Nillaku

Nillaku
Nillaku 170


__ADS_3

"Ya sudah, bahas itu nanti saja. Sekarang kamu keluar, temui Jhico dan Vanilla," ucap Karina.


Kalau bukan Ia yang menyelesaikan, pasti akan tidak berujung. Thanatan adalah tipe orang yang bisa mempertahankan perdebatan sampai Ia puas menyampaikan kekesalannya dan lawan bicaranya mengalah.


Thanatan melakukan apa yang diminta istrinya. Ia keluar dari ruang kerjanya. Tanpa menyelesaikan pekerjaan yang katanya tinggal sedikit lagi.


Thanatan bergegas menemui sang anak yang sedang berbincang dengan neneknya di ruang makan bersama Vanilla.


"Kenapa datang ke sini?"


"Vanilla yang meminta, Pa. Kami habis melihat rumah tadi,"


"Oh, sudah ingin keluar dari apartemen?"


"Iya, rencanaku akhir bulan ini,"


"Baguslah kalian pindah. Kemarin Papa menonton di televisi ada seorang anak yang jatuh dari lantai dua puluh dua apartemen karena Ibunya pergi belanja dan ayahnya entah sedang apa. Anakmu akan tumbuh besar. Lebih baik pertumbuhan dan perkembangan nya di lingkungan yang lebih nyaman dan aman,"


Jhico dan Vanilla terdiam mendengarkan seksama. Hawra dan Jhico bingung karena Thanatan bicara hal seperti ini. Setiap Jhico datang biasanya hanya kata-kata tajam bernada sindiran yang keluar dari mulutnya.


Setelah dari ruang kerja suaminya, Karina berjalan ke kamar anaknya untuk memastikan cucunya masih lelap dalam tidur.


Ia membuka pintu dengan pelan lalu kepalanya timbul disela pintu yang terbuka. Ia tersenyum melihat Grizelle tertidur dalam balutan selimut berwarna merah muda. Mata nya masih terpejam dan nafasnya juga masih teratur yang menandakan Ia belum terbangun. Setelah melihat itu, Ia menutup pintu kamar.


Saat Ia akan melangkah pergi, terdengar suara tangisan dari dalam kamar Jhico. Tanpa berpikir panjang, Ia memasuki kamar dimana Grizelle beristirahat.


Ia segera menggendong cucunya yang sepertinya baru saja mengalami mimpi buruk karena tiba-tiba saja bangun dan menangis padahal sebelumnya Ia lelap sekali.


"Mimpi buruk mengganggu tidurmu ya?"


"Oh sayang, sttt tenang-tenang,"


Karina keluar dari kamar dengan Grizelle yang Ia gendong. Bertepatan sekali dengan kedatangan Vanilla.

__ADS_1


"Pantas perasaan Mumu tiba-tiba tidak enak. Ternyata kamu menangis, Griz," ujar Vanilla melihat anaknya sedang terisak.


Karina menyerahkan Grizelle pada Vanilla. Pasti Vanilla yang bisa menghentikan tangisnya.


"Tadi dia masih tidur. Mama baru saja memastikannya. Saat Mama akan pergi, dia menangis. Sepertinya mimpi buruk yang membuatnya terbangun,"


Vanilla menimang Grizelle dengan kasih sayang. Karina mengajak Vanilla dan Grizelle untuk ke meja makan.


"Sebentar lagi mau malam,"


Seperti ucapan Vanilla tadi, Ia dan Jhico akan makan malam di rumah itu bersama dengan Karina, Hawra, dan Thanatan.


"Kenapa Griz menangis?" tanya Jhico.


"Tiba-tiba bangun dan menangis sepertinya karena mimpi buruk,"


Jhico mengulurkan tangan nya untuk meraih Grizelle. Setelah Grizelle digendong nya tangis Grizelle perlahan benar-benar berhenti. Thanatan melihat betapa hangat nya Jhico terhadap Grizelle. Sepertinya dulu, dia tidak seperti Jhico. Anak menangis, langsung tanggap ingin menenangkan.


Jhico menyandarkan Grizelle di bahunya. Jhico berjalan keluar dari ruang makan menuju kolam renang agar Grizelle melihat-lihat rumahnya ketika kecil dan remaja itu.


Thanatan merasa gemas dengan anak itu. Grizelle seolah menyapanya yang tak acuh. Hatinya berkata seharusnya Ia saja yang membawa Grizelle keliling di dalam rumah itu.


Karina memperhatikan suaminya yang diam memperhatikan Grizelle. "Kamu tidak menyapa Griz," ucapnya pada sang suami. Vanilla melirik Thanatan. Ayah dari suaminya terlihat enggan sekali untuk sekedar tersenyum pada anaknya padahal tujuannya datang ke sini ingin memperkenalkan Grizelle pada Thanatan yang selama ini hanya tahu bahwa Ia punya cucu tapi tidak pernah sekalipun menyapa apalagi menggendong cucunya.


Grizelle benar-benar tidak diinginkan oleh Thanatan dan Vanilla merasa sedih ketika mengetahui fakta itu. Tapi salahnya juga yang terlalu berharap Grizelle dengan Thanatan bisa dekat seperti halnya Grizelle dengan kakeknya yang satu lagi yaitu Raihan. Mungkin Thanatan masih perlu waktu untuk menerima Grizelle.


Jhico membawa anaknya melihat-lihat rumah seraya mengajaknya bicara. "Griz nyaman di sini? nanti kalau sudah besar sering-sering bermain di sini mau?"


Jhico ingin sekali anaknya seperti Andrean dan kedua adiknya yang bisa dengan bebas datang ke rumah nenek dan kakeknya lalu bermain bersama. Kalau Grizelle datang ke rumah ini, paling dia hanya bermain dengan Karina dan Hawra karena Thanatan pasti tidak akan mau menghabiskan waktunya bersama Grizelle apalagi untuk sekedar bermain. Pikirnya, lebih baik bekerja daripada bermain dengan cucu yang tak diinginkan.


"Kalau kamu laki-laki, kakek mu tidak seperti ini padamu, Griz." gumam hati kecil Jhico.


"Tidak apa, Griz. Banyak yang menerima kamu sebagai princess, bukan prince," lanjutnya yang berusaha untuk tetap tegar menerima sikap Thanatan yang aneh, terlalu menginginkan cucu laki-laki sampai tidak menerima kehadiran Grizelle yang terlahir sebagai perempuan, anak yang dianggapnya tidak bisa diandalkan di kemudian hari.

__ADS_1


Padahal kalaupun anak Jhico laki-laki, Jhico belum tentu mengizinkan anaknya dijadikan sebagai pewaris oleh Thanatan. Jhico saja memilih jalan nya sendiri dengan menjadi dokter, tidak menutup kemungkinan anaknya pun demikian.


Setelah puas membawa anaknya berkeliling di dalam rumah, mendatangi kolam renang, taman milik neneknya, dan tempat-tempat lain, Jhico kembali ke ruang makan.


Saat dibawa duduk oleh Jhico, Grizelle merengek seolah belum puas diajak jalan-jalan oleh Pupu nya.


Akhirnya Jhico berdiri sembari menimang anaknya. Lelaki itu menatap meja makan yang tengah di isi dengan berbagai macam hidangan oleh maid.


Melihat Vanilla ke dapur untuk membantu mengambil makanan yang belum tersaji, Karina melarangnya.


"Vanilla, duduk saja. Jangan kemana-mana,"


"Tapi, Ma---"


"Sudah ada maid yang melakukannya," lugas Karina yang akhirnya membuat Vanilla mengangguk.


Grizelle masih saja merengek. "Sstttt Pupu sudah lelah, Griz,"


"Enggghh,"


Grizelle berontak tak ingin ditenangkan. "Sayang, Pupu ingin makan. Sebentar lagi kita harus pulang,"


Grizelle tak menuruti ucapan Mumu nya. Jhico menghela napas pelan. "Griz ingin nya bagaimana? ayo, kita jalan-jalan lagi,"


Melihat Jhico yang begitu sabar mengikuti keinginan anaknya, lagi-lagi Thanatan merasa tertampar. Kenapa Ia dengan Jhico berbeda? dulu, Ia tidak seperti itu pada Jhico.


Tiba-tiba Thanatan bangkit dari kursi ruang makan. Ia mendekati Jhico yang kembali membawa anaknya berkeliling di rumah yang bak istana itu.


Karina dan Vanilla memperhatikan Thanatan. Mereka terkejut melihat Thanatan mengikuti Jhico sebelum akhirnya berujar, "Coba Papa tenangkan anakmu,"


Jhico menoleh ke belakang. Sama halnya dengan Mama dan Istrinya, Ia pun terkejut. Thanatan mengulurkan tangannya meraih Grizelle. Thanatan terlihat kaku karena memang Ia jarang sekali menggendong anak kecil. Saat Jhico kecil dulu, bisa dihitung dengan jari Ia menggendong Jhico.


 ----------

__ADS_1


Wuowww Thanatan mo gendong cucu nya yg gagal jd laki-laki gesss wkwkwk. Ampe segitunya pengen punya cucu cowok ya ampun, Icelle jd di cuekin😭tp skrg lg gk dicuekin ya gess kan udh gendong wkwk


__ADS_2