
"Kamu tidur di kamar aku saja ya, Icelle?"
"Dimanapun, aku mau,"
"Kalau di garasi mobil berarti mau?"
Grizelle merengut, dimanapun maksudnya adalah di tempat yang layak. Bukan di tempat tinggal mobil atau motor Devan.
"Aku bercanda," Auristella terkekeh pelan seraya menjawil pipii Grizelle dengan gemas.
"Jangan bicara begitu. Nanti Icelle jadi pulang," Lovi menegur anak perempuannya yang Ia tahu memang hanya bercanda tapi Ia khawatirnya Grizelle benar sedih karena merasa tak begitu diterima di rumah mereka.
"Iya, Mom. Aku tidak serius,"
"Icelle tidur dikamarku ya?"
"Biarkan Icelle memilih sendiri, Auris,"
"Aku dimana saja, Aunty. Yang pentng jangan di garrlasi (garasi) atau di toilet,"
Lovi terkekeh menanggapi. Ia juga mengusap puncak kepala Grizelle. "Tidak mungkin kamu ditempatkan di sana,"
"Ayo, ke kamar aku,"
Aristella mengajak adik sepupunya untuk bergegas ke kamarnya yang tak kalah nyaman dengan kamar Griele yang Ia tempati semalam.
Jhico sudah pulang dan Devan pun telah kembali ke kantornya sebab tiga puluh menitnya tak lama lagi habis. Ia sebenarnya ingin menjemput kedua putranya, namun Ia harus segera bekerja lagi. Pekerjaan untuk waktu siang sampai malam sudah menunggunya.
"Woahh cantik sekali,"
"Ya, apa kamu baru tahu kalau aku cantik?"
Grizelle mendengus. Yang Ia puji cantik itu adalah kamar Auristella tapi sepertinya Auristella salah paham.
"Kamarrl (kamar) kamu yang cantik," kata Grizelle mengoreksi agar Aristella tak lagi memasang wajah jumawa padanya seperti saat ini.
"Tapi aku juga cantik 'kan? ayo berkata jujur!"
Grizelle mengangguk pada akhirnya karena Auristella memicing menatapnya.
"Belum apa-apa aku sudah ditakut-takuti,"
Aurustell terbahak mendengar gumama kecil Grizelle. Ia segra memeluk saudaranya itu.
"Bercanda. Jangan takut ya. Dan jangan minta pulang,"
"Iya, terrlgantung (tergantung). Kalau kamu menyebalkan, aku pulang saja,"
"Hih aku tidak pernah menyebalkan, Icelle. Kamu salah sasaran kalau bicara begitu. Yang menyebalkan itu Adrian, bukan aku,"
"Sama saja,"
Grizelle melepas ranselnya setelah disuruh oleh Auristella. "Jangan kaku. Anggap saja kamar sendiri," kata Auritella karena melihat Grizelle masih berdiri di depan pintu kamarnya dengan ransel yang tersampir di bahu.
Auristella mengambil ransel adik sepupunya itu dan Ia berdecak. "Kenapa hanya bawa baju sedikit sih?" Ia kesal karena Grizelle hanya membawa baju sedikit terbukti dengan ringannya ransel yang dibawa Grizelle. Artinya Grizelle tidak akan lama menginap di rumahnya.
__ADS_1
Ia penasaran Grizelle membawa berapa baju maka Ia buka ransel Grizelle dan Ia hanya menemukan lima stel pakaian saja untuk bermain atau berkegiatan di dalam rumah.
"Baju sekolahmu dimana? apa selama kamu menginap, kamu tidak sekolah?"
"Memang tidak ada di dalam sana?"
Grizelle sendiri tidak tahu bagaimana isi dari ransel yang diberikan ayahnya tadi.
"Tidak ada. Coba kamu lihat sendiri,"
Auristella mengembalikan ransel berwarna pink pastel itu pada pemiliknya.
"Oh iya, tidak ada. Apa Mumu lupa?"
Tok
Tok
Tok
"Sayang, boleh Mommy masuk?"
"Masuk saja, Mom,"
Lovi masuk ke dalam kamarnya. "Kalian sedang apa?"
"Lagi lihat isi ransel Icelle. Kenapa bajunya hanya sedikit?"
Lovi mengangkat bahunya tidak tahu menahu. Tapi Ia memberikan ponselnya pada Grizelle.
"Hallo, Mumu,"
"Hallo, Sayang. Sudah di rumah Auris ya?"
"Sudah, Mumu aku mau tanya, baju untukku sekolah dimana?kenapa tidak dibawakan juga, Mu?" Mumunya kebetulan menelpon maka sekalian saja Ia bertanya dan Auristella yang mendengarnya puas. Karena Ia juga penasaran dengan jawaban Vanilla. Kalau tak ada baju sekolah, bisa jadi Vanilla menyuruh Grizelle untuk pulang esok pagi.
"Memang Griz mau menginap berapa hari?"
"Tiga harrli (tiga hari) mungkin, Mu?"
Auristella menatap Grizelle tak terima. Ia tidak mau kalau Grizelle hanya tiga hari di rumahnya.
"Oh tiga hari? lama ya," kekeh Vanilla. Kemudian Ia melanjutkan, "Ya sudah, kalau Griz mau tiga hari, tidak masalah. Untuk baju sekolah, setiap pagi diantar saja ya?"
"Diantar siapa, Mu?"
"Nanti Mumu yang antar,"
Sekalian melepas rindu dengan anaknya,Vanilla memang berencana akan datang setiap pagi ke rumah kakaknya selama Grizelle berada di sana. Ia akan membantu Grizelle bersiap ke sekolah seperti biasanya.
"Oh begitu. Memang Mumu tidak apa kalau datang ke sini?"
"Tidak apa, Mumu mau lihat Griz setiap hari meskipun Griz sedang menginap,"
"Okay, Mu. Terrlimakasih ya, Mu,"
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang. Ya sudah, berikan lagi ponselnya pada Aunty Lovi,"
Grizelle segera mematuhi apa yg dikatakan Vanilla. Ia mengembalikan ponsel Lovi.
"Lovi, terimakasih ya sudah menerima anakku di sana,"
"Ya ampun, Van. Ini bukan pertama kalinya Icelle menginap. Jangan bicara begitu. Kita ini 'kan keluarga memang sudah seharusnya sering-sering menjalin kedekatan,"
Lovi keluar dari kamar putrinya sembari masih terlibat obrolan dengan Mumunya Grizelle. Sementara Grizelle langsung mengambil bajunya di dalam ransel, Ia akan mengganti pakaian sekolahnya.
"Icelle, kenapa sebentar menginap di rumahku? Kenapa tidak seminggu saja?"
"Aku hanya bawa baju sedikit,"
Auristella berdecak. Alasan macam apa itu? ya ampun! Auristella inginnya Grizelle menginap lebih lama.
"Kamu lupa kalau aku punya banyak baju? kalau seandainya Mumu atau Pupu kamu tidak sempat mengantar bajumu ke sini, Mommy ku bisa membelikannya untukmu kalau benar-benar tidak sesuai dengan ukuranmu,"
"Tiga harrlus (harus) cukup, Aurrlis," sahut Grizelle dengan lembut.
"Tapi kenapa hanya tiga hari?"
"Nanti aku rrlindu (rindu) dengan Mumu dan Pupu,"
Auristella menghembuskan napas kasar. Lantas bicara, "Padahal bukan beda benua."
"Iya, tapi tetap saja aku akn merrlindukan merrleka (merindukan mereka)"
"Hah, ya sudah lah. Tiga hari tidak masalah. Nanti kita juga main-main ke rumah Grandpa ya? aku dengar Grandpa punya buaya sekarang dan itu karena permintaan kamu,"
"Iya, kamu harrlus (harus) lihat," Grizelle berseru semangat. Buaya itu salah satu yang ingin Ia tunjukkan pada Auristella.
"Kita juga harrlus (harus) datang ke tempat berrlmain (bermain) yang diberrlikan (diberikan) Grlandpa pada kita,"
"Oh iya, itu juga harus! kita bermain sepuasnya di sana," Auristella berseru tak kalah semangat. Rencana itu akan segera terlaksana. Baik Grizelle maupun Aueristella tak sabaran sekali.
Usai berganti pakaian, Grizelle dan Auristella turun ke bawah karena sudah dipanggil oleh pengasuh Auristella atas permintaan Lovi yang mengajak mereka makan siang.
"Ayo, makan siang,"
"Ian dan Ean belum pulang, Aunty?"
"Belum, Sayang. Mungkin sebentar lagi. Kenapa memangnya?"
"Tidak apa, sedikit sepi saja kalau tidak ada merrleka berrldua (mereka berdua),"
"Lebih baik begini, Icelle. Kalau ada mereka, riuh. Apalagi Ian, erghh banyak omong," cibir Auristella sembari menunggu makanannya ditempatkan ke dalam piring oleh Lovi.
Saat Lovi akan melakukan hal serupa pada Grizelle, anak itu langsung menolak halus.
"Aku bisa sendrrli (sendiri) Aunty, Terlimakasih," katanya dengan sopan. Grizelle menyiapkan buku saja sudah bisa. Apalagi hanya untuk sekedar mengambil makanan yang sudah tersaji di hadapannya. Ia tinggal memindahkan saja ke piringnya.
Mungkin kalau di rumah, Vanilla selalu seperti itu padanya Ia akan senang. Tapi ini bukan di rumahnya dan bukan Vanilla juga yang melakukannya sehingga Ia merasa tidak sopan
Lovi bersikeras. Grizelle ini seperti anaknya juga. Maka Ia harus memperlakukan Grizelle sama dengan Auristella.
__ADS_1