Nillaku

Nillaku
Nillaku 373 Kedatangan kakek dan nenek ke rumah Grizelle


__ADS_3

Karina tidak mungkin hanya duduk diam menunggu suaminya, maka Ia memutuskan untuk terlelap di ruang istirahat suaminya juga ada di dalam ruang kerja sang suami.


Sampai pukul enam sore, Thanatan berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Ia menghembuskan napas kasar. Lelaki itu mengangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Akhirnya selesai. Bisa pergi," katanya seraya menutup laptop dan berkasnya. Ia menenggak air minumnya sebentar. Kemudian melangkah ke tempat dimana istrinya berada.


Karina terlihat lelap sekali tapi ia harus membangunkannya agar mereka ke rumah Jhico sekarang. Karina yang meminta agar tidak terlalu malam ke rumah Jhico. Maka mereka harus berangkat sekarang.


Thanatan mengguncang pelan lengan istrinya. "Jadi ke rumah Jhico 'kan?"


"Hmm?"


"Ayo, kita pergi,"


Karina meregangkan tubuhnya sebentar kemudian Ia beranjak duduk. Matanya menatap mesin waktu.


"Baru selesai?" tanya Karina pada suaminya yang dijawab anggukan oleh suaminya itu.


"Ya sudah, ayo pergi sekarang,"


Thanatan mengangguk, Ia berjalan lebih dulu sementara Istrinya tengah mengenakan stilleto nya dan mengambil hand bag nya di dekat bantal. Ia menutup pintu ruang istirahat Thanatan bila sedang ada di kantor, kemudian juga menutup ruang kerja suaminya. Barulah Ia bergegas menyusul lelakinya itu.


"Erghh dia itu bisa jalan pelan tidak sih? aku 'kan pakai sepatu yang berhak tinggi," katanya menggerutu.


Thanatan sudah tiba di dalam lift. Ia menahan agar pintu lif tidak terttup sebelum sang istri masuk. Karina memukul bahunya.


"Bisa jalan yang pelan tidak? aku susah mengikutimu,"


Thanatan hanya diam, menghiraukan istrinya yang menggerutu kesal. Setelah tiba di lantai basement, mereka keluar dari ruang kaca yang membawa mereka turun tadi.


"Dimana bonekanya?"


"Di mobilku,"


Karina lekas mengambil boneka yang akan Ia berikan pada cucunya yang sudah Ia bawa dan ada di dalam mobilnya.


"Ke sana dengan mobilmu saja,"


Karina mengangguk, ia memberikan kunci mobilnya pada sang suami. Tadi Ia pergi bertemu teman dan ke kantor suaminya mengendarai mobil sendiri tanpa driver.


Thanatan meninggalkan mobilnya di basement kantor. Mereka berdua bergegas ke rumah Jhico dengan mobil Karina.


*****


Grizelle menyaksikan kegiatan Ariella sekarang di taman dekat halaman rumah. Ariella tengah merawat taman.


"Ella, itu masih panjang rumputnya," tunjuk Grizelle pada Ariella mengarahkan Ariella agar menggunting rumput yang masih terlihat panjang.


"Okay, Griz," kata Ariella segera mengguntingnya. Grizelle sepeeti tengah membantunya dalam bekerja meskipun Ia tidak turun langsung.

__ADS_1


"Hah yang itu juga,"


Grizelle menunjuk ke sebelah kanan Ariella yang kemudian digunting lagi oleh Ariella.


"Yang mana lagi, Griz?"


"Hmmm..." Grizelle mengedarkan pandangannya. Ia menggeleng, kemudian menyimpulkan, "Tidak ada lagi, Ella,"


Grizelle kini ditinggal sebentar oleh kedua orangtuanya ke runah sakit sebab Vanilla akan memeriksakan kandungannya.


"Benar sudah tidak ada lagi?"


"Benarrl (benar) kataku sudah sesuai semua,"


"Okay,"


Ariella kini meletakkan alat pemotong rumput yang canggih sebab tanpa Ia bekerja keras menekan, alat itu akan bergerak sendiri memotong hanya tinggal di arahkan saja tempatnya.


"Griz, masuk. Bermain di dalam saja, ayo,"


Nada memanggil Grizelle agar masuk ke dalam. Sebab sejak kedua orangtuanya pergi, sampai sekarang Grizelle masih nyaman di luar. Padahal katanya pada Vanilla dan Jhico Ia tak akan lama di sana.


"Sebentarrl (sebentar) aku akan masuk dengan Ella nanti," katanya pada Nada.


"Ella sudah selesai, Griz,"


Ariella mengajak Grizelle untuk bangkit dari duduknya. Ia membantu anak itu.


Ia ke dapur dengan langkahnya yang masih sulit. Tak sengaja Ia melihat Bibi tengah minum ice cream seraya menunggu masakannya matang.


"HUWAA BIBI MINUM ITU. AKU MAU,"


Bibi menoleh terkejut mendengar suara Grizelle yang berseru. Grizelle terbahak mendapati Bibinya kaget.


"Bibi aku mau,"


"Ya sudah, nanti bibi ambilkan. Griz di meja makan saja. Kenapa ke sini?"


"Aku mau lihat bibi memasak tapi terrlnyata (ternyata)Bibi sedang minum yang dingin-dingin kesukaanku," Grizelle terkekeh menyadari keberuntungannya kali ini.


Ia segera menuruti titah Bibi untuk duduk di ruang makan saja..Bibi yang tahu tempat menyembunyikan ice cream dan cokelat pemberian triple A. Vanilla menyimpannya di kemari pendingin kecil yang tidak diketahui keberadaannya oleh Grizelle. Vanilla sampai segitu tidak inginnya Grizelle terlalu berlebihan menyantap minuman itu supaya tidak kambuh radangnya.


Selain Vanilla, Bibi dan yang lainnya tahu dimana kalau mereka ingin mencicipi ice cream dan cokelat. Hanya Grizelle saja yang tidak tahu. Bibir terkekeh dalam hati ketika mengambil satu ice cream untuk Grizelle. Vanilla sudah pernah berpesan padanya agar membolehkan Grizelle mencicipi itu tapi harus tegas melarang tidak boleh banyak-banyak.


"Cokelat nya dimana? aku tidak diberrlikan (diberikan) cokelat? kata Mumu, darrli trrliple A (dari triple A) ada ice cream dan cokelat,"


"Habiskan saja itu dulu,"


Tadi seingatnya, saat Grizelle memasuki rumah usai berjalan-jalan dengan pupunya, anak itu tengah menyantap cokelat. Sekarang mungkin tidak ia berikan dulu.

__ADS_1


Grizelle meminta gelas agar ice cream nya diletakkan ke dalam gelas padahal ice cream yang sedang ia nikmati itu sudah berada dalam cup. Memang terkadang aneh permintaan anak ini.


"Icelle,"


"Iya,"


Grizelle menyahuti tapi belum sadar kalau yang datang adalah kakek dan neneknya. Ia masih sibuk dengan minuman dingin miliknya.


"Icelle,"


"Iya, di sini," katanya lagi belum menoleh kalau Karina tengah berjalan mendekat padanya.


"Kenapa tidak menyambut Nay-Nay sih?"


Barulah anak itu menoleh. "Oh Nay-Nay? aku pikirrl (pikir) siapa,"


Ia segera bangkit dari kursi dan memeluk neneknya dengan erat. Ia bersorak saat melihat kakeknya juga datang ke rumahnya saat ini.


"Kakek, yeay ada Kakek,"


Grizelle memeluk kakeknya juga, tentu tidak kalah erat. Thanatan tersenyum tipis, mengacak rambut cucunya itu. Ia menyadari di bibir cucunya ada noda berwarna putih dan merah muda.


"Makan apa sampai berantakan seperti ini?" tanya Thanatan pada cucunya itu seraya membersihkan dengan jemarinya.


"Ice cream,"


Grizelle mengambil gelasnya yang berisi ice cream. "Aduh ice cream lagi ya. Sempat demam kamu 'kan? kenapa minum ini?"


"Sudah sembuh, Nay-Nay, benarrl (benar) aku tidak bohong,"


"Nay-Nay minta,"


"Ini, aku suapi,"


Karina menunduk untuk menerima suapan dari Grizelle. Anak itu menawarkan kakeknya juga yang menggeleng.


"Kakek giginya sudah rapuh, Sayang. Makanya menolak," ujar Karina pada Grizelle yang mungkin kecewa ketika kakeknya tak ingin disuapi ice cream olehnya.


"Memang iya gigi Kakek sudah rrlapuh (rapuh) ya?"


Thanatan menatap datar Karina yang kini terbahak berhasil membuat cucunya percaya dengan polosnya.


"Tidak, gigi Kakek masih kuat, bagus,"


"Lalu kenapa tidak mau ini?"


"Tidak mau, gula darah Kakek tadi sedikit tinggi,"


"Oh baiklah, tapi kalau mau, Kakek bisa minta pada Bibi. Bibi yang tahu dimaba tempat menyinlannya. Mumu menyembunyiman ice cream dan cokelat pemberrlian triple A (pemberian triple A) darrliku (dariku)," jelasnya seraya cemberut.

__ADS_1


"Demi kebaikanmu," kata Thanatan singkat seraya mengusap puncak kepala Grizelle.


Bibi mempersilahkan Karina dan Thanatan yang langsung terlibat percakapan dengan cucu mereka untuk duduk.


__ADS_2