
Jhico mengeluarkan sepedanya dari rumah. Ia melambai singkat pada putrinya yang berdiri ingin melihat Ia pergi.
Terlalu tidak sabar dibawa berkeliling dengan mobil yang biasa digunakan untuk menjelajahi lapangan golf yang bernama golf cart, Grizelle sampai memutuskan untuk menunggu ayahnya selesai bersepeda di halaman, bukan di dalam rumah.
Ia duduk di halaman, kakinya bergelantung dan mengayun sesekali, bibir mungilnya juga bersenandung pelan.
"Aduh Pupu lama,"
Baru juga lima menit ayahnya keluar dengan sepeda, Grizelle sudah mengeluh lama.
Vanilla meminta Nada untuk menemani anaknya sebab Vanilla ingin membersihkan kamarnya. Pagi-pagi seperti ini Vanilla tidak bisa hanya diam. Tangan dan kakinya gatal ingin punya kesibukan.
"Griz, Nada duduk di sini ya,"
Grizelle menoleh saat Nada tib-tiba datang dan meminta izin untuk duduk di sampingnya.
"Boleh, duduk saja, Nada," katanya.
"Kenapa tidak menunggu Pupu di dalam saja?"
"Tidak mau. Menunggu di sini lebih menyenangkan,"
"Seandainya kakimu tidak sakit, pasti sudah bermain di halaman ini ya?"
"Iya, tapi sayangnya kakiku masih luka,"
"Kalau diajak jalan-jalan oleh Pupu pasti cepat sembuh,"
Grizelle terkekeh membenarkan. Itu bisa jadi alasan supaya Ia keluar meskipun kakinya sedang tidak baik-baik saja.
"Griz bosan di rumah ya? kesepian juga?"
Grizelle mengangguk jujur. Seandainya saja di rumahnya ada anak sesusia dirinya atau seperti Aurisella, andrean maupun Adrian. Pasti sangat menyenangkan.
Tapi kalau sekarang Grizelle malah lebih memilih masuk sekolah saja daripada di rumah. Karena Ia cepat bosn kalau berada di rumah. Mainannya banyak, ada Vanilla, Nada juga yang bisa menjadi temannya. Tapi tetap saja rasanya akan berbeda jika berteman dengan anak kecil juga sepertinya. Suasananya berbeda.
"Nanti kalau adik sudah lahir, Griz tidak akan kesepian lagi,"
"Huh aku tidak sabarrl (sabar) aku akan kedatangan tamu yang istimewa,"
Grizelle menangkup wajahnya dengan kedua tangan sehingga terlihat begitu menggemaskan. Ia menggambarkan sebesar itu rasa tidak sabarnya menantikan kelahiran sang adik yang Ia sebut tamu istimewa.
"Yeaay tamu istimewa nya laki-laki atau perempuan ya?"
Grizelle menggeleng pelan. "Tidak tahu, apa saja lah. Aku bingung kalau jawab itu. Aku ingin punya adik laki-laki tai aku juga ingin punya adik perrlempuan (perempuan) supaya kami bisa berrmain berrlsama (bermain bersama),"
"Memang kalau laki-laki, tidak bisa bermain bersama?"
"Bisa, tapi mainannya saja berbeda, Nada,"
"Oh iya, ya. Griz bermain barbie, adiknya bermain robot,"
"Tidak bisa berrltukarrl (bertukar) mainan," katanya seraya terkekeh.
Adanya Nada membuat Grizelle tak mengeluh lama lagi dengan Pupunya yang belum juga selesai bersepeda.
__ADS_1
"Apa saja yang terpenting sehat ya?"
"Iya, Mumu juga sehat. Jadi tidak ada sedih-sedih nanti saat Mumu melahirrlkan (melahirkan) adik,"
Kring
Kring
Jhico memasuki halaman tanpa disadari Grizelle. Anaknya iitu menoleh ketika mendnegar denting bel sepedanya.
"Ayo, kita jalan-jalan,"
"Yeaay jalan-jalan,"
"Hmm..."
Jhico berdehem saat Grizelle akan melompat. Sering Grizelle lupa kalau kakinya kini tengah terluka.
"Mumu dimana?"
"Di kamarrl (kamar) sibuk, Pu,"
"Sibuk apa?"
"Ya biasa, sibuk berrlsih (bersih) ini dan itu,"
"Mumu rajin sekali. Padahal sudah dikatakan jangan sibuk lagi dengan kegiatan semacam itu tapi masih saja,"
Jhico mengambil golf cart nya diantara beberapa koleksi mobilnya.
Jhico mengangkat sang putri untuk kemudian ditempatkan ke dalam golf cart.
"Bye, Nada,"
Grizelle melambai pada Nada yang meihatnya pergi. Nada melakukan hal serupa. Ia tersenyum melihat Grizelle yang bajagia sekali padahal hanya diajak mengelilingi sekitar rumah menggunakan kendaraan terbuka seperti itu.
Nada masuk ke dalam. Ia melaporkan pada Vanilla bahwa Grizelle sudah berangkat dengan ayahnya,sesuai dengan permintaan Vanilla tadi agar Ia memberi tahu Vanilla bila Grizelle sudah pergi bersama ayahnya.
"Icelle senang tidak?"
"Senang, Icelle senang," Grizelle menggemaskan sekali menyahuti ayahnya yang kini mengendarai mobil model terbuka yang membawanya kini.
"Pupu panggil Icell juga sama seperti triple A,"
"Grrliz (Griz) juga tidak apa,"
"Icelle saja. Kakak Icelle," kata Jhico menoleh seraya tersenyum pada putrinya.
"Ah sebentar lagi ada yang menjadi Kakak,"
"Sudah siap dipanggil Kakak?"
"Siap, Pu! hmm tapi tidak dipanggil kakak juga tidak apa,"
Jhico tertawa melihat antusias yang dimiliki putrinya. Memang kelihatan sudah siap sekali menjadi seorang kakak dari adiknya yang kini tengah dikandung Mumu nya.
__ADS_1
"Nanti kira-kira kalau adik sudah lahir, kalian sering bertengkar tidak ya? dan adikmu nanti lebih manja dengan Mumu atau Pupu ya","
Jhico mulai membayangkan kehidupannya nanti setelah memiliki dua anak. Entah akan lebih dekat dengan siapa, anak keduanya nanti.
"Kalau aku dekat dengan siapa, Pu?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Aku dekat dengan Mumu dan Pupu. Tidak hanya salah satu saja,"
Menyenangkan sekali kwtika menghabiskan waktu berdua seperti ini bersama Grizelle, putrinya. Ini salah satu cara Jhico menghilangkan penatnya.
"Aku belum jadi ke tempat berrlmain (bermain) dengan trriple A, Pu,"
"Kapan mau ke sana? nanti saja setelah sembuh ya? lagipula tidak akan bisa bermain dengan kaki sakit begitu, Sayang,"
Oban mereka tidak jelas topiknya tapi tetap menyenangkan. Tiba-tiba tangan Jhico terulur menyentuh dahi dan leher putrinya.
"Sudah tidak demam,"
"Karrlena (karena) aku diajak jalan-jalan oleh pupu,makanya aku cepat sembuh,"
"Sudah sembuh?"
"Iya, aku sehat, Pu. Makanya aku mau sekolah,"
"Besok sekolah. Sekrang biar istirahat yang banyak dulu setelah kita jalan-jalan ya?"
"Pupu datang ke klinik?"
"Iya, Sayang,"
"Oh aku kirrla (kira) liburrl (libur),"
Jhico terkekeh mendengar gumaman anaknya yang terdnegar seperti berhar sekali ia libur.
*****
-Sayang, Evelyn, cucunya Thomas rekan kerja Papa yang pernah mengundang Grizelle ke pesta ulang tahunnya, mengirim boneka untuk Griz-
Karina berhasil mengirim pesan tersebut kepada Vanilla. Saat belum berangkat ke kantornya tadi, Thanatan mengingatkan dirinya agar segera memberikan boneka itu pada Grizelle.
"Dia pasti suka. Koleksi bonekanya bertambah," ujar Thanatan yang membuat Karina senang. Ia kira Thanatan menyuruhnya untuk secepat mungkin menyerahkan boneka tersebut karena Thanatan tidak suka ada boneka di kamar mereka.
"Aku kira kamu tidak suka dengan boneka itu bila ada di rumah kita, makanya kamu minta aku untuk secepat mungkin diberikan pada Griz"
"Sejujurnya iya. Kamar ini jadi memiliki koleksi boneka lagi,"
Karina tertawa tak menampik bahwa dua boneka milik Grizelle kini berada di kamar mereka yang biasanya tak ada barang menggemaskan itu.
"Sekalian berikan dua boneka itu pada pemiliknya,"
"Jangan! Griz memang sengaja meninggalkannya di sini. Katanya untuk kita berdua, Pa,"
Thanatan menggeleng heran. Kenapa harus boneka? padahal ada barang lain yang bisa ditinggal di sini sebagai kenang-kenangan atau penawar bila rindu dengan sosok mungil itu misalnya baju, atau barang lainnya yang bukan boneka. Melihatnya saja Thanatan kesal. Boneka terlalu menggemaskan untuk dirinya yang berkarakter tegas, dingin, dan berkharisma.
__ADS_1