Nillaku

Nillaku
Nillaku 41


__ADS_3

"Terima kasih, Vanilla. Aku kembali merasakan kebiasaanku dulu, setelah sekian lama meninggalkannya,"


Yang dimaksud Joana adalah segala treatment yang baru saja mereka lakukan. Dari rambut sampai ujung kaki. Vanilla benar-benar membuat sahabatnya itu merasa terharu. Selama ayahnya masuk ke dalam jeruji besi untuk menjalani hukuman karena tindakan korupsi, Joana tidak pernah lagi merasakan fasilitas yang biasanya Ia peroleh.


Kalau tahu akan berakhir buruk bagi ayahnya, lebih baik Joana hidup seperti ini. Setiap kali menjenguk ayahnya, Joana selalu merasa terluka dan tidak berguna sebagai anak. Dulu Ia hidup penuh kebahagiaan. Sekarang ayahnya harus menerima hukuman karena kecurangannya sendiri.


"Joana, aku mulai sibuk bekerja lagi. Kamu mau membantu aku?"


Selesai merawat diri, Joana diajak Vanilla untuk makan di restoran seraya berbincang. Vanilla sengaja memberikan peluang untuk Joana agar sedikit membantu sahabatnya itu. Joana jarang menceritakan kesulitannya dalam menjalani hidup, tapi Vanilla mengerti bahwa ada orang didekatnya yang perlu bantuan.


"Kemarin, ada beberapa perusahaan yang meminta aku untuk menjadi model mereka dalam mempromosikan produk,"


"Aku harus membantu apa?"


"Apapun yang kamu bisa. Manager atau---"


"Tidak, jangan manager. Itu terlalu sulit untukku. Bagaimana kalau asisten saja?"


Vanilla tampak ragu untuk menyetujui. Sahabat yang sudah cukup lama menemaninya hanya dipekerjakan sebagai asisten saja? rasanya kurang tepat.


"Bukan menolak kamu tapi aku--aku tidak ingin kamu hanya--"


"Vanilla, yang aku bisa hanya itu. Tidak masalah bukan?"


Joana menatap Vanilla penuh harap. Vanilla menimang beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk setuju.


*****


Vanilla masih menerima pekerjaan secara langsung karena belum ada manager yang bisa melakukan itu. Mungkin bila bertemu dengan Jane di waktu yang luang, Vanilla akan meminta bantuan pada sepupunya itu. Bisa Ia yang menjadi manager atau mungkin Jane mencari seseorang.


Pemberian Tuhan benar-benar tidak disangka Vanilla. Setelah Ia sembuh ada beberapa perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya. Dan hanya sedikit yang Ia setujui. Mengingat Vanilla harus membagi waktu dengan kuliahnya.


Dan sejak kemarin Ia sudah menerima beberapa penawaran dari perusahaan yang besar. Vanilla sangat bahagia karena bisa kembali bekerja sesuai dengan hobi yaitu berpose di depan kamera.


"Aku edit mau?"


Vanilla menoleh saat suaminya duduk di samping lalu memperhatikan laptop Vanilla yang sedang menampilkan foto Vanilla bersama sebuah produk, foto yang diambil Jane beberapa hari lalu.


"Kamu bisa?"


"Entah, tapi aku ingin mencobanya," Akhirnya Vanilla menyerahkan laptopnya pada Jhico. Lelaki itu memperhatikan gambar istrinya sejenak lalu mulai sibuk menjadikannya lebih menarik.


"Pakaianmu selalu seperti ini kalau sedang foto?"


"Tidak, kebetulan pada saat foto, aku sedang mengenakan baju itu,"

__ADS_1


"Aku tidak pernah melihatmu memakainya,"


"Kalau ada kamu, aku memakai baju yang lebih sopan,"


"Kenapa seperti itu? di depan suami sangat menjaga, tapi di sosial media malah ditunjukkan?"


Jhico bertanya dengan lembut, bermaksud menasihati juga. "Sejak kapan kamu berkecimpung di dunia ini?"


"Apa?"


"Menjadi influencer,"


"Sebelum aku buta. Tapi belum terlalu lama juga,"


"Selama sakit, sempat berhenti?"


"Tentu saja, aku tidak percaya diri,"


"Bukannya kamu sudah tahu tentang pekerjaanku itu?" Suaminya sudah menjadi pengikut Vanilla sejak mereka belum menikah. Pasti sudah tahu semua yang Vanilla bagikan di sosial media.


Jhico mengangguk jujur. Ia ingin mendengar cerita langsung dari Vanilla, bukan hanya dari foto-foto yang dilihat Jhico di sosial media Vanilla.


"Yang aku lihat setiap kali iklan, selalu menggunakan pakaian terbuka,"


Vanilla mendelik kesal. Jhico membahas pakaian lagi. Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. Tapi setelah menikah, hanya sesekali saja Vanilla mengenakannya dan itupun bila tidak ada Jhico di apartemen.


"Aku mengidolakan kamu. Jadi selalu penasaran dan mencari tahu,"


******


Jhico meraba sisi di sampingnya. Kosong, tidak ada Vanilla. Lelaki itu mengerjap lalu bangkit untuk mengusir rasa haus dari tenggorokannya.


"Nillaku, kamu dimana?"


Suara Jhico yang berat sehabis bangun tidur memanggil Vanilla yang tidak biasanya menghilang di tengah malam. Jhico memandang jam yang melekat di dinding.


"Nilla..."


Jhico keluar dari kamar untuk mengambil minum yang sebenarnya sudah Ia siapkan di dalam kamar. Tapi karena ingin mencari Vanilla juga, maka Ia harus keluar.


"Hey, apa yang kamu lakukan?"


"Astaga," Vanilla menoleh terkejut dan pisau yang dipegangnya terpelanting ke bawah hingga tidak sengaja menyentuh kakinya.


Ia meringis dan Jhico bergerak cepat. Sepertinya Ia sudah membuat gadis itu terkejut sampai tidak sengaja melukai.

__ADS_1


"Malam-malam kamu di dapur. Melakukan apa?" Nada tajam Jhico seolah memaksa Vanilla untuk jujur. Ia takut istrinya tengah berusaha berbuat sesuatu yang menyakiti diri sendiri mengingat saat ini bukan waktu yang wajar untuk berada di dalam dapur dan memegang pisau.


"Aku lapar sekaligus ingin belajar masak,"


"Huh? harus malam?"


"Rasa lapar memang bisa diatur waktunya?"


Jhico mendorong pelan tubuh Vanilla agar duduk di kursi pantry. Ia memperhatikan kaki Vanilla, tidak ada darah. Hanya tergores saja.


"Ini tidak apa-apa," seolah tahu suaminya akan mengambil obat, Vanilla langsung berbicara seperti itu.


"Aku yang masak. Kamu mau makan apa?"


"Aku ingin belajar masak. Kalau kamu yang masak, artinya kamu yang belajar,"


"Yang benar saja belajar masak malam-malam. Otakmu masih sehat tidak?"


Vanilla mendengkus kasar. Ia bangkit lalu meraih sereal yang ada di kabinet dapur.


"Besok belajarnya. Sekarang aku makan ini saja kalau begitu,"


"Aku yang buat. Kamu duduk,"


"Jhico, aku bisa buat sendiri kalau hanya sereal,"


"Aku tidak mengizinkan. Aku saja yang membuatnya,"


Vanilla berdecak kesal lalu menyingkirkan tubuh suaminya yang keras kepala itu. Tanpa mendengar rangkaian kalimat dari Jhico, Vanilla mulai membuat makanan untuknya sendiri.


"Kamu seperti orang yang mengandung saja lapar malam-malam,"


Vanilla mendelik tajam. "Tahu darimana kalau orang yang sedang hamil seperti ini?"


Jhico mengetuk kening istrinya yang pasti sedang berpikir macam-macam. Walaupun belum pernah menghadapi orang hamil secara langsung, tapi sedikit banyak Jhico tahu kebiasaan mereka. Orang-orang di sekeliling Jhico adalah laki-laki beristri. Rata-rata dari semua temannya sering menceritakan kesulitan mereka dalam menuruti keinginan istri. Mulai dari menginginkan makanan atau hal yang aneh-aneh di malam hari sampai mengganggu waktu tidur mereka.


"Aku sudah belajar tentang itu semua. Jadi kalau istriku hamil, aku bisa memahami,"


Blush!


Rona merah langsung hadir di kedua pipi Vanilla. Ah sial! Vanilla sering mendengar kalimat yang lebih manis dari ini dan itu diucapkan oleh para mantan teman dekatnya. Tapi kenapa yang sekarang lebih berhasil membuat jantungnya berdetak kacau?


---------


Selamat soreeee semuaa. Tinggalkan komentar, like dan vote kalian yaa. Supaya aku makin semangat bwt lanjoottt.

__ADS_1



__ADS_2