbeda generasi itu sampai sakit. Auristella dan dirinya sudah mengisi perut. Sementara Lovi belum.
"Iya, Mom. Aku mau tidur, Mommy sarapan ya,"
"Iya, Sayang,"
"Daddy tidur di sofa saja," ujar Auristella pada ayahnya.
"Kenapa tidak mengizinkan Daddy tidur di dekatmu?"
"Nanti Daddy jadi ikut sakit,"
__ADS_1