Nillaku

Nillaku
Nillaku 230 Biar sakit harus tetap cantik


__ADS_3

"Mumu, tidak pakai apapun selama di sini ya. Pelembab bibir saja tidak,"


Vanilla terkekeh mendengar penuturan anaknya. Mana sempat Ia make up dikala anaknya sakit.


"Itu bibir Mumu juga pecah-pecah, sama sepelti (seperti) aku. Dimana pelembab nya? aku mau pakai juga,"


Masih dengan suara seraknya, Grizelle menengadahkan tangannya ke arah Vanilla. Meminta pelembab bibir yang biasa Vanilla pakai.


"Wah Mumu sudah harus waspada ini,"


"Waspada kenapa?"


"Kamu sudah mulai mau pakai make up,"


"Memang aku suka dali (dari) dulu. Aku 'kan suka make up karena melihat Aulis (Auristella),"


"Aku lindu (rindu) dengan Aulis. Kapan sih Aulis (Auris) pulang, Mu?"


Sejak Vanilla mengalami keguguran, keluarga kecil Devan memang untuk sementara waktu tinggal di Jerman karena Devan memiliki pekerjaan yang memakan waktu lumayan lama. Terpaksa Devan membawa serta Istri serta ketiga anaknya.


Perpisahan yang dramatis pun tak bisa dielakkan antara Grizelle dengan ketiga sepupunya itu. Grizelle sulit melepas kepergian mereka. Terutama saudara perempuannya yang kerap menjadi teman bermain, lawan adu mulutnya, sekaligus kakak yang terkadang menyebalkan untuknya.


Flashback On


"Nanti mau dibawakan apa, Icelle? Cokelat?"


"Iya-iya, aku mau. Yang banyak ya, Ian," seru Grizelle dengan antusias. Adrian tahu adiknya suka cokelat, ice cream, dan sejenisnya, sama seperti dirinya yang menjadi penggemar berat dari semua itu.


"Siap, pasti aku bawakan yang banyak nanti. Sudah, jangan sedih,"


Adrian memeluk Grizelle dengan hangat dan menepuk-nepuk pelan rambut Grizelle.


"Aku takut tidak bisa beltemu (bertemu) kalian lagi,"


Auristella mengetuk kening Grizelle geram. "Memangnya kami ingin pergi kemana sampai kamu berpikir kita tidak bertemu lagi nanti?"


Grizelle memeluk Auristella yang tengah menggerutu. "Nanti jangan lupa bawakan aku kuteks yang banyak, make up yang banyak, kamu halus (harus) bawa semua kesukaanku yang banyak!"


Grizelle mengenal barang-barang itu dari Auristella. Setiap mereka bertemu, pengetahuan Grizelle tentang alat-alat kecantikan bertambah. Selama ini, Ia hanya menjadi pengamat saja ketika Mumunya memakai itu. Tapi berkat Auristella Ia menjadi sedikit tahu.


Auristella begitu mencintai dunia make up dan segala sesuatu yang identik dengan perempuan. Ia tak ingin sendirian. Tak memiliki saudara kandung perempuan tak dijadikannya penghalang. Karena Ia bisa mengajak Grizelle untu ikut menyukai apa yang Ia suka. Ternyata Grizelle pun menyambut baik. Mereka kerap memakai kuteks bersama. Bermain make up bersama walaupun memang Grizelle lah yang lebih sering dijadikan objek oleh Auristella untuk didandani.


"Iya, sudah jangan menangis, Cantik,"


Grizelle melepas pelukan mereka kemudian berkata, "Tumben kamu mau mengakui aku cantik? biasanya kamu selalu memuji dili sendili (diri sendiri),"


Sontak saja tawa Adrian pecah mendengar Grizelle menyindir Auristella.


"Ean, kamu tidak mau peluk aku?"


Andrean menatap Grizelle datar seperti biasa. Ia menjawab, "Kamu saja yang peluk aku,"


Grizelle mendengus dan tidak ketinggalan Ia pun mencibir, "Huh dasal (dasar) Ean gengsi." Tapi Ia beringsut memeluk kakak sepupu tertuanya itu.

__ADS_1


"Padahal cuma beda benua saja bukan beda dunia,"


Devan tak habis pikir melihat mereka bereempat yang begitu tidak inginnya berpisah unuk sementara waktu.


"Mereka sangat dekat seperti sekandung. Wajar saja begitu," ucap Lovi seraya tersenyum haru melihat Auristella yang kini memeluk Grizelle lagi.


"Iya, Devan berisik!" sungut Vanilla menatap kakaknya sengit. Wajar saja mereka sedih. Karena biasanya mereka tidak berpisah hingga berbulan-bulan lamanya.


"Ean tidak mau beltanya (bertanya) aku ingin dibawakan apa?"


Andrean menggeleng, nampak enggan menanggapi adik sepupunya yang kini menatap lirih padanya.


Melihat Andrean menggeleng, Grizelle mendengus. Kenapa Andrean bisa kaku seperti itu? tidak asik sekali kalau komunikasi dengan dia. Berbeda dengan Auristella dan Adrian. Walaupun mereka kerap bertengkar tapi disitulah letak keseruannya.


"Aku cuma mau, nanti Ean pulang bawa senyum yang lebih lebal (lebar) untuk aku ya?"


Andrean menatap Grizelle sedikit tajam yang langsung membuat Grizelle menciut. Ia terkekeh meringis, "Becanda, Ean. Jangan selem (seram) begitu wajahnya. Nanti tidak tampan lagi sepelti (seperti) pangelan (pangeran),"


Flashback Off


"Nanti Mumu di Dubai bertemu Aunty Lovi,"


"Mumu ke Dubai? kapan?"


"Ya kalau kondisimu membaik, Mumu pergi. Tapi kalau tidak, Mumu tetap di sini,"


"Ada apa di sana?"


"Ada acara fashion week, Sayang. Aunty Lovi 'kan designer. Dia diundang,"


"Auris, Adrian, dan Andrean tidak ikut. Aunty Lovi hanya pergi sendiri ke Dubai. Sementara mereka bertiga di Jerman,"


"Oh.." Grizelle menunduk kecewa. Ia kira ketiga sepupunya ikut Ibu mereka ke Dubai. Kalau mereka ikut, maka Ia pun tak ingin kalah.


"Mu, dimana pelembab bibil (bibir) nya? aku mau,"


Rupanya Grizelle belum lupa dengan keinginannya tadi.


Vanilla mengambil pouch berisi produk perawatannya kemudian diberikannya pada Grizelle.


"Lagi sakit sempat-sempatnya pakai itu,"


Vanilla tak bisa menahan tawa melihat anaknya yang memoles pelembab di bibirnya.


"Bial (biar) tidak pecah-pecah dan bedalah (berdarah) lagi, Mu,"


"Ya, okay. Baiklah,"


"Pupu dimana?"


"Pupu di sini,"


Jhico mengangkat tangannya seraya mengangkat pandangan dari layar ponselnya. Ia duduk di sofa, hanya menjadi pendengar Istri dan anaknya yang hanya tidur sebentar bahkan tidak sampai tiga puluh menit.

__ADS_1


"Kakek dan Glandpa datang jam belapa (berapa) sih?"


"Belum jam makan siang. Mereka masih bekerja,"


Grizelle mengangguk setelah diberi penjelasan oleh sang ibu. Ia akan menunggu dengan sabar.


"Nanti mau makan siang pakai apa?"


"Grizelle makan siang dengan menu dari dokter gizi. Kita saja yang cari menu makan siang,"


Jhico melarang anaknya makan selain dari makanan rumah sakit.


"Mu, aku mau masakan Mumu,"


"Sayang, kamu harus makan apa yang sudah diatur oleh dokter,"


Grizelle selalu bisa membuat orangtuanya geleng kepala. Minta dimasaki oleh Mumunya di rumah sakit sementara Ia sudah disiapkan makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.


*****


Karina dan Hawra memilih cafetaria rumah sakit untuk tempat berbincang. Karena tadi, Grizelle merengek ingin tidur ditemani Ayah dan ibunya maka mereka memutuskan untuk keluar.


"Kita cari makan siang, Ibu."


"Ayo, tapi sebelum itu, coba telepon suamimu. Ada dimana dia? jangan sampai dia melupakan janjinya pada Grizelle siang ini,"


Karina mengangguk dan segera meraih ponsel untuk menghubungi sang suami.


*****


Seorang wanita berpakaian formal memasuki ruangan Thanatan setelah lelaki itu memanggilnya dengan intercom.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Saya akan pergi sebentar. Beri saya waktu satu jam, setelah itu saya akan kembali ke kantor dan menyelesaikan semua agenda hari ini,"


"Maaf sebelumnya, Tuan. Lima belas menit lagi ada pertemuan dengan inve---"


"Saya tahu, kamu sudah mengatakannya tadi. Tapi saya minta diundur sebentar. Memang tidak bisa?"


"Akan saya coba, Tuan,"


Sekretarisnya keluar sebentar untuk melakukan perubahan terhadap jadwal pertemuan Thanatan dengan rekan kerjanya.


Thanatan menunggu harap cemas. Untuk kali ini, Ia tidak ingin mengecewakan Grizelle. Anak itu sedang sakit. Mungkin dengan memenuhi keinginannya, Grizelle bisa lebih cepat pulih.


Sekretarisnya masuk dengan wajah berbeda. Thanatan sudah tahu jawabannya.


"Tuan, tadi saya sudah meminta perubahan jadwal pada sekretaris Tuan Hainako tapi tidak mendapat ACC,"


"Saya akan bicara langsung padanya,"


"Baik, Tuan,"

__ADS_1


-----


Menurut kalian Kakek dtg ke rs ga nih? coba tebak, komen di bawah yaa👇


__ADS_2