Nillaku

Nillaku
Nillaku 365 Adrian juga mau dimasaki Daddy


__ADS_3

"Tolong matikan, aku dingin, Nada,"


Grizelle meminta tolong pada Nada agar mematikan penyejuk udara sebab Ia merasa kedinginan.


"Oh iya, Griz,"


Vanilla tengah di dapur dan Nada yang menemani Grizelle tertidur. Baru saja anak itu bangun kemudian langsung mengeluh dingin.


"Hah dingin,"


Nada membenarkan letak selimut di tubuh Grizelle. Padahal sudah dimatikan tapi tetap saja Grizelle merasa kedinginan.


"Mumu masih lama ya, Nada?"


"Mau dipanggilkan?"


Grizelle mengangguk, Kalau kakinya sedang baik-baik saja, maka Ia akan mendatangi Mumunya secara langsung. Berlari menghampiri Mumunya itu. Tapi sayang kakinya sedang terdapat luka.


Nada keluar dari kamar untuk ke dapur menghampiri Vanilla dan mengatakan wanita itu bahwa Grizelle ingin Ia datang ke kamar.


"Nona Vanilla, Griz memanggil Nona,"


"Iya, sebentar,"


Vanilla tengah membuat cake rumput laut kesukaannya dan Grizelle. Kini tengah menuang ke dalam wadah untuk kemudian di masukkan ke dalam oven.


Vanilla melepas hand gloves nya usai memasukkan adonan cake ke dalam oven. Kemudian Ia mencuci tangannya.


"Kenapa Griz memanggilku?"


"Kedinginan, Nona. Sudah dimatikan pendingin udaranya. Mungkin ingin Nona yang memeluknya," kata Nada seraya tersenyum.


Vanilla mengangguk, meninggalkan tempatnya berkutat tadi. Ia menghampiri Grizelle di kamarnya.


"Sayang, dingin?"


"Hmm, Mu,"


"Ya sudah, Mumu peluk ya,"


Vanilla merengkuh putrinya kemudian mengusap-usap lengan Grizelle yang bergidik.


*****


"Masih sakit?"


"Iya! Kenapa tanya-tanya?!"


"Hih galak? aku tanya baik-baik,"


Sepulangnya Adrian dari sekolah, Adrian langsung menghampiri adiknya di kamar yang sedang mengobrol dengan Momny dan Daddy nya.


"Ean dimana?"


"Latihan melukis di sekolah, Mom,"


"Kamu kenapa berkeringat begitu?"


"Kalau aku, habis latihan sepak bola,"


"Sudah sana keluar,"


"Hei Auris," Devan menegur Auristella yang galak dengan Adrian. Auristella sakit malah semakin kesal saja bawaannya kalau sudah melihat wajah sang kakak.


Adrian mendekat pada adiknya, tak mengindahkan perintah untuk keluar.


Ia meletakkan tangannya di dahi Auristella. "Ihh apa sih?" Auristella menghindar.

__ADS_1


"Kakakmu itu khawatir padamu, Auris,"


"Apa khawatir? paling hanya mau mengerjai aku saja"


"Berprasangka buruk itu tidak baik, adikku sayang,"


Auristella mencibir. Ia menghindar lagi saat Adrian meletakkan punggung tangannya di leher.


Ia tak bisa menghindar saat Adrian tiba-tiba memeluknya. Ia berteriak kesal sebab Adrian sedang berkeringat.


"IAN, PERGI! HAAAA MOMMY,"


Auristella berteriak histeris. Adrian sudah melepaskan pelukannya. Ia keluar dari kamar dengan terpingkal-pingkal.


"Apa aku bilang! dia itu ke sini hanya untuk mengerjai aku, bukan khawatir,"


"Memang kenapa kalau Ian memelukmu? tidak boleh? kenapa kamu marah?"


Pertanyaan Devan membuat Auristella merengek ksal. Bagaimana Ia tidak marah, kalau Adrian yang sedang berkeringat tiba-tiba memeluknya?


"Ah tidak apa,"


"Ian 'kan belum mandi,"


"Tapi dia tetap harum, Sayang. Anak-anak Mommy semuanya harum," bela Lovi. Lagipula keringat Adrian tidak parah sekali. Mungkin karena selama di mobil sudah dikeringkan dengan penyejuk udara.


Hanya sisa-sisa keringatnya saja. Lagipula Adrian masih memiliki aroma yang harum. Seharusnya tidak masalah untuk Auristella.


"Aku tidak suka dipeluk Ian!"


Devan merengkuh anaknya. Ia meniup puncak kepala putrinya. "Sudah, jangan marah-marah,"


"Kalau dipeluk Daddy tidak apa?"


"Tidak apa, aku tidak mau dipeluk musuh,"


Lovi dan Devan sebenarnya yakin kalu tadi Adrian nemang khawatir dan ingin tahu kondisi adiknya. Hanya saja karena ada peluang untuk berbuat jahil, maka Adrian melakukannya. Ia tengah berkeringat jadi pikiran jahilnya pun muncul untuk memeluk Auristella.


"Tapi tetap sayang Ian 'kan?"


"Tidak!"


"Oh ya sudah, Ian jadi kakak orang lain saja lah,"


"Tidak!"


Devan menaik turunkan alisnya pada Lovi ketika kendengar seruan Auristella. Sekesal apapun Auristella, tetap saja tidak mau bila kakaknya untuk orang lain.


"Kalau Ean yang menjadi kakak orang lain boleh?"


"Tidak!"


Lovi dan Devan terkekeh. Kini Auristella melepas pelukan pada ayahnya. Ia menatap Devan serius.


"Tapi memang ada yang mau menjadikan Ia sebagai Kakak? aku rasa tidak ada yang mau,"


Auristella menduga tak ada satu orang pun yang mau menjadikan Adrian sebagai kakak. Lihat saja perilakunya yang menyebalkan itu. Memang ada yang tahan menghadapinya? Auristella yakin tidak ada!


Adrian yang tengah menjadi bahan obrolan antara adik dengan kedua orangtuanya kini tengah berdiri di bawah penyejuk ruangan agar keringatanya kering.


Rencananya setelah ini ia akan mandi. Sembari menunggu, kini ia berjalan mengambil ranselnya kemudian mengeluarkan baju sepak bola nya dari sana dan meletakkannya di laundry bag.


Adrian kemudian membawa lunch bag dan botol minumnya ke pantry di bawah.


Adrian mengambil minuman dingin untuk mengusir  dahaganya. Air putih saja tidak cukup untuknya.


Ia mengambil ice cream kemudian menikmatinya di pantry. Sembari melihat maid yang kelihatan sedang memanaskan makanan.

__ADS_1


"Adrian mau makan?" tanya Sera pada Adrian.


"Tidak, terimakasih. Aku sudah makan,"


"Pulang sore, hari ini sibuk ya,"


"Aku bermain sepak bola dulu tadi,"


"Oh sayang sekali Ian jadi tidak mencoba mac and cheese buatan Daddy,"


"Daddy buat itu?"


Sudut Adrian terangkat. Tak biasanya Daddy mau memasak.


"Iya, Auris yang minta. Langsung habis, ternyata enak rasanya,"


"Waah aku tidak dibagi. Daddy ini bagaimana sih,"


Sera terkekeh melihat Adrian yang tengah menyantap ice cream tapi sambil mencibir.


"Nanti aku minta buatkan masakan yang lebih susah,"


"Kasihan Daddymu. Tadi saja sudah bekerja keras. Padahal itu terbilang mudah,"


"Masa aku tidak dibuatkan juga,"


"Ian sekolah. Dan Auris lagi sakit," Sera memberi pengertian. Ia hanya niat bercerita saja tadi. Tak menduga kalau adrian tertarik juga untuk mencoba masakan ayahnya.


Saat maid akan membersihkan wadah makan siangnya dan juga botol minumnya, Adrian melarang. Ia yang ingin melakukannya.


Biasanya kalau Ia malas sekali melakukan itu. Hanya menggeletaki di sink kitchen lalu nanti pasti ada yang berinisatif mencucinya kemudian mensterilkan agar bisa dipakai lagi esok hari. Lovi akan menyuruh anaknya yang melakukan itu agar tidak apa-apa tidak orang lain yang melakukannya. Tapi Adrian akan menjawab 'nanti' terus yang akhirnya tidak dilakukan.


"Sudah mandiri Ian ya,"


"Aku kan memang sudah mandiri, Sera. Dari usia enam tahun bisa bersihkan pring sendiri sehabis makan,"


Adrian terkekeh mengingat bagainana duku Mommynya mengajarkan Ia untuk bisa membersihkan piring senditi seelah makan. Sampai sekarang Ia masih suka melakukannya. Tapi lagi-lagi kalau lagi rajin. Kalau lagi malas, Ia tinggal begitu saja.


Adrian membersihkan tempat makan siang dan botol minumnya. Ia meletakkan ke dalam alat steril juga. Setelah itu Ia menghampiri kamar adiknya lagi.


"Daddy tidak mau membuatkan aku mac and cheese juga?"


"Ih ikut minta dimasaki Daddy!"


"kenapa? aku 'kan juga anak Daddy,"


Adrian masuk dan langsung membuat suasana yang tadinya sunyi sebab Lovi dan Devan menemani Aurisella menonton serial kartun kesukaannya, kini berubah menjadi sedikit riuh.


"Adrian mau mac and cheese?"


"Mau, Dad. Ya ampun, kenapa pakai ditanya,"


Devan mendengkus, ya wajar saja dia bertanya. Nanti giliran Ia sudah membuatnya, lalu tidak dimakan, sia-sia saja kerja kerasnya.


Adrian menemukan piring kotor yang sepertinya tadi digunakan untuk makan mac and cheese di nakas dekat lampu tidur.


"Hii anak perempuan tapi pemalas.  Ini piringnya dibersihkan sendiri,"


"Halah memang kamu rajin?!"


"Rajin, aku sudah membersihkan botol minumku sendiri, box makanku sendiri,"


"Jarang itu juga," sahut Auristella. "Karena habis mencuci sendiri, langsung mengomentari aku. Huh dasar Ian cerewet!"


"Mandiri jadi anak perempuan!"


Auristella ancang-ancang melempari kakaknya dengan remote televisi yang Ia pegang. tapi tentu tak Ia lakukan sebab Ia sayang kakaknya. Tak ingin kepalanya menonjol hanya karena Ia lempari dengan remote.

__ADS_1


__ADS_2