Nillaku

Nillaku
Nillaku 400 Ke rumah Grandpa bersama Aunty Jane dan Mumu


__ADS_3

Seorang maid menghampiri Rena yang tengah menyendiri di kolam dimana ikan-ikan milik suaminya bermain.


"Nyonya, Nona Vanilla datang bersama Nona Jane dan Grizelle,"


Rena langsung membuncah bahagia mendengar itu. Ia langsung bergegas menghampiri ketiganya yang tidak disangka akan datang siang ini. Bersamaan juga. Padahal kemarin Jane tidak mengatakan apapun mengenai rencananya mengajak Vanilla dan cucunya.


Begitu melihat Rena, Jane langsung memelui erat wanita baik hati itu. Yang menganggapnya seperti anak sendiri, bahkan diperlakukan sama dengan Vanilla.


"Ya ampun, senang sekali kedatangan kamu, Jane,"


"Kalau kedatangan aku tidak senang, Grrlandma?"


Rena melepas pelukannya bersama Jane dan merunduk menatap putri dari Vanilla itu.


Ia segera meraih Grizelle ke dalam pelukan. "Tentu saja senang sekali. Grandma tidak menyangka kamu akan datang juga,"


"Aku habis pulang sekolah, Grrlandma,"


"Iya, Grandma bisa melihatnya. Kamu masih mengenakan pakaian sekolah,"


Grizelle menatap baju sekolahnya sendidi kemudian tersenyum. "Aku belum ganti baju,"


"Langsung ke sini?"


"Iya, Grlandma,"


"Ayo, duduk dulu kita. Jangan berbincang sambil berdiri,"


"Tolong siapkan sesuatu untuk mereka,"


"Minuman dingin ya," kata Grizelle meminta pada maid yang dipanggil neneknya ketika ingin dimintai tolong menyiapkan sesuatu untuk mereka bertiga yang baru datang.


"Iya, akan aku buatkan,"


"Okay, apa saja yang penting dingin," Grizelle memperagakan ketika Ia kedinginan membuat maid itu samlai gemas.


"Jadi bagaimana perjalananmu kemarin?"


"Ya..."


Jane menghela napas pelan sebelum melanjutkan kalimatnya, "Terasa berbeda," imbuhnya kemudian.


"Jelas, kamu pergi tanpa suamimu yang biasanya menemani kamu,"


"Aku mau lihat buaya,"


"Ayo, Mumu temani,"


Vanilla memberi ruang untuk Jane dan Mamanya bicara. Pasti ada yang ingin Jane sampaikan pada Rena yang sudah Ia anggap sebagai orangtuanya juga dan Rena juga tentu akan memberikan pendapatnya sebagai seorang ibu.


"Ayo, Mu,"


"Sebentar ya, Ma, Jane," ujar Vanilla sebelum beranjak. Keduanya mengangguk, membiarkan Vanilla menemani putrinya untuk melihat hewan yang dipelihara kakeknya.

__ADS_1


"Mumu tidak biasanya mau menamni aku lihat-lihat hewan, biasanya kalau ke sini dan aku ajak meihat hewan, Mumu tidak mau. Jadi aku hnya dengan Grrlandpa saja,"


"Berhubung Grandpa sedang bekerja, maka Mumu yang menemani Kakak Icelle,"


"Hmm tapi aku bisa ditemani oleh orrlang lain (orang lain),"


Maksudnya adalah para asisten di rumah ini yang bisa menemaninya melihat-lihat peliharaan kakeknya yang sedikit tapi sangat menyenangkan untuknya. 


"Tidak apa. Mumu mau menemani kamu. Memang kamu tidak mau kalau Mumu ya---"


"Mau, Mumu. Ayo, kita lebih dekat ke tempat buaya,"


"Tidak, Mumu takut,"


"Buayanya tidak nakal, Mumu. Dia tidak akan menggigit. Jadi Mumu tidak usah takut ya,"


"Tidak mau, Sayang,"


Vanilla berdiri dari jarak yang cukup jauh dari kolam buaya yang jelas-jelas sudah aman.


Grizelle akhirnya mendekat ke sana seorang diri. Vanilla yang melihatnya berseru melarang Grizelle tapi anaknya tetap saja berani.


Telah sampai di dekat kolam yang dilindungi, Grizelle mengisyaratkan sang ibu agar mendekat.


"Mumu, ayo ke sini. Tidak usah takut,"


"Grizelle kamu terlalu dekat,"


"Aman bagaimana? nanti kalau tiba-tiba pelindungnya rubuh lalu dia keluar melahap kita bagaimana?"


Grizelle tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan Mumunya yang sudah kelewat takit lalu pikirannya sudah kemana-kemana.


"Tidak, ini aman. Grrlandpa tidak mungkin mau membahayakan,"


Vanilla akhirnya memberanikn dii untuk mendekat pada anaknya yang berdiri tenang dekat kolam. Ia bergidik membayangkan kalau buaya yang sedang diam di ujung sana berpinah arah menuju Grizelle lalu---


Arghh


"Apa sih yang aku pikirkan!" Vmilla mengetuk-ngetuk keningnya sendiri.


Setelah tiba di samping anaknya, ia langsung mendapat genggaman hangat dari sang anak.


"Tenang, Mu. Dia baik, temannya juga baik. Merrelka (mereka) jadi tidak mau ke sini karrlena (karena) melihat mumu takut mungkin,"


Vanilla justru bersyukur kedu buaya jtu tidak dekat dengannya dan sang putri. biarkan saja mereka tenang di ujung kolam.


Saat Grizele akan mendekati, Vanilla melarangnya cepat. "Kamu ini terlalu berani! tidak boleh! di sini saja. Tidak boleh menghampiri,"


"Ada pagarrlnya(pagarnya), Mumu,"


"Tetap saja tidak boleh, Sayang,"


"Lagipula ini juga berlapis pagarlnya (pagarnya),"

__ADS_1


"Tetap tidak boleh!" Vanilla melotot pada anaknya yang terlampau berani sampa Ia jadi khaatir sendiri. Bagaimana tidak khawatir bila anaknya memilih untuk mendekat pada hewan buas itu? sekalipun sudah ada pengamannya dan itu berlapis.


"Aku mau lihat darrli (dari) dekat," Grizelle merengek bersikeras.


"Ya sudah, kita pulang saja lah. Daripada kamu susah diberi tahu. Nanti Mumu laporkan pada Pupu ya,"


Grizelle langsung memeluk pinggang Mumunya, menyembunyikan kepalanya di perut sang ibu. Ia menggeleng pelan.


"Tidak, aku akan dengarrlkan (dengarkan) Mumu," gumamnya pelan. Terpaksa Ia tidak bisa menghampiri buaya itu dan melihatnya dari dekat karena Mumunya sudah dalam mode marah, tidak ingin dibantah dan sudah membawa Jhico juga.


"Lihat saja dari sini. Takutnya kalu kamu dekati dia merasa terganggu,"


"Okay, Mu,"


Grizelle menurut dan Vanilla tersenyum puas. Ia mengusap kepala anaknya yang masih memeluknya.


Grizelle melepas pelukn kemudian memperhatikan lagi. Kini salah satu buayanya nampak mendekat pada mereka. Vanilla berteriak panik dan Grizelle justru berseru senang..


Buaya itu tahu saja kalau ia ingin mendekat tapi sayangnya dilarang Mumunya.


"Yeayy sini-sini," Grizelle menyuruhnya lebih dekat. Vanilla sudah menjauh, Ia menarik tangan grizelle tapi anaknya itu tidak mau mengikuti jejaknya.


"Astaga anak ini benar-benar ya,"


Vanilla kembali kesal. Sudah saja ia kirim foto Grizelle yang sdang mengajak buaya itu mengobrol pada ayah sang anak. Biar Jhico tahu kalau anaknya itu pintar sekali membuat cemas dengan keberaniannya yang diatas rata-rata.


"Kamu jangan maju, Grizelle!"


"Iya, Mumu. Aku tidak maju mendekat. Tenang saja,"


"Tenang-tenang, bagaimana caranya bisa tenang kalau melihatmu yang terlalu berani seperti ini?"


"Aku tidak mengelus buayanya, jadi Mumu tidak usah takut,"


Mata Vanilla membulat. Adakah dipikiran Grizelle mengenai keinginan untuk mengelus tubuh buaya itu?


"Sudah, kita lihat yang lain. Mumu ingin melihat ikan,"


Vanilla berjalan mendekati kolm ikan yang tak begitu jauh. Ia berdiri di atas jembatan yang berada di atas kolam ikan itu.


"Lebih menyenangkan lihat ikan, Icelle. Daripada melihat hewan menyeramkan itu,"


Vanilla tenang melihat ikan-ikan yang berenang bersama. Bermain sesukanya. Ia lebih suka melihat yang seperti ini daripada melihat buaya yang menyeramkan dan membuatnya tegang sekalipun ada pelindung di tempat tinggalnya dan ada penjaganya juga yang bertugas menjaga sekaligus merawatnya. Tetap saja Vanilla merasa tidak tenang.


"Ayo, ke sini, Jangan di sana terus," kata Vanilla memanggil anaknya agar segera mendekat padanya.


"Aku ke sana dulu ya," Grizelle melambai singkat pada buaya yang menghadap ke arahnya.


Anak itu berjalan riang menghampiri Mumunya dan ikut menikmati pemandangan di bawah mereka.


"Cantik-cantik ikannya. Tapi tetap cantik kita berrldua (berdua) ya, Mu?"


Vanilla terkekeh menggeleng pelan mendengar penuturan putrinya yang sangat percaya diri ini dan terlalu berani juga.

__ADS_1


__ADS_2