
Devan melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah hampir memasuki waktu pulang sekolah anak-anaknya.
Maka Ia memanggil sekretarisnya untuk masuk ke dalam ruangan. "Aku akan keluar sebentar. Sekitar tiga puluh menit. Tolong handel semuanya selama aku pergi,"
"Baik, Tuan,"
Tak ada pertemuan dengan rekannya, pekerjaannya untuk sementar waktu juga sudah rampung. Maka Devan memutuskan untuk menjemput anaknya seorang diri. Setelah itu, ia berencana akan datang ke sekolah Grizelle dan membawa anak itu ke rumahnya.
"Hallo, Co. Apa aku mengganggu waktumu?"
"Tidak, Devan. Ada apa?"
"Auris sudah meminta izin padamu dan Vanilla ingin mengajak Griz menginap di rumah,"
"Iya, Devan. Sehabis pulang sekolah, Griz langsung ke sana,"
"Okay, aku yang akan menjemputnya,"
"Aku saja. Setelah aku menjemputnya, akan langsung aku antar ke rumahmu. Vanilla memintaku untuk membawa pakaiannya juga,"
"Oh begitu. Ya sudah, aku tunggu kedatangan kalian ya,"
"Iya, Dev,"
Mendapat jawaban seperti itu dari suami adiknya, maka tujuan Devan sekarang hanyalah tempat menuntut ilmu ketiga anaknya. Sebab Grizelle akan dijemput ayahnya dan akan langsung ke rumahnya.
*****
"Pupu jadi menjemput aku terrlnyata (ternyata),"
"Jadi, Sayang. Ayo, kita pulang,"
"Pulang? tapi aku mau ke rrlumah (rumah) Triple A,"
"Iya, itu maksud Pupu. Kita ke rumah triple A sekarang,"
Jhico membuka pintu mobilnya agar Grizelle masuk. Setelah itu mereka segera bergegas ke rumah ketiga sepupu Grizelle.
"Bajuku bagaimana, Pu?"
"Sudah disiapkan Mumu," jawab Jhico seraya menoleh singkat ke kursi tengah.
Ada satu ransel milik Grizelle yang diletakkan di sana. Berisi baju Grizelle. Tidak banyak karena semalam Auristella tak mengatakan pasti kapan Grizelle akan diajak menginap di rumahnya.
Sekali Ia mengatakan hanya satu malam tak apa. Tapi sekian menit kemudian berubah. Begitupun tadi pagi katanya mau mengajak Grizelle untuk tinggal saja di rumahnya.
Maka Vanilla membebaskan anaknya saja ingin pulang kapan. Lagipula Vanilla juga yakin Grizelle tak akan lama di sana. Anak itu pasti akan merindukannya. Mungkin hanya tiga hari paling lama Grizelle kuat berjarak dengannya dan Jhico.
"Griz mau sampai kapan di sana?"
__ADS_1
"Entah, tapi diajak menginap selamanya, Pu,"
Jhico terkekeh dan Ia menggeleng. "Jangan lah. Memang tidak akan rindu dengan Pupu dan Mumu?"
"Pasti rrlindu (rindu),"
"Iya, maka jangan terlalu lama ya,"
Jhico senang-senang saja anaknya mau menginap di rumah saudaranya sekalian mempererat hubungan mereka namun karena mungkin Ia jarang sekali pisah dengan anaknya, maka ada sedikit rasa tidak rela Grizelle meninggalkannya sementara waktu.
"Ya mungkin satu minggu, Pu,"
"Itu lama. Nanti kalau Pupu sakit karena terlalu lama ditinggal oleh Griz bagaimana?"
Grizelle tersenyum mengusap singkat lengan ayahnya yang sedang memyetir.
"Tidak, Pu. Itu terrllau (terlalu) lama,"
"Iya, jangan lama-lama ya. Nanti di sana Aunty Lovi dan Uncle Devan juga bisa bosan melihat Griz,"
*****
"Ihhh driver kemana sih? lama sekali. Jangan-jangan Icelle sudah sampai di rumah,"
Auristella mulai resah. Belum ada yang menjemputnya, lalu kakak-kakaknya juga belum pulang.
"Tapi aku bisa pulang lebih dulu nanti kalau seandainya Ean dan Ian belum juga pulang sampai aku dijemput,"
Sampai akhirnya tak lama Ia menggerutu, datang seorang petugas sekolah yang memanggilnya dan memberi tahu bahwa ayahnya sudah menjemput. Akhirnya, Ia bisa keluar dari ruang tunggu.
Ia segera berjalan cepat menghampiri ayahnya yang terlihat melepas kacamata hitamnya dan menunggu di dekat kendaraan roda empat berwarna hitam miliknya.
"Daddy, kenapa lama?"
Bahkan dari jarak beberapa meter saja suara Auristella sudah dapat Devan dengar.
Begitu tiba di depan ayahnya, Auristella memeluk Devan kemudian mendongak menatap Devan.
"Kenapa lama? dan kenapa Daddy yang jemput? Daddy tidak sibuk?"
Devan menggeleng tersenyum. Ia berjalan menuju pintu salah sisi mobil dan membukanya untuk Auristella. Anak itu masuk, Ia memutari mobil dan masuk juga ke tempat pengemudi.
"Maaf ya, Daddy sedikit lama menjemput kamu. Oh iya kedua kakamu belum pulang?"
"Belum,"
"Ya sudah, mereka biar dijemput oleh driver saja nanti. Griz sudah menunggu kamu di rumah,"
"Hah benar dugaanku. Ya sudah, ayo kita pulang, Dad,"
__ADS_1
"Okay, princess,"
Devan tersenyum mengacak lembut rambut putrinya yang hari ini dibiarkan tergerai bebas dan menggunakan accecories berupa bunga matahari yang digunakan untuk menjepit sedikit helai rambut di dekat telinganya.
"Tapi kasihan juga dua anak Daddy itu ya,"
"Biar saja lah, Dad. Mereka bisa pulang dengan driver. Aku sudah tidak sabar untuk bermain dengan Griz,"
Akhirnya Devan benar-benar melajukan mobilnya meninggalkan sekolah bersama anak perempuannya yang sudah ada di dekatnya sementara dua anak laki-lakinya masih belajar.
*****
Grizelle sudah tiba di rumah Auristella, Andrean,dan Adrian sekitar sepuluh menit yang lalu. Ia dan ayahnya langsung disajikan makanan dan minuman dan disambut hangat oleh Lovi.
"Di sini lama 'kan?"
"Memang boleh, Aunty?"
"Ya ampun, Sayang. Mau tinggal di sini juga tidak apa. Asal Icelle tidak rindu saja dengan Mumu," ujar Lovi dengan sedikit menggoda keponakannya itu.
"Kuat menahan rindu dengan Pupu dan Mumu kalau tinggal di sini?"
Grizelle terlihat menggeleng jujur sontak saja Jhico dan Lovi tertawa.
"Tapi jangan sebentar menginap di sini. Seminggu paling cepat. Tapi disarankan lebih dari seminggu, ya?"
"Itu terrlalu (terlalu) lama, Aunty. Kata Pupu tadi, Aunty dan Uncle bisa bosan bila aku menginap di sini lama-lama,"
Lovi mengangkat alisnya tak yakin dengan ucapan anak itu. Namun Jhico membenarkan bahwa Ia bicara pada Grizelle di mobil tadi.
"Tidak ada kata bosan kalau melihat Icelle,"
"Itu hanya alasan Pupu saja agar Icelle, tidak lama di sini,"
Devan memasuki rumah seraya bersuara seperti itu. Di sampingnya ada Auristella yang berjalan cepat ke arah Grizelle.
"Iya, Co? alasanmu saja itu supaya anakmu tidak lama di sini,"
Jhico tak bisa menahan tawanya begitu Devan menepuk bahunya yang ketahuan sedang mempengaruhi pikiran Grizelle.
"Takut menyulitkan kalian,"
Biar bagaimana pun Ia dan Vanilla tidak ingin Grizelle membuat Devan maupun Lovi menjadi sulit ketika membiarkan Grizelle berada di rumah mereka.
"Sulit kenapa? anakmu sangat baik. Dia tidak pernah berbuat aneh. Masih aneh juga Adrian,"
Lovi terkekeh menyambut penuturan suaminya. Adrian selau diingat sebagai pembuat masalah sekalipun sosoknya tak ada di sini.
"Malah senang sekali kalau Grizelle di sini. Terasa punya anak perempuan dua. Bagaimana kira-kira gambrannya ya?" Devan menatap Lovi dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
"Ah, aku tidak mau punya adik. Adikku hanya Icelle dan adiknya Icelle nanti,"