Nillaku

Nillaku
Nillaku 294 Tidak boleh cari yang lain karena Pupu adalah jodoh Mumu


__ADS_3

Grizelle hampir saja menabrak dinding kalau saja Jhico tak yang langung menarik tangan anaknya hingga tak jadi bertemu sapa dengan dinding.


"Grizelle, perhatikan langkahmu, Sayang,"


Jhico memperingati anaknya yang melihat ke arah sekitar restaurant, pandangan Grizelle lebih tepatnya jatuh pada seorang lelaki yang tak lagi muda nampak sedang bercanda dengan cucunya, Ia melempar sedikit cucunya ke atas kemudian langsung ditangkapnya.


Setelah sampai di tempat yang diinginkan Grizelle, Jhico segera duduk setelah sebelumnya menarik kursi untuk Vanilla dan jug Grizelle.


"Icelle ini bagaimana sih? kenpa ingin menabrak dinding? hm?"


Vanilla menyentuh ujung hidung anaknya dengan gemas. Ia terkekeh melihat anaknya yang tersenyum lebar.


"Aku memang suka seperrlti (seperti) itu 'kan, Mu?"


"Ya, itu kebiasaan burukmu. Tidak bisa fokus melangkah saja,"


"Habisnya, aku suka melihat kakek yang tadi berrlcanda (bercanda) dengan cucunya,"


"Seperti Griz dengan Grandpa ya?"


"Dengan Kakek juga," Grizelle menambahi ucapan ayahnya. Walaupun Ia tak ingat kapan terakhir kali bercanda tawa seperti kakek tadi dengan cucunya tapi Grizelle yakin sekali Ia dan Thanatan pernah punya pengalaman seperti itu. Kalau dengan Raihan, jangan ditanya lagi. Mereka sering melewati momen seperti itu.


Jhico segera menyuruh anak dan istrinya untuk memesan makanan yang mereka inginkan. Dan Jhico juga memesan untuk para asistennya yang memilih tinggal saja di penginapan tidak ikut bersama mereka bertiga ke restaurant yang diinginkan Grizelle.


*****


"Thanatan, kamu itu sudah tidak lagi muda. Berhenti untuk terlalu memforsir dirimu sendiri. Apa yang kamu kejar lagi? karirmu sudah sangat bagus,"


Hawra menyapa Thanatan yang baru tiba di rumah usai seharian bekerja.


Hawra duduk di ruang makan sedang meneguk teh hangatnya sementara Thanatan mengambil minumnya di sana.


"Bekerja keras itu tak kenal usia, Ibu,"


Hawra tampak mendengus setelah mendapat balasan seperti itu. Bekerja keras itu dilakukan untuk mencapai suatu tujuan atau cita-cita. Sementara Thanatan, apa lagi yang menjadi tujuan atau cita-citanya? sudah memiliki cucu, saatnya menghabiskan masa tua di rumah saja,atau kalaupun bekerja, tidak sampai segila ini. Pukul sebelas malam baru tiba di rumah.


"Aku pergi ke kamarku dulu, Ibu," pamit lelaki beranak dan bercucu satu itu sebelum beranjak meninggalkan Hawra.


Hawra menggeleng pelan seraya memijat kepalanya. "Kenapa aku yang lelah ya? padahal dia yang bekerja mati-matian,"


"Mereka berdua sama saja. Karina dan Thanatan, keduanya terlalu ambisi," imbuhnya yang tentu tak melupakan Karina yang juga masih berkarir sampai saat ini. Padahal sama dengan sang suami, Karina sudah seharusnya menghabiskan waktu untuk diri sendiri dan keluarga, bukan karirnya lagi.

__ADS_1


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu lagi?"


Hawra menggeleng pelan pada maid yang membuatkannya teh tadi.


"Tidak ada, kamu boleh istirahat. Terimakasih ya,"


"Baik, Nyonya. Sama-sama, Nyonya,"


Hawra kini hanya seorang diri di ruang makan. Ia terbangun dari tidurnya dan tiba-tiba menginginkan teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang malam ini terasa dingin sekali karena musim.


Setelah menghabiskan satu mug teh hangat, Hawra beranjak kembali ke kamarnya. Di sana tak ada siapapun lagi karena semua maid sudah beristirahat. Hanya yang tadi saja yang masih terjaga dan bersedia membuatkan  minuman favoritnya itu.


*****


"Sudah makan malam?"


Thanatan mengangguk atas pertanyaan istrinya yang kini menyambutnya di depan pintu kamar.


Ia memasuki ruangan besar yang menjadi tempat ternyamannya bila di rumah yaitu kamar. Karina ikut kembali masuk ke dalam.


"Perlu apa?"


Thanatan menggeleng merasa tak butuh apa-apa. Ia senang istrinya  tak lagi terlalu sering menghiraukan kedatangannya. Sekarang walaupun tengah ada yang dikerjakan, tapi Karina pasti akan menanyakan hal yang sama pada suaminya.


"Memang ingin mandi,"


"Iya, tidak usah menatapku dengan sengit begitu," sindir Karina pada suaminya.


"Aku menatapmu sengit? tidak,"


"Iyalah, tidak usah berdebat. Sebaiknya kamu cepat-cepat mandi karena waktu akan semakin malam dan kamu bisa sakit,"


"Perhatian sekali," cibiran suaminya membuat Karina mendengus. Ia mencurahkan sedikit perhatian, Thanatan komentar. Giliran Ia tak acuh, Thanatan lebih berkomentar lagi. Ia bingung harus bersikap bagaimana.


*****


"Mumu, jam yang diberrlikan (diberikan) Kakek dimana? sudah dibawa ya?"


"Sudah, Sayang. Sebentar, Mumu cari dulu ya,"


Grizelle mengangguk. Ia sudah selesai mandi dan akan berkeliling di sekitar penginapan untuk mencari kesenangan lagi.

__ADS_1


Ia baru ingat kalau saat ingin pergi berlibur, Ia sudah minta pada Vanilla agar membawa serta arloji miliknya yang diberikan Thanatan. Ia akan menggunakannya sekarang.


Vanilla mencari benda kecil milik putrinya itu di boks arloji miliknya dan Jhico. Vanilla menyatukan ketiganya.


"Tolong pakaikan ya, Nada,"


Ia segera meminta bantuan pada Nada karena merasa tak bisa melingkari tangannya sendiri.


Setelah terpasang sempurna, Grizelle tersenyum puas. "Yeayy, aku pakai jam barrlu (baru),"


"Jam lamanya dikemanakan nanti?" tanya Nada pada anak itu.


"Masih dipakai, Nada. Aku tidak akan melupakan mereka semua. Tenang saja,"


Nada terkekeh mendengar anak itu yang katanya tak akan melupakan kumpulan arloji untuk tangannya yang semua memiliki harga tinggi.


"Tidak boleh lupa dengan barang lama," pesan Vanilla pada anaknya setiap anaknya itu memiliki barang yang baru dan mungkin lebih bagus.


"Iya, Mu. Aku tidak akan lupa. Sayang kalau tidak dipakai. Itu semua dibeli Mumu dan Pupu pakai uang. Untuk mendapat uang, Mumu dan Pupu harrlus (harus) bekerrlja kerrlas (bekerja keras) dulu. Dan aku harrlus (harus) ditinggal sendirrli (sendiri) di rrlumah (rumah),"


Vanilla terkekeh karena anaknya terdengar tengah mengeluh. Tapi Ia senang bila Grizelle sudah memahami bagaimana sulitnya mencari uang sehingga apapun yang dibeli dari uang hasil jerih payah harus selalu dihargai.


Vanilla masih bersiap sementara putrinya menunggu dengan setia di atas ranjang dan Jhico tengah mandi.


Tak lama, lelaki itu sudah selesai membersihkan dirinya dan langsung mengenakan pakaian. Ia keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sangat baik.


"Hmm Pupu harrlum (harum) dan tampan sekali," puji anaknya begitu melihat Ia yang sudah siap untuk pergi.


"Tentu saja. Kalau tidak harum dan tampan, Mumu tidak mau dengan Pupu," Vanilla menyahuti seraya menggunakan pelentik bulu mata.


"Kenapa begitu, Mu?"


"Mumu cari yang lain,"


Jhico dan putrinya kompak mendengus. Kemudian Grizelle mengajukan protesnya.


"Mumu tidak boleh mencarrli (mencari) yang lain. Karrlena (karena) jodoh Mumu adalah Pupu,"


"Maksud Mumu waktu sebelum Mumu berjodoh dengan Pupu. Kalau saja Pupu tidak tampan, Mumu cari yang lain, yang tampan. Karena Mumu cantik,"


Lagi, ayah dan anak itu kembali mendengus jengkel menyaksikan Vanilla yang terlampau percaya diri. Walaupun tak dipungkiri bahwa yang diucapkan Vanilla benar adanya.

__ADS_1


"Pupu juga bisa carrli (cari) yang lain kalau Mumu tidak cantik ya, Pu,"


"Oh tepat sekali, Sayang," sahut Jhico kali ini tak ingin kalah mengeluarkan kadar percaya dirinya yang tinggi.


__ADS_2