
"Ma, sebelumnya maafkan aku tidak memberi tahu Mama mengenai Vanilla. Aku tidak ingin Mama khawatir. Lagipula kondisi Vanilla baik-baik saja. Nanti sore sudah diizinkan pulang,"
Karina menghela napas lega. Ia bisa tenang setelah mendengar kondisi menantunya itu.
"Lalu bagaimana dengan janinnya?"
"Baik, dia juga baik-baik saja,"
"Ah Ya Tuhan, syukurlah. Mama senang sekali mendengarnya,"
"Vanilla hanya kelelahan saja, Ma. Dia sempat tak sadarkan diri begitu tiba di rumah usai berlibur. Tapi beruntungnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan,"
Terasa rongga dadanya kehilangan semua beban. Tadi begitu tahu bahwa Vanilla di rumah sakit, perasaan Karina sudah tak menentu.
"Jadi semalam Griz hanya bersama Nada?"
"Grandma dan Grandpa nya datang,"
"Mereka tahu tapi Mama tidak kamu beri tahu, Co," desah Karina kecewa setelah mendengar sendiri dari mulut anaknya bahwa Rena dan Raihan ada di samping cucu mereka dikala tak ada orangtuanya.
"Ma, semalam itu Mama Rena kebetulan menghubungi Vanilla. Saat itu Vanilla mengatakan sedang menunggu telepon dari Nada karena ingin bicara dengan Griz. Mendengar itu, Mama Rena bertanya kenapa Vanilla harus menunggu dihubungi Nada agar bisa bicara dengan Grizelle. Vanilla yang tadinya tidak ingin memberi tahu siapapun juga sama sepertiku, akhirnya jujur karena tak ingin Mamanya terus bertanya. Setelah tahu Vanilla ada di sini, akhirnya Mama Rena dan Papa Raihan datang ke rumah menemani Griz,"
"Ya ampun, maafkan Mama tidak bisa datang semalam. Mama tidak tahu,"
"Iya, tidak apa, Ma. Seharusnya aku yang meminta maaf pada Mama karena tidak memberi tahu. Tapi aku tidak bermaksud apapun, Ma. Aku hanya tidak ingin Mama cemas saja. Sebenarnya Griz juga akan baik-baik saja dengan Nada. Hanya Grandma nya yang tetap ingin datang untuk menemaninya,"
"Mama ingin menemui Vanilla,"
"Mama tidak ada kesibukan,"
"Mama membawa sarapan untukmu," ujar Karina berturut-turut.
"Kebetulan aku belum sarapan, Ma,"
Mendengar itu, Karina tersenyum lebar. Tidak sia-sia Ia menyiapkan sarapan untuk putranya. Meskipun Jhico tidak ada di klinik tapi Jhico tetap bisa menyantapnya.
Jhico yang tahu Mamanya akan datang membawakan Ia sarapan, menolak saat istrinya menyuruh Ia untuk mencari makan pagi ini.
"Mama akan datang ke sini membawa sarapan untukku," katanya pada sang istri.
"Mama pasti salah paham ya?"
"Ya, tapi sudah aku jelaskan,"
"Aku tidak ingin keempat orangtua ku itu merasa tak dibutuhkan. Aku menyesal juga memberi tahu Mamaku semalam,"
"Tidak apa, Mama juga tidak masalah setelah aku jelaskan. Bukan apa-apa, Mama hanya khawatir saja dengan kamu dan Griz terutama. Maka Mama sedikit kecewa ketika tidak tahu tentang kondisimu. Seharusnya Ia bisa menemanimu atau Griz,"
"Aku akan meminta maaf pada Mama,"
Jhico mengusap kepalanya lembut. Vanilla pemikir sekali tentang perasaan orang terdekatnya apalagi bila sudah berkaitan dengan orangtua.
Tak lama kemudian, Mamanya datang. Benar, Karina telah membawakannya sarapan yang masih hangat.
"Dimakan ya. Itu bukan buatan Mama. Kamu tentu tahu Mama tidak pandai memasak," ujar Karina seraya terkekeh.
__ADS_1
"Iya, Ma, terimakasih,"
Karina tersenyum kemudian membiarkan putranya menyantap makan pagi sementara Ia mendekati Vanilla.
"Vanilla, bagaimana? sudah jauh lebih baik?"
Vanilla tersenyum mengangguk. Ia menggenggam tangan Karina yang mengusap kepalanya.
"Aku sudah lebih baik, Ma. Memang hanya kelelahan saja dan kurang cairan,"
"Tolong lebih menjaga diri lagi," pesannya dengan lembut tanpa niat membuat Vanilla tertekan sama sekali.
"Iya, Ma. Oh iya, aku minta maaf tidak memberi tahu Mama mengenai kondisiku. Aku pikir, lebih baik tidak ada yang tahu karena kondisiku juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan,"
"Tapi lain kali, tolong beri tahu Mama tentang apapun yang berkaitan dengan kalian. Bukankah orangtua berhak tahu tentang anak dan cucunya? Biar Mama merasa dibutuhkan, Sayang. Kalau seperti ini, Mama pun sedih karena tak ada disaat kalian sedang tidak baik-baik saja,"
"Iya, Ma. Maafkan aku,"
*****
"Griz, Mumu akan pulang nanti sore,"
"Benarrlkah (benarkah), Grrlandma?"
Grizelle mempercepat langkahnya mendekati meja makan dimana Rena tengah duduk bersama Raihan menunggunya untuk sarapan bersama.
"Ya, tadi Pupu bicara seperti itu pada Grandma. Dan oh iya, Nay-Nay datang menemui Mumu. Nay-Nay juga akan ke sini katanya,"
"Yeaay di rrlumahku rrlamai (rumahku ramai),"
"Aku ingin berrlmain (bermain) mobil hadiah ulang tahunku darrli (dari) Mumu dan Pupu,"
"Ya ampun, anak perempuan ingin bermain itu?"
"Itu menyenangkan, Grrlandma. Aku perrlnah berrlmain (pernah bermain) menggunakan mobil Ian di rrlumah (rumah) Grrlandma,"
"Sekarang sarapan dulu ya,"
"Okay, Grrlandpa,"
*****
"Maaf Tuan, salinan dari dokumen ini dimana, Tuan? apa sudah Tuan tanda tangani juga?"
Thanatan mengamati dokumen yang diserahkan sekretarisnya. Kemudian Ia memeriksa file bag nya guna mencari dokumen yang dimaksud sekretatis.
Ia berdecak ketika tak menemukannya. Sepertinya tertinggal di ruang kerjanya yang berada di rumah.
"Sebentar, aku akan meminta istriku mencarinya di rumah,"
"Baik, Tuan,"
Sekretarisnya keluar dari ruangan Thanatan memberi Ia waktu untuk menemukan salinan dokumen yang dimaksudnya.
Panggilannya langsung dijawab Karina. "Hallo, Pa. Ada apa?"
__ADS_1
"Tolong carikan dokumen di ruang kerjaku. Sepertinya tertinggal di sana. Nanti aku kirimkan foto dokumennya,"
"Aku sedang berada di jalan ingin ke rumah Jhico,"
Thanatan menghela napas pelan. Kenapa tepat sekali dengan Karina yang sudah berada di perjalanan.
"Akan aku cari. Sekarang juga aku kembali lagi ke rumah,"
Ucapan Karina membuat Thanatan bisa bernapas lega. Ia butuh dokumen itu secepatnya dan beruntung Karina bersedia membantu Ia dalam menemukan dokumen tersebut.
"Ya sudah, terimakasih. Langsung antar ke kantorku ya, jangan minta pada orang lain untuk mengantarnya," pesannya sebelum Ia mengakhiri panggilan. Setelah mendengar jawaban 'ya' dari istrinya, Thanatan mengakhiri panggilan.
****
"Tolong antar aku kembali ke rumah lagi,"
"Baik, Nyonya,"
Lelaki yang mengendarai mobilnya mengangguk patuh ketika Karina memintanya agar mengantar dirinya kembali ke rumah.
Terpaksa Karina menunda kedatangannya ke rumah Jhico untuk bertemu Grizelle sebab suaminya tengah butuh bantuannya saat ini.
Tiba di istananya, Karina segera
bergegas ke ruang kerja Thanatan. Ia mulai menyusuri meja kerja sang suami untuk mencari dokumen yang fotonya baru dikirimkan suaminya itu.
Ia mencarinya seorang diri sebab tahu bahwa suaminya memang tidak suka pekerjaannya yang merupakan ranah pribadi dicampur tangani banyak orang.
Setelah menemukannya, Karina tersenyum lega. Ia segera menghubungi suaminya agar Thanatan tahu dokumennya tak hiang. Ia tahu lelakinya itu pasti tengah harap cemas sekarang menantikan kabar mengenai dokumen tersebut. Sebab setiap dokumen atau file yang dimiliki Thanatan pasti penting.
******
"Kenapa Nay-Nay belum tiba juga ya?"
Usai sarapan, Grizelle hanya bersama neneknya saja sebab Raihan ada urusan yang harus Ia selesaikan.
Ia sudah selesai bermain mobil tadi bersama Raihan. Setelah Ia puas bermain mobil, barulah Raihan pergi meninggalkannya dan berjanji akan kembali bila memang urusannya susah selesai sebelum Vanilla tiba di rumah. Kalau Vanilla dan Jhico sudah berada di rumah, Rena akan pulang, begitupun Raihan yang tak kembali lagi ke rumah cucunya itu, melainkan langsung kembali ke rumahnya setelah urusannya rampung.
"Mungkin ada kendala di jalan, Sayang. Griz sabar ya. Nay-Nay juga pasti sudah tidak sabar sampai di sini,"
Grizelle mengangguk pelan. Ia memejam sebentar kala neneknya mengusap keringat di sekitar keningnya.
"Sampai kelelahan begini karena bermain,"
Grizelle terkekeh pelan, tak menampik kalau Ia memang masih merasa lelah setelah sepuluh menit lalu menyudahi kegiatan menyenangkannya itu.
"Pasti Grrlandpa lebih lelah lagi. Karrlena (karena) tadi Grrlandpa yang menjaga aku dan mengajarrli (mengajari) aku. Kenapa Grrlandpa langsung perrlgi (pergi) ya?bukannya istirrlahat (istirahat) dulu,"
"Mungkin urusannya sudah harus segera diselesaikan, Sayang,"
Grizelle menatap lurus pada neneknya. "Kenapa Grrlandpa harrlus (harus) menemani aku berrlmain (bermain) dulu kalau begitu?"
Rena tersenyum kemudian mencium singkat puncak hidung cucu kedua perempuannya itu.
"Karena Grandpa sangat menyayangimu,"
__ADS_1