Nillaku

Nillaku
Nillaku 226 Laporan pada Kakek


__ADS_3

"Ini menangis nya karena rewel saja. Tadi waktu pertama kali dipasang infus tidak menangis, pintar. Pupu juga sudah berpesan tadi kalau dipasang infus jangan menangis," ujar Vanilla memperhatikan anaknya yang tengah bergelung dalam pelukan ayahnya.


"Tapi 'kan kalau hanya dipasang sekali, Mu. Ini dua kali,"


"Iya dipasang dua kali karena siapa? perawat juga sudah mencari tempat yang lain untuk disuntik. Yang tadi keluar darah tidak dipasang infus lagi 'kan?"


Jhico mengusap kening putrinya yang berkeringat dan wajahnya yang basah karena air mata.


"Aku tidak mau tiga kali, empat kali, lima kali. Sudah, dua kali saja!"


"Iya, sudah jangan cemberut begitu,"


Jhico mengetuk bibir anaknya yang mengerucut dengan jari telunjuknya.


"Sekali tidak menangis. Dua kali menangis. Nanti kalau ada ketiga aku akan guling-guling,"


Jhico tak bisa menahan tawanya, begitupun Vanilla. Grizelle mengatakannya dengan sorot serius tapi mampu membuat perut orangtuanya tergelitik untuk tertawa.


"Tidur sekarang ya,"


"Mama Karina jadi tahu kalau Griz di sini?"


"Iya, tadi Griz teriak saat aku bicara dengan Mama di telepon,"


"Ah Griz sih harus menangis segala. Pasti Nay-Nay khawatir itu. Tidak bisa tidur,"


"Hmmm..." Grizelle merengek saat  Vanilla terdengar mengomeli dirinya. Ia kian menyusup masuk ke dalam rengkuhan ayahnya.


"Mau bicara dengan Nay-Nay tidak? kita telepon,"


Grizelle mengangguk setuju. Jhico segera meminta diambilkan ponsel oleh Vanilla karena Ia tak bisa bergerak sedikitpun dari pelukan Grizelle.


Usai memeluk Mumunya, Grizelle bergantian menjerat Pupunya. Benar-benar manja kalau sedang sakit seperti ini.


"Hallo, Co. Kenapa? ada apa dengan Griz?"


"Hallo, Nay-Nay,"


Mendengar suara serak cucunya hati Karina teremas. "Sayang bagaimana keadaanmu? kenapa belum istirahat? Ini sudah malam sekali,"


"Belum bisa, Nay-Nay,"


"Sudah makan tadi?"


"Jangan susah-susah kalau disuruh makan dan minum oleh Mumu ya?"


"Iya, kata doktel (dokter) juga begitu,"


"Nah apalagi kalau Dokter sudah berpesan seperti itu, Grizelle harus patuhi biar cepat sembuh, memang mau di rumah sakit terus? tidak 'kan? tangannya sakit karena diinfus. Jadi tidak bisa bermain,"


"Iya, aku tidak bisa sekolah juga,"


"Maka harus banyak istirahat ya. Kalau sudah sembuh, bisa kembali ke rumah, bisa kembali belajar di sekolah dan bermain lagi,"


Karina memberi pesan dengan lembut pada Grizelle. Sementara Grizelle mendengarkan dengan serius dan sesekali Ia mengangguk.


"Iya, Nay-Nay,"


"Makan buah juga,"


"Belum ada buah,"

__ADS_1


"Apa belum ada buah. Ini banyak buah," sahut Vanilla seraya menunjuk buah-buahan yang dibawa oleh asisten di rumahnya ke sini.


Grizelle terkikik menatap Ibunya. "Banyak buah, Ma. Tapi Griz susah disuruh memasukkan apapun ke mulutnya," Vanilla bicara disela kegiatannya yang sedang menata perlengkapan Grizelle yang tadi dibawa sekalian dengan buah.


"Jangan begitu, Griz. Kasihan Mumu dan Pupu kalau Griz sakit seperti itu. Mereka khawatir. Bisa-bisa nanti mereka sakit juga,"


"Jangan, Tidak boleh,"


"Iya, makanya harus patuh ya,"


"Okay, Nay-Nay. Oh iya, kakek sudah tidul(tidur)?"


"Hmm...belum, masih bekerja,"


"Di lumah (rumah)?"


"Iya, Sayang,"


"Oh..."


"Kenapa? Griz mau bicara?"


Jhico menarik ponselnya dari genggaman Grizelle sebelum Grizelle menjawab pertanyaan Karina.


"Kakek sibuk, jangan diganggu," ucapnya pelan pada sang putri berharap Ia mengerti. Karina tidak mendengarnya karena Jhico hampir berbisik.


Jhico hanya tidak ingin Grizelle bicara pada Thanatan tapi tidak ada sambutan dari Papanya itu. Nanti Grizelle sedih. Sementara untuk saat ini, anak itu tidak boleh dibuat drop dalam hal apapun.


"Aku hanya ingin lihat Kakek kelja (kerja) saja, Pu,"


"Oh boleh, Nay-Nay ubah jadi video call ya,"


Selang sedetik kemudian usai panggilan suara dimatikan, kini Karina menghubungi cucunya dengan panggilan video.


"Ini Kakek sedang bekerja,"


"Kenapa tidak di luang kelja (ruang kerja)?" tanya Grizelle ketika Karina mengarahkan kamera pada Thanatan yang duduk di sofa berkutat dengan pekerjaan dan belum menyadari bahwa dirinya di sorot oleh kamera ponsel Karina.


"Entah, mungkin bosan kerja di sana. Jadi kerja di kamar,"


"Kakek sibuk sekali ya?"


Thanatan menoleh pada Karina dan Ia baru sadar kalau Ia tengah dibicarakan.


Ia mengangkat satu alisnya menatap Karina. "Grizelle?" tanya nya pada sang istri.


Karina memutar bola mata. "Dari tadi aku bicara dengan Grizelle. Memang kamu pikir siapa? makanya kalau kerja itu telinga tetap dipakai,"


Karina menggerutu karena memang Thanatan kerap sekali menjadi tidak tahu apa-apa kalau sudah berkutat dengan pekerjaan. Tidak sadar dengan sekitarnya.


"Kakek... kakek, aku sakit,"


Grizelle memanggil kakeknya yang Ia lihat menoleh pada kamera. Ia memanggil kakeknya dan mengadu hingga mengalihkan perhatian kakeknya.


"Apa yang masih sakit? radangnya?"


Grizelle tersenyum ketika Thanatan menanggapi laporan mengenai dirinya sekarang.


"Iya, aku demam, telus (terus) hidungku telsumbat (tersumbat) juga,"


"Ya sudah, banyak istirahat. Kenapa masih belum tidur sekarang?"

__ADS_1


"Iya, belum mengantuk,"


Vanilla, Jhico dan Karina menjadi pendengar. Karina menyerahkan ponselnya pada sang suami agar Grizelle bisa melihat wajah kakeknya lebih dekat.


"Tapi kamu harus tidur. Anak kecil seharusnya sudah tidur sekarang ini," tegurnya.


Ia bicara dingin seperti biasa tapi ada gurat cemas yang tak bisa ditutupi dari wajahnya.


"Kakek juga belum tidul (tidur) malah kelja (kerja),"


Jika biasanya Thanatan akan kesal ketika diatur seperti itu. Tapi untuk kali ini, Ia merasa tidak punya keinginan memarahi Grizelle sedikitpun.


Melihat wajah pucat cucunya itu, Thanatan justru ingin bertemu dengannya sekarang, kemudian memenuhi semua permintaannya.


"Kakek, besok pasti sibuk ya?"


"Kenapa memangnya?"


"Aku mau makan siang dengan kakek di sini. Kalena (karena) aku belum boleh pelgi (pergi) kemanapun,"


"Besok kakek datang,"


"Hah? yang benar, Kakek?"


Uhukk


Uhukk


Grizelle mengeluarkan suara terlalu keras hingga terbatuk. Jhico segera mengusap lembut punggung anaknya dan memberikan minum.


"Jangan teriak seperti itu. Kamu sedang batuk,"


"Iya, maaf. Aku senang,"


Jhico tak menyangka bahwa Grizelle sebegitu senangnya ketika sang kakek menyanggupi permintaannya.


"Tapi Kakek benal (benar) datang ya? Kakek janji?"


"Hmm," Thanatan hanya bergumam sebagai jawaban. Sesekali Ia masih fokus dengan pekerjaannya.


"Besok aku mau Glandpa dan Glandma datang juga. Oh iya, kakek datangnya dengan Nay-Nay ya. Setelah kelulusan Mumu, Glandma mengundang Mumu untuk makan malam di lumah(rumahnya) nya. Tapi kalena (karena) aku sakit, jadi kita makan siang saja di lumah (rumah) sakit ini. Dan aku mau, kakek dan Nay-Nay juga ikut,"


"Oh iya jangan lupa ajak Oma Hawla juga ya, Kakek," imbuhnya kemudian.


Thanatan tersenyum tipis. Sepertinya keinginan Grizelle adalah, kakek dan neneknya berkumpul. Sekalipun di rumah sakit tidak apa.


"Iya, sekarang kamu tidur. Kakek ingin kembali bekerja. Kamu mengganggu kakek,"


"Hmm...maaf ya, Kakek," menyadari kesalahannya Grizelle langsung meminta maaf.


"Tidak akan Kakek maafkan kalau kamu tidak tidur," tegas Raihan agar cucunya itu tak membantah diminta untuk segera istirahat.


"Tapi aku belum mengantuk," rajuk Grizelle.


"Aku temani Kakek bekelja (bekerja) saja. Boleh tidak? aku tidak akan mengganggu. Aku janji. Videonya jangan dimatikan. Boleh kah, Kakek?"


Permintaan sederhana yang tidak mungkin ditolak Thanatan apalagi setelah melihat raut penuh permohonan Grizelle.


------


Hullaa good morning everyone. Hr selasa nih, kegiatan kalian apa? belajar, kerja, atau yg lainnya? aku mau double up lg. Mau nungguin gk?

__ADS_1


__ADS_2