
Thanatan menghela napas pelan. Ia mendapat undangan lagi dari rekan kerjanya, Carlo, yang hari ini melakukan pertemuan dengannya. Undangan kali ini Ia diminta hadir dalam acara ulang tahun pernikahan rekan kerjanya itu bersama sang istri. Sebenarnya undangan untuk acara seperti itu bukan pertama kali untuknya. Biasanya Ia hadir sendiri atau dengan Karina kalau Ia sedang ingin hadir. Tapi kalau tidak, paling hanya mengirim ucapan selamat dan hadiah saja.
Hari untuk penyelenggaraan acara ulang tahun pernikahan Carlo dan istrinya ini bertepatan dengan waktu acara ulang tahun cucunya Thomas yang mengundang Grizelle.
"Kenapa bisa berbarengan? kebetulan sekali," Ia bertanya dalam hati dengan bingung.
"Ah entahlah, aku hadir atau tidak," gumam lelaki itu ketika tiba di ruangannya.
****
Waktu untuk istirahat dari belajar digunakan Grizelle untuk bermain dengan teman-temannya.
"Hati-hati, Griz," pesan salah satu teman Grizelle saat Grizelle akan bermain trampolin.
"Ayo, main denganku,"
Mereka mengangguk cepat. Ini adalah salah satu permainan yang mereka gemari tapi mereka masih suka takut terjatuh.
"Griz, lompat nya jangan tinggi-tinggi,"
Grizelle terkekeh melihat temannya teriak ketakutan karena merasa tubuhnya terlonjak ke atas sebab trampolin yang dilompati Grizelle berhasil membuat tubuhnya terlonjak.
"Jangan takut,"
"Bagaimana tidak takut? kamu lompatnya terlalu tinggi,"
"Ada pengamannya di sini,"
Grizelle menunjuk jaring-jaring yang mengelilingi trampolin dan juga ada semacam balon di bawah mereka sehingga bisa me-minimalisir sakit saat jatuh.
"Tetap saja,"
"GRIZZZZZ,"
Teriakan itu semakin kencang. Kedua teman Grizelle tak kira-kira mengeluarkan suara histeris mereka.
"Iya-iya, maaf,"
Tak lagi jahil, Grizelle akhirnya bermain dengan normal. Ia melompat tidak terlalu tinggi sehingga trampolin tidak terlalu melonjak dan membuat temannya juga tidak ketakutan lagi.
"Lebih baik kita makan saja, Griz,"
"Iya sebentar,"
Grizelle belum puas bermain. Sebenarnya Ia pun lapar sekalipun sudah sarapan tapi belajar yang menguras otak membuat perutnya meronta minta diisi.
__ADS_1
"Ayo, sudah bermainnya,"
Grizelle mengangguk kemudian menghentikan kakinya untuk melompat. Napasnya tersengal-sengal.
"Ah kalian tidak mau melompat. Untuk apa naik trampolin kalau hanya diam?"
"Aku tidak mau lelah,"
"Sama, aku pun begitu,"
Mereka bertiga kembali ke dalam kelas, mengambil makanan di dalam loker masing-masing kemudian makan bersama di meja untuk makan yang telah di sediakan.
Hari ini selain membawa makan siang, Grizelle juga membawa lolipop yang akan Ia bagikan pada teman-temannya.
Di rumah tidak ada yang memakan itu. Sehingga jumlahnya masih banyak. Hanya ice cream saja yang tak bersisa, sementara olahan susu lainnya yang Grizelle bawa saat pulang liburan semuanya masih tersisa.
Berhubung Ia tidak diperbolehkan menghabiskan lolipop itu sendirian, akhirnya Ia bawa saja ke sekolah.
"Woahh terimakasih, Griz,"
"Ah hanya lolipop. Bukan mobil yang aku berrli (beri)," ucapnya seraya tertawa kecil. Hal kecil baginya yang membuat teman-temannya senang karena mereka sama seperti Grizelle, menyukai makanan atau minuman manis sejenis ice cream dan lolipop.
"Manisnya tidak berlebihan,"
"Kamu buat sendiri, Griz?"
"Hei tahu tidak, di dekat sekolah, ada wahana bermain yang sebentar lagi jadi. Ah aku tidak sabar singgah di sana setelah pulang sekolah,"
Grizelle dan teman-temannya makan seraya mengobrol ringan. Topiknya pun tidak tentu dan berpindah-pindah. Buktinya sekarang. Sedang membicarakan lolipop tapi setelahnya membahas wahana bermain.
"Griz tahu tidak?"
"Iya, aku lihat,"
"Nanti kita harus bermain di sana. Luas sekali tempatnya. Aku jadi tidak sabaran jadinya akan seperti apa,"
"Kalau aku yang punya tempat itu, akan aku berikan tiket gratis saat kalian masuk,"
Grizelle ikut tertawa saat temannya tertawa. Ia sedang berandai-andai sekarang.
"Ya aku doakan seperti itu ya, Griz,"
"Okay, tapi sayangnya itu bukan punyaku," tawa Grizelle semakin pecah. Ia merasa wahana bermain punya sendiri adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi padanya.
"Nanti kalau kamu sudah besar, kamu sukses, aku doakan supaya kamu punya wahana bermain,"
__ADS_1
"Kalau aku sudah besarrl (besar) dan punya tempat berrlmain (bermain) arrltinya (artinya) kalian tidak bisa masuk. Kalian juga sudah besarrl (besar). tempat bermain itu untuk anak kecil,"
"Oh iya juga,"
*****
Seraya menunggu waktu pulang Grizelle, Vanilla memutuskan untuk pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ia perlu menghilangkan rasa bosan sebab diam di rumah terus.
Ia juga sudah meminta izin pada Jhico dan Jhico tentu mengizinkan tapi dengan pesan yang bunyinya selalu sama. 'Hati-hati dan jangan kelelahan'
Vanilla mendorong troli seraya melihat-lihat produk apa yang sekiranya diperlukan. Mulai dari untuk kebersihan rumahnya sampai pada bahan makanan.
Bila melihat mainan yang sekiranya belum dimiliki Grizelle, Ia juga akan meletakkannya ke dalam troli untuk Ia bayar dan bawa pulang tentu putrinya senang.
Ia juga membeli susu untuk di rumah dan juga khusus untuk dirinya sendiri dan juga Grizelle.
Ia juga mengambil makanan ringan untuk dirinya. Vanilla masih menjadi penyuka makanan ringan dan pedas. Selalu masuk ke dalam list kalau belanja untuk satu bulan. Tak hanya yang berasa asin atau gurih, Ia juga mengambil yang manis-manis.
Saat tangannya akan mengambil cokelat, Ia segera ingat, sampai saat ini belum ada tempat yang aman untuk menyimpan cokelat karena Grizelle selalu berhasil menemukannya.
"Dia baru habis sakit lagi. Terus habis minum ice cream, makan lolipop dari liburan. Aku beli cokelat nanti-nanti saja lah kalau sudah punya ruang bawah tanah,"
Sudah kehabisan cara Ia menyembunyikan cokelat-cokelatnya dari Grizelle, akhirnya Ia berpikir apakah membuat ruang bawah tanah adalah hal yang seharusnya Ia lakukan?
Ia membeli green tea untuk Jhico. Belakangan ini Jhico menyukai suatu brand green tea. Jadi sekarang Ia ingin menyimpan beberapa stok.
Ia juga membeli makanan atau minuman yang sekiranya disukai oleh penghuni rumahnya yang lain. Ia berusaha menyediakan kenyamanan agar mereka bekerja layaknya di rumah sendiri.
Selesai memilih, Ia mendorong trolinya pada meja kasir. Semua discan kemudian Ia bayar dengan kartu debit. Ia bersyukur tidak begitu ramai sehingga Ia bisa cepat.
Vanilla menghubungi drivernya agar membawa hasil belanjaannya ke dalam mobil.
Vanilla dan drivernya membawa mobil yang berbeda. Karena Vanilla ingin menjemput anaknya sendiri.
Tadi setelah sampai di pusat perbelanjaan, Vanilla segera menghubungi driver agar menyusulnya dan Ia meminta bantuan pada Driver agar membawa pulang belanjaannya tadi ke rumah.
"Makan dulu,"
"Aku sudah makan tadi di rumah, Nona,"
"Ayolah, jangan sungkan,"
"Tidak usah, Nona. Terimakasih. Saya langsung pulang saja ya? Nona jadi menjemput Grizelle sendiri?"
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati. Iya, aku jadi menjemput Grizelle sendiri,"
__ADS_1
Drivernya undur diri kembali ke rumah dengan membawa mobil berisi banyak kebutuhan untuk satu bulan penuh.
Vanilla melirik arloji di pergelangan tangannya. Sebentar lagi Grizelle pulang. Ia harus segera bergegas ke tempat anaknya menuntut ilmu.