Nillaku

Nillaku
Nillaku 414 Tiada maaf untuk adik yang jahat pada kakaknya


__ADS_3

"Tidak! aku sedang kabur,"


Alis Devan bertaut beberapa saat. Melihat Jane yang sepertinya memang benar-benar menjawab jujur, maka Devan bisa menarik kesimpulan bahwa tengah da msala yang terjadi antara Jane dan suaminya yang pada akhirnya menyebabkan bahwa Richard tidak ada di sini. Buktinya Ia tidak bisa menemukan keberadaan Richard.


"Jangan menyelesaikan masalah dengan menggunakan emosi,"


Itu saja pesan Devan sebelum beranjak ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya, Lovi,"


Lovi mengangguk pelan. Jane juga izin pergi pada ketiga anak Lovi dan Devan.


"Hati-hati ya, Aunty. Nanti datang ke sini lagi kalau sudah menginap di rumah Grandpa. Okay?"


Jane tertawa mengusap rambut Auristella yang masih saja kelihatan berharap Ia menginap di rumahnya.


"Aunty seperti mainan saja ya. Diributkan oleh Icelle dan kalian,"


"Biar adil, Aunty. Menginap di rumah Icelle sudah. Saatnya menginap di rumah kami," lugas Adruan yang diangguki cepat oleh Auristella. "Ya, benar, Aunty. Jangan lupa ya menginap di sini,"


"Iya, sayangku,"


Jane pergi dari kediaman sepupunya usai berbincang sebentar dengan penghuninya.


"Ayo, saatnya Ean istirahat. Minum obat sudah,"


"Aku juga mau ikut,"


Auristella mengekori Mommy dan Kakak pertamanya ke kamar. Ia masuk ke dalam kamar Andrean.


"Auris istirahat di kamar Auris,"


"Tidak mau, aku ingin di sini saja,"


Lovi dan Andrean membiarkan anak perempuan itu memjelajahi kamar dengan desain simple milik Andrean.


Auristella duduk di meja blajar Andreandan melihat-lihat barang di sana. Seperti buku atau alat tulis.


"Jangan dirusak, Auris,"


"Ya ampun, Mom. Aku tidak mungkin melakukan itu. Untuk apa juga?"


Lovi terkekeh tidak serius. Ia hanya sedang menggoda Auristella yang kini terlihat mrmbaca sebuah buku.


"Banyak sekali buku ceritamu, Ean,"


Auristella mengembalikannya di tempat semula. Kemudian Ia memeriksa alat tulis Andrean.


"Ean, bolpoin kamu sering diambil Ian?"


Andrean yang sedang diam menatap ke lngit-langit kamr menoleh pada Auristell yang bertanya padanya.

__ADS_1


"Ya, kenapa?"


"Padahal dia punya banyak ya. Tapi kerjaannya mengambil punya aku terus, dan ternyata punyamu juga. Mungkin tidak mau punya nya berkurang jadi pakai punya orang,"


Lovi menggeleng pelan mendengar gerutuan anak perempuan yang membicarakan Adrian bahkan disaat wujudnya tidak ada.


"Kamu tidak mau ke playgriund? tadi pulang sekolah Adrian mengajakmu 'kan?"


Auristella menjentikka jarinya. Beruntung Mommynya memberikan ide. Kebetulan juga Daddynya sudah pulang diwaktu yang belum masuk malam. Ia ingin minta diantar bisa sekaligus jalan-jalan.


"Aku ajak Dad---"


Cklek


"Ean, bagaimana keadaanmu? sudh minum obat 'kan?"


Devan baru selesai melakukan ritual mandinya. Setelah itu langsung ingin melihat kabar anak sulungnya yang tadi pagi Ia tinggal dalam keadaan kurang sehat.


Devan menyentuh dahi dan leher Andrean. "Hah, syukurlah sudah lumayan. Tetap jangan kelelahah dulu ya, Sayang?"


Andrean mengangguk patuh. Ia juga seharian ini tidak merasakan lelah sama sekali justru jenuh di kamar terus Tapi ingin bagaimana lgi? nanti kedua orangtuanya bisa marah kalu Ia membantah.


"Dad, temani aku ke playground. Mau tidak?"


"Sekarang?"


"Iya, Dad. Tidak mungkin musim semi di tahun yang akan datang 'kan?"


Devan mengangguk tidak keneratan. Auristella langsung bersorak senang. Ia akan bermain ditemani sang ayah.


Seketika Auristella ingat dengan kakaknya yang tengah sskit. Padahal inginnya semua kakaknya ikut.


"Aku di rumah saja,"


Bunyi penolakan Andrean membuat Devan dan Lovi tenang. Ternyata tanpa mereka larang, Andrean memang sudah tahu ingin mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya.


"Tidak apa, Ean?"


Auristella benar-benar memastikan apakah kakaknya tidak kecewa sebab tidak pergi ke playground.


"Atau tunggu Ean sembuh dulu?" Auristella memberi pilihan lai yang digelengi pelan oleh Andrean.


"Tidak usah. Aku bisa di sini hanya dengan Mommy,"


Lovi tersenyum mengusap rambut anak lelakinya yang benar-benar tidak ingin egois.


"Ya sudah, kami pergi dulu ya,"


Lovi dan Andrean mengangguk membiarkan Devan menggenggam tangan Auristellla lalu mereka keluar dari kamar Andrean. Auristella menyempatkan waktu untuk berganti baju terlebih dahulu.


Kemudian mereka menghampiri Adrian yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ke playground, mau tidak?"


Adrian terlalu serius menyaksikan siaran yang ditampilkan oleh layar datar yang berada tepat di hadapannya sampai tidak menyadari keberadaan Ayah dan adikya bahkan meghiraukan pertanyaan Auristella juga.


"Ian! telinga masih berfungsi?" sudah mulai kesal Auristella berseru di dekat telinga Adrian. Devan segera membungkam mulut anaknya dengan tangan. Suara Auristella tidak kira-kira.


Tentunya Adrian kesal sekali dengan perilaku adik tunggalnya itu. Bisa-bisanya berteriak di depan telinga.


"Kalau telingaku lepas, kamu tanggung jawab ya!"


Adrian menarik daun telinga adiknya dengan gemas. Auristella memekik kesakitan dan Ia katakan berlebihan. Ia menariknya tidak menggunakan tenaga. Hanya mengandalkan rasa kesalnya saja.


"Tidak bisa lepas! Memang kamu pikir telinga itu sepatu yang bisa lepas kapan saja?!"


"Khusus telingaku Tuhan ciptakan dengan canggih. Ada fiturnya untuk itu,"


Devan tidak kuat bila tidak terbahak mendengar cibiran Adrian yng masih mengusap area telinganya.


Auristella langsung memeluk kakaknya sebagai permintaan maaf tanpa diminta terlebih dulu.


"Maaf ya,"


"Tiada maaf bagi adik yang jahat pada kakaknya," cetus Adrian dengan kejam. Auristella menggeram kesal. Kalau saja yang didekatnya ini bukan kakak, sudah Ia buang ke pinggir jalan.


"Ayo, kita pergi. Jangan berdebat lagi,"


"Pergi kemana, Dad?"


"Makanya telinga canggih itu digunakan dengan baik. Jangan disia-siakan,


Auristella menyindir kakanya yang tadi dengan terang-tetangan mengaku memiliki telinga yang canggih khusus dibuat Tuhan untuknya.


"Mau ke sana, Dad,"


"Ya sudah, ayo. Tunggu apalagi? kita tidak berangkat dari tadi karena kalian berdua adu mulut tidak kunjung berhenti,"


Adrian segera berdiri. Ia memperhatikan penampilannya sendiri dari atas hingga bawah.


"Sudah tampan. Ayo kita pergi," katanya setelah percaya diri dengan baju rumah yang Ia kenakan. Adik dan ayahnya juga seperti itu.


Pikirnya hanya datang ke tempat permainan maka tidak perlu mengenakan yang terlalu berlebihan. Yang penting nyaman untuk dipakai bermain.


Devan membawa dua orang perempuan pengasuh Auristella dan Adrian yang akan menemani mereka selama bermain nanti. Ia khawatir tidak bisa setiap saat memperhatikan keduanya yag sangat aktif itu bermain kesana kemari sesuka hati mereka.


"Aneh ya pergi tanpa Ean,"


Di mobil hanya Ia dan Adrian tanpa Andrean maka Auristella merasa ada yang kurang.


"Waktu kamu pergi hanya berdua dengan Daddy teras juga anehnya?"


"Iya, karena biasanya aku kemanapun selalu dengan kalian berdua,"

__ADS_1


"Oh kamu ternyata merasa kesepian juga kalau tidak ada aku ya,


"Aduh tidak usah terlalu percaya diri. Sebenarnya lebih tenang kalau tidak ada kamu. Tidak ada yang mengganggu aku,"


__ADS_2