
Vanilla menaiki ranjang. Ia bersiap untuk tidur, meninggalkan sang suami yang terdiam menatapnya
"Nilla, jangan bicara begitu,"
Jhico beringsut mendekati Vanila. Ia memeluk Vanilla dan Vanilla bergerak tidak nyaman.
"Maafkan aku. Jangan marah, Nilla."
"Tidur, Jhi. Aku mengantuk,"
Vanilla menyuruh suaminya untuk pindah ke posisi biasanya yaitu di samping Grizelle hingga Grizelle berada di tengah-tengah mereka.
"Aku tidak akan tidur sebelum kamu memaafkan aku,"
"Kamu tidak salah apapun. Tidak usah meminta maaf,"
Vanilla mengatakan itu seraya memejamkan mata. Ia menggunakan lengan sebagai tumpuan kepalanya.
Jhici mengusap kepala Istrinya yang Ia tahu belum terlelap. Jhico mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri lalu berbisik,
"Nilla, selesaikan dulu masalah kita."
"Jhico, kita tidak ada masalah. Jangan ganggu aku. Aku mau tidur,"
Jhico menghembuskan napas pelan. Vanilla benar-benar sudah menganggap masalah mereka selesai sementara Jhico merasa sebaliknya.
Vanilla sedang menahan diri untuk marah lagi. Tadi Jhico masih saja bicara seolah Vanilla tidak memiliki kasih sayang pada Keyfa. Secara tidak langsung Jhico menyalahkan Vanilla padahal Vanilla sudah berbaik hati dengan memenuhi keinginan Jhico agar ikut menemaninya dan Keyfa ke toy store.
*****
Pagi ini sikap Vanilla sudah seperti biasa. Seolah tidak terjadi apapun semalam. Jhico bersyukur akan hal itu. Ia tidak bisa dihiraukan Vanilla seperti kemarin siang saat ada Mamanya.
"Selai apa?" Tanya Vanilla pada suaminya.
Pagi ini Jhico ingin sarapan dengan roti saja. Vanilla sedikit kecewa karena Ia sudah masak. Tapi tidak apa. Ia tidak bisa memaksa Jhico agar menyantap masakannya pagi ini. Lagipula Jhico bilang, masakan itu dijadikan bekal saja untuknya makan siang di klinik.
"Strawberry,"
Vanilla segera mengoleskan roti dengan selai sesuai permintaan suaminya. Setelah jadi, Ia menyajikannya di depan Jhico. Sudah ada teh hijau kesukaan Jhico sebagai temannya menyantap roti.
"Griz belum bangun---"
Belum selesai Jhico bertanya, suara tangis anaknya sudah menggema dari kamar. Vanilla segera meninggalkan meja makan untuk menghampiri putri kecilnya.
"Mumu datang. Jangan menangis, Sayang."
Setelah melihat Vanilla, tangis Grizelle perlahan berhenti. Vanilla menyambutnya seraya tersenyum.
Vanilla segera menggendong sang anak. Ia mengusap pipi Grizelle yang basah oleh air matanya.
Vanilla membawa anaknya ke ruang makan. "Tidak bisa ditinggal sebentar langsung menangis," ujar Jhico seraya terkekeh kecil.
Vanilla duduk membawa anaknya di pangkuan. "Kamu belum makan, Nilla." ucap Jhico.
"Nanti, Griz sudah terlanjur bangun,"
Suasana di meja makan hanya diisi oleh suara Vanilla yang mengajak Grizelle bercanda hingga tidak terasa suaminya selesai menyantap roti serta teh hijau nya.
__ADS_1
Jhico bangkit dan segera berpamitan. Ia mengecup kening dan pipi Grizelle lalu melakukan hal yang sama pada istrinya.
"Aku berangkat. Kalian hati-hati. Bye,"
"Bye, Pupu." Vanilla mengangkat tangan Grizelle yang digendongnya agar melambai pada Jhico.
*****
Vanilla baru saja keluar dari ruangan dokter anak. Hari ini ada jadwal Grizelle periksa rutin. Jhico tidak bisa menemaninya karena di klinik ramai pasien. Biarpun Jhico sangat ingin tahu bagaimana kondisi kesehatan anaknya dan juga perkembangannya, tapi Ia tidak bisa meninggalkan kewajibannya sebagai tenaga kesehatan.
Ia ditemani Rena hari ini. "Walaupun lahir belum waktunya, tapi syukurnya Griz selalu sehat,"
"Iya, Ma. Aku bersyukur sekali,"
Vanilla menggendong anaknya yang tenang-tenang saja karena Ia sudah kenyang dan popok nya belum penuh.
Saat Vanilla menunduk untuk memperhatikan anaknya sekilas, ada yang menabrak tubuhnya tidak sengaja.
"Hati-hati, Sayang." ujar Rena pada anak yang baru saja keluar dari koridor dan tidak sengaja berpapasan dengan Vanilla. Ia tidak sadar kalau ada Vanilla karena Ia sibuk bermain game.
"Kakak manis?"
"Keyfa,"
"Kakak dokter dimana?" hal pertama yang ditanya oleh anak itu adalah Jhico.
"Bekerja, Kamu sedang apa di sini?"
"Berobat, biasa."
"Itu anak kakak manis?"
Vanilla mengangguk seraya tersenyum. Perempuan itu sudah lupa dengan rasa kesal terhadap Keyfa yang sempat menyelubungi hatinya kemarin.
"Boleh aku lihat?"
Vanilla lagi-lagi mengangguk. Vanilla merendahkan tubuhnya sedikit agar Keyfa bisa melihat Grizelle yang nyaman dalam gendongannya.
"Cantik, tapi masih cantik aku ya. Hahaha,"
"Keyfa, Ibu cari kemana-mana. Ternyata di sini,"
Vivi nampak tersengal ketika mendekati anaknya yang pergi tanpa izin dulu darinya disaat Ia sedang bicara dengan dokter.
"Namanya?"
"Grizelle,"
"Wow nama yang indah,"
Terkadang anak itu menyebalkan, tapi terkadang juga membuat orang gemas. Tadi Ia tidak mau kalah dari Grizelle, Ia memuji dirinya juga cantik. Dan baru saja Ia memuji Grizelle lagi tanpa mengaku lebih dari Grizelle seperti sebelumnya.
"Grizelle sehat-sehat saja 'kan, Vanilla?" tanya Vivi pada Ibu satu anak itu.
"Iya, sehat."
"Ya sudah, aku pulang dulu ya, Kakak manis. Sampaikan salam rindu untuk Kak dokter,"
__ADS_1
******
"Keyfa itu siapa, Van?"
"Pernah menjadi pasien Jhico, Ma."
"Oh, kelihatannya sudah akrab sekali dengan kamu dan Jhico,"
"Iya, kami sering bertemu di beberapa kesempatan,"
"Bagaimana ceritanya dia bisa menjadi pasien Jhico?"
"Kalau tidak salah kata Jhico, Dia punya kelainan jantung. Saat itu Keyfa datang ke rumah sakit dalam kondisi darurat dan kebetulan Jhico sedang berjaga. Jhico sempat memeriksa dia setelah itu Jhico memanggil temannya yang merupakan dokter spesialis jantung yang baru pulang agar kembali lagi ke rumah sakit agar Keyfa mendapatkan penanganan yang tepat,"
"Oh pantas dia seperti dekat sekali dengan Jhico sampai titip salam,"
*****
Vanilla sedang menikmati waktu berdua bersama Jhico di balkon kamar. Grizelle tidur, saatnya mereka berdua menghabiskan waktu sampai rasa kantuk tiba.
Mereka duduk di kursi. Dan terdapat dua cangkir cokelat panas sebagai penghangat saat udara malam begitu menusuk kulit.
Terlalu lezat cokelat panas itu sampai punya Vanilla sudah habis lebih dulu daripada suaminya.
"Aku minta ya,"
"Ambil, kenapa harus izin?"
Vanilla dengan senang hati meneguk minuman milik suaminya itu. Selain matcha, Vanilla juga menyukai cokelat.
Jhico sampai dibuat terperangah saat melihat istrinya meneguk isi cangkir hingga tinggal sedikit.
"Kamu buang air kecil terus nanti," ujar Jhico seraya terkekeh kecil. Vanilla menyecap rasa yang tertinggal di sekitar bibirnya.
Melihat itu, Jhico segera mengambil alih. Ia menggunakan bibirnya untuk mengulangi apa yang Vanilla lakukan tadi.
Vanilla terbawa suasana beberapa saat. Setelah sadar bahwa saat ini mereka tengah di balkon, Ia segera melepas tautan bibir nya dan Jhico. Ia memukul dada bidang sang suami.
"Belum selesai, Nilla."
Jhico akan kembali mendekati bibir Vanilla tapi Vanilla segera menutup mulut suaminya yang tiba-tiba saja agresif.
"Tadi aku bertemu Keyfa," ujar Vanilla mengalihkan.
"Oh ya? di rumah sakit?"
"Iya, kamu tahu dia ke rumah sakit?"
"Tahu, setiap mau ke rumah sakit dia selalu cerita dan minta disemangati,"
"Oh, setiap kali mau ke rumah sakit begitu?"
"Iya, aku rasa tidak masalah. Karena dia memang butuh dukungan dari orang di sekitarnya,"
Author dtg di jam pocong nih😂😂 aku up ini jam 00.29. Kalian baca jam berapa? komen yaa
__ADS_1