Nillaku

Nillaku
Ekstra part 2


__ADS_3

-Italia-


Tiba di salah satu hotel Italia saat malam hari. Begitu pagi menyambut, Grizelle, Gisca, dan triple A begitu antusias untuk memulai perjalanan menjelajahi Italia.


Pukul delapan mereka telah tiba di colosseum yang merupakan tempat wisata di Italia yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia.


Bangunan dengan bentuk elips ini memiliki ketinggian mencapai 48 meter dengan ukuran 188 meter x 156 meter. Konon Colosseum yang bentuknya seperti stadion itu mampu menampung penonton sebanyak 55.000 dengan 80 aksen pintu masuk.


Sebagai salah satu tempat wisata yang sangat terkenal, tidak heran kalau colosseum banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.


"Ayo, anak-anak kecil foto,"


Lovi mengarahkan lima anak kecil yang ikut berlibur ini untuk bergaya di depan colosseum.


Grizelle, Gisca, dan Auristella berada di tengah, sementara Andrean dan Adrian di sisi kanan dan kiri ketiganya, berdiri tegap layaknya seorang pelindung mereka, tiga adik perempuannya.


Yang  paling sulit diarahkan itu adalah Gisca sebab dia yang paling kecil. Inginnya pergi terus dari barisan.


"Sayang, ayo foto. Untuk jadi kenang-kenangan," Vanilla berusaha membujuknya. Gisca menurut kemudian mengulangi lagi kebiasaannya hingga membuat sang kakak geram. Ia merangkum wajah Gisca dan menggigit gemas puncak hidung adiknya yang pada akhirnya membuat Gisca menangis.


Kakek dan nenek mereka menggeleng pelan. Foto saja seriuh ini. Setelah ditenangkan oleh ayahnya, Gisca mau bergaya lagi di depan lensa kamera seorang fotografer yang sengaja dibayar jasanya untuk mengabadikan tiap momen kebahagiaan mereka.


Setelah puas memotret anak-anak, kini saatnya kakek dan nenek mereka yang tidak banyak bergaya. Foto dengan pasangan masing-masing juga dilakukan. Kemudian saat foto, mereka mengajak lima cucu mereka untuk berfoto lagi. Kalau dengan cucu lebih ekspresif.


Setelah itu barulah Devan, Lovi, kemudian Jhico dan Vanilla. Ditemani oleh anak masing-masing.


Puas berfoto, mereka menikmati suasana di sekitar colosseum. Anak-anak bermain sesuka hati mereka.


Kali ini Auristella dan Grizelle tengah bermain tebak kata. Adrian yang memberitahu katanya pada Grizelle kemudian Auristella menebak. Nanti, sebaliknya.


"Bentuknya menggemaskan," Grizelle memberikan clue agar Auristella segera menebak.


"Hanya itu clue nya? yang menggemaskan banyak. Aku salah satu contohnya"


Grizelle memutar bola matanya malas. Gisca menertawai Auristella, "Kenapa tertawa, Gisca?" tanya Auristella dengan galak. Namun Gisca kembali tertawa dan menutup mulutnya.


"Dia menertawakan kamu karena kamu itu terlalu percaya diri," ledek Adrian. Gisca mengangguk cepat, "Iya, padahal tidak menggemaskan. Aku yang menggemaskan," kata anak itu dengan percaya diri. Gisca menjulurkan lidahnya dan akan berlari namun Auristella berhasil mengangkat sedikit tubuh Gisca. Anak berusia sebelas tahun itu belum terlalu kuat menggendong Gisca. Ia menggelitiki leher Gisca dengan rambutnya.


Gisca tertawa terpingkal-pingkal dan minta dilepaskan. Auristella langsung menurutinya. Ia memasang wajah pongah.

__ADS_1


"Biar jera harus diberi pelajaran,"


"Ayo cepat tebak," suruh Andrean agar Auristella fokus dulu dengan tugasnya saat ini yaitu menebak kata yang diberikan Grizelle.


"Cluenya ditambah lagi!" pinta Auristella. Akhirnya Grizelle menambahkan, "Sering dipeluk saat tidur,"


"Oh, boneka,"


"Ya benar!" Grizelle berseru senang saat kakak sepupunya berhasil menebak.


"Ayo sekarang kamu yang menebak ya,"


Grizelle mengangguk. Kali ini Ia yang akan menebak kata. Kali ini Auristella mendapatkan kata dari Andrean.


"Makhluk hidup,"


"Okay, hewan atau manusia?"


"Manusia,"


"Seperti apa cirinya,"


Grizelle tertawa dan langsung menebak dengan tepat. "Adrian," Auristella bersorak karena tidak perlu waktu lama Grizelle bisa menebak kata apa yang Ia maksud.


"Ean kenapa aku sih? banyak hewan, benda, kenapa harus aku?!" gerutunya pada sang kakak yang kini tersenyum.


Ia sengaja menggunakan nama Adrian yang juga mudah untuk ditebak. Ia tidak mau menggunakan barang ataupun hewan.


Gisca sibuk kesana kemari sementara kakaknya-kakaknya tengah bermain tebak kata. Vanilla yang melihat anak keduanya itu tersenyum geli. Ia merentangkan tangan saat Gisca mendekat padanya.


Gisca langsung memeluknya erat. Jhico yang menyaksikannya tersenyum lembut. Ia juga mengisyaratkan ingin dipeluk. Gisca kemudian memeluk ayahnua.


"Gisca tidak ikut bermain?"


"Aku tidak bisa," katanya dengan cepat dan lancar. Jhico dan Vanilla terkekeh geli. Mereka menyerang Gisca dengan pelukan.


"Nay-Nay juga mau dipeluk,"


"Grandma juga,"

__ADS_1


Gisca memenuhi permintaan kedua neneknya. Ia terkekeh saat Karina menggelitiki perutnya usai memeluk dan Rena yang sengaja menggusarkan wajahnya di leher Gisca.


"Hanya nenek-neneknya saja yang dipeluk? kami tidak?"


Raihan dan Thanatan yang tengah mengobrol rupanya juga memperhatikan Gisca yang dengan hangat memeluk keluarganya. Mereka juga ingin. Tentu Gisca tidak menolak ketika mereka merentangkan tangan.


"Hmm harum sekali cucu Grandpa ya," aroma bayi yang terhidu dari tubuh Gisca membuat mereka yang dekat dengannya merasa tenang.


Thanatan mencium puncak hidung Gisca yang langsung menyentuhnya. Tadi hidungnya habis digigit oleh sang kakak.


"Hidung Gisca aman. Tidak Kakek gigit," kekehnya.


"Iya, aman, Kakek,"


******


Setelah mengunjungi Colosseum, kini mereka datang ke Trevi Fountain yang merupakan salah satu objek wisata air mancur yang terletak di Trevi, Roma.


Dibandingkan dengan air mancur lainnya di seluruh Italia, Trevi Fountain adalah air mancur terbesar dan yang paling terkenal.


Selain karena desainnya yang megah, tempat ini dikenal dengan mitosnya juga. Barangsiapa yang melempar koin ke dalam kolam, konon akan bisa kembali lagi ke kota itu. Tapi dengan aturan, posisi orang yang akan melempar koin membelakangi sisi air mancur.


Banyak wisatawan yang melakukan ritual tersebut hingga katanya dalam sehari bisa terkumpul tiga ribu euro di dalam kolam. Tapi koin yang ada di dalam sana tidak dibiarkan begitu saja. Melainkan dijadikan sebagai subsidi untuk orang yang membutuhkan.


Rombongan yang dibawa Thanatan berlibur kali ini semuanya melakukan ritual tersebut karena tidak hanya ritual saja tapi apa yang mereka lakukan juga merupakan kegiatan dalam hal kebaikan.


"Aku mau lempar lagi, Mu,"


"Aku juga,"


Grizelle dan Gisca kembali minta diberikan koin oleh Mumunya. Vanilla segera meletakkan koin ke atas telapak tangan kedua anaknya yang sudah menengadah.


Ketiga saudara mereka pun tak ingin kalah. Melempar koin ke dalam kolam air mancur itu menciptakan sensasi kebahagiaan tersendiri.


"Yeayy kita beramal," kata Adrian bertepuk tangan riang, setelah koin yang dipegangnya habis.


Cukup lama mereka mengamati air mancur itu, kemudian mereka kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak.


Masih enam hari lagi di sana yang artinya masih banyak waktu untuk menjelajahi tempat-tempat wisata di Italia.

__ADS_1


Mereka benar-benar menikmati perjalanan berlibur kali ini. Rasanya semua beban pikiran hilang ketika tiba di Italia untuk berlibur dengan keluarga terdekat yang tanpa disadari semakin mengeratkan tali kekeluargaan mereka dan menambah keharmonisan.


__ADS_2