Nillaku

Nillaku
Nillaku 53


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju apartemen, mata Vanilla tidak lagi terbuka barang sedikit. Selalu terpejam, tetapi sesekali mulutnya masih meracau.


"Jhico sialan!"


"Kamu jahat, Jhico!"


Jhico menoleh sesaat, keningnya mengerinyit tidak mengerti. Sebenarnya Vanilla sedang memendam emosi padanya karena latar belakang apa? Kenapa tidak dibicarakan baik-baik? Saat Ia pulang dari klinik tadi, semua terlihat normal saja. Jhico tidak menyangka kalau istrinya tidak benar-benar kembali ke apartemen. Ia malah melampiaskan emosi dalam dirinya di tempat itu. Beruntungnya Vanilla berteman dengan Joana yang mau menjadi pendengar keluh kesah Vanilla bahkan sampai mengikuti kemanapun Vanilla pergi.


Saat sudah sampai di basement apartemen, Jhico segera membawa Vanilla dalam gendongannya. Vanilla sempat melenguh kemudian tenang kembali.


Jhico menutup pintu apartemen dengan sedikit kesulitan. Ia menggunakan satu kakinya karena kedua tangan Jhico sibuk menjaga tubuh Vanilla.


Jhico meletakkan tubuh Vanilla di atas ranjang. Kemudian Ia akan menggantikan pakaian Vanilla dengan yang bersih. Aroma minuman itu begitu menyengat, dan Jhico benci ketika harus menghidunya.


Vanilla mengenakan kemeja. Sehingga mudah bagi Jhico untuk melepaskannya dari tubuh Vanilla. Saat akan melepas satu kancing teratas, tangan Vanilla tiba-tiba saja menahan jemari Jhico.


"Aku benci kamu!"


Jhico menahan napasnya sebentar. Lalu Ia mengangguk pelan seolah mereka tengah terlibat percakapan.


"Iya, aku juga mencinta kamu," Jhico tahu bahwa kalimatnya tidak nyambung sama sekali. Ungkapan benci dibalas dengan cinta. Tapi memang itulah yang dirasakan Jhico. Ia tidak ingin menanggapi Vanilla yang sedang tidak sadar ini. Vanilla tidak membencinya, hanya sedang memendam sesuatu.


"Aku mau belajar menjadi istri yang sesungguhnya, tapi kamu malah mengkhianati aku,"


Jhico tidak lagi berada di atas tubuh Vanilla. Kancing kemeja Vanilla sudah sepenuhnya terbuka. Jhico melepasnya dengan cepat setelah tangan Vanilla tidak menahan lagi.


Ia mengusap kasar wajahnya. Lalu bertolak pinggang, mengalihkan pandangan dari tubuh Vanilla yang terbaring menantang sisi lain dari dalam dirinya.

__ADS_1


"Mengkhianati bagaimana maksudnya? aku tidak pernah sejahat itu, Nillaku."


Jhico berjalan menuju almari untuk mengambil pakaian tidur istrinya. Lalu mendekati Vanilla lagi. Ia melepaskan kemeja dengan gerakan lembut. Lalu mulai menyelimuti tubuh Vanilla dengan pakaian yang bersih.


"Aku mulai membuka hati tapi kamu malah menjauh. Aku tidak tahu harus apa, Jhico."


"Astaga, aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapanmu. Kenapa kamu harus mabuk seperti ini? seharusnya kita bicarakan baik-baik,"


Saat Jhico serius dengan kegiatannya, tiba-tiba saja Vanilla bangkit. Itu membuat Jhico terkejut. Tak sampai di situ, Vanilla kembali membuat Jhico terperangah dengan ciumannya yang tidak disangka oleh Jhico.


"Aku mohon jangan seperti ini. Aku akan menyakitimu kalau sampai melakukan sesuatu. Jangan buat aku gila, Nilla." sedari tadi Jhico hanya bicara dengan dinginnya malam.


"Kamu jahat padaku karena aku bukan istri yang kamu harapkan?"


"Apa yang kamu mau? Jhico, cepat beri tahu aku,"


Vanilla agresif sekali saat ini. Tubuh bagian atasnya membuat Jhico hampir kehilangan kendali diri.


"Vanilla, aku tidak suka dengan kamu yang seperti ini!" Jhico memaksa pajamas itu untuk membalut tubuh Vanilla lagi. Tetapi Vanilla menghempas tangannya.


"VANILLA!"


"Lakukan sekarang!"


Rahang Jhico mengeras. Ia adalah lelaki dewasa yang paham akan maksud ucapan Vanilla.


Gadis itu ingin melakukannya sekarang? memang dipikirnya Jhico mau? Ia bukan pria brengsek yang menggunakan kesempatan dalam situasi seperti ini.

__ADS_1


Napas Jhico sudah tidak beraturan lagi. Ia merangkum wajah Vanilla lalu mendesis di depan wajah Istrinya.


"Aku tidak akan melakukannya. Kamu dengar itu?!"


"Jhico---"


Jhico segera meraup bibir Vanilla yang akan meracau gila lagi. Sedari tadi Jhico memohon pada Tuhan agar Ia tetap kokoh pada prinsipnya.


Mereka harus melakukannya dalam keadaan sama-sama siap. Agar tidak ada yang menyesal di kemudian hari.


"Tidak boleh ada yang menyakitimu. Termasuk aku,"


Jhico mengurung tubuh istrinya yang berontak. Ia masih bersikeras untuk menuruti hasratnya yang datang karena emosi dan kondisi nya yang mabuk.


"Sekarang pakai lagi. Kamus akan kedinginan, Sayang."


Jhico tidak sadar ketika mengeluarkan panggilan itu. Ia terlalu menyayangi Vanilla sampai tidak mau 'merusak' Vanilla walaupun sebenarnya kata 'memiliki' lebih pantas didengar karena mereka sudah menjadi sepasang suami istri.


Tapi belum saatnya Jhico 'memiliki' Vanilla secara keseluruhan. Mereka perlu berpikir lebih matang. Ini adalah hasrat yang sudah jelas datangnya dari mana. Bukan dari Vanilla sendiri. Ada sesuatu yang melatar belakangi.


Selesai mengurus Vanilla, Jhico segera membersihkan tubuhnya. Hanya sebentar, karena Ia khawatir meninggalkan Vanilla sendiri diantas ranjang.


"Jhico... Jhico aku rasa aku sudah mencintai kamu,"


Jhico mendengar walaupun hanya samar. Usai mematikan lampu kamar, Ia menyalakan lampu tidur agar mereka bisa segera beristirahat.


Jhico tidak ambil pusing dengan kalimat istrinya. Orang mabuk akan berkata tanpa berpikir. Jhico tidak ingin seperti sebelumnya. Terlalu percaya diri sampai akhirnya merasa sakit sendirian.

__ADS_1


"Pengakuan aku dari hati. Kalau kamu? apa bisa aku percaya? kamu mengatakannya disaat seperti ini,"


__ADS_2