Nillaku

Nillaku
Nillaku 29


__ADS_3

Vander, Nares, Fenelly, dan Denaya menyatukan gelas kaca mereka sebelum meneguk minuman yang memabukkan itu. Ini bukan gelas pertama.


"Kau laki-laki yang payah! coba dulu, Co. Kau akan mau lagi dan lagi,"


Jhico sudah terbiasa dibujuk-bujuk seperti itu agar mulutnya ikut mencicipi apa yang mereka nikmati.


Jhico menggeleng halus. Inilah yang membuat Jhico enggan memenuhi keinginan Denaya dan ketiga temannya yang lain untuk menghabiskan waktu dinner bersama di sebuah kafe.


Denaya sedang merayakan hari ulang tahunnya, jadi untuk kali ini Jhico memenuhi keinginan gadis itu juga ketiga temannya yang lain.


Di pukul delapan malam, Denaya sudah benar-benar tumbang karena mabuknya. Ia yang paling banyak minum malam ini dibandingkan dengan Vander, Nares, dan Fenelly.


Ketika Jhico diminta untuk mengantar Denaya pulang, Jhico langsung menolak tegas. Ia tidak tahu apa-apa jadi kenapa harus Ia yang bertanggung jawab dengan memastikan gadis itu sampai di rumahnya dengan aman?


"Ayolah, Co. Kau sendiri yang baik-baik saja,"


"Itu bukan alasan! aku akan pergi sekarang,"


"JHICO!" Nares berseru di tengah hingar bingar kafe yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai kelab. Suasananya tidak ada perbedaan sedikitpun.


Denaya sudah memejamkan matanya dengan posisi duduk namun kepalanya terkulai di atas meja. Fenelly pun hampir sama kondisinya. Namun Ia lebih baik karena masih bisa memohon pada Jhico untuk segera memulangkan Denaya. Karena diantara mereka semua, hanya Jhico yang bisa melakukan itu. Mungkin terkesan tidak adil untuk Jhico, namun Denaya memang benar-benar butuh bantuan.


"Aku tidak akan melakukan itu. Siapa yang menyuruh kalian seperti ini? kenapa harus aku yang dibuat sulit?"


Jhico meraih kunci mobilnya dengan kasar. Namun kalah tangkas dari Vander. Lelaki itu memancing emosi Jhico. Ia tidak peduli dengan wajah Jhico yang sudah berubah gelap.


"Kembalikan kunci mobilku!"


"Lalu siapa yang membantu Denaya? kami, untuk pulang ke rumah masing-masing saja rasanya begitu sulit, apa lagi bila harus mengantar Denaya. Tolong bantu, Jhico!"


"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MEMBANTU SIAPAPUN MALAM INI,"


Jhico melayangkan satu pukulan di wajah Vander hingga tersungkur di sebelah Denaya lalu secepat kilat Jhico meraih apa yang Ia perlukan sedari tadi.


Benar-benar dinner sialan! Kalau tahu akan berakhir seperti ini, lebih baik Jhico makan malam di apartemennya saja bersama Vanilla.


"Aku menyesal ikut bersama kalian," tukasnya sebelum benar-benar pergi dari sana.


Ia tidak peduli, dan tidak ingin tahu bagaimana nasib mereka malam ini. Karena semua yang terjadi atas perbuatan mereka sendiri. Kalau sudah mabuk seperti itu, siapa yang akan membantu? Jhico rasa tidak ada yang mau, sama sepertinya.


Lebih baik orang lain istirahat di rumah daripada mengurusi orang mabuk. Nares, Denaya, Vander, dan Fenelly senang-senang di awal. Seharusnya mereka memikirkan akibat setelah di akhir.


*****


"uh, ada aroma tidak enak,"


"Apa? aku tidak buang angin,"

__ADS_1


Vanilla menutup pintu apartemen setelah suaminya masuk ke dalam. Gadis itu mengibaskan tangannya ketika Jhico datang, dan aroma mengganggu langsung hadir.


"Asap,"


"Aku tidak membakar sesuatu, Nillaku."


Vanilla berdecak dan Jhico terkekeh gemas. Vanilla mengangkat jari telunjuk dan tengah untuk kemudian diletakkan di depan mulut.


"Rokok?"


"Iya! tidak perlu bertanya lagi,"


"Aku kira karena aroma tubuhku yang belum mandi," Jhico mengendus tubuhnya sendiri, memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kamu selalu wangi," Vanilla menyalahkan batinnya yang tiba-tiba menyatakan itu. Tapi sejujurnya memang benar. Selama hidup dengan Jhico hampir satu bulan, Vanilla tidak pernah merasa kurang nyaman dengan semua yang ada pada tubuh Jhico, termasuk harumnya. Lelaki itu juga memiliki aroma khas sehingga setiap Jhico dekat atau jauh, Vanilla pasti tahu.


"hm, by the way, aku bukan gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini,"


Kalimatnya terdengar membingungkan. Sehingga Jhico yang sedang membuka jam tangan langsung menoleh pada sang istri yang berdiri di dekatnya seraya bersedekap dada.


"Aku kira kamu tidak merokok. Apa aku salah?"


Jhico menelan ludah kelat. Terasa ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya sehingga mempersulit Ia untuk bicara.


"Ya, ya, aku tidak merokok,"


"Lalu dimana kamu mendapatkan aroma itu?"


"Oh Astaga, Vanilla. bodoh! apa yang kamu lakukan? memalukan. Kamu ditegur oleh laki-laki ini. Wajahmu akan diletakkan dimana sekarang? sial!"


Seharusnya Ia tidak begini, seharusnya Ia diam saja, seharusnya tidak perlu mempermasalahkan hal yang tidak penting. Masih banyak seharusnya, seharusnya, dan seharusnya yang memenuhi otak Vanilla. Ia melakukan ini karena spontan, rasa tidak nyaman yang membuat Vanilla bersikap layaknya istri posesif. Padahal niatnya tidak seperti itu. Tiba-tiba saja Vanilla tidak suka melihat Jhico berubah seperti laki-laki yang berada disekitarnya selama ini.


*****


"Oh, jadi Istrimu akan sembuh sebentar lagi?"


"Doakan saja,"


"Benar-benar anak tidak tahu berterima kasih. Papa sudah mau membantu kamu, tapi kamu malah menolak. Seharusnya Vanilla bisa sembuh lebih cepat. Tapi karena keegoisan suaminya, Ia harus menunda itu sampai Papanya sendiri yang memberikan bantuan, bukan suaminya!"


Jhico sudah mengira bahwa ini akan terjadi di pertemuan mereka kali ini. Ketika Ia dan Vanilla sampai di rumah sakit, rupanya Thanatan sudah menunggu di sana.


Vanilla menjalani pemeriksaan rutin, dan menurut dokter sekitar lima hari lagi, perban di matanya bisa dibuka. Kemudian Vanilla mulai menyesuaikan kondisi matanya.


Setelah selesai diperiksa, Vanilla menyetujui Thanatan yang meminta mereka untuk datang ke rumah karena ada beberapa buah tangan yang dipersembahkan untuk mereka setelah Thanatan dan Karina pulang dari Roma.


Rupanya buah tangan yang dimaksud adalah ini, kalimat tajam yang tidak lain dan tidak bukan ditujukan untuk mengecam sikap Jhico beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Aku sangat jarang bertemu dengan Papa. Kenapa Papa selalu menggunakan waktu pertemuan kita untuk berdebat. Bisa berhenti menjadi jahat, Pa?"


Jhico sudah kehabisan cara menghadapi Thanatan. Jhico selalu dianggap musuh. Thanatan tidak pernah bisa menghargai pilihan anaknya.


"Jahat? memang Papa jahat?"


"Oh ya, Mungkin kamu belum tahu. Opamu sudah menjadi pemilik tunggal rumah sakit tempat kamu bekerja," lanjut Thanatan setelah tidak mendapat jawaban dari Jhico.


Jhico tidak bereaksi apapun. Tidak heran, karena ini sudah terjadi beberapa kali. Semenjak Jhico bekerja, dimanapun Ia berada, Arlan selalu menghantuinya.


"Sampai sekarang aku tidak mengerti dengan maksud Opa melakukan itu. Untuk mengendalikanku?"


"Sebagai investasi. Apa yang salah?"


"Tapi kenapa harus rumah sakit itu? kalian tahu, aku tidak pernah suka bekerja dibawah kepemimpinan kalian karena aku tahu, pada akhirnya aku akan dipaksa lagi untuk menekuni bidang yang tidak aku inginkan,"


Sudah menjadi dokter tidak pernah menyurutkan semangat Arlan dan Thanatan dalam menarik Jhico agar berada di bawah tekanannya karena mereka tahu bahwa Jhico punya kemampuan.


Setiap Arlan memegang kendali atas tempat-tempatnya bekerja, Jhico memutuskan untuk mengundurkan diri. Ketika mendapatkan yang baru, Arlan kembali melakukan hal yang sama, Ia memang sengaja membuat Jhico lelah.


"Sulit sekali mengakui Papa sebagai orangtuaku,"


"Kamu selalu seperti ini tapi karirmu semakin melonjak tinggi ya? Papa heran,"


"Karena Tuhan tahu, aku bukan anak jahat yang sebenarnya. Tuhan tidak akan memberi pembalasan kalau manusia tidak berbuat kesalahan,"


*****


Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja Vanilla mendengar pelayan di rumah keluarga suaminya berteriak memanggil Karina yang berada di kamar. Vanilla yang kebetulan melintas untuk mencari Jhico pun mendengar itu dan seketika langsung panik.


Vanilla berniat untuk cepat-cepat tidur karena Ia lumayan lelah hari ini, namun karena Jhico belum ada di kamar, jadi Ia tidak bisa mengunci pintu kamar Jhico. Akhirnya Vanilla memutuskan untuk mencari suaminya. Namun yang didapatinya malah kabar buruk.


Thanatan tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke rumah sakit. Sekalipun dianggap tidak berbakti, Jhico tetap menunjukkan perannya sebagai anak. Suami Vanilla dengan sigap membawa Thanatan ke dalam mobil dibantu oleh supir pribadi mereka. Hanya Jhico dan Karina yang ikut serta ke rumah sakit.


Vanilla benar-benar cemas di rumah itu. Sepertinya Vanilla tidak pernah dihadapkan pada situasi ini selama hidupnya. Orangtua yang tiba-tiba tidak sadarkan diri pasti membuat Jhico khawatir. Vanilla pun akan merasakan hal yang sama bila itu terjadi pada Raihan dan Rena. Jhico tidak menoleh sama sekali pada Vanilla, dan Vanilla mengerti. Orangtua lebih dari segalanya.


******


"Dokter mengatakan bahwa Papamu terkena serangan jantung. Ini yang kamu inginkan?! hah?!"


"Ma..."


"Apa yang kalian lakukan sebelumnya?! pasti bertengkar lagi, dan kamu meladeninya?! iya, Jhico?!"


Sampai kapan Jhico hanya diam sementara harga dirinya diinjak-injak? Ia tidak dibiarkan hidup senang dan tenang. Pilihannya selalu dikomentari dengan kejam. Jhico terus diganggu oleh Kakek dan Papanya sendiri yang mempunyai obsesi berlebih akan menjadikan Jhico sama seperti mereka.


------------

__ADS_1


SELAMAT PAGI DARI DONAT JEKO DAN PANIL😆 DAH BANGUN? SARAPAN KUY! KOMEN DI BAWAH KEGIATAN PEMBACA NILLAKU ABIS BANGUN TIDUR👇



__ADS_2