
Usai berfoto dengan keluarganya di booth yang telah di sediakan, Vanilla juga melakukan sesi foto bersama dengan teman-temannya.
Joana bahkan langsung mengajaknya pertama kali. Karina dan Hawra langsung pulang usai berfoto dengan Vanilla, begitupun dengan Raihan dan Rena. Tapi kedua orangtuanya itu mengundang Vanilla untuk makan malam di rumah mereka nanti malam, tidak lupa juga mengundang Jhico dan Grizelle tentu saja.
"Aku dan Griz pulang dulu ya. Kamu senang-senang di sini," ujar Jhico dengan begitu pengertian tak ingin menuntut istrinya untuk pulang ke rumah secepat mungkin. Jhico ingin istrinya benar-benar puas menghabiskan waktu bersama teman-temannya sebelum mereka berpisah.
"Bye, Mumu. Aku pulang ya,"
Vanilla mengecup kening Grizelle ketika anak itu memeluknya seraya berpamitan.
"Hati-hati, jangan nakal di rumah dengan Pupu ya,"
"Siap!"
Vanilla terkekeh melihat anaknya yang memberi hormat. "Jangan dibiarkan kelelahan," pesannya pada Jhico.
"Nada, jangan mau jadi teman bermain Grizele untuk hari ini ya. Biar Grizelle istirahat,"
"Iya, Nona,"
Usai berpesan pada suami dan pengasuh putrinya, Vanilla baru bisa sedikit tenang melepas kepergian mereka.
Meskipun tidak sepenuhnya bisa hilang rasa cemas itu mengenai kondisi Grizelle yang sedang sakit tapi Ia berusaha melakukan apa yang diminta Jhico tadi yaitu Ia melupakan sejenak tentang apapun sehingga bisa bersenang-senang dengan temannya.
*****
"Griz, mau ganti baju dengan Nada?" tanya Nada pada Grizelle begitu tiba di rumah.
Grizelle sudah mulai tertidur tapi Ia masih mendengar Nada yang bertanya padanya. Ia menggeleng pelan.
"Nanti denganku saja,"
Nada mengangguk kemudian Jhico beranjak ke kamar Grizelle dengan Grizelle yang dalam rengkuhannya. Grizelle semakin hanyut dalam alam mimpi karena merasa ditimang ketika ayahnya berjalan.
Jhico membuka pintu kemudian meletakkan anaknya di ranjang. Ia menyentuh lembut wajah Grizelle.
"Sayang, ganti baju dulu ya. Biar kamu nyaman tidurnya,"
Grizelle tidak menjawab. Matanya sudah terpejam erat. Jhico tidak menyerah membangunkan anaknya. Grizelle harus bangun agar Ia tidak tidur dengan baju yang seperti ini.
Jhico mengambil pakaian ganti Grizelle kemudian mengangkat kepala Grizelle dan menyandarkannya di headboard.
"Ayo, ganti baju dulu. Tidak mungkin kamu tidur mengenakan baju ini,"
Grizelle mungkin tidak akan gerah karena meski tidur dengan stelan formalnya tapi ruang geraknya akan terbatas. Pakaian tidur adalah pilihan terbaik.
Grizelle akhirnya membuka mata. Jhico bisa melihat mata Grizelle yang memerah. Jhico membuka blezer dan kemeja yang dikenakan putrinya kemudian diganti dengan piyama. Begitupun dengan celananya.
Setelah itu, Jhico membaringkan anaknya lagi dengan nyaman. "Pupu ganti baju dulu," ujarnya saat Grizelle menarik lengan bajunya, menghalangi Ia pergi.
__ADS_1
Setelah Jhico berkata seperti itu barulah Grizelle membiarkan Pupunya pergi. Kemudian anak itu mengubah posisi menjadi berbaring menyamping dan memeluk bonekanya.
*****
"Kenapa Griz pulang? padahal kalau ada Griz pasti lebih menyenangkan,"
"Griz lagi sakit. Tadinya dia tidak diizinkan ikut tapi dia memaksa ingin ikut ke sini. Akhirnya aku dan Jhico mengizinkan. Tapi perjanjiannya Ia tidak boleh lama-lama di sini biar bisa istirahat,"
"Oh Griz sakit? tapi dia tetap kelihatan ceria tadi ya,"
"Ya begitulah anakku. Aku juga tadi bingung. Dia tidak seperti anak yang sakit,"
"Di sini ceria, paling sampai rumah tumbang,"
"Ishh jangan bicara begitu lah," Vanilla melotot tajam pada temannya. Ia tidak ingin kalimat temannya jadi doa.
"Aku pulang dulu ya,"
Sudah satu jam Jhico dan Grizelle pulang. Ia menelpon Jhico beberapa menit lalu tapi tidak dijawab. Apa mungkin Jhico dan Grizelle sedang beristirahat?
Tapi Vanilla tak berhenti khawatir. Ia bisa tertawa di sini tapi tetap saja Ia memikirkan kondisi anaknya yang entah masih demam atau tidak.
"Baru sebentar kumpul-kumpul di sini,"
Vanilla dan teman-temannya menghabiskan waktu di cafetaria kampus mereka.
"Okay, hati-hati,"
"Nanti kalau ada waktu senggang boleh kita ketemu lagi,"
"Iya, sukses untuk kalian ya," ucap Vanill sebelum meninggalkan kumpulan teman-temannya.
"Kamu juga sukses terus, Van,"
******
Thanatan memasuki kediamannya yang sudah sepi dari aktifitas. Seperti biasa, Ia pulang sudah hampir tengah malam dan hanya Istrinya saja yang masih terjaga karena ada kesibukkan sendiri.
Thanatan melepas suitnya seraya menghela napas lelah. Ia menatap istrinya yang tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Terlalu fokus dengan layar tablet dalam genggamannya.
"Suamimu pulang, bahkan dilirikpun tidak," sinisnya yang langsung menyadarkan Karina. Dengan cepat, perempuan itu mendekati suaminya.
"Mau dibuatkan apa?"
"Lemon tea,"
"Okay, tunggu sebentar,"
Sementara istrinya membuatkan lemon tea untuknya. Ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, mengusir penat setelah seharian bekerja.
__ADS_1
Ketika Karina kembali ke kamar dengan satu mug lemon tea, Thanatan masih di kamar mandi.
Karina menyelesaikan kesibukannya. Ia beranjak ke atas ranjang untuk segera tidur.
Belum masuk ke alam mimpi, suara derit pintu kamar mandi yang terbuka membuatnya menoleh.
Thantan keluar dengan rambutnya yang basah. Thanatan kelihatan lebih baik daripada saat baru tiba tadi.
Seraya mengacak rambutnya dengan handuk kecil, Thanatan bertanya pada istrinya,
"Bagaimana acaranya tadi?"
"Menyenangkan. Grizelle hadir meskipun dia sakit," jawab Karina seraya menegakkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang.
"Grizelle sakit?"
Tangan Thanatan yang sedang mengeringkan rambut langsung terhenti bergerak.
Karina mengangguk kemudian Ia mengambil ponselnya untuk mencari fotonya bersama Grizelle tadi.
"Dia sakit tapi tetap riang. Tidak kelihatan lesu. Bahkan setuju saja saat aku mengajaknya foto berulang kali, tidak merengek menolak. Ini, foto-foto kami tadi,"
Karina menghadapkan ponselnya pada Thanatan yang berada tak jauh darinya.
"Tadi banyak orang memanggilnya lady boss kecil. Karena penampilannya memang seperti lady boss. Dia memakai stelan suit. Cantik ya?"
Dengan senyum, Karina menggulir layar untuk menunjukkan foto-foto Grizelle di ponselnya. Banyak foto Grizelle sendiri. Ia memang senang mengambil potret anak itu secara diam-diam. Apalagi kalau penampilannya sudah beda seperti tadi. Rasanya tidak puas untuk mengabadikan.
"Para mahasiswa mengenakan stelan suit dan Grizelle juga. Tidak salah kalau Vanilla mengatakan bahwa dia mahasiswa kecil," seraya terkekeh, Karina menatap dalam wajah cucunya di layar.
Thanatan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia melangkah menuju sofa di sudut kamar kemudian membuka file-file pekerjaannya.
"Sakit apa?" tanya Thanatan dengan ringan.
"Grizelle?"
"Siapa lagi?" tanya Thanatan dengan nada mencibir.
"Demam, batuk, hidungnya juga tersumbat. Kata Jhico, sejak semalam dia sakit. Karena kelelahan," jawab Karina.
"Terlalu banyak minum ice cream juga jadi radangnya kambuh. Jujur aku menyesal. Dia minum ice cream di rumah ini, aku yang mengizinkan karena aku tidak tega bila melarangnya. Aku biarkan dia menghabiskan tiga. Tapi Grizelle menenangkan aku. Dia malah menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu menyukai minuman dingin itu,"
Karina memadamkan ponselnya kemudian meletakkan benda tipis persegi panjang itu di dekat lampu tidur.
"Anak itu benar-benar tidak mau melihat orang disekitarnya sedih,"
------
Selamat hari senin. Semangat beraktiftas yaa. Sehat-sehat trs untuk semua pembaca karyaku.
__ADS_1