Nillaku

Nillaku
Nillaku 50


__ADS_3

"Jane, hari ini Vanilla ada pemotretan? kalau ya, dimana tempatnya?"


"Ya, bersama model-model yang kemarin. Tempatnya juga sama seperti tempo hari,"


"Vanilla sudah berada di sana?"


"Belum, dia masih di kampus. Hanya aku yang sudah sampai di lokasi sementara Vanilla dan Joana masih ada jam kuliah,"


"Dia mengatakan padamu akan membawa mobil sendiri?"


"Sepertinya ya. Tapi aku tidak tahu pasti. Memang kenapa?"


"Kalau dia tidak membawa mobil, aku akan menjemput di kampus,"


Jane diam mendengarkan serangkaian kalimat Jhico. Ia tengah menilai. Sepertinya ada yang sedang kekurangan komunikasi dan itu sepupunya bersama sang suami.


"Kenapa tidak tanya langsung dengan Vanilla?"


"Aku menelponnya tapi tidak ada jawaban,"


"Oh benarkah? padahal belum lama kami berbicara melalui telepon,"


Tidak ingin memikirkan hal yang buruk-buruk, Jhico memilih untuk memutus sambungan teleponnya bersama Jane. Otaknya sudah menuduh Vanilla yang macam-macam. Apa Vanilla sengaja tidak mengindahkan panggilan Jhico? padahal kata Jane tadi, Vanilla dan Jane baru saja berbincang melalui telepon.


Jhico mengacak rambutnya kesal. Ia kembali masuk ke ruangan Hawra untuk berpamitan. Sebenarnya sudah sejak tadi Jhico ingin keluar dari rumah sakit tetapi karena Karina belum juga kembali dari butiknya, Jhico jadi khawatir bila harus meninggalkan Hawra sendirian di rumah sakit.


Tadinya Jhico akan singgah dulu di apartemen untuk membersihkan tubuh sekaligus melihat keadaan di sana setelah semalaman Ia tinggal.


Tetapi sepertinya tidak ada waktu lagi. Jhico harus segera datang ke tempat kerja Vanilla lalu bertemu dengan gadis itu. Jhico sangat merindukan istrinya.


"Jhico pulang dulu ya, Nek?"


"Iya, tidak perlu kembali lagi. Kasihan Vanilla,"


"Nenek jangan bicara seperti itu. Vanilla baik-baik saja saat aku tinggal. Dia sangat mengerti,"


"Sampaikan rasa 'terima kasih' Nenek pada Vanilla yang sudah mengizinkan suaminya untuk menjaga nenek di sini,"


"Ma, aku pergi dulu." Jhico beralih pada Karina yang tengah sibuk dengan iPad-nya. Karina mengangkat kepala lalu tersenyum seraya mengangguk.


"Iya, hati-hati. Titip salam untuk Vanilla,"


Hanya sebatas itu saja perpisahan mereka. Tidak ada pelukan hangat antara Ibu dan anak yang biasanya akan selalu terjadi ketika raga akan berpisah walaupun dalam jarak yang dekat dan waktu yang sebentar.


********

__ADS_1


Jhico tersenyum miring dengan alis terangkat begitu melihat dengan siapa Vanilla datang. Bukan hanya Joana di sampingnya, tetapi ada Renald juga.


Ada drama apa lagi kali ini? keinginan untuk segera bertemu dengan Vanilla mendadak hilang. Rasanya Jhico ingin pergi lagi yang jauh agar tidak melihat kebersamaan mereka.


"Vanilla, ada suamimu. Tidak disapa?"


"Dimana?"


"Di sana. Ck! makanya jangan fokus pada hal lain. Suami sendiri tidak dilihat,"


Vanilla melihat keberadaan Jhico di ujung ruangan yang sama dengannya. Sebelum Ia memutuskan untuk menghampiri, Jhico tampak sendiri. Tetapi setelah Ia melangkah, Jhico seolah sengaja mencari teman berbincang. Tak lain dan tak bukan adalah Aurora yang kebetulan sedang duduk tidak jauh dari Jhico bersama seorang gadis lainnya.


Vanilla tetap mendekat, sementara Renald hanya bisa menatap pilu ketika punggung gadis yang dipujanya menjauh, memilih untuk menghampiri suaminya.


Renald diajak Joana untuk duduk. Tetapi mata dan hatinya masih fokus melihat gerak-gerik Vanilla bersama Jhico.


"Hai, kenapa tidak memberi tahu aku kalau mau datang?"


"Salah kalau aku ingin menemani istriku bekerja?"


"Sepertinya Jhico sudah melihat kehadiran Renald."


"Jelas saja bodoh! buktinya dia menghindar seperti ini. Sampai tidak memberi ruang untuk aku duduk di sampingnya,"


"Asistenmu bukan hanya Joana? sudah tambah satu orang?"


"Dia hanya ingin melihat saat aku bekerja,"


"Apa yang dilihat? suasana atau kamu?"


"Dua-duanya, Jhico. Dia hanya penasaran,"


Jhico terkekeh pelan. Ia menggeleng tak habis pikir. Lalu mengalihkan perhatiannya pada Renald. Mata Jhico menatap lurus lelaki yang sedang diajak bicara oleh Jane itu.


"Tujuanmu datang ke sini apa?"


"Ingin melihat Vanilla bekerja. Aku penasaran karena selama ini yang aku tahu Vanilla selalu manja. Aku masih belum percaya kalau dia bisa bekerja. Kira-kira bagaimana dia kalau sedang fokus di depan kamera ya?"


Vanilla memaksa Jhico untuk bergeser. Ia ingin duduk di samping Jhico. "Duduk di sana bisa. Kenapa harus di sini?" Ia menunjuk tempat Renald, Jane, serta Joana.


"Tidak, aku mau di sini. Di sana untuk yang masih single,"


"Di sini untuk yang sudah menikah?"


"Ya,"

__ADS_1


"Tadi Aurora duduk di sini. Dia belum menikah,"


"Kenapa bahas dia? aku tidak suka," Vanilla salah bicara. Seharusnya Ia tidak mengatakan itu. Ada apa dengan dirinya? Kenapa harus tidak suka dengan Aurora yang terlihat sangat baik hati itu? Aurora tidak melakukan kesalahan apapun.


"Kenapa tidak suka? Aku melarang kamu untuk dekat dengan Renald? tidak, hanya saja kamu harus tahu batasan. Karena orang lain tahu bahwa kita sudah menikah,"


"Jhico, kamu terlalu serius."


"Apapun yang berhubungan dengan kamu, aku harus serius. Ini menyangkut semua hal yang sedang kita jalani. Agar baik-baik saja, jangan berjalan sampai melewati teritorial yang sudah kita ciptakan sedari awal,"


Vanilla tiba-tiba saja malas mendengar kalimat Jhico. Ia bangkit untuk bersiap-siap melakukan pemotretan.


******


Hak sepatu Aurora tiba-tiba saja patah. Sehingga Ia harus mengganti sepatu yang lain. "Aku sudah memasangnya susah payah, akhirnya malah patah." Gerutu Aurora seraya berusaha membuka kaitan sepatunya yang sangat sulit untuk dilepas, sama sulitnya ketika Ia mengenakan tadi.


"Bisa?" tanya Jhico.


"Belum, doakan semoga bisa. Aku juga bingung kenapa sulit begini. Padahal tidak direkatkan,"


"Ada sisi baiknya juga. Jadi tidak mudah lepas saat kamu pakai,"


"Iya, tapi kalau dalam situasi seperti ini malah buat aku kesulitan,"


"Coba minta tolong pada crew,"


Jhico perhatian tetapi masih menjaga dirinya sendiri dan juga Aurora. Kalau Ia terlalu baik, takutnya reaksi berlebihan akan timbul dari Aurora.


Aurora memanggil seseorang yang sekiranya bisa membantu. Vanilla tidak fokus berpose di depan kamera saat melihat mata Jhico tak henti menatap kaki Aurora yang sedang bermasalah dengan sepatunya.


"Fokus, Vanilla! sekali lagi ya!"


"Ya,"


Jane ikut melihat apa yang menjadi pusat perhatian sepupunya. Setelah itu tersenyum. Nanti, Ia akan menggoda Vanilla sepuas-puasnya.


"Okay, sempurna. Persiapan untuk look kedua ya?"


Vanilla mengangguk dan keluar dari area yang terjangkau kamera untuk berganti baju dengan tema berbeda.


Ia mendekati Jhico lalu berbisik di telinga lelaki itu. "Bantu saja, sepertinya crew tidak bisa membantu Aurora,"


Vanilla sedang berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri. Tetapi setelah melihat Jhico malah melakukan hal yang Ia katakan tadi, hati dan pikirannya semakin kisruh.


"Sialan! dia benar-benar membantu Aurora. Untuk apa aku menyuruh dia seperti itu?"

__ADS_1


------


Ciatt ciatt ciattt ada yg cembokur😂 TAP LIKE, KETIK KOMEN, BAGI VOTE BWT YG KELEBIHAN HEHEHE😄


__ADS_2