
"Keluar lagi flek nya?"
"Tidak,"
"Istirahat!"
Tanpa sepengetahuan siapapun, hanya Vanilla dan Jhico yang tahu bahwa sudah sejak kemarin Vanilla mengeluarkan flek. Tepatnya setelah pulang dari dokter kandungan. Vanilla diajak untuk kembali lagi ke rumah sakit oleh Jhico namun Ia menolak.
Jhico berpikir mungkin istrinya terlalu lelah dan banyak hal yang dipikirkan. Oleh sebab itu saat neneknya sudah diperbolehkan pulang, Jhico senang karena istrinya akan lebih fokus dengan dirinya sendiri, tidak terlalu memikirkan kondisi neneknya lagi.
Vanilla mengenakan baju sebelum berbaring di ranjang. "Benar tidak keluar lagi?" tanya Jhico memastikan. Saat menemani neneknya, Jhico begitu pintar menyembunyikan rasa khawatir pada istrinya. Karena Ia tidak ingin membuat Hawra kepikiran.
"Tidak, Jhi."
"Okay, aku mandi dulu kalau begitu."
Seraya menunggu suaminya mandi, Vanilla menjelajahi sosial media miliknya. Beberapa jam lalu Ia baru memposting sebuah foto selfie dirinya.
Ada banyak komentar yang masuk tapi yang membuat alis Vanilla bertaut adalah komentar dari Renald yang belakangan tidak pernah lagi mengomentari postingannya tapi berbeda dengan kali ini.
Renaldchr ❤️❤️
"Apa sih orang ini? semakin lama, semakin aneh." Vanilla berdecih. Apa maksudnya komentar dengan emoticon seperti itu? beruntungnya Jhico jarang sekali update di sosial media. Jadi bila ada komentar-komentar mengandung hama seperti itu tidak terlalu dihiraukan oleh Vanilla.
Tapi kalau dibiarkan bisa mengacaukan juga sepertinya. Akhirnya Vanilla menghapus komentar tersebut dari postingannya. Orang-orang terdekat Vanilla tahu siapa itu Renald. Bisa jadi mereka berpikiran negatif terhadap Vanilla setelah melihat komentar Renald.
*****
Tidak biasanya pagi-pagi sekali Vanilla sudah bangun. Ia duduk sebentar seraya mengikat asal rambutnya. Mata perempuan itu menatap jam yang melekat di dinding. Kemudian Ia menoleh pada Jhico yang masih terlelap.
Ia mengecup pipi suaminya singkat lalu memutuskan untuk turun dari ranjang. Vanilla beranjak ke kamar mandi untuk mengosongkan kantung kemih nya, mencuci wajah, dan membersihkan mulutnya.
Setelah itu Ia turun ke dapur. Ia menginginkan susu hamilnya yang hangat sekarang. Biasanya Jhico yang membuatnya.
Setelah Ia membuat susu yang biasa dikonsumsinya, Ia membuat soup jagung dan macaroni. Ia sedang ingin makan itu dan semoga saja Jhico mau menikmati nya juga.
Kalau Jhico belum bangun seperti sekarang, Vanilla senang karena Ia merasa bebas melakukan apapun. Selama ini Jhico selalu membatasi ruang geraknya. Jujur, Ia tidak senang. Tapi Ia tahu Jhico melakukan itu karena khawatir dan ingin selalu menjaga nya.
Setelah matang, Vanilla menghidu nya seraya bergumam, "Hmm... aroma nya nikmat. Semoga rasanya juga."
Vanilla menuangkan masakannya ke dalam mangkuk. Kemudian menempati meja bar seraya menikmati soup yang masih panas itu dan juga susu hangatnya.
"Tidak buruk juga hasilnya. Lumayan berhasil," ujarnya pelan. Vanilla merasa puas setiap kali hasil masakannya terasa lezat walaupun tak bisa disandingkan dengan masakan Mama nya dan juga Jhico.
Vanilla memotret soup yang tinggal sedikit untuk update di sosial media nya. Biasa, dari dulu hingga sekarang Vanilla adalah perempuan yang aktif di dunia maya.
Tiba-tiba ada telepon masuk dari Jane. Ia segera menjawabnya.
"Masakan siapa itu? tumben bangun pagi," begitu sapa Jane.
Rupanya Jane menelpon karena melihat Vanilla yang sudah update pagi-pagi begini.
"Masakanku lah," jawab Vanilla dengan bangga.
__ADS_1
"Benar? aku tidak percaya,"
"Jhico belum bangun,"
Agar Jane tahu saja bahwa benar-benar Vanilla yang memasak, bukan Jhico karena lelaki itu masih terlelap.
"Oh, aku juga lagi masak,"
"Aku tidak bertanya,"
"Sialan!"
Tawa Vanilla pecah. Panggilan suara dimatikan oleh Jane dan digantikan dengan panggilan video.
"Ini lihat! aku sedang masak juga,"
"Masak apa itu? seperti lumpur aku melihatnya,"
"Yeee sinting! ini bukan lumpur!"
"Tapi--- kenapa cokelat-cokelat begitu sih?"
"Ini daging halus, aku campur dengan susu, keju, dan juga kentang. Tidak lupa juga aku beri lada hitam,"
"Yakin itu lezat?"
"Yakin saja, kalau Richard tidak mau makan, aku yang akan menghabiskannya,"
"Hey, kirim ke aku juga ya,"
"Tadi katanya seperti lumpur. Ternyata mau juga,"
"Sepertinya lezat,"
"Ah dasar wanita hamil. Banyak mau,"
"Kamu wajib kirim ke aku!"
"Okay, tapi dimakan!"
"Ya, akan aku habiskan. Ternyata tidak seperti lumpur kalau dilihat-lihat,"
"Mungkin matamu masih mengantuk tadi,"
"Kirim sekarang, Jane!"
"Hmm, suamiku sudah menunggu di meja makan. Bye,"
Klik
"Hih sombong sekali dia mentang-mentang sudah punya suami jadi tidak pernah lagi bicara lama denganku. Dulu berjam-jam bicara di telepon,"
Istrinya sedang menikmati masakannya sendiri seraya membayangkan nikmatnya masakan Jane, sementara Jhico baru bangun. Ia terkejut tidak menemukan Vanilla di sampingnya.
__ADS_1
Ia segera turun ke lantai bawah mencari-cari istrinya. Karena mendengar musik dari arah dapur, Jhico segera bergegas menghampiri.
Ia melihat Vanilla tengah sarapan tapi sambil menikmati alunan musik yang mellow di pagi hari ini.
"Nilla..."
Vanilla menoleh, kemudian tersenyum melihat suaminya datang. "Hai, kamu sudah bangun."
"Kenapa bangun pagi sekali? apa terjadi sesuatu lagi denganmu?" tanya Jhico yang ternyata belum bisa menghilangkan rasa khawatirnya terhadap Vanilla yang kemarin mengalami flek.
"Tidak, aku baik-baik saja. Ayo, sarapan. Aku sudah buatkan ini untukmu," tangan Vanilla menunjuk isi mangkuknya yang sudah tinggal sedikit.
Vanilla bangkit untuk menyiapkan soup jagung dan macaroni yang akan dimakan oleh Jhico.
"Senangnya pagi-pagi dimasaki istri," ucap Jhico setelah Vanilla meletakkan makanan itu di depan nya.
Asap masih mengepul yang artinya soup itu belum lama matang. Makanan yang baru matang bisa menambah selera makan Jhico.
"Semoga kamu menyukai nya,"
Jhico segera mencicipi kuah nya yang terbuat dari susu creamy dan keju itu. "Hmm lezat, Nillaku."
"Benar? coba semuanya dulu. Baru bilang lezat,"
Jhico melakukan apa yang dikatakan istrinya. Jagung dan macaroni nya juga dimasak dengan tepat. Tidak terlalu lunak dan tidak juga keras.
"Serius, aku menyukainya,"
"Tidak terlalu buruk 'kan?"
"Tidak, ini lezat sekali. Lain kali buat menu ini lagi ya,"
"Memang kamu mengizinkan aku untuk masak? kamu saja cerewet kalau aku masuk ke dapur,"
"Karena kalau kamu yang masak pasti lama dan biasanya selesai masak selalu berantakan,"
"Karena aku masih belajar,"
"Iya, aku tahu. Aku memang kurang pengertian, Nillaku. Jadi maafkan suamimu ini,"
Jhico semakin posesif sejak Vanilla hamil. Apapun yang ingin dikerjakan oleh Vanilla, pasti dilarang hingga terkadang Vanilla merasa kesal.
"Aku tidak menyangka pagi ini kamu memasak. Aku kira kamu bangun pagi karena terjadi sesuatu. Ternyata tidak,"
"Biasanya aku sulit dibanguni. Sekarang malah bangun sendiri ya"?
"Ya, oleh sebab itu aku merasa bingung. Biasanya, perlu waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk membangunkan kamu,"
---------
Mampir Kuyy👇 makasih yaa untuk semua dukungan kalian. Makasih udh mampir dan tinggalkan jejak. Ku sayang keleaaan 🙏🤗
__ADS_1