Nillaku

Nillaku
Nillaku 129


__ADS_3

"Dia sering notice kamu seperti ini ya?"


"Dia siapa?"


"Ini, lihat sendiri!"


Menyebut namanya saja, Jhico enggan sekali. Ia menyerahkan ponsel yang dia pegang pada Vanilla.


"Oh Renald. Iya, kalau aku posting foto atau video, dia rajin meninggalkan jejak,"


"Tapi kalau aku perhatikan hanya foto atau video kamu saja. Sementara kalau kamu posting foto dan video Griz, dia tidak pernah seperti itu,"


"Karena dia suka nya dengan aku, bukan Griz," sahut Vanilla dengan ringan dan niatnya hanya berkelakar. Tapi sepertinya Jhico menganggap serius. Wajahnya seperti papan yang sangat datar.


"Oh dia masih suka dengan kamu? pantas,"


"Aku tidak tahu. Tadi aku hanya bercanda,"


Vanilla tergagap, Ia melirik Jhico yang kini duduk di sofa dengan membawa Grizelle, menjauhi Vanilla yang duduk di ranjang.


"Ternyata kamu sering memperhatikan aktifitas aku di sosial media ya?"


"Tentu saja,"


"Kamu tidak percaya padaku?"


Jhico percaya, tapi apakah salah kalau Ia hanya ingin tahu setiap aktifitas yang dilakukan Vanilla? apalagi yang Ia tahu, Renald masih sering mengganggu istrinya di sosial media, seperti mencari perhatian lebih tepatnya.


"Percaya," singkat dan jelas Jhico menjawab agar istrinya yang kini merengut salah paham segera mengerti.


"Lagipula ngapain sih masih saja aktif si sosial media? bukannya kamu tidak ada waktu lagi setelah punya anak?"


"Kenapa sih? terserah aku lah. Aku 'kan juga butuh hiburan disela-sela kesibukan mengurus keluarga,"


Vanilla semakin jengkel tatkala suaminya menyampaikan secara terang-terangan bahwa Ia tidak suka ketika Vanilla aktif di sosial media. Padahal yang Vanilla lakukan bukanlah sesuatu yang berbahaya baik bagi anak maupun rumah tangga nya. Ia hanya memposting foto atau video tentang kebahagiaan nya sebagai Ibu sekaligus istri.


"Nanti ada yang iri dengan kehidupan kita lalu berusaha mengganggu,"


"Tidak usah dipikirkan,"


Jhico mendengus dan melirik istri nya yang menjawab dengan begitu mudah. Pengganggu tidak usah dipikirkan?


"Kalau Renald berusaha mengganggu rumah tangga kita, tidak usah dipikirkan juga?"


Vanilla menatap tajam suaminya yang berdiri di dekat sofa seraya menggendong Grizelle. Anak itu merengek saat dibawa duduk.


"Renald lagi yang dibahas. Kamu cemburu?"


Gigi Jhico bergemelutuk kesal. Seharusnya sudah bisa dinilai sejak tadi. Kenapa Vanilla masih bertanya juga?


*****


"Maaf ya, aku baru datang,"


"Tidak apa, ayo masuk. Aku senang sekali akhirnya kamu datang ke sini,"


Joana datang ke apartemen Vanilla. Mereka sudah jarang bertemu, hanya komunikasi melalui telepon. Tapi saat Vanilla melahirkan, Joana sempat datang ke rumah sakit.

__ADS_1


"Aku bawa ini. Aku tahu kamu pasti sudah rindu dengan waffle buatan ibuku. Iya 'kan?"


Joana memberikn waffle buatan ibunya yang disukai oleh Vanilla. Setiap Joana akan bertemu dengan Vanilla, pasti Ibunya selalu membawakan itu untuk Vanilla.


"Woah thank you. Iya, aku sudah lama tidak makan ini,"


Vanilla menerima dengan senang hati. Ia mencuri pandang ke dalam goodie bag yang dipegangnya.


"Kapan-kapan aku ingin bertemu dengan Ibumu. Aku belum mengenalnya secara langsung,"


"Datang ke rumahku, bawa Griz,"


"Iya, nanti saat kamu menikah pasti---"


"Haish, Vanilla!"


Vanilla tertawa saat lengannya dicubit oleh Joana. Entah bagaimana kelanjutan rencana pernikahan Joana dan juga Milano, Vanilla tidak tahu karena setiap Ia bertanya, Joana selalu menghindar dan terlihat kesal.


Ia menyuruh Joana untuk duduk di sofa, dan Ia ke dapur untuk meminta tolong pada Bibi agar membuatkan minuman untuk Joana.


"Griz dimana?"


"Masih tidur,"


"Padahal aku ingin sekali mengajaknya bermain,"


Bibi datang membawakan cake dan juga teh untuk Joana. Joana baru sadar kalau sekarang Vanilla memiliki asisten rumah tangga. Seingatnya saat belum memiliki anak dulu, Vanilla dan Jhico hanya hidup berdua.


"Kamu kenapa tidak pernah ke sini?"


"Orang yang memesan waffle Ibuku banyak sekali, Van. Dan aku harus mengantarnya. Jadi aku belum sempat datang ke sini," ucap Joana lalu setelahnya, Ia meneguk teh yang disajikan Bibi.


Joana mengeluarkan ponsel nya dari tas jinjing yang Ia bawa. Grizelle sedang tidur, dan Ia bingung harus melakukan apa. Lebih baik makan. Tapi makan cake dan teh yang dibuatkan Bibi saja rasanya tidak cukup.


"Aku mau beli french fries, kamu mau apa, Van?"


"Tidak usah beli, di kulkas ku ada. Tinggal goreng sendiri. Aku tidak mau apa-apa,"


Saat belanja bulanan kemarin Vanilla ingat Bibi membeli kentang yang tinggal dimasak tanpa perlu memotong-motong nya.


Daripada mengeluarkan uang, lebih baik nikmati yang ada. Prinsipnya sekarang begitu. Berbeda sekali dengan dulu.


"Aduh, jiwa Ibu-Ibu yang hemat mulai merasuki jiwamu, Van."


Vanilla tertawa menanggapinya. Yang dikatakan Joana membuat Ia kembali mengingat masa-masa saat gadis dulu yang hobi sekali menghamburkan uang. Belanja makanan, pakaian, dan segalanya yang membuat uangnya terkuras dengan cepat namun Ia bahagia saja melakukan itu.


"Tapi aku juga mau pesan ice cream float. Sekalian saja lah,"


Vanilla membiarkan sahabatnya itu memesan apa yang Ia inginkan. Sembari menunggu, mereka banyak mengobrol. Karena lumayan lama tidak bertemu, masing-masing dari mereka memiliki cerita yang ingin disampaikan.


"Dia sayang sekali dengan Keyfa,"


"Mungkin karena dia tidak punya adik,"


"Tapi ada rasa khawatir dalam diriku,"


"Khawatir kenapa?"

__ADS_1


"Apa Jhico juga bisa menyayangi Griz sebesar rasa sayangnya dengan Keyfa?"


"Tentu saja, Van! kamu jangan meragukan itu. Aku saja yakin, masa kamu tidak yakin?"


Vanilla menghembuskan napas pelan kemudian mengangkat bahunya. Ia juga tidak tahu kenapa rasa khawatir itu hadir. Seharusnya Ia yakin bahwa Jhico sangat menyayangi Grizelle lebih dari apapun tapi melihat betapa besar kasih sayang Jhico terhadap Keyfa, Vanilla jadi meragukan kasih sayang Jhico terhadap anak mereka.


Ketika mereka berdua asik mengobrol, suara tangis Grizelle membuat Vanilla segera ke kamar untuk menghampiri buah hatinya.


Ia terkejut saat tubuh Grizelle yang Ia gendong terasa panas. Ia segera menyusui Grizelle.


"Bi, tolong ambilkan kompres untuk Grizelle,"


"Grizelle demam, Vanilla?"


"Iya, badannya panas, Bi."


"Handuk kompres nya di lemari paling atas," jelas Vanilla pada Bibi.


Tampa menunggu waktu lama, Bibi segera mengambil handuk yang dimaksud Vanilla.


"Air nya hangat ya, Bi."


Lagi-lagi Ia mengikuti instruksi Vanilla. Vanilla hanya mengikuti insting nya sebagai Ibu. Semenjak Grizelle lahir, Grizelle belum pernah demam. Sehingga Vanilla juga bingung sekaligus cemas bagaimana menghadapi kondisi anaknya.


Ia mengompres Grizelle cukup lama usai diberikan susu, namun demam nya belum juga turun. Grizelle menangis sedari tadi.


Joana masih menunggu di ruang tamu, berharap Vanilla keluar membawa Grizelle. Ia belum tahu kondisi Grizelle. Setelah mendengar suara tangis Grizelle yang tak henti-henti, barulah Joana bergegas ke kamar Vanilla.


Vanilla mengambil ponselnya untuk menghubungi sang suami yang sedang bekerja.


Joana tiba di kamar Vanilla dan segera menenangkan Grizelle yang masih saja menangis.


"Kamu dimana? Griz badannya panas, dan dia menangis terus. Aku sudah mengompres nya, aku tidak berani memberikan dia obat jadi hanya aku berikan air susu,"


"Masih di klinik. Ada Keyfa di sini,"


"Cepat pulang!"


"Okay, tunggu aku. Kita akan bawa Griz ke dokter bersama-sama,"


Vanilla berusaha keras agar bisa menghubungi Jhico ditengah kecemasannya akan kondisi Grizelle saat ini. Bibi akan menggendong Grizelle ketika Ia menelpon Jhico agar Ia bisa berbicara dengan fokus namun Grizelle semakin menangis kencang seolah tak ingin pisah dari Vanilla.


Vanilla menunggu kedatangan Jhico tidak sabaran. Perasaan nya semakin tidak menentu. Ini untuk pertama kalinya Grizelle demam. Suhu nya juga sangat tinggi. Vanilla menyimpan obat untuk bayi yang demam namun entah mengapa Ia tidak berani memberikan itu, Ia butuh panduan yang pasti dulu dari seseorang yang paham akan kondisi Grizelle.


Vanilla menimang Grizelle yang masih menangis sementara Bibi dan Joana setia menemani.


Vanilla menatap jam terus-menerus. Berharap suaminya cepat datang. Namun yang ditunggu malah sibuk menenangkan Keyfa yang tidak ingin ditinggal. Jhico membujuk Keyfa agar mengizinkannya pulang ke apartemen. Namun Keyfa menagis tidak mengizinkan.


"Co, tinggalkan saja Keyfa. Anakmu sedang sakit. Utamakan dia," Kenzo menyarankan Jhico. Jhico menatap Keyfa dengan ragu.


Setelah terjadi perdebatan batin, akhirnya Ia melangkah dengan pasti keluar dari klinik, mencoba untuk tidak peduli akan tangisan Keyfa. Dan sialnya, jalanan sore ini sangat macet. Jalanan dipadati oleh orang-orang yang akan kembali ke rumah setelah menjalani kegiatan seharian.


Jhico terlalu lama, akhirnya Vanilla memutuskan untuk ke rumah sakit bersama Joana tanpa Bibi. Sebelum benar-benar pergi, Ia menitip pesan yang begitu menohok untuk Jhico pada Bibi.


"Kalau Jhico sudah datang, katakan padanya, Grizelle sudah aku bawa ke rumah sakit. Tidak usah menyusul, urus saja Keyfa."


Dari pesan itu, Bibi yakin ada sesuatu yang terjadi dengan perasaan Vanilla hingga Vanilla tanpa ragu menyuruhnya untuk menyampaikan pesan tersebut.

__ADS_1


 ----------


Selamat tahun baru untuk semua pembacakuuuđź’™ semoga tahun ini kita lebih baik lagi. Ada yg udh nunggu Nillaku?


__ADS_2