
"Kakak Icelle,"
Vanilla mengeluarkan suaranya lumayan kencang untuk memanggil sang putri. Ia yakin putrinya tidak sedang berada di kamarnya melainkan di lantai bawah ini karena sayup-sayup terdengar suaranya.
"Mumu,"
Vanilla mendengar dari arah ruang makan. Segera Ia menghampiri di belakangnya ada Jhico yang mengekori.
"Mumu, bagaimana keadaan adikku? sehat 'kan?"
Vanilla tersenyum mengangguk. Ia mengusap kepala anaknya yang kini memeluk perutnya.
"Ma, Pa," sapanya pada Karina dan Thanatan yang duduk menatapnya.
Vanilla duduk, Jhico pun demikian. Tapi sebelum itu, Jhico membantu anaknya untuk duduk dulu di kursi, dan memastikan kakinya tidak menyentuh meja makan.
"Bagaimana keadaannya, Vanilla?"
"Sehat, Ma. Dan--kami sudah tahu jenis kelaminnya,"
"Oh ya ampun,"
Karina sampai membungkam mulutnya tidak menduga kalau hari inilah Ia bisa tahu jenis kelamin cucu keduanya.
"Sebentar,"
Karin berujar saat Vanilla membuka mulut akan memberi tahu.
"Padahal Mama ingin membuat acara gender reveal,"
Vanilla tertawa, Ia tak kepikiran sekali dengan acara itu. Malah Mama Karina yang terpikirkan akan menyelenggarakan acara tersebut.
"Aku dan Jhico sudah tahu, Ma,"
"Iya, hmm padahal biar sama-sama kaget nantinya kalau acara itu benar ada,"
"Perempuan atau laki-laki?" tanya Thanatan yang kelihatan tidak sabaran juga. Bahkan sempat berdecak saat istrinya tadi menyela Vanilla.
"Hmm...perempuan, Pa," jawab Vanilla sedikit ragu, dan cemas dengan reaksi dari Thanatan.
__ADS_1
"WOAAHH ADIKKU PERLEMPUAN (PEREMPUAN) SAMA SEPERRLTI (SEPERTI) AKU," Reaksi Grizelle sudah bisa diduga oleh Jhico dan Vanilla. Benar-benar riuh dan kelihatan bahagianya.
Thanatan terdiam beberapa saat menatap meja di depannya. Karina justru berkaca mendengar pengungkapan jenis kelamin dari Vanilla.
"Jadi Nay-Nay akan punya cucu perempuan lagi. Yeayy," Ia tak kalah bahagia dengan Grizelle. Ia bahagia meskipun memang ingin laki-laki tapi kalau Tuhan berkehendak lain, maka Ia tak bisa mengelak.
Thanatan masih sangat terkejut dan jujur Ia kecewa karena gagal lagi mendapat pewaris seorang laki-laki.
Vanilla dan Jhico mengamati Thanatan menilai reaksinya. Datar, tapi mereka bisa merasakan Thanatan yang juga bahagia meskipun mereka tahu kalau Thanatan harus kembali menelan kekecawaan tidak memiliki cucu laki-laki.
"Tidak apa, nanti yang ketiga laki-laki," kata Karina seolah tahu bahwa Ia perlu mencairkan suasana. Ia melirik suaminya yang masih diam bahkan sampai Grizelle menegurnya.
"Kakek tidak senang kalau adikku perrlempuan (perempuan) ya?"
Pertanyaan lolos itu membuat Thanatan seperti ditampar. Ia menggeleng kemudian tersenyum. "Kakek senang," jawabnya yang membuat Karina, maupun kedua orangtua Grizelle juga tersenyum.
"Kenapa Kakek tidak ikut terrliak seperrlti (teriak seperti) aku?"
Thanatan kemudian menggeleng lagi seraya menjawab "Tidak, Kakek bukan anak kecil."
Yang benar saja dia diminta teriak juga? Grizelle masih pantas merespon kabar bahagia dengan seperti itu. Kalau Ia? sudah tua, tidak pantas lagi. Akan kelihatan seperti orang stress nantinya.
"Iya, aku juga senang, Nay-Nay,"
"Van, jangan lupa beri tahu orangtuamu juga,"
"Oh iya, Ma," Vanilla mengangguk, tentu saja Ia akan memberu tahu kedua orangtuanya juga. Rencananya kalau tak berhalangan, esok Ia akan ke rumah orangtuanya. Sesuai dengan permintaan Rena, tanpa anak pun tak masalah bila Ia datang ke sana. Sebab Grizelle esok akan sekolah. Anaknya itu pasti ingin masuk sekolah karena sudah dua hari di rumah saja menunggu lukanya sedikit mengering.
"Nay-Nay dan Kakek pulang dulu ya, Griz?"
"Iya, Nay-Nay. Terlimakasih sudah datang, jangan lupa juga sampaikan terrlimakasih ku pada Evelyn," kata anak itu pada kakek dan neneknya.
Kemudian Ia menjelaskan pada kedua orangtuanya bahwa Ia diberikan boneka besar oleh Evelyn melalui kakeknya.
"Tujuannya ke sini mau antar boneka itu. Tapi ternyata sekalian mendengar kabar bahagia juga. Ah senangnya," Karin tak henti mengatakan bahwa Ia senang sekali saat ini. Ia telah mengetahui jenis kelamin cucu keduanya. Itu yang Ia inginkan sejak tahu Vanilla kembali mengandung.
"Hati-hati, Ma, Pa. Terimakasih sudah datang,"
"Iya, Co. Selamat ya. Punya dua anak perempuan. Mama doakan yang ketiga laki-laki,"
__ADS_1
Jhico terkekeh mengaminkan. Semoga saja ucapan Mama dan donter kandungan istrinya diwujudkan oleh Tuhan. Ia sangat berharap juga. Tapi tidak ingin memaksa. Bila memang ke.bali dianugrahi, Ia akan sangat bersyukur, tapi kalaupun tidak, Ia tidak masalah sebab dua saja juga sudah cukup.
Usai melepas kepulangan Karina dan Thanatan, ketiganya masuk ke dalam rumah.
Grizelle memberi tahu semua penghuni rumah bahwa adiknya adalah perempuan. Anak itu begitu antusias membagikan kabar tersebut.
"Woah perempuan? sama dengan Griz berarti. Pasti akan jadi teman sejati untuk Griz," kata Bibi yang disemogakan oleh Grizelle. Semoga saja Ia dan adiknya tidak seperti Auristella dan Adrian yang kakak beradik tapi menjadi musuh sejati.
"Selamat Griz. Teman bermain Griz bertambah lagi selain Auris ya," ujar Nada.
"Iya, aku yakin Aurrlis juga pasti akan senang,"
Auristella pasti akan senang jarena personel baru dalam keluarga mereka adalah perempuan.
*****
Vanilla sebenarnya menyesal juga kenapa Ia tidak kepikiran membuat acara gender reveal sehingga baik keluarga maupun Ia dan Jhico sama-sama merasa terkjut dengan jenis kelamin anak keduanya. Tapi kata Jhico, lebih baik juga tak mengadakan. Sebab Vanilla pasti akan lelah menyiapkan semuanya. Mengingat vanilla selalu totalitas kalau ada perayaan. Saat merayakan ulang tahun Grizelle saja Jhico yakin istrinya itu lelah sekali.
"Sekarang yang harus kamu pikirkan itu, kesehatan kamu dan adiknya Griz. Lahirkan dia dengan selamat ke dunia ini. Karena semua orang sudah menantikan kehadirannya,"
Vanilla mengangguk mendengar penuturan suaminya. Sejak awal mengandung, Ia memang sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjaga dengan baik anugrah Tuhan yang kini bersemayam di tubuhnya kini.
"Jangan mengangguk saja tapi tidak dilakukan, Nillaku. Jangan sampai kejadian kamu yang menaiki kursi kembali terjadi. Aku akan benar-benar marah kalau kamu mengulangi itu,"
Vanilla terkekeh, Jhico kelihatan masih kesal dengan Ia yang nekat melakukan itu tadi pagi.
"Aku mohon jaga dirimu baik-baik. Kalau baik, aku yakin, anak kita pun akan baik,"
"Iya, Jhi,"
"Ya sudah, tidurlah,"
"Kamu mau kemana?" Vanilla menahan lengan t-shirt yang dikenakan suaminya saat melihat sang suami akan beranjak dari ranjang.
"Ke kamar Griz sebentar. Melihat apakah ia sudah tidur atau belum,"
Vanilla mengangguk, membiarkan sang suami mendatangi kamar anak mereka.
Ia beringsut mencari posisi nyaman untuk tidur. Semakin sulit untuk melakukannya sebab kandungannya mulai menghalangi. Vanilla mengusap lembut perutnya sebagai ucapan selamat malam untuk sang putri.
__ADS_1