Nillaku

Nillaku
Nillaku 203


__ADS_3

"Sudah Mama katakan, segera periksa ke dokter agar kamu tahu kondisi kamu. Tapi kamu memilih untuk membantah ucapan Mama, Vanilla." ujar Rena sembari mengusap matanya yang terasa berair.


Saat ini Ia datang bersama suaminya ke rumah sakit untuk menemui Vanilla. Ia benar-benar terkejut begitu mendengar kabar bahwa cucunya yang belum Ia ketahui kehadirannya sudah tidak ada lagi di perut putrinya.


Rena meluapkan rasa kesalnya pada sang anak. Ia sadar telah keterlaluan, Ia segera mengusap kepala Vanilla yang saat ini masih berbaring di bangsal rumah sakit.


"Sebenarnya sudah ada tanda-tanda tapi kamu yang kurang peka,"


"Aku hanya beberapa kali saja mual dan merasa perutku keram, Ma. Jadi aku---"


"Sudah, Ma. Biarkan Vanilla istirahat,"


Raihan menyuruh Rena untuk diam, tidak lagi membahas itu. Ia mengerti bagaimana perasaan Rena saat ini. Semuanya merasa kehilangan dan sedih, tapi tetap Vanilla dan Jhico lah yang paling merasa hancur.


"Jangan bicara mengenai hal itu lagi. Kamu harus mengerti suasana hati Vanilla dan Jhico," Raihan menegur istrinya dengan suara yang sangat pelan.


Rena menghela napas pelan, menyesali sikapnya tadi. Ia sangat menyayangkan sifat Vanilla yang keras kepala, sifat yang sejak dulu tidak pernah hilang.


Ia sudah menyuruh Vanilla untuk periksa ke dokter mengenai gejala-gejala seperti wanita hamil yang dialami oleh Vanilla. Tapi putrinya itu tidak mengindahkan ucapannya.


"Tenang, Jhico. Pasti Tuhan sudah menyiapkan hal lain yang bisa membuat kalian bahagia,"


Jhico tersenyum tipis dan mengangguk. Ia sudah menerima semua yang telah terjadi. Ia juga berusaha untuk tidak ingin membahas anaknya yang telah tiada. Bukan karena Ia tidak sayang, melainkan Ia harus menjaga hati Vanilla. Sampai saat ini Vanilla masih menyalahkan dirinya sendiri dan Jhico tidak ingin Istrinya terus menerus seperti itu. Lebih baik mereka berdua sama-sama koreksi diri dan saling memperbaiki suasana hati.


Kalau Ia sedih, maka tidak ada yang bisa menjadi sandaran untuk Vanilla. Seperti ucapan Raihan tadi, Ia yakin akan ada hal lain yang bisa membuat nya bahagia, menggantikan kesedihan yang Ia rasakan saat ini.


******


Thanatan berdecak kesal saat pintu ruangannya tiba-tiba saja dibuka tanpa izin. Tidak ada yang pernah berani melakukan hal ini.


Karina memasuki ruangan suaminya dengan wajah serius membuat Thanatan mengerinyit bingung sekaligus penasaran. Seharusnya mereka bertemu nanti sore saat Ia menjemput Karina usai menjalani kegiatannya sebagai wanita karir.


"Ada apa kamu datang ke sini?"


"Vanilla dan Jhico kehilangan calon anak mereka. Aku sudah menghubungi kamu beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Apa gunanya punya ponsel kalau tidak---"


"Kamu tahu kebiasaan ku kalau sedang bekerja. Aku tidak pernah ingin diganggu,"

__ADS_1


Karina menatap suaminya dengan kesal. Menjawab panggilan sekali apa salahnya? pekerjaan bisa ditunda hanya untuk beberapa menit.


"Jadi sekarang bagaimana? aku akan ke rumah sakit. Bagaimana dengan kamu?"


"Aku akan menyusul," pungkas Thanatan dengan jari yang masih fokus bergerak di atas keyword laptop nya.


"Jangan kamu tunjukkan sikap tidak peduli yang selama ini ada dalam diri kamu. Anakmu saat ini sedang sedih dan dia butuh dukungan,"


Merasa malas untuk dinasihati, Thanatan menggerakkan tangannya ke udara, menyuruh istrinya segera keluar dari ruangan, agar Ia bisa kembali fokus bekerja.


"Aku pergi sekarang dan aku tunggu kedatanganmu,"


*******


Grizelle sudah cukup sabar selama Mumu nya berada di rumah sakit, Ia selalu dilarang untuk datang menemui Vanilla. Bukan apa-apa, Rena dan Karina kompak melarang cucu mereka karena tidak ingin membuat Grizelle sedih. Kondisi mental Vanilla saja masih kurang membaik. Vanilla kerap melamun lalu tiba-tiba menangis selama Ia dirawat di rumah sakit. Hal itu membuat Jhico harus selalu berada di samping istrinya guna meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sebagai Ibu, Vanilla selalu merasa bersalah tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.


Grizelle selalu bicara dengannya melalui telepon untuk sekedar menyapa atau kalau mood Vanilla sedang bagus, mereka bisa berbincang sedikit lama.


Kali ini mood Vanilla kurang baik sehingga Grizelle hanya bisa menyapa Mumu nya. Ia menghembuskan napas pelan lalu menatap ponsel Karina dengan nanar.


"Aku ingin ke lumah (rumah) sakit,"


"Sekalang (sekarang), Glandma (Grandma)," sela Grizelle saat Rena akan kembali melarang nya.


"Sebentar lagi Mumu akan pulang. Kamu tidak perlu ke sana. Lagipula Pupu juga melarang kamu 'kan?"


"Tapi aku ingin beltemu (bertemu)Mumu, aku merindukannya (merindukannya),"


"Sebentar lagi kalian akan bert---"


"Aku ingin ke lumah (rumah) sakit sekalang untuk beltemu (sekarang untuk bertemu) dengan Mumu, aku ingin memastikan kalau Mumu baik-baik saja,"


"Mumu baik-baik saja. Percayalah pada Grandma, Sayang."


Grizelle meluapkan kesedihannya, Ia menangis tersedu. Air mata langsung lolos dan mulutnya sedikit terbuka. Melihat cucunya menangis, Karina yang sedari tadi diam langsung memeluk Grizelle.


"Cukup doakan Mumu,"

__ADS_1


Grizelle melepaskan rengkuhan neneknya. Ia menggeleng masih dengan isak tangisnya.


"Aku selalu mendoakan Mumu. Tapi itu saja tidak cukup menulutku (menurutku). Aku ingin melihat Mumu secala (secara) langsung, aku ingin mengajaknya bicala (bicara) supaya Mumu tidak sedih lagi. Mumu sedih kalena (karena) kehilangan adikku 'kan? maka aku halus (harus) menghibulnya (menghiburnya),"


******


Setiap saat Vanilla melihat Jhico di dekatnya. Apa lelaki itu tidak bosan menungguinya di sini?


"Kamu tidak mencari udara segar di luar? tidak bosan di sini bersama aku terus?"


"Tidak, aku nyaman di sini,"


"Tapi aku bosan melihat kamu, dan setiap melihat kamu, aku semakin merasa bersalah,"


Jhico menatap istrinya lamat-lamat. Senyum tipis hadir di wajahnya yang semenjak kehilangan tampak berbeda dari biasanya.


"Kenapa harus merasa bersalah? kamu tidak salah apapun padaku,"


"Kamu bisa keluar, mencari kesibukan,"


"Kamu mengusirku, Nilla?" tanya Jhico dengan suara datar nya. Apa keberadaan nya di sini mengganggu Vanilla? dan apa tadi kata istrinya? Ia bosan melihat dirinya di sini? Kalau Ia tega, Ia bisa saja menyahuti Vanilla dengan kalimat 'Aku juga bosan di sini, aku di sini karena kamu. Aku kehilangan anakku juga karena kamu,"


Vanilla menghela napas pelan. Ia tahu sudah membuat suaminya tersinggung. Tapi apa yang Ia katakan tadi memang benar. Melihat raga Jhico yang terus mendampingi nya walaupun dengan keterdiaman, rasa bersalah Vanilla kian besar.


"Kamu hanya diam, jadi aku semakin---"


"Aku harus bagaimana? mengajakmu bicara? aku takut itu mengganggu kamu, Nilla. Aku pikir, kamu butuh waktu,"


"Tapi kalau kamu diam, tidak melakukan apapun, bahkan tidak menangis, aku berpikir bahwa kamu tidak ikut merasakan apa yang aku rasa,"


"Kamu hancur, aku juga hancur. Tapi aku berusaha untuk menjadi laki-laki yang kuat di hadapan kamu. Aku diam bukan berarti aku tidak merasa kehilangan, atau aku menyalahkan kamu atas semua ini. Aku hanya ingin kamu tenang tanpa kita banyak bicara,"


Untuk apa mereka berbicara kalau pada akhirnya Vanilla akan membahas anak mereka lalu berujung pada kesedihan perempuan itu. Jhico memilih untuk mengurangi pembicaraan mereka. Yang saat ini Vanilla butuhkan adalah pelukannya, karena dari sanalah mereka berbagi kekuatan, bukan dari ucapan.


 -----


Hellaw epribadeh💃kayanya udh seabad aku gk sapa pembacaku😂 GIMANA KABARNYA? SEHAT-SEHAT YA SEMUANYAAA. AAAAKK KANGEUN BGT SAMA KALIAN🙌

__ADS_1


Makasiii bwt semuanya yg masih support aku, terhura akutuh :') komen nya kan maen ya bun wkwkwk gk di Nillaku, di Addicted, pada gempooorr akuu. Lanjutkan guys, teroozzz lanjutkan. Aku syukaaa :)


Aku gk up² krn emg aku lg sakit, dan Mamaku jg lg sakit. Nanti tgl 6 mau oprasi, doain semua lancar dan mamaku bisa sehat lg ya manteman💙 makasihh🙏


__ADS_2