Nillaku

Nillaku
Nillaku 363 Meminta Daddy agar mau memasak


__ADS_3

Apapun akan dilakukan bila anaknya sudah meminta. Apapun, termasuk meminta untuk dimasaki sesuatu.


Devan yang sangat-sangat jarang turun ke dapur, kali ini memenuhi permintaan putrinya untuk dibuatkan mac and cheese.


Lovi diminta Auristella untuk diam di kamar sementara Devan ke dapur.


"Mommy tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi dapur sekarang," gumamnya ditengah-tengah kegiatannya menonton televisi bersama sang putri.


Auristella terpingkal-pingkal, membayangkan ayahnya kini. Pasti sulit sekali bagi Devan. Sementara bila Lovi yang melakukannya pasti tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya dan menghidangkan mac and cheese di hadapan Auristella.


"Lama ya, Mom,"


"Iya, sabar, Sayang,"


"Aku sudah lapar,"


Lovi terkekeh mengelus perut anaknya. "Memang sudah lapar?" bukankah tadi sudah makan siang,"


"Iya, lapar. Perutku tidak sabaran makan masakan Daddy,"


*******


Devan menghemnuqkan napaa plan. Ia menggeleng melihat kondisi dapur saat ini.


"Benar-benar memalukan sekli," desisnya tak habis pikir dengan hasil kerjanya. Mac and ceese jadi, tapi dapur jadi berantakan sekali. Ia meminta pada semua maidnya untuk menjauh,tak boleh membantunya. Itu ataa permintaan Auristella juga.


Meskipun Auristella seperti tengah mengerjainya tapi Devan tidak kesal sama sekali. Ia justru merasa tertantang dengan permintaan anaknya.


"Ah tidak mengerjaimu, Devan! anakmu memang sedang ingin dimanja olehmu," batinnya berbicara.


Devan menatap hasil kerjanya. Ia menghidu aromanya. Kalau dari aroma, lezat sekali. Penampilannya tidak begitu bagus,dan entah bagaimana dengan rasa. Semoga anaknya suka.


Devan meninggalkan dapur yang berantakan. Ia meminta tolong pada maid untuk menatanya kembali.


"Maaf sudah mengacaukan. Tolong ditata kembali ya," pesannya pada mereka yang langaung mengangguk patuh.


Devan membawanya ke kamar. Entah kenapa Ia merasa tak sabaran menantikan reaksi dari putrinya. Ia takut mengecewakan.


Tok


Tok


Tok


"Permisi, kedua Tuan putri Daddy,"


Devan memasuki kamar dengan gayanya yang seperti seorang pelayan restaurant dengan memberikan sapa yang hangat.


"Yeayyy terimakasih ya, Dad,"


Auristella menerima mac and cheese yang diserahkan ayahnya. Ia menatap Devan yang kelihatan cemas. Anak itu terkekeh geli. Tangannya mengusap pipi Devan dengan lembut.


"Dad, kenapa cemas? aku pasti akan makan ini,"


"Ya, tapi Daddy takut kamu tidak menyukainya,"


"Dicoba dulu, Sayang," suruh Lovi pada anaknya. Auristella segera menyuap satu sendok ke dalam mulutnya.


"Haaa panas," Auristella membuka mulutnya lebar-lebar agar uap keluar dari sana.

__ADS_1


"Pelan-pelan, Sayang. Masih panas itu,"


"Tapi aku tidak sabaran,"


Devan mengambilkan air minum di dispenser untuk anaknya. "Ini minumnya, Tuan putri,"


Auristella terkekeh dipanggil seperti itu sudah dua kali. Auristella mengangguk disela kunyahannya.


"Bagaimana? lezat? atau rasanya sangat buruk?"


"Lezat, Dad. Coba Daddy makan,"


Auristella menyuapi ayahnya. Devan mengerjap terkejut. Ternyata tidak buruk juga rasanya. Auristella menyuapi Mommynya juga agar mereka bertiga sama-sama mencoba.


"Hmm lezat, Dad," puji Lovi seraya memberiman ibu jarinya sebagai tanbahan pujian untuk sang suami.


Devan tersenyum puas. Ia senang mengetahui kalau anak dan istrinya menilai masakannya tidak buruk.


"Ini awal yang baik,"


"Dad, sering-sering masak ya,"


"Hmmm bagaimana ya?" Devan pura-pura menimbang. Padahal dalam hati Ia sudah menyanggupi. Apa yang tidak untuk anaknya?


"Iya lah, Dad. Aku 'kan anak Daddy,"


"Iya, Sayang. Daddy sering masak nanti,"


"Benar ya?" kali ini Lovi yang bertanya. Ia menaik turunkan alisnya menatap sang suami.


Lumayan kalau suaminya mau memasak. Kesibukannya sedikit berkurang. Lovi tertawa dalam hati.


Devan kelihatan tertekan dan itu mengundang tawa geli Lovi. Kini Lovi menatap anaknya,mengusap rambut Auristella.


"Jangan sering-sering, Sayang. Kasihan Daddy karena Daddy juga sibuk bekerja,"


"Pengertian sekali kamu,"


Cup


Devan mengecup kening istrinya yang sudah baik sekali meberi pengeetian pada anaknya agar tidak terlalu sering meinta Ia memasak.


"Kasihan pada maid, Sayang. Karena Mommy yakin mereka harus kerja keras untuk membereskan kekacauan yang Daddy ciptakan,"


Auristella terbahak, dan Ia penasaran apakah ucapan Lovi itu benar adanya.


"Memang berantakan, Dad?"


Devan menggeleng pelan namun berseru, "Huh. Auris lihat sendiri ke dapur,"


Aurisella kian terbahak. Ah, kalau begitu Ia tidak akan sering meminta dimasaki.


"Iya, aku tidak akan meminta dimasaki Daddy,"


"Tidak apa minta dimasaki, tapi jangan terlalu sering," Devan tersenyum meringis. Ia tidak masalah kalau Auristella minta dimasaki olehnya asal jangan terlalu sering sebab Ia bukan Lovi yang menganggap pekerjaan itu sangtlah mudah.


Kalau berkutat dengan berbagai dokumen dan laptop, Ia tidak masalah sama sekali. Tapi kalau berkutat dengan peralatan masak, Devan merasa kesulitan.


"Besok Daddy krja?"

__ADS_1


"Ya?" Devan itu bertanya. Barangkali anaknya akan melarang Ia bekerja lagi sama halnya dengan hari ini.


"Hmm kalau tanya aku, aku tentu tidak mau Daddy pergi bekerja. Tapi 'kan Daddy harus mencari uang ya. Banyak juga yang bergantung pada Daddy. Jadi besok daddy kerja saja. Hari ini sudah cukup menemani aku,"


Devan tersenyum senang, berterimakasih karena anaknya sudah pengertian sekali.


"Dihabiskan mac and cheese nya,"


"Daddy tidak mau?"


"Habiskan oleh Auris,"


Auristella menawarkan Lovi juga dan mommynya itu menggeleng. Auristella kelihatan menyukainya maka Lovi dan Devan membiarkan anak mereka saja yang menyantapnya.


"Terimakasih ya, Dad,"


"Ya, Sayang,"


"Kalau aku minta dibuatkan sesuatu boleh?"


Devan menatap istrinya yang tiba-tiba bicara seperti itu. "Mau dibuatkan apa, Sayangku?" tanya lelaki itu dengan senyum. Walaupun Ia sudah pusing dulu membayangkan akan masak lagi. Tapi tidak apa! istrinya jarang sekali meminta sesuatu padanya. Dan ini terbilang sederhana. Bukan barang-barang mahal yang Ia inginkan.


"Minta dibuatkan teh hangat saja,"


"Oh, okay. Sebentar ya,"


Ia kira Lovi minta dimasaki sesuatu. Ternuata hanya teh hangat.


Devan keluar dari kamarnya kembali ke dapur yang kini sudah tertata rapi.


"Ada yang bisa dibantu, Tuan?"


"Oh tidak, terimakasih,"


Devan membuatkan satu mug teh hangat untuk istrinya. Semoga takarannya tepat. Tidak terlalu panas.


Ia kembali ke kamar, membawa satu mug teh hangat punya istrinya.


"Yeay terimakasih ya, Sayang,"


"Iya, Sayang," bukan Devan yang menjawab melainkan Aurusella. Isuka dengan kemesraan kedua orangtuanya. Dan Ia berhasil membuat Mommynya tersipu ketika Ia menjawab seperi itu.


"Sama-sama, Lov," sahut Devan.


Lelaki itu duduk di tengah anak dan istrinya. Auristella tiba-tiba menyuapi mac and cheese yang tersisa sedikit ke mulut ayahnya.


"Daddy tidak gagal,"


"Daddy sudah takut kamu tidak menyukainya, hasilnya buruk,"


"Tapi ternyata enak. Aku suka,"


"Daddy senang mendengarnya,"


"Aku juga senang karena Daddy mau memenuhi keinginanku,"


"Daddy hebat!" puji lovi pada suaminya.


"Ya, Daddy hebat. Bisa masak enak,"

__ADS_1


"Kawal Daddy sampai jadi chef di rumah ini," seru Lovi seraya mengangkat kedua tangannya seolah sedang demonstrasi. Devan dan Auristella terbahak melihatnya.


__ADS_2