
"Coba Kakek yang menyuapi kamu,"
Thanatan mengambil alih makanan Grizelle dan ia berinisiatif untuk menyuapi cucunya itu. Tentu Grizelle senang sekali. Tidak menyangka kakeknya akan bersikap manis padanya.
Grizelle makan dengan semangat. Ia menyuapi Thanatan kemudian Thanatan menyuapi dirinya. Begitu terus sampai tidak butuh waktu lama makanan masing-masing telah habis.
"Kakek, terrlimakasih (terimakasih) ya,"
Thanatan mengangguk. Dan tangannya bergerak untuk mengusap lembut rambut Grizelle.
"Terimakasih juga sudah mau menyuapi Kakek, perhatian pada Kakek,"
"Iya, Kakek. Sama-sama,"
"Sekarang kamu akan pulang?"
Grizelle dengan pintar menyusun piring yang mereka gunakan tadi di atas baki dan Ia menggeleng pelan.
"Kakek inginnya aku pulang ya?"
"Kakek tidak berkata seperti itu,"
Grizelle tersenyum lebar. Ya memang Kakeknya tidak mengatakan seperti itu. Tapi dengan bertanya, Grizelle pikirnya sang Kakek menginginkan Ia pulang.
"Kakek, aku boleh berrlenang (berenang) tadi Kakek bilang, aku harrlus (harus) olahrrlaga (olahraga),"
"Tidak usah lah,"
"Oh, tidak boleh ya. Bolehnya pulang saja ya, Kakek?"
Thaatan mendengus kasar. Cucunya ini sebenarnya sedang mengetes dirinya atau bagaimana? Dia tidak menyuruh Grizelle pulang!
"Di sini saja,"
Grizelle mengerjap, Ia bergumam untuk myakinkan apa yang ia dengar tadi, "Hmm? Kakek mau aku di sini?"
"Kalau kamu mau. Tapi kalau tidk juga tidak masalah. Kalau mau pulang, silahkan. Mau berenang juga boleh,"
"Ya ampun, Kakek baik sekali mengizinkan aku tetap di sini,"
Grizelle ini sulit ditebak. Maka Thanatan membebaskan cucunya untuk melakukan apapun. Tapi intinya Ia tidak menyuruh Grizelle pulang atau bahasa kasarnya mengusir.
"Aku mau tidurrl (tidur) di sini boleh?"
Gerak reflek membuat Thanatan mengangguk bahkan belum sedetik Grizelle bicara seperti itu.
"Okay, aku mau menginap di sini. Menjaga Kakek. Dan besok Kakek tidak usah bekerrlja (bekerja) dulu,"
"Kenapa jadi mengatur kakek?"
Grizelle menggigit bibir bawahnya merasa bersalah. Ia terdengar mengatur ya? baiklah, Ia akan membiarkan kakek memilih saja.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau Kakek sudah sehat, Kakek boleh bekrrlja (bekerja). Tapi kalau masih sakit dan kakek tetap mau bekerrlja (bekerja) aku tidak mau melarrlang (melarang)," kata anak itu seraya tersenyum.
Pintu kamar terbuka Karina masuk ke dalam. Ia sudah makan bersama Vanilla. Kini Vanilla juga mengikuti Karina.
"Pa, bagaimana kondisinya? sudah lebih baik?" Vanilla tersenyum pada ayah dari suaminya itu. Tadi ia sungkan untuk mendekati Thanatan karea Thnatan terlelap. Sekarang Ia baru berani menghampiri Thanatan dan vertanya tentang kondisinya.
"Kakek pasti cepat sembuhnya, Mu. Karrlena (karena) aku yang rrlawat (rawat),"
"Terimakasih ya, Sayang, Cucu Nay-Nay yang baik hati,"
"Iya, Nay-Nay,"
"Aku mau menginap di sini boleh? temani Kakek dan jaga kakek,"
"Woah Nay-Nay tidak salah dengar Griz mau menginap di sini? kalau mau, silahkan. Justru Nay-Nay senang sekali kalau Griz mau tidur di sini,"
"Mau kalu dibolehkan,"
"Boleh, Sayang,"
Kini Grizelle beralih pada Ibunya. Ia menatap Vanilla dengan senyum dan raut permohonan.
"Mumu maaf aku belum izin pada Mumu sebelumnya. Tapi aku mau menginap di sini. Boleh ya?"
Vanilla tidak mungkin berkata 'tidak' kan? Anaknya sudah meminta izin dengan sopan bahkan meminta maaf karena tidak meminta izin sebelumnya tapi langsung memutuskan ingin menginap di rumah kakek dan neneknya.
"Boleh, Sayang. Griz boleh menginap di sini. tapi jangan berbuat sesuatu yang membuat Nay-Nay dan Kakek marah ya? jangan sulit diatur, jangan nakal intinya,"
"Kamu bicara seperti itu memang anakmu nakal?"
"Terkadang Griz sulit diatur, Pa. Aku khawatir saja dia membuat Mama dan Papa terganggu,"
Karina berdesis tidak suka mendengar penuturan Vanilla. "Kata siapa Griz mengganggu? tidak, dia anak yang baik. Cucuku ini baik, tidak ada yang bisa mengalahkan kebaikannya,"
Karina mencubit gemas pipi Grizelle yang cemberut mendengar ucapan Mumunya tadi.
"Aku tidak nakal, Mumu. Tenang saja,"
"Ya, disini tugas Griz menjaga Kakek, membantu merawat Kakek. Bukan sebaliknya ya,"
Grizelle terkikik mendemgar ucapan Mumunya. Tapi ia mengangguk paham.
"Okay, Mumu. Aku mau izin juga pada Pupu,"
Grizelle harus mendapatkan izin dari kedua orangtuanya, tidak boleh hanya satu. Maka Ia meminjam ponsel Vanilla untuk menghubungi Jhico.
"Hallo, Nillaku," suara Jhico menyapa dari seberang sana.
"Pupu, ini bukan Nillaku. Ini Icelleku,"
Tawa terdengar dari Karina dan Vanilla ketika Grizelle menyahuti ayahnya seperi itu. Bahkan Thanatan pun tersenyum, ikut terhibur dengan kelakuan Grizelle yang bisa-bisanya menggoda Jhico yang mesra sekali langsung menyapa Vanilla di telepon dengan panggilan istimewa darinya itu.
__ADS_1
"Oh ini Icelleku. Ada apa, Sayang?"
Entah sejak kapan juga Grizelle menamai dirinya Icelleku. Sepertinya baru tadi. Hanya untuk menggoda ayahnya. Dan Jhico meladeninya.
"Pupu, aku boleh menginap di sini tidak?"
"Menginap dimana? rumah Triple A? memang baru besok pulang nya 'kan?"
"Bukan, rrlumah (rumah) Kakek dan Nay-Nay,"
"Hm? memang kenapa mau menginap di sana?"
Jhico harus tahu alasan anaknya memilih untuk bermalam di rumah kedua orangtuanya. Ia cemas sebenarnya. Ia khawatir ayahnya membuat hati anaknya terluka. Apa Ia dosa berprasangka buruk seperti itu pada Papanya? Ia bisa berpikir seperti itu karena tidak sekali atau dua kali Thanatan melukai hati Grizelle dengan sikap maupun verbalnya.
"Kakek sakit. Aku mau menjaganya,"
"Hm... berapa lama di sana?"
"Entah, Pu."
"Mumu sudah izinkan?"
"Sudah," Grizelle mengangguk lucu yang sayangnya tidak dilihat oleh Jhico. Kalau tidak, Jhico pasti akan sangat gemas dan menggigit pipi Grizelle karena terlalu gemas.
"Kakek dan Nay-Nay sudah mengizinkan juga?"
"Sudah, Pu. Kalau Pupu, mengizinkan aku tidak?"
Jhico harus menekan rasa cemasnya. Sebab ini sudah menjadi keinginan putrinya. Kaau Ia menolak disaat semuanya mengizinkan, apa itu tidak akan membuat Grizelle kecewa?
"Pu? boleh ya?" Grizelle tidak mendapat jawaban dari mulut ayahnya setelah beberapa detik menunggu.
"Griz benar mau di sana? Kakek itu sedang sakit. Dan Nay-Nay harus mengurus Kakek. Nanti kalau Griz mau bermain dengan Nay-Nay kemungkinan akan sulit," Jhico meyakinkan anaknya. Ia butuh waktu lebih juga untuk meyakinkan dirinya sendiri apakah Ia bisa membiarkan Grizele di rumah orangtuanya? Di rumah masa kecilnya itu tidak ada kehangatan, kalau boleh Jhico jujur. Mamanya berkarir, Papanya apalagi. Sekalipun mereka ada di rumah tak ada interaksi yang berarti.
Apalagi waktunya untuk Grizelle berada di sana tidak tepat sebab ayahnya tengah sakit. Ia khawatir juga bila kedua orangtuanya meraa keberatan dengan kehadiran Grizelle walaupun menurut penuturan Grizelle tadi kedua orangtuanya sudah mengizinkan Grizelle ada di sana.
"Aku mau membantu merrlawat (merawat) Kakek. Tidak boleh ya, Pu?"
Sudah mulia sekali niat Grizelle. Tidak mungkin Jhico melarangnya. Jhico pikir mungkin dengan kesempatan ini, hubungan Grizelle dengan kakek dan nenwknya akan semakin erat terutama dengan Kakeknya.
"Iya, Griz boleh menginap di sana,"
"Yeayy, Pupu baik sekali. Terrlimakasih ya, Pu,"
"Sama-sama, Sayang,"
"Nanti Pupu saja yang bawa bajuku ke sini ya. Jangan Mumu. Kasihan Mumu lelah,"
"Iya, setelah dari klinik, Pupu pulang mengambil pakaian Griz. Barulah Pupu ke sana ya? menjemput Mumu,"
"Tapi Mumu bawa mobil,"
__ADS_1
"Iya, itu urusan mudah. Sudah ya, Sayang. Pupu tutup teleponnya,"
"Iya, Pu. Hati-hati,"