
"Kenapa kamu mengeluarkan banyak keringat?"
Saat tangan Jhico terangkat ingin menghapus keringat di kening Vanilla yang saat ini duduk di sampingnya, Vanilla menahan tangan sang suami.
"Mobilku kehabisan bahan bakar,"
Mata Jhico membulat terkejut. Ia berdecak kemudian menatap tajam istrinya.
"Kenapa bisa? jadi kamu menggunakan apa ke sini?"
"Naik kereta. Tapi saat mau ke stasiun aku berjalan kaki. Dan setelah turun dari kereta, aku juga jalan kaki ke sini."
"Astaga, Vanilla. Memang tidak ada satu orang pun yang bisa mengantarmu?"
"Tidak ada. Tapi perjalan tadi tidak melelahkan, Jhi. Kamu tenang saja,"
Bohong kalau Vanilla mengatakan tidak lelah. Keringat nya sudah bisa menjadi bukti betapa lelahnya dia menyusuri jalan menggunakan kakinya.
"Biar aku ada perjuangan untuk bertemu kamu," ujar perempuan itu dengan senyum nya. Vanilla juga terlihat menaik turunkan alisnya menatap Jhico.
"Kami pulang dulu ya. Semoga cepat sembuh, Co." Pamit Fionna.
Vanilla dan Jhico sudah sibuk berdua. Daripada Ia dan Dion menjadi penonton dan bisa saja sepasang suami istri itu menganggap mereka pengganggu, lebih baik Ia dan Dion undur diri.
"Iya, terimakasih sudah datang ke sini. Terimakasih juga atas doanya," ujar Jhico pada kedua sahabat kecilnya.
Mereka mengangguk dan tersenyum. Lalu setelahnya, mereka keluar dari ruangan Jhico.
Begitu sampai di luar, Dion terkekeh geli seraya melirik Fionna. "Kamu pasti cemburu," ledeknya pada Fionna.
Fionna mendelik tak terima ketika dikatakan bahwa Ia cemburu. Ia biasa saja. Kenapa Dion mengatakan itu?
"Aku tidak cemburu!" bantahnya tegas.
"Kamu cemburu, Fi. Kenapa kita cepat-cepat pulang? padahal tadi sebelum Vanilla datang, kamu mengatakan belum ingin pulang. Tapi setelah Vanilla datang, kamu malah mengajak pulang,"
Fionna mendorong bahu Dion dengan kesal. Ia tentu saja tidak membenarkan apa yang Dion katakan. Ia merasa baik-baik saja ketika melihat Vanilla bersama Jhico. Tidak ada cemburu.
******
"Aku membuat cake. Kamu mau mencoba nya tidak?"
"Mau, aku mau mencoba cake buatan istriku,"
Vanilla segera mengambil wadah yang Ia bawa tadi. Begitu dibuka isinya berantakan sekali mungkin karena dijinjing olehnya ketika berjalan kaki.
"Tidak usah kamu makan. Pasti kamu muak melihat penampilannya,"
Vanilla kembali menutup wadah tersebut namun Jhico berdecak. "Aku tetap mau menyantapnya. Cepat berikan cake itu padaku!" titah lelaki yang baru aja mengalami kecelakaan lalu lintas itu.
__ADS_1
"Tidak enak rasanya. Jadi tidak usah kamu makan,"
Vanilla malu bila cake itu dimakan oleh suaminya. Karena dari penampilannya saja sudah tidak meyakinkan bahwa cake itu lezat ketika dimakan.
"Vanilla, makanan itu tidak bisa dinilai lezat atau tidak bila belum dicoba. Penampilan tidak menjamin," ujar Karina yang langsung diangguki setuju oleh Jhico. Vanilla takut sekali cake nya tidak lezat karena penampilannya sudah berantakan.
"Tadi saat kamu coba rasanya lezat 'kan? aku yakin,"
"Ya--ya--iya, tapi sekarang cake nya hancur,"
"Tidak apa, rasa tidak akan berubah,"
Jhico masih keras kepala ingin mencoba cake buatan istrinya karena yang Ia ingat, ini pertama kalinya Vanilla membuat cake. Apakah Ia tega tidak menghargai kerja keras sang istri? Vanilla pasti butuh perjuangan ketika membuat ini.
Jhico menengadahkan tangannya, meminta wadah berisi cake tersebut pada Vanilla.
Akhirnya Vanilla memberikan dengan wajah ragu. "Jhi, kamu yakin mau mencobanya? cake buatan ku ini buruk sekali rupanya,"
Jhico sontak saja tertawa dan tak lama mulutnya langsung terbungkam karena tulang rusuk nya kembali nyeri.
"Astaga, Jhi. Kamu tidak apa? apa yang sakit? kenapa kamu meringis?" tanya Vanilla dengan panik. Ia menatap Jhico, meminta jawaban.
"Supaya aku tidak kesakitan lagi, aku mau cake itu."
Vanilla segera memenuhi apa yang diinginkan suaminya. Karina yang melihat anaknya seperti itu, tersenyum diam-diam.
"Maaf ya cake nya buruk rupa,"
"Suapi aku," pinta Jhico pada Vanilla. Vanilla menuruti, Ia segera menyuapkan cake ke mulut suaminya.
"Hmmm rasanya lezat sekali. Manis nya pas, aku tidak terlalu suka manis,"
"Sengaja aku buat tidak terlalu manis. Memang rasanya lezat? kamu pasti sedang berbohong. Kamu hanya ingin membuat aku senang saja 'kan?"
"Aku bicara serius. Rasanya memang lezat dan aku sangat menyukainya,"
Sudut bibir Vanilla terangkat hingga matanya sedikit menyipit. "Terimakasih kamu sudah menghargai usahaku membuat cake,"
"Tapi rasanya memang benar-benar lezat. Aku bukan karena ingin menghargaimu saja,"
"Iya, aku percaya,"
"Mama, coba cake buatan Vanilla. Menurut Mama bagaimana? nanti aku perbaiki lagi kalau masih ada yang kurang,"
Karina segera mencobanya. Lembutnya cake, rasa manis yang pas membuat Karina begitu menikmatinya.
"Rasanya tidak main-main,"
Vanilla terkekeh geli mendengar pujian itu. "Mama tidak bisa berkomentar lagi. Tidak ada yang kurang. Percobaan pertama kamu berhasil, Vanilla."
__ADS_1
"Yang benar? syukurlah kalau begitu, Ma."
"Mama tidak bisa memasak dan Mama tidak pernah belajar. Kamu hebat karena mau belajar dan hasilnya tidak sia-sia,"
Jhico menggeleng tak setuju dengan ucapan Mamanya. Ia menyahuti,
"Bukan tidak mau belajar. Mama terlalu sibuk jadi tidak ada waktu untuk belajar masak."
********
"Mumu nya Griz lama sekali datangnya,"
"Ya biar saja. Griz juga tidak rewel,"
"Mom, kita bawa kabur saja Griz ke rumah. Biar saat Aunty pulang, Aunty kaget tidak menemukan Griz,"
Lovi mencubit gemas pipi berisi anaknya yang baru saja bicara sembarangan itu. "Kamu bisa dituntut oleh Aunty karena membawa anaknya tanpa izin,"
"Ah tidak mungkin, Mom." ujar Adrian dengan gaya bicara layaknya orang dewasa. Ia menggelengkan kepala seraya menggerakkan salah satu telunjuk nya ke kanan dan kiri.
Lelah bermain bersama Auristella dan Grizelle, Adrian memilih untuk menonton televisi. Ia juga menikmati cake buatan Vanilla. Entah sudah slice ke berapa yang Adrian habiskan.
Adrian duduk di samping kakak sulungnya. Sementara Auristella sedang mengajak Grizelle bercanda.
"Apa, Icel?" Auristella bertanya dengan artikulasi yang masih belum jelas. Ia tertawa saat melihat Grizelle tersenyum.
"Gigi icel?" Auristella bertanya lagi seraya menunjuk mulut Grizelle yang belum dihuni oleh gigi-giginya.
"Belum ada, usia nya saja belum dua bulan,"
Auristella menatap Mommy nya yang baru saja menjawab pertanyaan nya. Ia kembali memperhatikan Grizelle.
"Auris saja belum tumbuh semua gigi nya,"
"Dah, Mom."
"Belum, gusinya masih ada yang kosong itu,"
"Dah, Mom."
"Belum, Mommy yang tahu. Kamu sok tahu, Auris."
Auristella merengut kemudian bersedekap dada. Ia berjalan ke arah sofa yang ditempati kedua kakaknya lalu duduk di dekat kaki sofa dengan wajah murung.
"Aduh anak Devan ini sudah pandai merajuk ya. Sejak kapan? Seingat Grandma sebelum pindah dari mansion, berjalan saja belum bisa. Sekarang sudah pintar merajuk,"
"Uhhh iya, Grandma. Selain pintar berdebat, Auris juga pintar merajuk." ucap Lovi seraya menatap anaknya yang kini memasang eskpresi kesal yang menggemaskan.
----------
__ADS_1
Hai-hai aku up tiap hari Insya Allah kl lg mood wkwwk. Jd jgn ada yg ambek dungs zheyeng-zheyeng nya akohhh. Nnti kl ambek jd mirip Auris lhooo😂😂 tapi gk apa" tagihin aku up trs yaaa. Biar aku semangaaddd hehehe.