
Daripada menonton tayangan yang kurang disukai lebih baik Adrian makan, Ia mengajak Kakaknya ke ruang makan. Mengambil makanan ringan dan membuat minuman sendiri, tidak mau dibuatkan oleh Bibi maupun Ariella.
Mereka makan di sana hanya berdua sementara tiga anak perempuan yang sejak tadi bermain dengan mereka maish nyaman di depan televisi.
"Sudah selesai menontonnya?"
"Sudah, Bi. Tidak seru, tidak menegangkan,"
"Tapi Bibi dengar ada yang teriak kaget sejak tadi,"
"Iya, padahal tidak ada yang mengejutkan atau menyeramkan. Biasa saja. Padahal yang ditonton biasa saja tapi riuh," Bibi terkekeh mendengar gerutuan Adrian yang kelihatannya memang benar-benar tidak habis pikir dengan Grizelle, Auristella, dan Keyfa.
"Karena perempuan mungkin. Jadi lebih takut,"
"Hah payah mereka itu, Bi,"
******
Devan kembali ke rumah tak lama ayahnya datang ke kantornya. Sebenarnya hari ini Ia libur tapi karena ada pekerjaan yang harus Ia periksa langsung di kantor maka terpaksa Ia ke kantornya.
"Lov, triple A masih belum pulang?"
Dari pagi Devan tahu ketiga anaknya ke rumah Grizelle. Mereka meminta agar diizinkan ke rumah Grizelle sebab mereka ingin bermain. Lovi dan dirinya tidak mungkin melarang. Kebetulan juga hari ini akhir pekan. Grizelle juga ada kemungkinan besar di rumah.
"Ya mereka memang lama kalau bermain. Tadi saja minta dijemput sore. Tapi aku bilang, jangan sore karena Grizelle juga harus istirahat. Mereka pun begitu. Tidak enak juga lama-lama di sana,"
"Iya, benar. Nanti aku saja yang menjemput mereka. Sekarang aku ingin tidur, Lov. Kepalaku sakit. Nanti bangunkan aku kalau sekiranya aku sudah bisa menjemput mereka,"
"Minum obat?"
Lovi menyentuh kening Devan setelah mendengar penuturan lelaki itu.
"Tidak usah. Aku tidur sebentar pasti sembuh,"
"Ya sudah, tidurlah. Nanti tidak usah kamu yang menjemput,"
"Aku saja. Aku yang akan menjemput mereka,"
Lovi akhirnya mengangguk, Devan berlalu ke ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya dan juga kepalanya yang pening.
Sementara Lovi kini tengah sibuk di taman dari pagi tadi. Ia sedang menata tamannya kembali. Agar penampilannya berubah sebab Ia sudah jenuh.
****
"Woah Aunty datang,"
Adrian menyapa Vanilla yang datang dengan Jhico. Unclenya membawa ransel kecil milik sang istri. Itu berisi pakaian ganti Vanilla sehabis yoga tadi.
"Hanya berdua?"
"Bertiga, tentu saja,"
"Maksud Aunty, hanya berdua di sini. Auris, Icelle, dan Keyfa dimana?"
Vanilla hanya melihat keberadaan dua keponakannya di ruang depan.
__ADS_1
"Lagi menonton,"
"Tapi tidak kedengaran suaranya,"
Baru juga Vanila mengatakan itu, sudah terdengar pekikan "ARGHH!" dari ruang keluarga yang membuat keempatnya tersentak.
"Itu kedengaran, Aunty,"
"Menonton apa mereka? kenapa berteriak?"
"Menonton yang seram tapi sebenarnya tidak seram,"
Jhico sudah lebih dulu menghampiri tiga anak perempuan yang baru saja berteriak kompak.
"Haa," Jhici mengejutkan mereka dengan suara beratnya sontak hal itu membuat mereka terlonjak. Jhico tertawa menyaksikannya, meskipun penerangan sangat minim hanya mengandalkan dari televisi tapi ia bisa melihat reaksi terkejut dari mereka.
"Haaa Pupu! aku jadi kaget 'kan,"
"Uncle kalau aku tidak sadarkan diri karena terkejut bagaimana?"
Jhico masih belum bisa tertawa. Apa semenyeramkan itu suaranya? apa mungkin karena saat ini mereka tengah menonton tayangan yang seram jadi sugestinya sudah seram terus.
Vanilla menyusul dan menggeleng pelan melihat suasana ruangan ini. "Kenapa jadi gelap?"
"Biar lebih tegang, Mu,"
"Iya, biar terasa suasananya," kata Keyfa yang juga disetujui Grizelle serta Auristella.
"Kata Ian tidak seram,"
"Ini serrrlam (seram), Mumu,"
"Mumu hanya mendengar kata Ian saja, Sayang,"
"Sudah tahu seram kenapa masih ditonton?"
"Menegangkan jadi suka menontonnya, Uncle,"
"Mau gabung?" tanya Grizelle pada kedua orangtuanya yang kompak menggeleng.
"Ya sudah, kalau tidak mau gabung, tolong jangan ganggu kami ya, Mu, Pu" Pinta Auristella dengan sopan. Vanilla langsung protes, "Siapa yang ganggu? Mumu dan pupu tidak ganggu,"
"Ini sekarrlang (sekarang) ganggu,"
"Ganggu bagaimana?"
Jhico tiba-tiba saja membungkam mulut istrinya. Ia tahu mengganggu yang dimaksud Grizelle.
"Itu Mumu ganggu karrlena (karena) Mumu bicarrla (bicara),"
Benar dugaan Jhico. Suara mereka membuat fokus Grizelle, Auristella, dan Keyfa menjadi terbagi. Ketiganya ingin menonton dengan tenang, buktinya sampai totalitas sekali menciptakan suasana hening dengan cara mematikan lampu dan juga memaksimalkam volume televisi.
Jhico akhirnya mengajak Vanilla meninggalkan mereka. Jhici ke kamar untuk meletakkan ransel sang istri yang tadi ia jinjing sementara Vanilla mendekat pada dua keponakan laki-lakinya. Jhico pun tak lama bergabung dengan mereka.
"Memang aneh mereka ya, Ian,"
__ADS_1
Adrian mengangguk saja padahal belum tahu aneh seperti apa yang oleh dimaksud Auntynya.
"Aunty dan Uncle dibilang jangan ganggu sama Icelle. Padahal hanya bicara sebentar,"
Adrian terkikik geli. Sama persis ketika dirinya tadi mengomentari sikap berlebihan mereka yang sedikit-sedikit terkejut dan memekik.
"Berisik, Ian!" Kata mereka bertiga dengan kompak tadi. Akhirnya membuat Adrian semakin yakin meninggalkan sofa. Dan memilih menyingkir dengan sang kakak yang rupanya juga tidak menikmati tayangan yang mereja tonton.
"Aku juga seperti itu tadi, Aunty. Sabar ya,"
"Aunty Jane dimana? sudah bertemu Aunty Jane?"
"Di kamarnya. Mungkin tidur lagi. Aduh Aunty Jane itu ya, tidak puas tidur---"
"Siapa bilang Aunty tidur? jangan bicara kalau tidak tahu ya, Ian,"
Adrian menoleh dan langsung tersenyum meringis mendapati Jane yang menatapnya galak.
"Aunty pelintir nanti bibirmu yang suka berisik itu ya,"
Jane bahkan benar-bwnar menyentuh bibir Adrian dan Adrian langaung menghindar.
"Jangan, Aunty. Nanti bibirku jadi aneh,"
"Biar kamu diam,"
Jane tentu tidak benar memelintir bibir Adrian, hanya hidungnya saja. Dan Adrian sudah memekik tertahan.
"Aunty jangan! nanti hidungku jadi terlalu panjang!"
"Protes terus, makanya jangan asal bicara ya. Aunty itu tidak tidur tapi tadi bicara dengan Uncle Ri,"
"Bagaimana keadaan Ayah dan Ibunya, Jane?" Jhico menanyakan itu pada Jane.
"Ayahnya sudah pulang. Tapi ibunya belum dan entah sampai kapan,"
"Ya Tuhan, semoga segera sembuh,"
Jane mengamini dan berterimakasih pada Jhico. Ia menoleh pada Adrian yang menjawil lengannya. "Ayah dan Ibu siapa yang sakit?"
"Uncle Richard,"
"Semoga cepat sembuh ya, Aunty. Kasihan Uncle Ri,"
"Iya, jadi gagal dia menjemput Aunty,"
Alis Jane bertaut, Jane sudah ingin kembali ke sana?
"Kamu mau kembali ke sana?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Ya ampun! aku senang memdengarnya. Lebih baik memang kalian pindah berdua lah. Jangan masing-masing,"
"Jadi belum tahu kapan Richard ke sini?"
__ADS_1
"Belum, Co. Karena Ibunya masih sakit. tadinya sebelum ibunya masuk ke rumah skait itu Richard mau datang ke sini tapi sayangnya ibu dan ayahnya jatuh sakit. Jadi terpaksa membatalkan rencana keberangkatan,"