Nillaku

Nillaku
Nillaku 96


__ADS_3

"Jhico, jujur aku merasa curiga dengan dia,"


Jhico yang baru selesai makan terkejut saat Vanilla mengangsurkan ponselnya dengan gerak tidak santai.


Jhico melihat ponselnya. Keyfa baru saja mengiriminya pesan berisi 'Kakak dokter, aku rindu. Kapan kita bertemu lagi?'


"Dia benar anak kecil?"


Vanilla ragu kalau yang namanya Keyfa itu seorang anak kecil. Dia sangat dekat sekali dengan Jhico bahkan sering berkirim pesan.


"Dia anak kecil. Kamu tidak bisa lihat tata bahasa nya?"


Dan dari cara memanggil Jhico saja sudah jelas-jelas memberi tahu bahwa itu bukanlah orang dewasa.


"Bisa saja dia wanita dewasa yang bisa menjadi anak kecil,"


"Sulit sekali percaya pada suami? sudah aku katakan berulang kali. Tidak mungkin aku melakukan sesuatu di belakang kamu,"


Vanilla menghembuskan napas berat. Berusaha menghilangkan rasa ingin menuduh Jhico yang tidak-tidak.


"Aku mau baby moon,"


"Huh?"


"Iya, kamu keberatan?"


"Tidak, tidak sama sekali. Tapi kenapa tiba-tiba menginginkan itu?"


"Sebenarnya aku berharap kamu mengajak aku untuk baby moon tapi sepertinya kamu kurang peka. Sampai kapan aku harus menunggu? lebih baik aku sampaikan langsung saja,"


"Oh astaga, kamu menginginkannya, Nilla?"


"Ya! tapi kamu tidak peka-peka. Padahal aku ini butuh liburan,"


"Tunggu kandungan kamu berusia enam bulan ya. Itu lebih aman,"


"Tapi aku maunya sekarang,"


"Baby moon kemana? kalau jauh, lebih baik dengarkan saran aku tadi."


"Tidak jauh, hanya berkunjung ke negara lain saja,"


Jhico menggeram gemas. Berkunjung ke negara lain sudah masuk kategori jauh. Bisa-bisanya Vanilla mengatakan 'tidak jauh'.


"Usia kandungan kamu masih rawan. Kita tunggu dua bulan lagi ya?"


"Jhi, aku mau sekarang!"


"Sekarang?"


"Iya sekarang! ke Korea saja,"


"Jangan gila, Nilla. Kamu pikir dekat? kita juga butuh persiapan untuk ke sana,"

__ADS_1


"Ya sudah, besok kalau begitu."


"Tidak bisa, kamu harus dengar kata-kata aku. Kita tunggu dua bulan lagi saat kandunganmu berusia enam bulan. Sekarang masih rawan. Kamu juga masih suka mual 'kan?"


"Tidak, aku tidak pernah mual lagi. Kamu jangan sok tahu ya!"


"Aku tahu karena aku selalu ada di dekat kamu terutama pagi-pagi. Kamu masih mengalami morning sickness walaupun tidak sesering awal-awal kehamilan. Beberapa hari yang lalu juga mengeluh keram perut,"


"Keram hanya sekali. Dan kamu juga langsung bawa aku ke dokter, kata dokter aku tidak apa-apa,"


"Kali ini dengarkan aku,"


"Lama sekali tunggu dua bulan lagi,"


"Sebentar kalau kamu sabar. Tapi kalau kamu tidak sabar, selalu merengek, terasa nya akan lama."


"Ck! Jhico jahat!"


"Huh?"


Jhico menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Bukannya Ia jahat, tapi pergi berlibur apalagi dalam kondisi Vanilla mengandung, semuanya perlu persiapan dan mereka juga akan meninggalkan pekerjaan untuk sementara waktu.


*****


Arlan terus membuat Thanatan sakit kepala. Arlan sangat menginginkan anak Jhico seorang laki-laki. Thanatan pun demikian.


Biasanya lelaki tua itu datang ke kantor menantunya untuk menanyakan perkembangan bisnis Thanatan. Sekarang pembahasan mereka berbeda dari biasanya.


"Ayah, itu terlalu kejam menurutku,"


"Jadi kau sudah menerima kehadiran dia yang tidak dinginkan itu?!"


"Aku berharap ada perubahan setelah periksa lagi nanti,"


"Kalau tetap perempuan bagaimana? Jhico tidak bisa kau andalkan. Lalu cucumu juga. Kasihan sekali menjadi dirimu ya. Tidak ada yang bisa menjadi pewarismu,"


"Ingin sekali aku menghajar kepalanya yang keras itu. Anak mu semakin sombong," imbuh Arlan.


Telinga Thanatan terasa panas mendengar ucapan Arlan. Ia kesal dengan Jhico, ditambah lagi dengan ucapan-ucapan Arlan yang kian membakar emosi nya.


"Nasib anaknya akan sama dengan ayahnya. Sama-sama tidak dipedulikan,"


Dan Jhico tidak pernah mau mempermasalahkan itu. Anaknya tidak dipedulikan, masih ada Ia dan Vanilla yang selalu siap mencurahkan seluruh kasih sayang dan cinta untuk anak mereka. Jhico juga tidak menuntut anaknya diakui dalam keluarga. Keluarganya bukanlah keluarga yang baik. Seharusnya apapun jenis kelamin anaknya, bagaimanapun kondisinya, sudah menjadi kewajiban untuk mereka menerima dan menyayangi anaknya karena dia juga merupakan bagian dari keluarga besarnya.


Semenjak Ia menolak untuk memenuhi keinginan ayah dan kakeknya, sejak saat itulah Jhico merasa tidak memiliki keluarga. Hanya Hawra, neneknya yang memahami apa yang Ia inginkan.


*****


"Kamu pulang saja. Aku ingin ke kelab sebentar,"


Vanilla menggeleng tidak mau. Hari ini Joana terlihat begitu berbeda dari biasanya. Ia terlihat kacau. Karena akhir Minggu nanti akan ada acara tukar cincin antara dirinya dan Milano, lelaki yang akan menjadi suaminya. Vanilla sudah kehabisan akal untuk menolak perjodohan karena Milano tidak melakukan apa yang Ia lakukan. Milano menginginkan terjadinya perjodohan itu sementara dirinya tidak.


"Tidak ada kelab yang buka jam segini, Joana. Masih sore,"

__ADS_1


"Aku akan tunggu sampai buka. Kamu pulang saja, Van."


Joana tidak ingin menarik temannya ke dalam kubangan rasa sakit yang sedang Ia alami. Ia benci Milano, Ia benci dengan ayahnya yang meskipun masih menjalani hukuman di dalam jeruji besi namun tetap saja mendukung perjodohan itu.


"Aku akan menemani kamu, Joana."


Vanilla tentu tidak lupa sebesar apa pengorbanan Joana selama ini sebagai sahabatnya. Joana selalu berada di sisinya bagaimana pun kondisi Vanilla. Sekarang, Ia yang akan melakukan itu. Kali ini perannya sebagai sahabat sangat dibutuhkan oleh Joana.


"Van, kamu sudah memiliki kewajiban yang lain, dan itu bukan aku. Lebih baik---"


"Sudah kewajiban ku untuk selalu bersama kamu. Biarkan aku menjadi sahabat yang baik untukmu seperti apa yang selama ini kamu lakukan padaku,"


Vanilla merasa tidak tega dengan Joana. Joana bukan seperti dirinya yang pintar memberontak. Kalau sudah berlari ke tempat itu, artinya Joana sudah benar-benar bingung. Joana tidak bisa memberontak pada keluarganya ataupun keluarga Milano, Selama ini Ia menolak baik-baik. Tidak seperti Vanilla dulu, yang setiap malam semakin gencar pergi bersenang-senang menjelang pernikahannya bersama Jhico. Itu sebagai bentuk pemberontakannya terhadap Raihan yang sangat setuju ketika Jhico mengatakan ingin menikahinya.


Usai melakukan pembelajaran di kampus, mereka melaju ke sebuah kelab malam yang biasanya menjadi tempat ternyaman untuk Vanilla dulu.


Di perjalanan, Jhico menelpon Vanilla karena saat ini Ia sudah tiba di kampus Vanilla untuk menjemput tapi Ia tidak menemukan Vanilla.


"Aku akan menemani Joana," ujar Vanilla pada sang suami tanpa pembukaan sebelumnya.


"Kemana, Nilla? kamu tidak meminta izin padaku,"


"Ke kelab,"


"Apa?!" suara Jhico lebih keras dari sebelumnya. Karena suasana di sekitarnya saat ini lumayan ramai oleh beberapa mahasiswa di kampus Vanilla. barangkali Ia salah mendengar.


"Joana mau ke kelab sebentar,"


"Kelab apa?"


"Kelab malam, ngapain aku ke club bola? mau latihan?!" cibir Vanilla kesal dengan suaminya yang lama sekali memahami ucapannya.


"Ngapain ke sana? memang aku izinkan?"


"Dia sedang terpuruk, Jhico. Aku mohon kamu mengerti,"


"Tapi---"


"Kalau kamu khawatir denganku, kamu datang saja. Sekalian menikmati suasana yang belum pernah kamu rasakan,"


"Ck!" Jhico berdecak dan segera mematikan teleponnya. Vanilla terkekeh geli di dalam mobil. Jhico kesal sekali setelah mendengar ucapannya yang menyuruh Jhico untuk datang ke kelab. Ia yakin Jhico belum pernah berada di dalam suasana kelab yang dipenuhi hingar bingar kehidupan malam.


"Aku tidak enak hati, Van."


"Biar saja. Seharusnya dia mengerti karena dia juga memiliki teman,"


"Tapi caraku kali ini salah. Aku terpuruk dan malah memilih untuk pergi ke--"


"Tidak apa, aku juga sama seperti mu. Lagipula ini untuk pertama kalinya kamu memiliki keinginan untuk datang ke sana. Aku harap, lain kali tidak lagi,"


 


Holaaa aku dtg nih abis semedi😂 ada yg kangen aku? ada lah pasti. Jawab 'Ada' yaaa. Bikin aku seneng napa 👉👈 wkwkwk canda yaa zheyeng ku😂 Lanjooot gk nih?

__ADS_1


__ADS_2