Nillaku

Nillaku
Nillaku 97


__ADS_3

Jhico telah tiba di kelab yang dikirimkan alamatnya oleh sang istri. Kelab ini sudah pernah Ia kunjungi waktu Ia menghampiri Vanilla yang mabuk. Tetapi Ia sudah lupa letaknya sehingga perlu pengarah.


Kelab masih tutup. Vanilla dan Joana sudah duduk di barisan kursi yang berada di depan kelab. Mereka seperti penjaga kelab saja.


Vanilla memanggil Jhico setelah dilihatnya lelaki itu keluar dengan gagah dari mobilnya. Jhico segera mendekati sang istri.


"Kelab nya saja belum buka. Ngapain jam segini ke kelab?"


"Kita akan menunggu sampai buka,"


Jhico menggeleng tak habis pikir. Seperti tidak ada kegiatan lain yang lebih berguna daripada mengunjungi kelab yang tujuannya hanya untuk melampiaskan kesedihan.


"Kamu pulang saja,"


Ucapan Vanilla membuat Jhico dan Joana menoleh pada Vanilla. Mata Jhico membulat terkejut kemudian Ia terkekeh pelan.


"Jangan bercanda, Nilla."


"Aku tidak bercanda. Kamu kembali saja ke klinik atau ke apartemen. Nanti kalau aku sudah mau pulang, aku pasti telepon kamu,"


"Tidak mau, aku akan menemani kalian di sini."


"Tapi aku tidak mau! kamu pergi sekarang. Biar aku dan Joana yang ada di kelab,"


"Lalu kenapa kamu menyuruh aku datang kalau pada akhirnya aku disuruh pulang?"


"Aku hanya ingin tahu saja. Aku kira kamu tidak akan datang, ternyata sebaliknya."


Jhico nampak menahan geram. Bisa-bisanya Vanilla menjawab dengan santai seperti itu. Ia menatap Vanilla dengan sorot kesal. Joana jadi semakin tidak enak hati. Ia rasa sahabatnya sudah keterlaluan.


"Sana pergi,"


Jhico segera menjauh dengan perasaan jengkel luar biasa. Ia sudah rela meninggalkan klinik hanya untuk menyusul Vanilla ke sini. Ia benar-benar khawatir setelah Vanilla mengatakan bahwa dirinya akan ke kelab bersama Joana. Setelah tiba di sini, malah diusir. Padahal sebelumnya Vanilla juga meminta Ia untuk datang.


****


Kenzo sudah tiba di klinik sejak tadi karena panggilan Jhico. Seharusnya Ia jaga menjelang malam nanti. Tapi karena Jhico mengatakan punya urusan yang tidak bisa ditunda, maka Ia harus siap siaga menggantikan Jhico berjaga di klinik untuk menangani siapapun yang datang dengan kondisi sakit.


Ia terkejut saat melihat Jhico memasuki klinik. Ia belum sempat menegur karena ada yang harus dibantu.


Setelah waktunya kosong, malah giliran Jhico yang harus menangani pasien. Kenzo melihat gerak gerik yang aneh dari Jhico. Menangani pasien saja terlihat kurang konsentrasi.

__ADS_1


Anak kecil yang keningnya berdarah karena jatuh dari sepeda yang menjadi pasien Jhico saat ini menatap Jhico dengan seksama.


"Jangan banyak bergerak ya," ujar Jhico padanya. Ia mengangguk tapi tetap saja tidak bisa sepenuhnya mematuhi ucapan Jhico. Disentuh sedikit, Ia meringis dan berontak.


Jhico yang biasanya sangat pintar membujuk dengan mulutnya yang manis dan lembut agar pasien nya tenang, kini hanya diam. Hal itulah yang membuat Kenzo yakin kalau ada sesuatu yang membuat Jhico seperti itu.


"Dia dengan aku saja. Kau----"


"Aku bisa," sahut Jhico dengan yakin. Ia menolak tawaran Kenzo. Kemudian Jhico tersenyum lembut menatap anak itu. "Akan cepat sembuh kalau kamu diam. Luka mu akan semakin parah nanti,"


"Okay, Dokter."


Jhico mengusap rambut anak lelaki itu dengan lembut. Kemudian Ia melanjutkan kegiatannya lagi.


Setelah memastikan lukanya terobati, Jhico dan Kenzo keluar dari ruang untuk penanganan. Sementara anak dan Ibu itu menuju apotek klinik untuk menebus obat, mengikuti arahan perawat.


"Kau kenapa sih?"


"Urusanmu sudah selesai? kenapa cepat sekali?"


Dari dua pertanyaan itu, tidak ada yang dijawab oleh Jhico. Kenzo berdiam di depan ruangan Jhico sebelum memasuki ruangan dirinya sendiri. "Biasanya tidak ada satu hal pun yang bisa mengganggu pekerjaan mu,"


"Memang tidak ada. Aku baik-baik saja,"


"Aku sedang cemas saja. Jadi sedikit tidak mood untuk membujuk anak kecil. Tapi aku tetap berhasil menenangkan dia,"


"Ya,Tapi kalau boleh tahu, hal apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?"


"Urusanku tadi, adalah menghampiri Vanilla yang akan ke kelab. Setelah aku tiba di sana, Vanilla meminta ku untuk kembali lagi ke klinik, sementara dia bersama temannya di kelab malam,"


"Kenapa kau biarkan, bodoh?!"


"Aku diusir, sinting. Daripada dia semakin marah, lebih baik aku memenuhi keinginannya," sahut Jhico yang kesal karena merasa disalahkan oleh Kenzo.


"Diusir Vanilla?"


"Iya! sebelumnya aku diminta untuk datang. Setelah sampai di sana, malah disuruh kembali ke klinik. Sekarang kau bayangkan bila ada di posisiku. Satu sisi aku khawatir dengan keamanan dia di sana. Di sisi lain, aku tidak mau dia terus-terusan memarahi aku kalau aku tetap berada di sana. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk kembali ke sini tapi aku mengatakan padanya untuk tetap memberi kabar,"


"Ya sudah, terus apa yang kau cemaskan? Vanilla pasti sudah memberikan kabar tentang keadaannya 'kan?"


"Iya, tapi sepuluh menit yang lalu."

__ADS_1


Tawa Kenzo meledak seketika. Hanya sepuluh menit tidak dapat kabar dari Vanilla, Jhico sudah kalang kabut seperti ini.


"Bukan aku berlebihan atau bagaimana, tapi masalahnya Vanilla sedang berada di tempat yang menurutku berbahaya. Oleh sebab itu aku khawatir sekali,"


Kenzo baru menyadari itu. Wajar rasanya kalau Jhico se panik ini. Mendengar istri berada di tempat yang menantang dan dalam kondisi hamil, tentu saja membuat Jhico khawatir yang berlebihan.


"Okay, aku paham,"


Selain karena ingin tahu sebesar apa rasa khawatir Jhico terhadapnya, Vanilla menyuruh Jhico kembali ke klinik karena Ia tahu Joana kurang lepas melampiaskan kegelisahan hatinya bila ada Jhico di dekat mereka. Oleh sebab itu Ia mengusir Jhico. Ia berharap Jhico memahami dirinya dan Joana yang saat ini sedang membutuhkan ruang dan waktu berdua dengannya sebagai sahabat untuk bisa mengurangi beban pikiran.


*****


"Kamu sebaiknya pulang saja, Vanilla. Kelab sebentar lagi dibuka,"


"Tidak, aku akan tetap di sini. Kamu sudah mengatakan itu berulang kali. Kamu paham tidak?"


Melihat Vanilla kesal, akhirnya Joana menghela napas pelan. Ia benar-benar angkat tangan dengan sifat keras kepala yang dimiliki Vanilla. Berulang kali diminta untuk pergi, tetap saja mau di tempat itu.


"Kamu sudah keterlaluan dengan Jhico tadi. Sudah meminta maaf belum?"


"Memang aku melakukan apa?" tanya Vanilla dengan bingung.


"Kamu menyuruh dia pergi padahal sebelumnya kamu sendiri yang meminta dia untuk datang. Kamu bagaimana sih?"


"Tidak apa, itu artinya dia khawatir. Aku meminta dia untuk datang kalau dia merasa khawatir dengan aku. Ternyata dia datang, dan itu artinya dia khawatir. Aku hanya perlu jawaban dari tindakannya saja,"


"Astaga, Vanilla. Kamu jahat sekali dengan suamimu. Tentu saja dia khawatir. Kamu tidak perlu melakukan itu padanya. Mungkin tadi dia sedang sibuk tapi setelah kamu minta untuk datang, dia langsung datang. Kamu seperti mempermainkan rasa khawatir yang Jhico miliki untuk kamu,"


"Sekali-sekali aku tes dia. Aku tidak mempermainkan. Aku hanya ingin tahu saja apakah dia benar-benar mengkhawatirkan aku atau tidak,"


Mereka berdua adalah pengunjung pertama di kelab itu. Begitu pintu dibuka, mereka segera masuk. Berhubung masih benar-benar kosong, mereka lebih leluasa memilih tempat yang paling nyaman.


"Aku hanya ingin kita berdua di sini, agar kamu bebas meluapkan apa yang kamu rasakan,"


"Terima kasih, Vanilla. Kamu sudah---"


"Tidak perlu terima kasih. Aku hanya mengulangi apa yang pernah kamu lakukan padaku. Kamu sangat peduli padaku sejak dulu,"


-----------


Helaawww🙋 donat jeko dan si Panil dtg lg nih. Jgn lupa klik like, ketik komen, sedekah vote (kl ada). Maaciw semua. Ini untuk kalian❤️🤗

__ADS_1


Eh eh follow sosmed akyu yaaa. Yg mao ajaa, kita temenan kuyy 😜



__ADS_2