Nillaku

Nillaku
Nillaku 101


__ADS_3

Setelah berbelanja, Jhico memutuskan untuk mengajak Vanilla, Vivi, Ferdy, dan Keyfa untuk makan di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat mereka membeli baju tadi.


Jhico setia menggendong Keyfa sementara tangannya yang satu menggenggam Vanilla. "Jenis kelamin anak kakak dokter apa? perempuan ya?"


"Ya, dia akan menjadi temanmu."


"Aku tidak sabar menunggu dia lahir," Jhico tersenyum mendengar ucapan Keyfa. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Keyfa.


Kelahiran putrinya sudah dinanti-nanti olehnya dan Vanilla dan keluarga Vanilla khusus nya Rena dan Raihan. Kalau keluarganya? entah, Jhico juga tidak tahu dan tidak ingin tahu. Bila anaknya tidak dinantikan oleh keluarganya, tidak ada masalah untuk Jhico.


Melihat betapa perhatian dan sayangnya Jhico terhadap Keyfa, Vanilla berharap anaknya juga bisa mendapatkan itu semua dari Jhico.


Setelah makanan disajikan, Vanilla langsung bergegas ingin menikmati. Tapi mendengar Keyfa yang bicara pada suaminya, Ia menoleh.


"Kakak dokter, suapi aku ya."


"Ya, supaya makan-mu habis,"


Vivi dan Ferdy merasa senang karena anaknya bisa kembali bertemu dengan Jhico dan ini tanpa disengaja. Kebersamaan mereka kembali terjadi dan sepertinya Vanilla tidak keberatan sama sekali, itulah yang membuat mereka bersyukur.


"Usia kandung mu sudah berapa bulan, Vanilla?" tanya Vivi di sela mereka makan. Vanilla berhenti mengunyah kemudian menjawab dengan sopan, "Jalan lima bulan, Nyonya."


"Ah jangan panggil aku Nyonya. Ibu saja, seperti Jhico."


Vanilla mengangguk pelan. Ia belum terlalu mengenal Vivi oleh sebab itu masih sungkan bila menyamakan diri seperti Jhico yang sudah cukup lama mengenal keluarga kecil itu.


"Hah ini pedas. Aku tidak mau,"


"Kamu yang menuangnya sendiri," ujar Jhico seraya menyingkirkan bumbu pedas dari Mac and cheese yang dimakan Keyfa.


"Sudah terlanjur bercampur. Pesan lagi saja,"


Jhico kasihan pada anak itu. Akhirnya Ia memesan menu yang sama. Keyfa sampai berkeringat padahal baru mencicipi sedikit. Vivi mengusap kening anaknya yang basah oleh keringat.


"Jangan pakai ini lagi nanti," ujar Jhico seraya menunjuk botol yang isinya bumbu berwarna merah segar itu.


Melihat Keyfa yang sepertinya sangat kepedasan, Vanilla jadi penasaran. Ia ingin mencoba, karena Ia sangat menyukai pedas. Dan sudah lama Ia tidak makan masakan yang pedas.


Jhico menepuk pelan tangan Vanilla yang akan mengambil botol bumbu pedas tadi. Jhico menggeleng tegas.


"Aku mau coba sedikit,"


"Sedikit versi kamu itu berbeda dengan aku. Sedikit tapi habis setengah botol nanti,"


"Tidak, kamu berlebihan sekali."


"Memang begitu kenyataannya. Kamu suka lupa diri kalau sudah makan pedas,"


Perdebatan mereka terhenti saat Keyfa berseru senang ketika makanan nya datang. Ia segera mendekatkan piringnya pada Jhico untuk disuapi lagi.


"Kamu makan sendiri seharusnya, Key. Kakak dokter juga mau makan," ucap Ferdy, ayah nya Keyfa.


Sebenarnya itu juga yang ingin diucapkan Vanilla sejak tadi. Tapi rasanya kurang sopan apalagi bila didepan mereka. Vanilla hanya bisa bicara dalam hati saja. Sejujurnya Ia ingin Jhico juga fokus dengan makanan nya. Tapi Ia tak bisa melarang. Jhico sangat menyayangi anak itu.


"Tidak apa, Bapak. Aku senang menyuapi Keyfa karena pasti habis,"


Memang selalu berakhir dengan piring kosong bila Keyfa disuapi oleh Jhico. Jhico senang kalau anak itu bisa makan dengan lahap.


Menurut cerita dari ayah dan ibunya, Keyfa jarang sekali menghabiskan makanan. Seiring penyakit itu bersarang di tubuhnya, berat badan anak itu juga semakin berkurang saja. Jhico tidak tega melihatnya.


*****

__ADS_1


Sejak sore Vanilla, Deni, dan tim yang juga ikut campur dalam peluncuran setiap produk baru milik perusahaan Deni menjalankan meeting kemudian dilanjutkan dengan pemotretan.


Saat sedang bersiap untuk pemotretan selanjutnya, tiba-tiba saja Vanilla didatangi oleh Richard dan lelaki itu menanyakan keberadaan Jane.


"Dia izin pulang lebih dulu karena kurang sehat katanya. Aku kira dia sudah di rumah,"


Richard menggeleng kemudian bertolak pinggang seraya memijat keningnya. "Aku akan ke mansion untuk mencarinya. Barangkali dia di sana,"


"Coba hubungi Mama,"


Richard mengangguk kemudian pergi dari studio pemotretan.


"Kemana si Jane ya? suaminya sampai mencari begitu," gumam Vanilla. "Joana, tolong ambilkan ponselku di tas." Ia menjulurkan tangan, meminta ponselnya pada Joana.


Setelah ponsel berada di tangannya, Ia segera menghubungi Jane. Tapi tidak ada jawaban. Tidak hanya sekali Ia melakukannya. Melainkan berkali-kali tapi tetap saja tidak dijawab oleh Jane.


"Kenapa wajahmu panik begitu, Van?" Joana menegur sahabatnya yang sedang menggigit ujung jemarinya seraya menatap ponsel.


"Jane tidak di rumahnya. Padahal tadi dia izin ke rumah 'kan?"


"Mungkin belum sampai,"


"Tidak mungkin. Dia sudah pergi dari sini sejak tadi, Joana."


"HELLO SEMUANYA. APA KABAR? SEMOGA BAIK-BAIK SAJA YA,"


"Ck! apa sih? berisik sekali. Datang-datang rusuh,"


Fotografer yang telinga nya baru saja dijawil oleh Ganadian menggerutu pada Ganadian yang kini terkekeh.


"Kamu hebat sekali ya membuat jadwal," Ganadian menyindir Deni yang membuat jadwal dadakan. Ia yang sedang tidur terpaksa berangkat ke studio.


Ganadian menyapa Vanilla dan Joana. Setelah kejadian kemarin, baru kali ini mereka kembali bertemu. Tapi sikap mereka tidak kaku sama sekali. Semua seperti biasanya. Bahkan Ganadian yang biasanya canggung bila dengan Joana yang kerap dingin padanya, sekarang malah tidak seperti itu lagi. Sudah menganggapnya sama seperti Vanilla.


"Saat kamu dan Milano pulang bersama, kamu baik-baik saja 'kan? aku baru ingat ingin menanyakan hal ini padamu. Pada malam itu aku telepon kamu, tapi tidak dijawab,"


"Aku diturunkan di jalan,"


Ganadian yang sedang di make up tak jauh dari Vanilla mendengar dengan jelas jawaban Joana. Ternyata benar dugaannya. Milano yang telah membuat Joana berjalan sendirian padahal sebelumnya Milano mengatakan kalau Ia datang ke kelab untuk menjemput Joana.


"Astaga, kenapa dia tega sekali?"


Joana mengangkat bahunya tak acuh. Ia malas membahas Milano. Karena sakit hatinya akan timbul lagi.


*****


"Selalu Alifia yang mendatangi mu. Kenapa tidak kamu dulu yang datang ke rumah sakit tempat dia bekerja?"


"Dia tahu aku malas ke sana karena akan bertemu dengan mantan kekasih nya,"


Tawa Jhico berderai saat mendengar pengakuan Kenzo yang siang ini sudah dihampiri oleh kekasihnya. Nanti menjelang malam, Ia akan datang lagi dan berjaga sampai malam, menggantikan Jhico yang jarang sekali jaga malam karena ada Vanilla yang harus Ia pikirkan.


"Aku pergi dulu, Co. Jalan-jalan dengan calon mertua, ambil hatinya."


Jhico kembali terkekeh. Ia menggeleng pelan kemudian mengibaskan tangan nya menyuruh Kenzo segera pergi.


Alifia dibiarkan menunggu di luar seraya menunggu Kenzo pamit pada pemilik klinik, Jhico.


Setelah pamit dengan Jhico, Kenzo kembali menemui Alifia. Ia segera menggenggam tangan Alifia lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


"Jhico selalu menjadi Boss yang pengertian ya,"

__ADS_1


"Iya, aku dan dia saling bersinergi selama kerja di klinik itu,"


Klinik hari ini tidak terlalu banyak pasien. Sehingga Jhico bisa menggunakan waktu yang ada untuk menghubungi Vanilla. Ia tidak melakukan apapun di ruangannya dan teman mengobrol nya, Kenzo sedang sibuk dengan kekasih nya. Lebih baik berbincang dengan Vanilla.


Vanilla yang sedang terlelap langsung bangun karena telepon nya berdering. Ia menggeser panel hijau untuk menjawab panggilan video dari suaminya.


"Hallo, Nillaku."


"Hallo, My Jhi. Kenapa? tumben menelpon aku. Tidak sibuk kah?"


"Tidak, makanya aku telepon kamu."


"Aku datang ke klinik ya?"


"Hah? untuk apa? jangan, istirahat saja di apartemen. Kamu tadi tidur ya?"


"Ya, kamu tahu?"


"Jejak air di dekat bibirmu yang memberi tahu aku,"


"JHICO!"


"AHAHAHAH, Aku bercanda, Nillaku."


Sejujurnya Vanilla sedikit percaya dengan suaminya hingga Ia mengusap bibirnya sendiri, mencari-cari jejak yang dimaksud oleh suaminya bahkan Ia sampai bercermin. Tapi tidak ada apapun.


"Aku ke klinik sekarang,"


"Jangan, Nilla! aku tidak mengizinkan kamu menyetir sendiri,"


"Aku sering melakukannya,"


"Ya, dan itu tanpa izin dari aku,"


"Aku ke sana sekarang. Setelah itu kita belanja bulanan ya. Sudah dapat gaji 'kan?"


Jhico terkekeh mendengar istrinya yang bertanya seperti itu. "Setiap hari aku gajian, Nillaku."


"Kalau aku dapat gaji dari kamu setiap awal bulan,"


"Itu bukan gaji! aku tidak suka kamu menyebutnya sebagai gaji,"


"Heheheh okay, aku hanya bercanda,"


"Aku akan menjemputmu saja di apartemen,"


"Jangan! aku saja yang klinik,"


"Tunggu aku di apartemen!"


Tut


Tut


Tut


"Ish kenapa sih dia keras kepala sekali? aku mau belajar mandiri dari dulu sampai sekarang belum juga diberi kesempatan,"


----------


HALLO SEMUANYAA. SELAMAT MEMBACA YAAA. TERIMA KASIH UNTUK SEMUA DUKUNGAN KALIAN🙏

__ADS_1


UDAH MAMPIR DI LAPAK INI 👇BELUM? KALAU BELUM, MAMPIR YAA. KALAU UDAH, JANGAN LUPA KASIH AKU SEMANGAT DI SANA. MAACIW SEKALI LAGI. KU SAYANG KALIAN❤️🤗



__ADS_2