
Dari luar kamar saja Vanilla sudah bisa mendengar dengan samar suara anaknya yang tengah mengobrol dengan seseorang yang tak lain adalah Auntynya.
Vanilla mengetuk pintu sebelum menekan handel pintu untuk masuk.
"Masuk saja," Grizelle menyahuti dari dalam. Vanilla kemudian masuk ke dalam. Ia tersenyum menatap Grizelle dan Jane yang kini duduk berhadapan.
"Katanya tidak mau mengganggu Aunty istirahat. Ternyata----"
"Anakmu tidak mengganggu. Memang kebetulan aku sedang duduk tadi. Aku melihat dia membuka pintu sedikit dan aku langsung memintanya masuk,"
Vanilla mengangguk, ternyata anaknya memang tidak mengganggu.
"Aku tidak mau mengganggu, Mu. Tapi Aunty yang mengajak aku mengobrrlol (mengobrol),"
Jane terkekeh mendengar Grizelle yang lucu sekali ketika mengucapkan kata-kata dengan hurus R yang kurang jelas pengucapannya.
"Aku sudah bicara dengan Aunty Rena tadi. Aku memberi tahu padanya kalau aku ada di rumahmu,"
"Oh ya? bagaimana tanggapan Mamaku?"
"Senang, dia tidak menduga kalau aku akan pulang sekarang tanpa cerita dulu sebelumnya,"
"Aunty kapan ke rrlumah (rumah) Grlanma?"
"Kenapa bertanya seperti itu? tidak mau Aunty lama-lama di sini?"
Grizelle menggeleng cepat. Maksudnya bukan seperti itu. Ia hanya ingin tahu saja kapan Auntynya akan berkunjung ke rumah Kakek dan Neneknya. Pasti Jane akan datang ke sana, ke rumah Devan juga, Grizelle rasa.
Jane tertawa melihat Grizelle yang wajahnya kelihatan takut kalau Ia salah paham. Jane mencubit gemas pipi Grizelle.
"Besok, Sayang,"
"Oh besok? tapi kembali lagi ke sini 'kan, Aunty?"
"Boleh memangnya?"
"Ya ampun, Aunty kenapa berrltanya (bertanya) begitu lagi?"
Grizelle kesal karena Jane mengira dirinya tidak menerima kehadiran Jane padahal tidak begitu kenyataannya.
"Boleh, Aunty," Grizelle menjawab dengan lembut dan tersenyum hangat. Tidak mungkin Ia tidak menerima kehadiran Auntynya. Ia bukan orang yang seperti itu.
"Mumu, Aunty akan menginap di sini sambil mencarrli rrlumah (mencari rumah) tapi aku bilang tinggal saja di sini,"
Grizelle menyampaikan itu kepada Mumunya yang membuat Jane mengangguk.
"Iya, memang rencananya Aunty seperti itu katanya,"
"Kenapa tidak menginap saja di sini selamanya?"
Vanilla dan Jane terkekeh mendengar Grizelle merengek. Inginnya Grizelle agar Auntynya menjadi bagian dari rumahnya.
__ADS_1
"Nanti minta Uncle Rrli (Ri) juga tinggal di sini. Kalau rrlamai (ramai) kan jadi menyenangkan, Aunty,"
Jane kehabisan kata-kata membalas ucapan Grizelle. Sebab ada saja cara Grizelle untuk membujuk dirinya agar tinggal di rumahnya.
"Tadi dia melompat ke tempat tidur, Van. Aku baru tahu dia memiliki luka. Anakmu benar-benar ya,"
Jane menceritakan kejadian saat Grizelle masuk ke kamarnya tadi dan bergabung dengannya di atas ranjang.
Grizelle tersenyum meringis menatap Mumunya yang kini menyorot dengan tajam.
"Bisa-bisanya kamu melompat. Kalau lukanya bertambah bagaimana?"
Grizelle mengelus bahu Mumunya untuk menenangkan. "Tidak, Mu. Aman,"
"Aman, Van. Tapi sempat teriak tadi,"
Grizelle tertawa mendengar Jane mengadu seperti itu pada Mumunya. Sekalipun Sang Ibu masih kelihatan kesal padanya.
"Ya sudah, ayo kita keluar. Biarkan Aunty Jane istirahat dulum Pasti dia lelah karena baru menempuh perjalanan yang jauh,"
Grizelle mengangguk, Ia beringsut turun dari ranjang. Kemudian berjalan keluar seorang diri, Ia sudah bisa melakukannya, tidak harus dibantu lagi.
Vanilla juga akan meninggalkan kamar, tapi lengannya ditahan Jane. Jane memintanya untuk kembali duduk.
Tiba-tiba saja Jane memeluk Vanilla dengan erat. Kemudian melepasnya. "Terimakasih ya,"
"Iya, kamu sudah mengatakan itu tadi,"
"Terimakasih juga sudah menghadirkan anak itu ke dunia. Dia baik sekali padaku. Perhatian, sekali. Kamu tahu, tadi dia menenangkan aku padahal aku tidak cerita apapun tentang masalah yang sedang aku alami padanya. Dia seolah punya perasaan bahwa memang aku tengah mengalami suatu masalah. Dia mengatakan kalau aku tidak perku sedih karena da dia di sampingnya. Bagainana aku tidak terharu mendengar itu?"
Vanilla tersenyum mengangguk. Rupanya Jane menahan kepergiannya karena ingin mengungkapan hal itu.
"Apa dia bertanya tentang Richard? aku rasa iya. Karena anakku itu rasa penasarannya tinggi apalagi ketika melihat kamu hanya datang sendiri tanpa Richard,"
Jane mengangguk membenarkan. Grizelle sempat menanyakan keberadaan suaminya tadi. Bahkan beberapa kali menyebut nama Richard termasuk ketika Ia meminta Jane untuk tinggal di rumahnya.
"Dia anak perempuan yang baik sekali. Aku rasa, tidak ada yang tidak menyukai dia. Semua pasti menyukai Grizelle,"
Vanilla menunduk dalam masih dengan senyumnya. Sayang, yang dikatakan Jane tida seratus persen benar. Banyak yang menyukai anaknya, menyayangi, hingga mencintainya dengan setulus hati. Tapi Vanilla ragu bila hal itu ditanyakan pada Thanatan, kakek Grizelle sendiri.
"Ya sudah, aku tinggal ya? kamu istirahat dulu,"
"Okay,"
"Oh iya, sudah memberi tahu Richard kalau kamu sudah sampai?"
Jane menggeleng, Ia sudah mendapat pesan dari Richatd yang menanyakan apa dia sudah tiba atau belum. Tapi belum Ia jawab.
"Kenapa tidak memberi tahunya? dia harus tahu, supaya dia tenang,"
Vanilla mendorong Jane agar mengabari suaminya meskipun tengah kesal.
__ADS_1
Jane mengangguk patuh. Ia segera mengambil ponselnya untuk membalas pesan Richard.
-Aku sudah sampai di rumah Vanilla dan Jhico-
Vanilla kembali izin untuk keluar dari kamar Jane. Ia harus memberikan waktu untuk Jane beriatirahat melepas penatnya usai melakukan perjalanan.
*****
Grizelle mengetuk pintu kamar orangtuanya. Kemudian membuka pintu. Jhico tersenyum melihat kedatangan putrinya.
Ia mengisyaratkan anak itu untuk segera mendekat. Grizele akan melompat lagi tapi suara tegas anaknya membuat Ia langsung tidak jadi melaksanakan niatnya untuk menantang dirinya sendiri.
"Kalau kamu melompat begitu, bisa tambah sakit kakimu, Grizelle,"
"Okay, Pu. Aku tidak akan melompat,"
Grizelle mendekati Pupunya. Ia duduk bersandar di ranjang menonton siaran permainan basket.
"Kamu darimana saja?"
"Kamarrl (kamar) Aunty Jane,"
"Mengganggu Aunty Jane istirahat? tidak 'kan?"
"Tidak, Pupu. Aku diajak mengobrrlol (mengobrol) oleh Aunty,"
"Oh mengobrol apa? kenapa lama? dan sekarang Mumu dimana?"
"Pupu terrlalu (terlalu) banyak perrltanyaan (pertanyaan),"
Jhico terkekeh, menepuk pelan puncak kepala malaikat kecilnya ini.
"Mengobrrlol (mengobrol) banyak hal makanya lama. Terrlus (terus) aku tidak tahu Mumu dimana. Tadi Mumu mengajakku untuk keluar dari kamar Aunty Jane supaya Aunty Jane bisa istirahat,"
"Oh berarti Mumu masih di sana. Ya sudah, Icelle temani pupu menonton saja,"
Grizelle menggeleng pelan. Ia tidak suka menonton permainan basket.
"Kepala Pupu sakit,"
"Kenapa, Pu?"
"Entah, Sayang,"
"Ya sudah, tidurrl (tidur) saja. Mungkin sakit kepala karrlena (karena) mengantuk,"
Usai mengatakan itu Grizelle mengulurkan tangannya untuk memberikan pijatan-pijatan lembut di sekitar kepala ayahnya.
"Tidak usah, tangan Icelle lelah nanti,"
"Tidak, aku akan pijat Pupu sampai sakit kepalanya hilang. Aku akan melakukannya pelan-pelan. Pupu tidurrl (tidur) saja,"
__ADS_1
Tidak ada niat untuk memberi isyarat agar dipijat, tapi Grizelle memang memiliki perasaan yang begitu peka. Ia akan dengan tanggap mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa sakit yang tengah dialami orangtuanya dengan kemampuan yang Ia bisa. Ia bisa memijat, barangkali bisa menyembuhkan sakit kepala Pupunya.