
Andrean dan Adrian baru saja selesai menghadiri acara graduation. Dua anak berusia enam tahun itu akan memasuki sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Selesai foto bersama dengan teman-teman dan orangtua, sesuai rencana semalam, Andrean dan Adrian akan datang menghampiri Grizelle untuk bermain sekaligus berbagi kebahagiaan atas kelulusan mereka.
Devan hanya mengantar anak dan istrinya ke aparteme Vanilla, setelah itu Ia kembali ke kantornya. Ia sengaja mengosongkan jadwal setengah hari demi menghadiri graduation kedua anaknya.
"Yahhh Boss, kenapa si kembar tidak dibawa ke sini? aku mau ucapkan selamat untuk mereka,"
"Mereka akan sering datang ke sini, terutama Adrian. Karena ada waktu kosong sebelum mereka mulai sekolah di tempat yang baru,"
"Oh iya, benar. Okay, Boss."
Devan memasuki ruangannya kemudian mulai sibuk bekerja. Sampai beberapa menit setelahnya ada panggilan dari Lovi.
Yang menghubunginya ternyata Adrian, seperti biasa. Dia menggunakan ponsel Mommy nya.
"Dad, aku mau menginap di sini ya?"
"Apa? tidak boleh, nanti rumah sepi,"
"Aku gemas sekali dengan Griz. Dia semakin pintar, Dad. Tidak tidur terus seperti waktu itu,"
Tawa Vanilla terdengar setelah Adrian bicara seperti itu. Waktu itu karena baru-baru lahir jadi Grizelle hanya bisa tidur.
"Sudah ya, Daddy tutup teleponnya,"
"Boleh menginap di apartemen Aunty ya, Dad?" belum menyerah, Adrian kembali membujuk Daddy nya.
"Tidak boleh, di sana kamu akan menjadi pengganggu,"
"Huh, ya sudah. Bye, Dad."
Adrian menyerahkan ponselnya pada Lovi dengan wajah merengut. Vanilla yang melihat keponakannya sedih sekaligus kesal langsung mengusap wajahnya.
"Griz nanti sedih melihatmu cemberut begitu, Adrian."
Adrian langsung merubah raut wajahnya menjadi tersenyum. Kemudian Ia menatap sepupu perempuannya, Grizelle. Giginya bergemelutuk menahan gemas. Seperti saat Auristella masih bayi, Ia ingin sekali mencubit pipi nya. Sayang, Lovi tidak mengizinkan.
"Griz, bicara jangan senyum saja,"
"Ya bagaimana mau bicara? dia belum bisa melakukan itu, Adrian."
Adrian terbahak-bahak hingga Grizelle menatapnya dalam. Sehari-hari ia selalu bertemu dengan orang yang pembawaannya tenang. Sekarang didatangi oleh Adrian yang cerewet sekali hingga suasana apartemen yang biasanya tenang sekarang menjadi riuh.
"Dia bingung denganmu, Adrian. Kamu paling berisik,"
"Usir saja dia, Griz."
Plakk
Adrian memukul lengan Andrean hingga kakak sulungnya itu meringis. Andrean menatap adiknya dengan tajam.
"Erghh Adrian!"
"Kamu menyuruh Griz mengusir ku?"
Andrean hanya merotasikan bola matanya. Kemudian perhatiannya kembali teralihkan pada Grizelle.
"Aunty, aku menginap di sini ya? hitung-hitung sebagai hadiah kelulusanku," Kali ini Adrian menyampaikan keinginannya pada Vanilla yang barangkali bisa membantunya untuk membujuk Devan.
__ADS_1
"Aunty sudah berikan hadiah untuk nanti sekolah," ujar Lovi mengingatkan anakna yang barangkali lupa dengan hadiah yang sudah diberikan Vanilla dan Jhico.
Tidak hanya sepatu, perlengkapan lain untuk seolah juga mereka hadiahkan untuk Andrean dan adiknya. Sebenarnya Lovi dan Devan sudah menyiapkan semua perlengkapan sekolah anaknya. Semakin lengkap karena Vanilla juga menghadiahkan itu.
"Lagipula Daddy tidak mengizinkan. Dengarkan apa kata Daddy," lanjut Lovi. Adrian masih saja keras kepala mau menginap di apartemen dengan alasan menemani Grizelle bermain sembari menunggu hari sekolah tiba.
"Huh padahal aku mau di sini,"
"Benar mau menginap di sini? nanti tidak rindu dengan Auris? Auris bisa marah pada Griz kalau tahu kakaknya bermain dengan Griz,"
"Aku mau di sini untuk beberapa hari, Aunty. Bermain dengan Auris terus, aku bosan."
"Oh benar bosan ya? okay, nanti Mommy larang Auris bermain dengan kamu,"
Auristella sudah sedikit besar sehingga terkadang Ia menjadi teman bermain Adrian. Walaupun sebenarnya Ia hanya bisa menjadi penonton saja. Seperti saat Adrian bermain robot, Ia tidak diperbolehkan untuk menyentuh robot itu. Auristella hanya diizinkan untuk melihat saja atau menemani. Tapi giliran Auristella punya mainan yang bisa dipakai oleh anak laki-laki, Adrian kerap sekali menguasai mainan tersebut. Akhirnya sang adik menangis lalu Adrian mengatakan bahwa adiknya itu payah karena bisanya hanya menangis.
"Nanti Aunty bicara dengan Daddy mu ya? semoga dia berubah pikiran,"
"Yang benar, Aunty? yess! thank you, Aunty. Rayu Daddy, ya."
"Sekarang kalian mau makan apa? biar aku masak,"
"Ada makanan, Lovi. Tidak usah memasak, kita menonton drama saja. Biar sekali-sekali aku ada teman menonton.
"Oh begitu? ya sudah kita menonton."
"Sebelum menonton, kita makan dulu." ucap Vanilla.
"Griz mau menonton juga?" tanya Vanilla pada sang anak yang berada di pangkuannya.
Grizelle merengek saat Adrian mengusap-usap kening Grizelle dengan keningnya sendiri.
"Mommy, aku hanya---"
"Tidak apa, biar ramai." jawab Vanilla membela keponakannya. Adrian mengangkat sebelah alisnya menatap Lovi. Ia senang karena dibela dan diizinkan untuk menginap oleh tuan rumah.
*****
Jhico dan Adrian mengantar Lovi dan Andrean ke lobi dimana Devan sudah menjemput mereka.
Adrian akhirnya diizinkan oleh Devan untuk menginap selama tiga hari di apartemen Vanilla dan Jhico. Setiap pagi sebelum Devan berangkat bekerja, Devan akan mendatangi apartemen untuk melihat anaknya itu. Adrian juga ingin Daddy nya selalu memantau.
"Jangan nakal ya dengan Griz."
Adrian memeluk Devan dengan erat sebelum mereka berpisah. Devan menunjuk hidung anaknya. "Tidak boleh mengganggu Griz. Dengar Daddy tidak?"
"Iya, aku tahu, Dad."
"Kalau Daddy tidak datang besok pagi---"
"Harus datang! nanti aku rindu,"
"Kita bisa video call,"
"Tidak, kita harus bertemu."
"Ya sudah, makanya tidak usah di sini. Kita pulang bersama ke rumah,"
Devan membujuk anaknya untuk ikut pulang. Jujur Ia juga akan sangat merindukan anaknya itu. Meskipun merekan hanya berpisah tiga hari, tapi karena terbiasa selalu bersama, Ia merasa berat untuk berpisah sekalipun tiap pagi Ia akan datang untuk menemui Adrian.
__ADS_1
"No! aku mau di sini. Di rumah terus bosan,"
"Bosan? mau staycation saja?"
"Boleh, kapan?"
"Sekarang, kamu tidak usah di apartemen Aunty. Bagaimana?" tanya Devan dengan senyum jahilnya.
Adrian menggeleng tegas dan menutup mulut Devan yang tersenyum menyebalkan menurutnya.
"Staycation nya kalau aku sudah pulang saja ke rumah,"
"Tidak ada staycation lagi untukmu. Kamu 'kan sudah berlibur di apartemen Aunty. Kamu pulang ke rumah, sementara Daddy, Mommy, Andrean, dan Auristella staycation di hotel,"
"Aaaaa Daddy tidak boleh begitu!"
Jhico dan Devan tertawa melihat Adrian yang merengek.
"Kami pulang ya? Auris pasti sudah menunggu Mommy di rumah,"
"Iya, Mom. Hati-hati, Bye." ujar Adrian pada Mommy nya kemudian beralih pada Andrean.
"Bye, Andrean."
"Iya, jangan buat masalah di sini!"
"Iya, kakak ku yang paling tampan." Adrian membuat kakaknya kesal dengan bicara seperti itu.
Adrian melambai sebelum mobil Daddy nya benar-benar meninggalkan apartemen.
Ia mengulurkan tangan pada Jhico, minta digendong. Dengan senang hati lelaki itu memenuhi keinginan keponakannya.
"Sebelum Griz besar dan bisa protes, aku harus puas-puasi dulu minta digendong Uncle,"
******
"Cucuku yang satu lagi dimana? kalian tidak melupakannya 'kan?"
Saat melihat Lovi, Devan, dan Andrean pulang tanpa Adrian, Lucas langsung bertanya. Ia hanya melihat mereka bertiga saja sekarang.
"Adrian mau menginap di apartemen Vanilla, Ayah."
"Ya ampun, sepi rumah ini. Auris kehilangan teman bertengkar,"
Lucas memanggil Auristella dan anak itu langsung berjalan ke arahnya. Auristella sudah bisa berjalan walaupun terkadang masih jatuh. Ia tidak lagi membutuhkan sesuatu yang bisa menunjang dirinya untuk berjalan.
"Auris, Adrian tidak pulang." ujar Lucas pada Auristella. Auristella menengadahkan kepalanya menatap Lucas seolah mencari keseriusan di mata Lucas ketika mengatakan tentang Adrian.
Kemudian Ia nampak mencari-cari ke sekelilingnya. Mungkin anak itu berpikir Adrian sedang bersembunyi.
Tak lama, tangisnya pecah. Setelah Ia tidak menemukan Adrian di mana-mana, Ia merasa sedih. Kakaknya benar-benar tidak pulang.
Lucas langsung menggendongnya. Ia tidak menyangka kalau ucapannya membuat Auristella bersedih. Ia kira Auristella biasa saja saat tahu Adrian tidak pulang bersama kedua orangtua dan kakak sulungnya. Nyatanya, anak itu menangis histeris seraya memaggil-manggil nama Adrian.
"HUWAAAA, YAN."
"YANN,"
-------
__ADS_1
Udh kangen sama si krucil gemezz Auris 'kan? berhubung di lapak MCH Auris udh gede, jd dia diselipin di lapaknya Griz aja ya wkwkw. Komen dong pembacanya Griz darimana aja sii? Griz penasaran deh ;)