
"Jhi, tidak sampai satu minggu lagi Grizelle ulang tahun,"
"Iya, empat hari lagi,"
"Kita buat apa untuk Griz?"
Vanilla berbaring miring menatap suaminya yang juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama belum bisa terlelap maka akhirnya mengobrol di atas tempat tidur.
"Menurutmu apa? biasanya kamu yang memikirkan konsepnya,"
"Pesta ulang tahun, sudah pasti. Tapi kado nya apa?" tanya Vanilla meminta pendapat.
"Aku pun bingung, Nilla,"
Mereka diam sejenak. Memikirkan hal apa yang sekiranya tengah diinginkan Grizelle.
"Waktu itu dia bilang mau singa putih. Masa iya kita beri dia itu?"
"Jangan, kamu sembarangan saja. Itu artinya kamu mendukung keanehan anakmu itu," ujar Jhico melarang. Ia tak setuju sama sekali. Tahu bahwa Raihan memiliki buaya karena permintaan Grizelle saja sudah membuatnya tak habis pikir. Lalu ini Vanilla punya pikiran unuk memenuhi keinginan Grizelle yang tak kalah aneh yaitu singa putih.
"Ya katanya biar sama dengan dia yang rambutnya suka berantakan seperti singa kalau sehabis bangun tidur,"
"Jangan, Nilla. Kamu sama anehnya dengan Griz kalau begitu,"
Vanilla tertawa dan langsung menahannya karena ini sudah malam Ia tak bisa tertawa sepuasnya layaknya siang hari. Sebab malam adalah waktunya beristirahat apalagi tepat di samping kamar mereka ada kamar Grizelle dan Grizelle sudah terlelap. Anak itu bisa terkejut bila mendengar suara tawa Mumunya yang kencang.
"Anakmu itu aneh,"
"Anakmu juga," imbuh Jhico setelah istrinya menyentuh hidungnya.
"Jadi kado apa?"
"Tanya pada dengan Griz,"
Vanilla menampar pelan lengan suaminya. "Kenapa harus ditanya? nanti dia tahu kado pemberian kita,"
"Ya memang pada akhirnya akan tahu juga 'kan?"
Vanilla berdecak, suaminya memang tak bisa diandalkan dalam membuat kejutan.
"Hmm...apa ya,"
"Kamu ingat tidak, ulang tahun sebelumnya dia minta hadiah berupa adik karena dia merasa sangat kesepian,"
__ADS_1
Ingatan Vanilla terlempar pada kejadian dimana Grizelle meminta seorang adik sebagai hadiah ulang tahunnya sebab anak itu seperti sudah frustasi dengan kesendiriannya di rumah. Vanilla sibuk sekali pada saat itu bahkan saat perayaan ulangtahun pun datang terlambat. Bisa dibayangkan sebesar apa rasa kecewa Grizelle waktu itu? Ibu yang seharusnya datang paling pertama untuk merayakan, Vanilla malah terlambat karena Ia ada pekerjaan di luar dan karena pesawat tidak bisa terbang tepat waktu maka Ia terpaksa datang lebih dari waktu yanf telah ditentukan. Hanya Jhico yang menemani anak itu beserta Raihan, Rena, dan Karina.
Vanilla menghela napas pelan. Sesaknya kembali terasa kalau mengingat momen-momen yang pernah gagal Ia lewati bersama Grizelle. Momen penting yang seharusnya tak pernah berakhir mengecewakan karena tak akan pernah terulang dan akan selamanya membekas dalam ingatan Grizelle. Selain acara sekolah yang penting sering Ia tinggali, ulang tahun punĀ demikian.
"Kenapa?" tanya Jhico mengusap kepala Vanilla yang terlihat melamun. Vanilla menatap matanya kemudian menggeleng seraya tersenyum.
"Tidak apa, hanya mengenang seberapa banyak momen yang telah aku lewati bersama Grizelle,"
"Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?"
"Aku merasa gagal sekali menjadi Ibu. Rasanya baru sedikit momen yang aku dan Griz lewati,"
"Kata siapa? banyak, dan aku yakin Griz akan selalu mengingatnya,"
"Ulang tahun Griz sebelumnya yang tidak aku hadiri,"
Jhico mengerti sekarang bahwa istrinya ini kembali menyesali masa lalu yang sebenarnya belum terlalu lama.
"Tapi kamu sudah berusaha hadir tepat waktu hanya saja keadaan tidak memungkinkan. Kamu sudah memberikan yang terbaik untuk Griz. Kalau ada yang kurang, itu wajar. Aku pun begitu, tidak sempurna sebagai seorang ayah. Tapi aku ingin selalu belajar. Jangan menjadikan apa yang telah berlalu itu sebagai beban pikiranmu, Nilla. Kamu sudah menjadi yang terbaik untuk Griz. Kalau kamu berbuat kesalahan, lagi-lagi aku katakan bahwa itu wajar karena memang manusia ditakdirkan untuk memiliki kekurangan tanpa kesempurnaan,"
Jhico mengusap punggung istrinya dengan lembut memberi pengertian dan meminta agar Istrinya itu tak lagi menoleh ke belakang.
"Kamu selalu hadir di ulang tahun Griz tepat waktu. Hanya sekali itu saja yang terlambat. Kita selalu merayakan bersama-sama hari jadi usia anak kita. Meskipun kamu sibuk, kamu selalu berusaha memberikan yang paling baik untuk Griz dan aku sangat berterimakasih atas hal itu,"
"Jadi, bagaimana? apa kado yang akan kita berikan untuk anak pertama kita?"
"Apa ya? aku belum mendapat ide,"
"Maka aku bilang tadi, tanyakan langsung pada Griz. Biar kita tidak salah menebak,"
"Aku tidak menebak, aku akan lihat apa yang sekiranya sedang Ia perlukan atau Ia inginkan,"
"Bagaimana caranya?"
"Ya... kita cari tahu secara halus,"
Mereka bicara pelan-pelan seperti detektif yang sedang menyusun rencana untuk menyelesaikan misi.
"Ya sudah, cari tahu mulai besok,"
"Kamu bantu aku ya?"
"Harus? bukankah biasanya kita beri kado masing-masing?"
__ADS_1
Vanilla terkekeh mencubit lengan suaminya. Sudah ditampar tadi lengannya, sekarang dicubit.
"Satu kado saja belum berhasil kita tentukan. Ya kita lihat nanti saja. Seperti biasa, kalau Griz sedang memiliki keinginan lebih dari satu, kita sama-sama memberikan kado,"
"Okay, biasanya Griz banyak mau, Nilla. Griz banyak keinginan,"
Vanilla lagi-lagi terkekeh membenarkan. Selama ini bila ulang tahun memang begitu. Tapi untuk tahun ini benar-benar belum tahu mereka harus memberikan apa karena Grizelle sepertinya belum pernah berujar mengenai hal apa yang ingin Ia miliki.
****
"Griz, bangun, Sayang. Kamu harus sekolah,"
"Engghh,"
Seperti biasa Grizelle menggeliat seperti ulat dulu sebelum Ia bangun. Karena tidurnya tidak terlalu malam maka ketika bangun tidak sulit.
Ketika melihat anaknya sudah beranjak duduk, Vanilla tersenyum, Ia menyisir rambut Grizelle yang berantakan menggunakan jemarinya.
"Sekolah,"
"Iya, Mu,"
"Ayo, semangat,"
Grizelle mengepalkan sebelah tangannya kemudian menggerakkannya seraya berucap 'semangat' namun lemas sekali kedengarannya.
Vanilla tersenyum menggeleng pelan. Tahu betul anak ini masih mengantuk, tapi memang Grizelle biasa memaksa diri. Buktinya Ia bangkit berdiri sekarang meskipun matanya masih terasa melekat tak mau terbuka sempurna.
"Anak Mumu pintar, semangat terus sekolahnya. Yeayy hebat!"
Vanilla bertepuk tangan riang. Apalagi melihat Grizelle yang meraih bathrobe yang tadi Ia sampirkan di bahunya lalu Grizelle langsung berjalan ke kamar mandi.
Nada memasuki kamar. "Woah sudah bangun," Melihat ranjang kosong, Nada menyangka Grizelle sudah bangun.
"Iya, sekarang lagi di kamar mandi,"
"Ya sudah, Nona. Biar aku yang bantu Griz berpakaian nanti,"
Vanilla mengangguk tapi sebelum Ia keluar Ia berujar, "Kalau Griz mau berpakain denganku, panggil aku ya. Tadi setelah aku bangun tidur, aku sudah periksa buku-bukunya. jadi kamu tidak usah lagi melakukannya,"
"Baik, Nona,"
Grizelle menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri lalu nanti diperiksa oleh Vanilla ataupun Nada, siapa saja yang sempat.
__ADS_1
Grizelle tidak mau perlengkapan sekolahnya disiapkan, maka tangannya sendiri yang menyiapkan, Ia mau terbiasa, katanya seperti itu. Grizelle hanya minta diperiksa saja karena barangkali ada yang tidak sesuai.