
Pesta pernikahan Renald dan Anneth berlangsung sederhana namun meriah.
Jhico membuka pintu mobil untuk Istri dan anaknya. Ketiganya memasuki area dimana pesta berlangsung.
"Lumayan ramai,"
"Huwaa banyak bunga. Cantik-cantik sekali," Grizelle menunjuk beragam bunga yang menjadi bahan dekorasi acara.
"Kita temui teman Mumu dulu, Sayang," ujar Jhico saat anaknya ingin mendekati sebuah taman kecil yang dibuat khusus untuk berfoto, kebetulan di spot foto itu memang sedang tidak ada tamu.
"Iya, Pu,"
Ia yang berdiri diantara ayah dan ibunya dengan tangan yang saling menggenggam menemui Renald dan pasangannya. Renald tersenyum mendapati mereka hadir.
"Selamat atas pernikahan kalian ya," ujar Vanilla langsung begitu Ia berdiri di hadapan Renald dan Anneth.
"Selamat berbahagia, Renald," Jhico menambahkan.
"Terimakasih sudah hadir," kata Renald pada Vanilla dan Jhico. Mata Renald mengarah pada anak kecil di hadapannya kini.
"Uncle selamat menikah ya," kata Grizelle dengan senyum hangatnya. Renald dibuat terkagum dengan anak ini. Tidak canggung sekali memberinya ucapan selamat. Renald mengusap wajah Grizelle sesaat. "Terimakasih ya, anak cantik,"
Anneth pun mengucapkan terimakasih pada mereka bertiga sama hal dengan yang dilakukan suaminya.
"Ini anak kedua?" tanya Anneth yang sudah jauh sekali perubahannya daripada dulu. Tidak lagi sinis pada Vanilla. Mungkin karena Vanilla tidak lagi membuatnya cemburu. Apa juga yang harus dicemburukan? kini ia bisa melihat Vanilla datang bersama suami dan anaknya bahkan perutnya terlihat membesar karena kandungannya. Sangat aneh kalau Anneth masih seperti itu.
"Ini anak kedua?" tunjuk Renald pada perut Vanilla.
"Ya, ini anak kedua,"
"Perempuan, Vanilla?" tanya Anneth penasaran. Yang dijawab langsung oleh Grizelle, "Iya, adik aku perrelmpuan (perempuan) sama dengan aku,"
"Woahh kalau begitu selamat juga untuk kamu yang akan menjadi seorang kakak,"
Grizelle menunduk singkat seraya mengucapkan 'terimakasih' dengan tersipu malu.
Mereka kemudian menjauh dari Renald dan Anneth. Grizelle kembali menunjuk spot foto tadi, maka Vanilla dan Jhico menurutinya.
"Icelle mau berfoto?"
__ADS_1
"Aku ingin menyentuh bunganya saja," kata anak itu singkat yang membuat Jhico dan Vanilla menggeleng pelan. Mereka kira ingin berfoto ternyata hanya ingin menyentuh bunga saja.
"Ayo sekalian berfoto. Cepat Icelle bersiap,"
"Tidak mau, kalau sendirrli (sendiri),"
"Iya, itu ada fotografernya juga kalau mau pakai fotografer,"
"Aku mau foto dengan Mumu dan Pupu,"
"Iya, okay,"
Mereka kemudian berdiri di depan kamera seorang fotografer. Pose pertama tersenyum, pose kedua Vanilla dan Jhico saling merangkul sementara Grizelle memasang raut terkejut dengan kedua tangan di pipi dan mendongak ke atas dimana Mumu dan Pupunya tersenyum menatap kamera, pose ketiga Grizelle minta digendong oleh ayahnya dan Ia merangkul kedua orangtuanya, mereka bertiga tersenyum lebar, pose terakhir adalah Grizelle yang masih dalam gendongan sang ayah mendapat ciuman di kedua pipinya dari kedua orangtuanya.
Sesi berfoto selesai, mereka melihat hasilnya dan langsung bisa diterima bentuk fisik foto mereka.
"Ya ampun, ini aku suka,"
Grizelle menunjuk pose kedua dimana Ia seolah kaget. Vanilla dan Jhico terkekeh. Di foto itu anaknya kelihatan sekali pintar bergaya yang aneh. Tidak ada yang mengajari Ia untuk berekspresi seperti itu, seolah kaget melihat kemesraan ayah dan ibunya yang saling merangkul dan tersenyum pada lensa.
"Icelle cantik,"
Sampai di mobil, Grizelle masih melihat foto di tangannya. Ia di puji dan Ia melakukan hal yang sama. Memang Mumunya kelihatan cantik di foto itu. Perutnya terlihat besar menambah pesona tersendiri dalam diri Vanilla.
Mereka langsung pulang. Sebab sudah memasuki malam. Yang terpenting sudah hadir menunjukkan bahwa mereka turut bahagia atas hari bahagia Renald dan Anneth.
"Bagaimana acaranya menurutmu, Icelle?" Dalam perjalanan Vanilla bertanya seperti itu karena Ia lihat anaknya hanya diam saja menatap jendela mobil karena ada kemungkinan Ia mengantuk.
"Menyenangkan. Aku senang melihat Uncle dan Aunty nya kelihatan bahagia. Merrleka (mereka) terrlsenyum terrlus (tersenyum terus)," kata anak itu menjelaskan. Kebahagiaannya sampai menular ke hatinya melihat sepasang manusia yang baru bersatu itu selalu tersenyum.
"Mumu dan Pupu pasti waktu menikah juga begitu ya? bahagia sekali. Ah andai aku sudah ada,"
Vanilla dan Jhico kompak tertawa mendengar anaknya berandai. Bagaimana ceritanya Dia sudah ada? Vanilla saja cukup memerlukan waktu yang lama untuk menyerahkan separuh hatinya untuk Jhico. Saat awal pernikahan hanya Jhico saja yang bahagia. Lelaki itu bahagia memiliki Vanilla tapi Vanilla tidak. Sebab Vanilla belum mencintainya. Vanilla bahkan terus merasa bahwa suaminya bodoh mau menikahi dia yang waktu itu tidak bisa melihat.
"Sekarang Icelle sudah ada,"
"Iya, tapi waktu Mumu dan Pupu menikah aku belum ada. Aku tidak datang ke pesta perlinkahan (perniakhan) Mumu dan Pupu,"
"Ya ampun, Sayang,"
__ADS_1
Jhico menggeleng pelan. "Dibuat saja belum," sahutnya dalam hati. Bagaimana ceritanya Grizelle bisa datang?
"Aku akan simpan fotonya ya, Mu, Pu,"
"Iya, silahkan disimpan. Memang ingin disimpan dimana?"
"Hmm..."
"Di album foto yang ada di kamarrlku (kamarku) atau aku masukkan dalam bingkai?"
"Terserah Icelle," kata Vanilla membiarkan anaknya memilih ingin menyimpan foto kenangan di pernikahan Renald itu dimana.
"Bingkai fotoku habis. Nanti belikan ya, Mu,"
"Iya, nanti kalau Mumu sedang keluar untuk belanja, Mumu akan belikan bingkainya. Semoga Mumu tidak lupa,"
"Icelle ingatkan mumu. Wajar, Mumu harus diingatkan. Namanya juga sudah punya dua anak, tidak muda lagi," penuturan Jhico membuat Vanilla berdecak dan menolah menatap tajam suaminya itu.
"Biarpun sudah punya dua anak tapi aku masih muda!"
"Tapi dipanggil princess tua oleh anakmu,"
"Karena aku orangtuanya! hih! kamu buat aku kesal saja," gerutu perempuan itu yang disahuti tawa Jhico.
"Pupu, tidak boleh begitu. Sudah aku berrli (beri) tahu kalau prrlinces tua itu arrltinya (artinya) Mumu orrlangtua (orangtua) aku, jadi prrlinces tua," Grizelle menegaskan agar Ayahnya tidak meledek Mumunya lagi yang sebenarnya sudah Jhico ingat perihal itu. Hanya saja Ia sedang ingin menggoda istrinya itu hingga merengur kesal.
"Tenang, Mu. sudah aku jelaskan lagi,"
Vanilla menoleh pada anknya yang menghibur. Ia tersenyum mengusap singkat pipi anaknya.
Kini mereka telah tiba di rumah. Grizelle dan Vanilla membuka pintu sendiri. Jhico gagal memperlakukan mereka layaknya princes.
"Seharusnya tunggu Pupu yang membukakan pintu dan mempersilahkan kalian keluar,"
"Pupu, ini bukan dongeng. Aku 'kan bisa bukan sendirrli (sendiri),"
Vanilla mengangguk membenarkan. Ia tertawa melihat suaminya yang kelihatan kesal karena secara tak langsung anak mereka menilai perilakunya ini seperti di dongeng padahal mereka hidup di dunia nyata.
"Icelle 'kan suka membaca dongeng,"
__ADS_1
"Iya, tapi aku bisa buka pintunya sendirrli (sendiri) kasihan Pupu kalau buka pintu untuk aku. Nanti kalau lelah bagaimana?"