Nillaku

Nillaku
Nillaku 171


__ADS_3

Grizelle terlihat sangat nyaman berada dalam balutan tangan kakeknya. Thanatan menatapnya dalam. Hatinya menghangat melihat Grizelle yang tiba-tiba tersenyum padanya.


Grizelle masih mengantuk. Thanatan menutup mulut cucunya yang terbuka karena kantuk menggunakan telunjuk.


Thanatan terus menggendong nya, membawa Grizelle berjalan dengan pelan mengelilingi rumah.


Kakek satu cucu itu mengubah posisi Grizelle agar kepala Grizelle bersandar di bahunya. Ia mengusap punggung Grizelle dengan lembut hingga menimbulkan ketenangan untuk Grizelle yang tadi merengek.


Vanilla tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya saat melihat Thanatan yang begitu lembut memperlakukan Grizelle. Karina pun tidak menyangka kalau suaminya akan seperti itu.


"Tadi aku terkejut saat Papa mau menggendong Grizelle," ucap Jhico. Ia menerima piring dan sendok yang diberikan Vanilla.


"Papa belum makan,"


"Biar saja, papa lagi bersama Griz, Van."


Vanilla merasa tidak enak hati kalau membiarkan Thanatan tidak makan malam demi menggendong Grizelle. Akhirnya Ia memilih untuk menghampiri Thanatan dan Grizelle yang sedang singgah di ruang keluarga.


"Pa, makan malam dulu."


Thanatan menoleh padanya lalu menjawab, "Nanti, kalian makan saja dulu. Papa akan menyusul."


Vanilla mengangguk lalu kembali lagi ke meja makan, sementara Thanatan kembali fokus membuat cucunya senang. Tanpa kata, Ia membawa Grizelle ke ruangan demi ruangan sampai akhirnya Grizelle kembali tertidur.


Napasnya teratur dan Thanatan menyadarinya. Sehingga Ia menoleh ke samping dimana kepala Grizelle berbaring. Ia tersenyum kecil melihatnya.


"Tidurlah yang nyenyak, Griz." gumam hatinya.


******


Setelah makan malam berakhir, Vanilla, Jhico, dan anak mereka kembali ke apartemen. Grizelle bertahan lama terlelap di dalam pelukan kakek nya. Saat akan diletakkan ke tempat tidur agar Thanatan bisa menyusul makan malam, Ia menggeliat dan berusaha mencari kenyamanan lagi dari pelukan Thanatan.


"Bye, princess nya Nay-nay,"


"Jadi dipanggil Nay-nay oleh Griz, Ma?" tanya Jhico dengan senyumnya.


"Iya, Dari dulu Mama berkeinginan kalau punya cucu ingin dipanggil Nay-nay. Kalau nenek, terdengar tua sekali,"


Vanilla dan Jhico terkekeh. Sementara Thanatan mendengus mendengar ucapan istrinya.


"Kamu sudah memiliki cucu artinya sudah tua. Tidak usah dibuat muda,"


"Diam kamu, kakek tua!" Karina meledek suaminya. Grizelle yang baru saja dipindahkan ke gendongan Vanilla tampak menggeliat lagi mungkin karena merasa terganggu dengan suara yang ditimbulkan kakek dan neneknya.


"Kami pulang ya,"


"Hati-hati membawa mobilnya, Co." ujar Hawra yang masih kerap merasa khawatir kalau tahu Jhico menyetir mobil berhubung belum lama ini Jhico mengalami kecelakaan.

__ADS_1


"Iya, nek."


"Pa, terimakasih sudah menerima kehadiran Griz dengan baik di sini,"


Thanatan hanya mengangguk setelah Vanilla berucap seperti itu. Entah kenapa Ia juga senang bersama dengan cucunya walaupun Ia tidak berkata apapun pada Grizelle namun Grizelle tetap merasa nyaman.


"Ayo, bawa Griz pulang, bukannya nenek mengusir. Tapi ini sudah malam biar kalian bisa istirahat juga. Kalau nanti Griz bangun lalu minta digendong kakeknya lagi, bisa gawat,"


Vanilla dan Jhico memasuki mobil. Vanilla memposisikan Grizelle agar bisa tertidur dengan nyaman.


Thanatan memperhatikan Grizelle yang terlelap di baby car seat nya. "Bawa mobil yang benar, Jhico!" ujarnya tegas pada sang anak. Jhico langsung mengangguk.


"Iya, Pa. Terimakasih sudah membuat Griz bahagia hari ini,"


Thanatan, Karina, dan Hawra memperhatikan mobil Jhico yang sudah mulai menghilang dari pandangan karena tertelan jarak.


"Bagaimana rasanya bersama cucu? menyenangkan?"


Thanatan hanya melirik saat Karina bertanya seperti itu, Ia tak menjawabnya. Lelaki itu melangkah masuk.


Karina mendengus kesal, "Dasar kakek tua! cucuku tidak salah apa-apa, malah dibenci hanya karena dia tidak terlahir sebagai laki-laki yang Ia harapkan bisa menjadi pewarisnya,"


"Kakek tua itu suami mu, Karina,"


"Iya, aku menyesal menjadikannya suami, Bu,"


Karina tersenyum meringis ketika Ibunya melotot tajam ke arahnya. Ia hanya bercanda tapi sepertinya Hawra menganggap candanya itu terlalu berlebihan.


"Kita harus sabar. Thanatan sudah mulai membuka hatinya untuk menerima kehadiran Griz,"


"Aku jadi membayangkan kalau nanti anak Jhico perempuan lagi, kira-kita bagaimana reaksinya ya?" Karina tertawa kecil. Ia malah senang kalau semua cucunya perempuan.


"Ibu inginnya satu perempuan, satu laki-laki. Jadi lengkap. Kalau jumlahnya lebih dari dua tidak masalah sama sekali, tapi semoga saja ada laki-laki nanti,"


"Semoga saja Tuhan mendengarkan keinginan Ibu ya,"


Mereka kembali ke dalam rumah usai membahas sedikit tentang jumlah anak Jhico dan juga jenis kelaminnya.


******


"Aunty Vanilla, aku menelpon sejak tadi,"


"Iya, maaf baru Aunty jawab. Tadi Aunty baru saja membawa Griz ke rumah kakeknya,"


"Oh ke rumah Grandpa Thanatan?"


"Iya, Adrian,

__ADS_1


"Kenapa tidak mengajakku juga?"


"Lupa mengajakmu,"


"Ah Aunty," rajuk anak itu yang membuat Vanilla tertawa.


Ia menatap jam yang melekat di dinding. Sudah hampir pukul sembilan malam, Adrian belum tidur, sama seperti dirinya yang sulit tidur sementara anak dan suaminya sudah tertidur sejak tadi.


"Oh iya, bagaimana dengan lukisanku? apa Griz menyukainya?"


"Ya, Griz sangat menyukainya. Terimakasih ya,"


"Maaf tidak sebagus lukisan Andrean. Aku sudah berusaha keras, Aunty, supaya hasilnya bagus tapi ternyata--"


"Lukisanmu juga bagus. Kebetulan Griz tidak dilukis oleh Andrean. Jadi Griz senang sekali mendapat lukisan darimu,"


"Andrean melukis Grandma dan Grandpa saja. Oleh sebab itu aku melukis Griz. Auris saja belum aku buatkan lukisan. Griz yang pertama,"


"Kenapa adikmu tidak dibuatkan juga? pasti dia kecewa,"


"Aku sedang musuhan dengan Auris,"


"Kenapa musuhan? tidak boleh seperti itu, Adrian. Kalau adikmu buat salah, kamu harus memaafkan nya lalu nasihati karena dia masih sangat kecil jadi harus diberi tahu secara baik-baik,"


"Dia marah padaku karena aku lebih dulu melukis Griz. Padahal aku pasti melukisnya juga tapi sehabis Griz,"


"Lagipula kenapa kamu tidak melukis Auris dulu?"


Padahal yang adiknya adalah Auristella tapi yang diutamakan adalah Grizelle. Adrian benar-benar menyayangi Grizelle tapi Auristella salah paham karena kakaknya lebih mendahulukan Grizelle untuk dilukis padahal Adrian juga tentunya sangat menyayangi adiknya.


Auristella berpikir kakaknya mungkin lebih sayang dengan Grizelle daripada dirinya. "Ya sudah, jangan bertengkar lagi. Kalian harus selalu tentram. Grizelle akan mengikuti contoh yang diberikan kakak-kakak sepupu nya,"


"Adrian, telepon nya sudah belum? waktunya tidur,"


Terdengar suara Devan menyapa pendengaran Vanilla. Lovi menunggu Adrian sampai selesai menelpon Vanilla tapi Ia ketiduran. Sementara Devan baru masuk ke dalam kamar anaknya untuk mengecek apakah anaknya sudah tidur atau belum.


"Aunty, aku tidur dulu ya. Ini sudah malam, Aunty juga harus tidur secepatnya. Selamat malam,"


Klik


Vanilla meluruskan otot-ototnya lalu beranjak tidur, sama halnya seperti Adrian yang langsung mencari posisi nyaman di atas tempat tidurnya.


 ---------


Omagahh kakek tuakk bisa sweet jg sama cucu ternyata😂😂ADDICTED UP. CEK YAA😊 KALIAN TINGGAL KLIK PROFIL AKU NANTI SEMUA KARYA KU YG AMATIRAN MUNCUL DEH. TENCUU💙


 

__ADS_1


__ADS_2