
"Operasinya sudah selesai. Kita tunggu hasilnya beberapa hari ke depan,"
Operasi berlangsung tidak begitu lama. Setelahnya Vanilla dibawa ke ruang pemulihan ( recovery room ) sebelum akhirnya diperbolehkan pulang namun tetap dengan pemantauan dan resep obat yang harus ditebus oleh Jhico untuk mengurangi rasa nyeri yang mungkin akan Vanilla alami setelah ini.
Vanilla harus menjalani pemeriksaan rutin setelah tindakan ini. Dan Jhico sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu berada di samping istrinya. Mungkin hanya ini yang bisa Ia lakukan. Karena Jhico tidak berhasil menemukan kornea yang dibutuhkan Vanilla.
"Kalian hati-hati ya. Pastikan Vanilla baik-baik saja, Jhico."
"Ya, Pa."
"Terima kasih sudah datang untuk mendukung Vanilla," ujar Jhico pada kedua orangtua istrinya yang selama operasi tadi berada di rumah sakit.
Mereka semua pulang dan berpisah di basement. Jhico harus segera memastikan istrinya beristirahat di rumah.
"Setelah pulih nanti, kamu ingin jalan-jalan kemana?"
Jhico menghela rambut Vanilla yang bergerak karena angin Manhattan sore ini. Mereka datang ke rumah sakit menjelang siang, dan sore hari sudah pulang. Proses untuk kesembuhan sang istri benar-benar dipermudah dan Jhico sangat senang.
"Tidak ingin kemanapun,"
"Aku tidak menyebut ini sebagai honeymoon jadi kamu jangan khawatir,"
Mungkin saja gadis itu berpikir bahwa ajakan Jhico tadi dijadikan sebagai momen bulan madu mereka. Jhico perlu meluruskan agar Vanilla tidak salah paham.
"Dikatakan honeymoon juga tidak masalah,"
"Jadi? ingin pergi kemana?"
"Sekali lagi aku katakan, aku tidak tertarik untuk jalan-jalan kemanapun,"
"Baiklah, aku yang menentukan tempatnya,"
Vanilla mencibir. Untuk apa bertanya kalau pada akhirnya Jhico sendiri yang memutuskan?
*****
Riyon menghampiri Jhico di rumah sakit tempatnya bekerja untuk mengajak sahabatnya itu menjenguk Dante yang baru saja mengalami kecelakaan bersama keponakannya bernama Revin. Tiano sudah menjenguk terlebih dahulu. Riyon dan Jhico kebetulan pulang di jam yang sama hari ini walaupun rumah sakit mereka berbeda.
"Ingin sekali membawa Adrian,"
"Keponakan Vanilla?"
"Ya, dia juga sagat dekat dengan Revin. Kira-kira dia tahu tidak kalau Revin sakit?"
"Aku rasa tidak. Karena kejadiannya baru semalam. Kita bawa saja kalau begitu. Agar Revin senang,"
Revin memang sangat dekat dengan mereka sekalipun kenalnya belum terlalu lama. Bila mereka sedang menghabiskan waktu bersama, terkadang Dante membawa serta Revin. Karena orangtuanya terlalu sibuk, Revin kurang diperhatikan. Mereka hanya mencukupi kebutuhan Revin dalam hal materi bukan kasih sayang. Dante pikir, daripada Revin hanya bersama pengasuhnya lebih baik Ia ajak untuk berkumpul bersama Jhico, Riyon, dan Tiano.
"Kita jemput saja kalau begitu,"
"Aku takut dia sedang sibuk,"
"Siapa? Adrian? hah! anak seusia dia memang sibuk apa? berbisnis?"
"Kau tidak tahu saja kalau keponakanku itu banyak sekali kegiatannya," ujar Jhico seraya terkekeh.
****
__ADS_1
"Uncle, Aunty tidak diajak?"
"Tidak, Aunty sedang pemulihan,"
"Pemulihan apa?"
"Sebentar lagi Aunty bisa melihat,"
"Aku sudah tahu itu dari Daddy dan Mommy. Rencananya nanti malam kami akan datang ke tempat tinggal Uncle dan Aunty Vanilla,"
"Uncle tunggu,"
"Grandpa dan Grandma hanya datang berdua saat menemani Aunty di rumah sakit. Padahal Adrian juga mau berada di samping Aunty,"
Jhico menoleh sekilas ke samping untuk mengusap kepala anak kedua dari kakak istrinya itu.
"Jangan dilepas! bahaya, Adrian."
"Adrian tidak nyaman. Uncle cerewet sekali sama seperti Daddy. Aku tidak ingin memakai ini," sungutnya seraya menarik-narik seat belt. Adrian sudah terbiasa tidak bisa diam bila ada di dalam mobil. Dengan seat belt Ia merasa terkekang. Sudah sering diberi tahu oleh Devan dan Lovi, tapi yang namanya Adrian Vidyatmaka pasti selalu membantah.
"Tidak boleh seperti itu. Biasakan, agar kamu baik-baik saja. Mau seperti Aunty?"
"Huh? Mata Aunty sakit karena tidak memakai ini?"
"Ya, sangat berbahaya bukan?"
"Iya-iya, Adrian akan mengingat seat belt setiap naik mobil,"
"Jangan hanya diingat, tapi digunakan juga,"
******
Benar kata Jhico, Adrian bisa membuat Revin senang sekaligus melupakan rasa sakitnya. Sejak kedatangan mereka, Adrian selalu menemani Revin bermain. Walaupun tidak bisa bermain bola seperti biasanya, mereka tetap bisa bermain dengan posisi Revin di atas bangsal dan Adrian yang duduk di kursi sebelah bangsal.
"Tahan sakitnya. Aku juga pernah seperti ini. Kepalaku rasanya ingin hancur waktu itu,"
"Iya, aku tahan semampuku,"
"Kamu harus semangat! luka ini dan ini belum seberapa dengan lukaku waktu itu,"
Adrian menunjuk tangan dan kaki Revin yang terdapat luka-luka. Semalam, Revin dan Dante baru pulang dari liburan singkat mereka selama satu hari yang disediakan oleh pihak rumah sakit tempat Dante bekerja. Mungkin karena terlalu lelah, dan rasa kantuk tak bisa ditahan lagi, Dante menabrak pembatas jalan yang beruntungnya sangat sepi. Dan benturannya juga tidak terlalu parah karena kecepatan Dante saat itu terbilang pelan.
"Kamu pernah terluka?" Jhico bertanya dengan serius. Sepertinya Adrian sedang bercerita sesuatu yang benar.
"Iya, jatuh dari tangga yang tinggi. Kepalaku sampai dijahit dengan benang,"
"Benang apa?"
Adrian mengangkat bahunya tidak tahu. Revin bertanya dengan dia yang pada waktu itu tidak sadarkan diri.
"Saat hamil, Mommy sering merajut baju untuk adik. Mungkin benang itu yang digunakan,"
"Sembarangan saja kalau bicara," Jhico menarik gemas kulit pipi Adrian yang menjawab dengan asal.
Dante dan Riyon tertawa mendengar kalimat Adrian yang asal. Mungkin daripada tidak menjawab, lebih baik mengarang. Padahal tidak begitu konsepnya.
Kedua orangtua Revin memasuki ruangan. Ibu Revin baru saja mengisi perut sementara ayahnya mengambil perlengkapan Revin di rumah, begitu kata Revin. Mereka menatap ketiga laki-laki yang diketahui sebagai sahabat dari sepupu mereka, Dante.
__ADS_1
"Terima kasih sudah datang untuk menjenguk,"
"Waktu itu Mommyku selalu berada di sampingku saat sakit. Aunty kenapa malah sebaliknya?"
semua terbungkam mendengar Adrian yang bertanya dengan polos dan serius. Adrian sedang mengingat saat dirinya berada di posisi Revin. Revin butuh pelukan dari Ibunya. Seperti halnya Adrian yang dulu tidak pernah lepas dari Lovi. Sampai akhirnya Lovi jatuh sakit namun masih ada Devan yang menemaninya. Yang Ia lihat saat ini sangat berbeda. Revin seperti hidup hanya berdua dengan Dante.
Ketika mereka sampai, Revin hanya sendiri. Semata-mata dijaga oleh Dante yang juga terbaring di bangsal sebelahnya. Saat Dante tidur, Revin hanya bisa melamun, melarikan bola matanya ke seluruh penjuru ruang perawatannya dan Dante.
Adrian memang sejujur ini dalam mengatakan sesuatu. Bila ada yang dirasanya kurang tepat, maka Ia akan mengatakan secara langsung.
"Kalau mau makan, makan di sini saja bersama Revin. Karena disuapi oleh Ibu benar-benar membuat senang, Aunty. Aku merasakan itu. Dan dijamin, akan cepat sembuh,"
Anak seusia Adrian mungkin terlalu lancang dalam berkata seperti itu. Adrian tidak bermaksud untuk menyinggung karena Ia sendiri juga tidak tahu apa arti menyindir sebenarnya. Yang Ia katakan tadi adalah bentuk rasa kurang suka Adrian terhadap sikap tidak peduli yang dimiliki oleh Ibu dan Ayah Revin.
"Uncle kenapa tidak menyuruh orang yang tinggal di rumah untuk mengantar pakaian Revin ke sini? agar Uncle bisa terus menemani Revin. Aku dengar dari Revin rumahnya tidak hanya dihuni oleh Aunty, Uncle, dan Revin saja."
"Diam kamu! berisik sekali mulutmu,"
Jhico langsung menarik Adrian untuk mendekat padanya saat Ia melihat wajah Adrian berubah murung. Jangan salahkan Adrian, salahkan mulutnya yang kurang ajar itu.
******
Denaya memasuki ruangannya dan beberapa dokter lain dengan senyum sumringah. Di tangannya ada tiga kotak donuts.
"Hari ini aku berulang tahun. Dan lihat, bawa apa aku sekarang?" serunya setelah menutup pintu dan menatap satu persatu empat orang yang ada di ruangan itu.
Mereka terlihat tertarik, berbeda dengan Jhico yang sibuk dengan bekal sarapannya sendiri. Kenapa Ia tidak bisa menoleh ke arah lain? karena tadi pagi, Ia berhasil membujuk sekaligus memaksa Vanilla agar membuatkan sarapan untuknya. Dan---Ia bahagia sekarang karena setelah hampir satu bulan akhirnya Ia bisa mencicipi masakan Vanilla yang sangat jauh dari kata nikmat. Selain dibuat karena terpaksa, Vanilla juga tidak bisa masak pastinya. Namun Jhico tidak mempermasalahkan itu.
"Ya, aku sudah mengucapkan happy birthday untukmu semalam,"
"Aku juga, Denaya."
"Jangan lupakan aku, Nay."
Denaya mengangguk cepat. Ia segera meletakkan ketiga kotak tersebut di meja yang ada di tengah-tengah ruangan.
"Ya, kalian bertiga mengingatnya. Hanya Jhico yang lupa,"
Berpura-pura tuli adalah kebiasaan Jhico sejak bekerja bersama Denaya. Karena Ia bingung harus menanggapinya seperti apa.
"Oh kau belum memberi ucapan? jahat sekali kau? teman sendiri berulang tahun, tapi tidak ingat," Fenelly menyentuh lengan Jhico yang masih fokus menatap tempat makannya.
Denaya menunjuk meja dimana donuts bawaannya diletakkan.
"Silahkan dinikmati. Maaf aku hanya bisa membawa itu. Tapi rencananya, aku akan mengajak kalian semua dinner nanti malam. Bagaimana?"
------
Kalian, Berarti Jhico diajak gk? trs doi mau gk raki-raki? baca: kira-kira.
ABSEN LAGIIII, SEDANG APA KALIAN SEKARANG? BACA+NYANTAI SAMBIL DENGERIN MUSIK, BACA+REBAHAN, BACA+NONTON, ATAU BACA+NGOBROL?
Lah emg bisa baca ples nonton sm ngobrol?🤣🤣 ada yg bgtu gk kira-kira? wkwk. Aku baca novel sambil denger musik aja gk konsen, apalagi nonton/ngobrol😂😂
Barangkali kebiasaan kita beda. CUSSS RAMEIN KOLOM KOMEN SEKARANG!!!
__ADS_1