
Vanilla dan Jhico sudah berada di bandara dan bertepatan dengan selesainya Jane mengurusi barang-barangnya.
"Jadi benar Uncle Ri nya Grizelle tidak ikut?"
Vanilla kira sepupunya ini tidak serius pergi tanpa suaminya yang tetap menawarkan diri untuk menemani perjalanan Jane tapi Jane bersikeras ingin pergi sendiri, menurut penuturan Jane tadi seperti itu pada Vanilla.
"Ya, aku tidak mau berbohong padamu," Kata Jane.
Mereka berpelukan terlebih dahulu. Sekian lama tidak bertemu. Bila bertemu pun sangatlah singkat. Jane juga menyapa janin dalam perut Vanilla.
"Hello, Baby G perkenalkan aku ini salah satu auntymu,"
Kening Jhico mengerinyit, "Baby G?" gumanya bingung. Entah siapa yang dimaksud sepupu istrinya itu.
"Baby G. Kalian pasti akan menamainya dengan hruf depan G juga 'kan? supaya sama dengan kakaknya," katanya seraya terkekeh geli. Ia hanya menebak asal saja tadi. Tapi ternyata diangguki Vanilla yang memang sudah memikirkan hal itu hanya saja belum dirundingkan dengan suaminya.
"Kita beri nama dengan huruf depan G juga ya, Jhi?" Kini ia meminta pednapat suaminya.
Jhico nengangguk tersenyum. Tidak masalah Ia memenuhi permintaan istrinya. Pikirnya juga menarik kalau kedua anak perempuannya memiliki nama yang diawali dengan huruf depan G.
"Ya sudah, ayo bawa aku pergi dari sini,"
Jhico membuka bagasi mobilnya dan membantu Jane untuk memasukkan kopernya ke dalam sana.
"Tidak ada buah tangan untuk anakku, Jane?" tanya Vanilla dengan niat bercanda.
"Ada,tenang saja,"
Vanilla terkejut mengetahui itu. Ia tahu kalu kondisi sepupunya sedang tidak biak-baik saja. Tapi ternyata masih bisa memikirkan perihal buah tangan untuk keponakannya.
"Untuk triple A juga,"
"Menginap di rumahku 'kan?"
"Aku tidak enak hati. Di hotel saja lah,"
"Apa-apaan kamu?! kenapa harus tidak enak hati? kita ini saudara, masih ada perasaan begitu?"
Jane terkekeh mendengar celotehan sepupunya yang sudah lama singgah ke telinganya.
Ia menatap suasana di perjalanan dengan seksama. Sudah lama sekali ia tidak bertemu suasana seperti ini. Ah, Ia rindu sekali dengan negara kelahirannya ini.
"Harus tinggal di rumahku,"
"Ya, sambil aku mencari rumah,"
Vanilla menoleh ke kursi tengah dimana Jane duduk. Sementara Vanilla sendiri berada di samping kemudi suaminya.
"Kamu serius ingin pindah ke sini, Jane?"
Jane tampak mengangguk yakin. Tidak ada keraguan lagi. Kalaupun memang suaminya ingin menyusul atau mengunjungi di sini, Ia mempersilahkan, asalkan Jane tidak dipaksa untuk kembali ke sana. Jane sudah mengatakan itu pada Richard.
Dan Richard berharap seiring berjalannya waktu Jane bisa berubah pikiran sebab Ia membutuhkan kehadiran Jane di sampingnya selama pekerjaannya belum benar-benar selesai.
"Sudah dibicarakan dengan Richard?"
__ADS_1
Lagi, Jane mengangguk. Sebelum keberangkatannya,mereka sempat bicara berdua, hanya empat mata. Walaupun masih dengan situasi perang dingin, tapi Jane tidak ingin pergi tanpa mengatakan apapun pada suaminya. Bahkan Richard ingin menemaninya ke sini, tapi Jane mengatakan untuk saat ini Ia benar-benar ingin sendiri.
"Aku hanya bisa berharap yang terbaik saja untukmu, Jane,"
Jane tersenyum lembut. Ia menerima uluran tangan Vanilla. "Terimakasih ya,"
Jhico tak mengatakan apapun sebab ini memang ranahnya Vanilla sebagai sepupu terdekat Jane untuk memberikan pendapat dan dukungan untuk Jane.
"Co, kamu diam saja,"
Jhico terkkeh pelan. Ia menatap ke samping saat istrinya yang menjawab pertanyaan Jane "Dia bingung mau bicara apa. Ya, Jhi?"
Jhico mengangguk membenarkan. Vanilla sudah tepat sekali menjawab pertanyaan Jane.
"Kamu tidak keberatan kalau aku menginap sementara di rumahmu, Co?" tanya Jane pada suami sepupunya itu yang langsung menggeleng.
"Tidak sama sekali, Jane,"
"Jhico tidak mungkin keberatan. Kamu jangan khawatir. Justru senang kalau di rumah ramai. Icelle jadi punya teman baru juga,"
"Ah aku benar-benar merindukan anak itu. Terakhir bertemu dengannya masih kecil. Sekarang sudah sebesar apa dia?"
"Sekarang masih kecil juga, Jane,"
Vanilla tertawa mendengar penuturan Jane. Memang Jane berpikir sekarang anaknya sudah besar? baru beberapa waktu lalu berusia lima tahun.
"Maksudku, dia bicara saja belum terlalu bisa,"
"Sekarang masih sulit bicara kata-kata yang ada huruf R nya,"
"Oh ya? aduh, pasti menggemaskan sekali,"
"Ah tidak masalah itu. Nanti pasti juga bisa. Perkembangan setiap anak berbeda,"
"Iya,itu yang aku katakan padanya,"
Sekian menit kemudian mereka tiba di kediaman keluarga kecil Jhico. Mereka keluar dari mobil dan Jhico mengambil alih koper Jane. Saat masuk ke dalam rumah bertemu Bibi, Ia meminta pada Bibi agar meletakkan koper Jane ke kamar yang selalu sudah siap untuk tamu yang memang ingin menginap di rumah mereka.
"Griz dimana? di kamarnya?"
"Masih di kamar Mumu dan Pupunya. Dia tertidur setelah kalian berangkat," kata Bibi pada mereka.
Jane langsung mendengkus. "Kenapa harus tidur sekarang sih. Padahal Aku ingin bertemu dengannya,"
"Nanti dia bangun pasti akan langsung menanyakan keberadaanmu. Sekarang kamu istirahat saja dulu,"
"Terimakasih ya, Van, Co,"
Keduanya mengangguk tersenyum. "Sama-sama, Jane,"
"Silahkan beristirahat,"
*****
Usai menunggangi kudanya sendiri, Auristella mengamati ayahnya yang sedang berlatih kuda.
__ADS_1
Takut anaknya bosan menunggu, Deban tidak begitu lama berlatih walaupun ia ingin sekali lebih lama berlatih.
Auristella memberikan air minum ayahnya yang langsung diteguk Devan. "Sudah, Dad?"
Devan melepas pelindung kepalanya dan kembali minum.
"Sudah, pulang sekarang?"
"Hmm ya, tapi aku masih lelah,"
Auristella mengulurkan tangannya,minta digendong oleh ayahnya.
"Oh manja?"
Auristella mengangguk pelan dengan kekehannya. Devan segera meraih Auristella dalam gendongan.
Tapi Auristella merengek ingin dibawa kebelakang, bukan di depan.
Devan kembali menuruti. Ia tak lagi menggendong anaknya di depan melainkan di belakang. Auristella langsung berseru senang.
"Kamu seperti tidak pernah digendong Daddy saja,"
"Tapi kalau di belakang jarang sekali, Dad,"
"Kita langsung pulang ya?"
"Ya, aku lelah. Ingin istirahat dan Daddy juga harus istirahat. Memyelesaikan pekerjaan nanti saja, Dad,"
"Iya, Tuan putri,"
******
Rena membolak baik lembar majalah mengenai trend fashion masa kini. Ia yang tidak ada kegiatan memilih untuk berkutat dengan majalah.
Sementara suaminya yang meskipun libur, tengah sibuk dengan laptop dan segala grafik yang tidak Rena pahami.
"Untuk makan malam sudah siap?"
"Sudah, kenapa, Pa?"
"Tidak apa. Sebentar lagi sudah masuk waktu makan malam,"
Drrt
Drrt
Drrt
"Ponselmu, Sayang,"
Raihan melirik ponsel istrinya yang begetar dan layarnya menyala. Rena terlalu serius dengan kegiatannya sampai tidak menyadari hal itu.
Rena segera meraih ponselnya. Dan ia bergumam membaca orang yang menghununginya saat ini.
"Jane,"
__ADS_1
"Dijawab,"
Rena mengangguk, tentu saja Ia akan menjawabnya. Ia senang Rena menghubungi dirinya saat ini.